Ternyata Bukan Riya

 

Oleh : Ustadz Nur Fajri Romadhon

@nf_rom
31 Juli 2011

 

Rini (sebut saja demikian-pen) baru saja naik kelas XI. Kelasnya yang notabene jurusan IPA dihuni oleh anak-anak pintar dari kelas X.1-X.9 yang tadinya belum ia kenal. Selain pintar, mereka ternyata banyak yang aktif di organisasi. Teman sebangkunya, Nurul (nama samaran) contohnya, waktu kelas X ia adalah peringkat pertama kelas X.3 dan juga aktif di Rohis dan PMR. Dua teman di belakangnya juga siswi-siswi yang cerdas dan aktif di OSIS dan Rohis juga. Awalnya Rini canggung, karena teman-teman yang sekarang beda dengan teman-temannya yang dulu. Waktu di X.5, ia bergaul dengan siswi-siswi yang hobinya pacaran, godain cowok, shopping ke mall, dst. Makanya meskipun berkerudung, kerudungnya masih kerudung gaul, alias rambut depannya masih suka dikeluarin, kayak di iklan-iklan. Ia juga sebenarnya pernah beberapa kali pacaran, cuma semenjak UKK lalu ia sudah putus dan masih jomblo sampai sekarang.

 

Setelah sepekan belajar dan bergaul dengan ketiga teman barunya, Rini merasa ia sudah menjadi bagian dari mereka. Ia pun mulai merapikan kerudungnya yang dulu cuma ‘sekenanya’. Ia pun selalu mengerjakan shalat dzhuhur di masjid sekolah tepat di awal waktu. Cara bicaranya jadi lebih sopan, dan lama-kelamaan ia jadi sering ikut mentoring, bahkan pengajian-pengajian di masjid-masjid di kotanya pun ia sempatkan untuk hadir.  Meskipun secara organisasi ia bukan pengurus Rohis, tapi bolehlah Rini sekarang diistilahkan “akhwat”. Banyak pula teman-teman yang diam-diam memujinya karena progressnya kini dan ia boleh jadi lebih shalihah dari beberapa akhwat pengurus Rohis lainnya.

 

Terkadang Rini masih kumpul dengan teman-temannya waktu kelas X. Kadang-kadang jiwa nakalnya kembali muncul kalau lagi kumpul dan hang out bersama mereka meski ia sekarang relatif lebih bisa mengendalikan diri. Nah, kalau bertemu lagi dengan Nurul, hatinya sejuk lagi dan jiwa nakalnya pergi entah  kemana. Begitulah awalnya, hingga akhirnya teman-teman nya waktu kelas X berkata sinis, “Rin, munafik lo. Kadang-kadang lo pasang tampang alim depan anak-anak Rohis. Padahal lo kan masih nggak beda jauh sama diri lo yang dulu. Emang sih sekarang lo udah jadi mendingan, tapi kan itu karena lo sok alim, riya’, pamer!”. Mendengar itu, Rini cuma bisa termenung. Dalam hatinya ia sudah ingin sekali berubah menjadi lebih baik, seperti Nurul dan kawan-kawannya. Tapi apa boleh buat track recordnya selama ini tidak berpihak padanya. Mungkin ia belum pantas disebut perempuan shalihah..

 

 

Saat shalat malam Rini menangis, ia takut kalau amalannya selama ini cuma riya’, nggak ikhlas mengharap wajah Allah. Ia berdoa agar taubatnya diterima Allah dan agar ia jadi wanita shalihah sungguhan, nggak dibuat-buat. Setelah itu, ia kian intensif mengkaji agama bersama Nurul dkk di mentoring dan majlis taklim. Kalau berkumpul dengan teman lamanya sekarang ia kian mampu mengendalikan dirinya walau memang environmentnya agak berbeda dibanding ketika ngumpul bareng Nurul dkk. Malah, ia sudah bisa mengajak sebagian teman lamanya untuk ikutan program-program Rohis. Rini yang sekarang sudah beda dengan Rini yang dulu, kerudungnya pun kian syar’i. Ia pun sudah bisa membuat batas yang toleran tapi aman ketika bergaul dengan lawan jenis meski ia bukan pengurus Rohis. Prestasinya juga bisa membuat sekolahnya bangga.

 

__________

 

Begitulah anak muda, kehidupannya penuh lika-liku dan perjuangan. Semoga kita termasuk pemuda-pemudi yang berhasil survive mempertahankan keshalihan dan terus meningkatkan kualitas keimanan. By the way, apa benar yang dikatakan teman-teman Rini kalau apa yang dilakukan Rini itu riya’? Ternyata tidak. Sama sekali tidak. Para ulama telah membahas fenomena ini sejak dulu, bahkan fenomena ini pun telah ada semenjak zaman shahabat dan Rasulullah telah menyatakan bahwa itu bukanlah riya’. Berikut adalah beberapa kondisi yang sering dikira riya’ padahal sama sekali bukan riya’.

 

A. Dipuji karena telah berbuat baik.

 

Abu Dzarr meriwayatkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Bagaimana menurut Baginda kalau ada seseorang melakukan perbuatan baik lalu dipuji orang?” Si penanya ini tampaknya khawatir kalau yang demikian itu digolongkan kepada perbuatan riya’. Maka dengan bijaksana pun Rasulullah menjawab, “Itulah kabar gembira yang disegerakan di dunia bagi seorang mukmin.” [HR Muslim].

 

Maksud beliau, jika memang ketika mengerjakan perbuatan baik hati orang tersebut ikhlas tidak mengharap pujian, lalu ternyata setelah itu diam-diam ada yang mengetahui lalu memuji perbuatannya, maka pujiannya itu nggak akan mengurangi pahalanya malah itulah bukti dan kabar gembira dari Allah subhanahu wa ta’ala kepadanya di dunia sebelum kelak ia akan diberikan balasan kebaikan di akhirat.

 

B. Bertambahnya semangat beribadah ketika bergaul bersama orang-orang shalih atau berada di waktu dan tempat yang kondusif untuk ibadah.

 

Terkadang kita kalau sedang sendirian tidak rajin-rajin amat beribadah, malah terkadang terjerumus pada dosa-dosa. Tapi uniknya ketika sedang bergaul dengan orang shalih kayak anak Rohis misalnya, semangat ibadah kita jadi meningkat. Atau kalau sudah masuk Ramadhan dan orang-orang pada rajin ibadah, kita jadi ikutan rajin. Yang tadinya shalatnya menunda-nunda atau sendirian, kalau bareng mereka jadi di awal waktu dan berjamaah. Yang tadi ngobrolinnya bola, kalau lagi duduk bareng mereka ngomongnya jadi masalah agama atau tentang kondisi dunia Islam. Begitulah, kondisi kita memang sering dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Al-mar’u ‘alaa diini khaliilihi falyandzhur ahadukum ilaa man yukhaalil, “Seseorang itu tergantung kondisi akhlak dan keimanan temannya, maka hendaklah kau perhatikan dengan siapa kau berteman”, begitulah kata para ulama.

 

Hal yang menarik perhatian kita adalah bahwa ternyata keadaan ini juga dirasakan oleh para sahabat. Dalam Kitab Shahih Muslim disebutkan Hanzhalah, salah seorang sahabat kenamaan, pernah dikunjungi Abu Bakar. Abu bakar pun mengucapkan: “Bagaimana keadaanmu wahai Hanzhalah”. Tiba-tiba Hanzhalah pun menjawab: “Hanzhalah telah munafik”. Abu bakar pun heran sambil bertanya, “Apa yang sedang kau katakan? Subhanallah!”.Hanzhalah pun berkata: “Ketika aku berada disamping Rasulullah dan beliaupun mengingatkan aku tentang siksa neraka dan kenikmatan surga, seolah-olah aku melihatnya dengan mata kepala sendiri.Namun ketika aku pergi meninggalkan Rasulullah aku pun disibukkan dengan urusan istri, anak dan kehidupan. Kemudian aku pun jadi banyak lupa terhadap apa yang diajarkan Rasul”. Abu Bakar pun berkata, “Demi Allah! Aku pun juga merasakan hal yang sama” Lantas keduanya mengadukan hal itu kepada Rasulullah.

Rasulullah pun bersabda: “Demi Dzat Yang jiwaku yang ada di dalam genggaman-Nya, andaikata kamu sekalian tetap seperti keadaan kalian di sisiku dan di dalam dzikir, tentu para malaikat akan menyalami kalian di atas kasur-kasur kalian dan tatkala kalian dalam perjalanan. Tetapi, wahai Hanzhalah! Sa’ah wa sa’ah wa sa’ah (setahap demi setahap).”

 

Rasulullah pada kisah di atas tidak mencela Hanzhalah, tapi beliau memakluminya. Menjadi shalih memang butuh proses. Mungkin kita saat ini sering naik-turun imannya. Tapi ketika iman turun, berusahalah agar terhindar dari melakukan dosa. Sibukkan diri dengan ibadah yang ringan ataupun amalan mubah yang bermanfaat. Sebaliknya, ketika iman sedang naik seperti di bulan Ramadhan, ayo kita kebut. Pepatah Arab mengatakan, “Tempalah besi ketika ia sedang terbakar”.

 

C. Mengerjakan kewajiban agama walau terlihat oleh orang lain.

 

Kewajiban agama memang mesti dilakukan. Ketika melakukannya pun tidak harus disembunyikan. Bahkan yang lebih baik adalah ditampakkan di hadapan masyarakat sebagai bentuk syi’ar dan memberi keteladanan. Itu semua karena memang pada dasarnya kewajiban itu adalah harus dikerjakan setiap orang. Ibaratnya seperti siswa yang masuk di kelas saat KBM atau selalu mengerjakan PR, tentu lucu kalau dikatakan dia itu sok pinter atau sok rajin. Nah, seperti itu juga kalau kita shalat berjamaah di masjid, menutup aurat, menunaikan haji, mengajak orang berbuat kenaikan, melarang orang dari berbuat dosa, dst. Asalkan niat di hati orang tersebut ikhlas, maka tidak disebut riya walau dikerjakan di depan orang lain.

 

D. Malu dan menyembunyikan dosa.

 

Kelihatannya memang sepeti riya’. Dosa yang ia kerjakan, malah ia tutup-tutupi. Tapi ini bukan termasuk riya sama sekali. Bahkan inilah yang diperintahkan agama. Setiap dosa itu hendaknya tidak dipopulerkan walau dengan dalih mengungkap fakta, kecuali kalau bertujuan agar umat menjauhinya atau ketika penegakkan hukuman pidana semisal rajam atau hukum potong tangan.

 

Berbuat dosa meskipun tidak ketahuan orang memang merupakan pelanggaran dan setiap muslim yang ingin bahagia di dunia dan akhirat wajib bertaubat dari hal itu. Tapi kalau dia mengerjakannya di hadapan khalayak atau menceritakannya di hadapan teman-temannya itu juga merupakan pelanggaran yang amat berat. Bahkan Rasulullah memberikan ancaman yang keras bagi mereka dalam dalah satu hadits beliau,

 

“Setiap umatku akan diampuni kecuali al-mujahirun (berbuat dosa terang-terangan). Para sahabat bertanya, “Siapakah al-mujahirun itu?” Beliau berkata, “Ia adalah orang yang pada malam hari berbuat dosa kemudian Allah tutupi aibnya. Lalu pada pagi harinya ia menceritakannya.” [Muttafaq alaih]

 

Dengan tidak mengumbar dosa kita jadi lebih mudah bertaubat dan orang lain jadi tidak akan ketularan berbuat dosa. Sekali lagi, jika kita telah berdosa, jangan diumbar dan jangan diceritakan atau kita akan terancam hadits di atas. Semoga kita nggak termasuk al-mujahirun.

 

Sebenarnya masih ada beberapa hal lain yang dianggap riya padahal bukan. Tapi sengaja dicukupkan sampai di sini karena dirasa sudah mencakup dan mencukupi. Mulai sekarang, jika ada bisikan setan yang mencegah kita bertaubat dan berbuat baik dengan menuduh kita berbuat riya’, berdoa saja dengan doa yang ada ajarkan Rasulullah dan terdapat di Musnad Ahmad, “Allahumma innaa na’uudzu bika min an nusyrika bika syaian na’lamuhu, wa nastaghfiruka limaa laa na’lamuhu. (Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik/riya’ secara sadar, dan kami memohon ampunanmu atas perbuatan syirik/riya yang tidak kami sadari).” Allahumma aamiin.

Mengenali Aib Diri

Mengenali Aib Diri

Oleh : Ustadz Nur Fajri Ramadhan

@nf_rom
23 Okt 2011

 

Sesungguhnya di antara bentuk kealpaan yang paling berbahaya adalah kealpaan seseorang terhadap dirinya, positif dan negatifnya. Orang yang tidak mengenali potensi, bakat, dan hal-hal positif dari dirinya akan menyiakan banyak kesempatan dan kurang sempurna syukurnya kepada Allah ta’alaa atas anugerah yang telah dikaruniakan. Demikian pula halnya mereka yang menutup mata dari aib dan kesalahannya, akan terus bergelimang dalam kesalahan dan sulit untuk berubah menjadi lebih baik. Keduanya amat berbahaya, tapi terkadang ketidaktahuan seseorang akan kekurangan dan aibnya lebih parah dan berbahaya.

Oleh karena itulah kita amat dianjurkan untuk melakukan muhasabah (introspeksi diri). Kita tentu amat familiar dengan perkataan Umar bin Khaththab: “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab kelak.” Kurang lebih maksud beliau adalah agar kita dari sekarang mulai menghitung-hitung dosa-dosa dan kekurangan kita lantas bertaubat dan memperbaiki diri sebelum kelak di Yaumul-Hisab kesalahan-kesalahan kita dihitung, padahal tidak ada lagi kesempatan taubat dan ‘remedial’ saat itu.

Namun muhasabah diri kerap kali masih belum cukup, karena tabiat jiwa –apalagi jika telah terkena tipuan setan– cenderung membela diri. Sudah jelas salah sendiri tapi enggan mengakui atau malah mengambinghitamkan orang lain. Kalaupun ternyata menyadari kesalahan, selalu ada dorongan untuk menganggapnya ringan lantas mentolerirnya begitu saja. Memang kadang kala kita menangisi kesalahan, tapi tidak lama setelah itu kita tetap lupa untuk memperbaikinya. Nah, kalau sudah datang giliran untuk mengoreksi orang lain yang terjadi malah sebaliknya, yang kecil dianggap besar. Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak terlihat. Padahal sikap seorang mukmin adalah sebaliknya, ia senantiasa mengevaluasi dirinya bahkan mencela keburukan-keburukannya. Di saat yang sama, ia tidak pernah mencari-cari kesalahan orang lain, bahkan seringkali cenderung memaafkan dan menutupi.

Muhasabah harian, pekanan, bulanan, dan tahunan teruslah kita rutinkan, jangan sampai kita tinggalkan. Namun ada beberapa langkah yang selayaknya kita ikut laksanakan untuk menyempurnakan proses muhasabah kita. Berikut di antaranya:

Pertama: Berguru kepada seorang ahli ilmu dan hikmah secara intensif

Seorang ahli ilmu dan hikmah amat layak untuk dimintakan nasihatnya. Tapi, akan lebih baik lagi kalau beliaulah yang menasihati kita tanpa diminta. Bagaimana caranya? Tentu dengan sering bersamanya, menyerap ilmu dan hikmahnya, serta berkhidmat kepadanya.. Kita mungkin ingat bahwa para sahabat radhiyallahu ‘anhum dahulu senaniasa berusaha dekat dan menyerap pelajaran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lebih dari itu mereka jika mereka berbuat kesalahan, akan langsung diketahui dan dinasihati oleh Nabi. Bagi mereka tidak peduli apakah akan dinasihati secara halus oleh beliau (ini yang paling banyak terjadi) ataupun ditegur dengan sangat tegas, seperti yang terjadi pada diri Mu’adz bin Jabal tatkala Rasul menegurnya dengan wajah memerah, “A fattaanun anta, ya Mu’adz?? (Apakah kamu bermaksud membuat chaos di tengah manusia, wahai Mu’adz??”

Kalau di zaman sekarang, hal ini biasanya berlaku di pesantren, sekolah, atau lembaga sejenis. Para kiai, guru, atau ustadz bisa mengenali karakter asli para siswa dan santrinya karena seringnya interaksi sehingga jika kenal kekurangan-kekurangan mereka dan bisa menasihatinya. Peran senior di sekolah dan kampus juga bisa kita anggap mirip, dengan syarat sang senior juga merupakan seseorang yang memiliki kecukupan ilmu dan penuh hikmah serta wibawa di hadapan kita.

Pada tahun 1906, KH Agus Salim perbah ditugaskan ke Mekkah sebagai dragoman (penerjemah) di Konsulat Belanda. Ingat khan berapa bahasa yang beliau kuasai? Beliau adalah seorang yang cerdas, namun karena beliau sejak kecil bersekolah di sekolah-sekolah Belanda, seperti ELS (Europeese Lagere School, setingkat SD) dan HBS (Hogere Burger School, setingkat SMP dan SMA), beliau sedikit terpengaruh dengan pandangan-pandangan filsuf Barat, tidak terkecuali yang berkaitan dengan akidah. Di Mekkah, beliau yang waktu itu masih berusia 22 tahun berguru kepada seorang ulama Ahlus Sunnah kebanggaan Nusantara, Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, selama kurang lebih 6 tahun. Syaikh Ahmad Khatib adalah satu-satunya ulama Melayu yang pernah menduduki jabatan tertinggi dalam pengajaran madzhab Syafi’I di Masjidil Haram. Banyak muridnya yang menjadi tokoh penting negeri kita dan negeri Jiran, sebut saja Hadhratusy-Syaikh KH Hasyim Asyari (pendiri Nahdhatul Ulama), KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyyah), Syaikh Muhammad Saleh (mufti Selangor), Syaikh Muahmmad Zein (mufti Perak), dst rahimahumullah ajma’iin.

Entah kenapa kalau bicara tentang Syaikh Ahmad Khatib, saya selalu menggebu-gebu. OK, kembali ke KH Agus Salim. Beliau termasuk orang yang beruntung karena saat berguru pada Syaikh Ahmad Khatib, barulah ia sadar kalau akidahnya sudah teracuni oleh pola pendidikannya dahulu yang kental dengan nuansa Belanda. Syaikh Ahmad Khatib-lah yang menjelaskan hal itu kepadanya karena melihat ada yang tidak beres pada diri KH Agus Salim. Metode pengajaran yang dilakukan oleh Syaikh Ahmad Khatib spesial, karena beliau tahu KH Agus Salim adalah seorang jenius. Ia ajak beliau berdiskusi sedikit demi sedikit. Awalnya KH Agus Salim tidak begitu saja menerima ucapan sang guru, beliau lantas melakukan perbandingan antara akidah Ahlus Sunnah dengan doktrin dan ideologi Barat. Namun karena Syaikh Ahmad Khatib mampu menjawab semua pertanyaan beliau dengan meyakinkan, akhirnya beliau kembali kepada keyakinan yang benar. Sepulangnya ke tanah air, beliau bahkan turut berjuang melalui Sarikat Islam.

Kedua: Bersahabat dengan rekan sebaya yang baik agama dan akhlaknya, serta jujur dalam bersikap.

Di antara nikmat mesti sering-sering kita syukuri adalah nikmat memiliki teman yang shalih. Teman yang shalih amat langka di zaman ini. Makanya hanya dengan rahmat Allah sajalah kita bisa bertemu dengan rekan-rekan yang shalih. Terkadang mereka datang begitu saja dalam kehidupan kita, tapi terkadang harus kita cari dengan segala upaya. Tapi kalau kita sudah mendapatkannya, yakinilah itulah salah satu nikmat teragung yang Allah berikan kepada kita.

Nikmat itu akan semakin besar manakala keshalihan teman kita itu bukan semata-mata keshalihan individual. Alangkah indah bila ia menggandeng tangan kita ke jalan kebaikan, mengingatkan kita saat khilaf dan silap, serta tidak ragu memberi teguran jika memang kita telah melampaui batas. Amirul Mukminin Umar ibn Khaththab pernah berkata suatu hari dengan penuh kerendahan hati:  “Semoga Allah merahmati orang yang memberitahukan kepada kami aib-aib kami.”

Begitu juga Umar bin Abdul Aziz, yang dikenal dunia Barat sebagai Umar II pernah berkata kepada salah seorang kawannya, Amru bin Muhajir: ”Wahai Amru, jika kamu melihat aku menyimpang dari kebenaran maka cengkeramkanlah tanganmu di kerah bajuku kemudian goncang-goncangkanlah aku seraya kau katakan kepadaku, ‘Apa yang barusan kau perbuat?!’”.

Dahulu para salaf sangat senang dengan teman-teman yang memberitahukan aib-aibnya. Adapun kita sekarang malah paling tidak suka dengan orang yang tahu belang-belang kita. Padahal kalau seandainya ada laba-laba beracun yang hinggap di punggung kita lalu ada teman yang memberitahukan kita akan hal tersebut, tentu kita akan bersegera menyikngkirkan laba-laba tersebut sekuat tenaga. Lalu kita pun akan sangat berterima kasih dan boleh jadi menraktir sang teman di kantin sepulang kuliah. Akhlak-akhlak buruk dan dosa-dosa kita besar kemungkinan lebih berbahaya daripada sengatan laba-laba, namun kita malah memandang sinis orang-orang yang hendak menasihati kita dan lebih senang dengan teman yang selalu siap mendukung, entah saat benar maupun keliru.

Ketiga: Mengambil manfaat dari kritikan rival dan musuh.

Meski berusaha menghindar sebisa mungkin, tetap saja ada orang yang tidak suka kepada kita. Sebagiannya malah terang-terangan menampakkan permusuhan di depan kita. Ia amat bersemangat membongkar semua aib kita sedetail mugkin. Nah, sambil kita berusaha untuk memperbaiki hubungan dengan minta maaf, tabayyun, dsb, kita juga bisa memanfaatkan ‘service’ yang ia berikan tadi.  Ingat ‘kan syair arab yang artinya begini?
Mata cinta tumpul melihat segala aib *  Mata benci tajam melihat segala aib

Karena itu kritikan dan cibirannya kita jadikan sebagai bahan introspeksi. Barangkali rival yang kritis semacam ini lebih bermanfaat daripada teman dekat yang tidak peka terjadap aib kita atau malah bersikap pura-pura tidak tahu demi menjaga perasaan kita. Tapi di sinilah ujiannya, kebanyakan kita cenderung menuduh bahwa sang rival berdusta dalam kritikannya atau suka melebih-lebihkan, padahal bisa jadi ia benar 100 %.

Keempat: Terjun bersosialisasi dengan masyarakat

Kesendirian dan sikap enggan bergaul memang bisa membuat kita lebih aman dari pengaruh buruk orang lain. Tapi di saat sama sering menumbuhkan keangkuhan, sikap ujub, atau ‘rabun’ terhadap aib diri. Kita kadang baru sadar dengan kekurangan-kekurangan diri ketika membandingkannya dengan sikap masyarakat.  Bisa juga baru sadar ketika sudah mendapat celaan dari dunia pergaulan atau malah ketika sudah ‘diusir’ darinya. Mirip amilum dalam makanan yang ketahuan wujudnya setelah muncul warna biru ungu akibat ditetesi benedict. Setelah kekurangan kita sudah kita ketahui, mudahlah kita untuk memperbaikinya. Tapi penting diingat, pergaulan yang dimaksud tentu bukan pergaulan yang tidak lagi mengenal budi pekerti. Karena amat sangat mungkin barometer mereka terhadap akhlak dan tata krama juga berbeda. Akhlak terpuji disebut keluguan, perilaku tercela disebut modernitas.

***Kepada Allah ‘azza wa jalla kita memohon hidayah agar selalu menjadikan diri kita nampak kurang di mata kita agar kita tidak pernah berhenti memperbaiki diri.

Imam Mahdi

Oleh : Ustadz Nur Fajri Ramadhan

@nf_rom
1 Oktober 2016

Sebagaimana permintaan salah seorang pembaca Kulwap yang disetujui banyak pengurus, penulis sudah janjikan beberapa pekan yang lalu, setelah menyelesaikan tadabbur surat ‘Abasa kita akan menyinggung beberapa tanda kiamat. Pembahasan ini akan kita bahas setiap kali menyelesaikan tadabbur satu surat demi satu surat insyaAllah. Penulis akan merangkum apa yang ditulis oleh Al-Hafidzh Ibnu Katsir rahimahullah (w. 774 H, selanjutnya disebut Al-Hafidzh saja) dalam bagian akhir kitab Al-Bidayah wan Nihayah yang memuat riwayat-riwayat tentang kejadian di akhir zaman.

 

Pembahasan pertama setelah menyebutkan beberapa tanda kiamat yang sudah atau sedang terjadi, Al-Hafidzh menjelaskan tentang Imam Mahdi. Bahkan beliau memiliki sebuah buku kecil khusus menjelaskan tentang Imam Mahdi. Al-Hafidzh menegaskan sejak awal bahwa Imam Mahdi ini bukanlah yang diklaim oleh pihak tertentu bahwasanya ia adalah Muhammad bin Hasan Al-‘Askari yang dihikayatkan masuk ke suatu ruang bawah tanah di kota Samara, Irak, di tahun 260 H ketika berusia lima tahun kemudian belum keluar hingga hari ini. Konon, ia akan keluar kelak di akhir zaman. Mitos ini dalam liretatur pihak tersebut diberi istilah “Al-Ghaibah”. Al-Hafidzh mengomentari dongeng ini, “Sunggguh yang demikian itu tidak ada faktanya, tidak ada bukti, tidak pula ada haditsnya.”

 

Meyakini Imam Mahdi akan muncul di akhir zaman sebagai salah satu tanda kiamat merupakan keyakinan mendasar Ahlussunnah waljamaah. Hampir semua kitab akidah Aswaja pasti menyinggung tentang keyakinan ini. Hadits-hadits tentang akan munculnya Imam Mahdi sangat banyak hingga mencapai level mutawatir maknawi. Hadits mutawatir maknawi ialah hadits yang lafalnya berbeda-beda namun kalau hadits-hadits yang lafalnya berbeda namun sama kandungan maknanya ini dikumpulkan akan sangat banyak sekali, mencapai mutawatir.

 

Di antaranya ialah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada akhir umatku akan keluar Al-Mahdi. Allah menurunkan hujan kepadanya, bumi mengeluarkan tumbuhannya, harta akan dibagikan secara merata, binatang ternak melimpah, dan umat menjadi mulia.” [Hr Al-Hakim]

 

Harta dan kesuburan Bumi di masa beliau sangat melimpah hingga salah seorang rakyatnya berkata, “Wahai Mahdi, berilah aku harta!” Maka Imam Mahdi berkata, “Ambillah!” [Hr Ibnu Majah] Dalam riwayat At-Tirmidzi: “Maka Al-Mahdi pun mengeruk dengan kain pakaiannya sekeruk harta semampu yang ia bawa.”

 

“Masa kenabian akan berlangsung di tengah kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya. Setelah itu datang periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah (kekhilafahan sesuai manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’ala mengangkatnya. Kemudian datang periode raja-raja yang lalim selama beberapa masa. Selanjutnya datang periode raja-raja diktator dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’ala. Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad shallalahu alaihi wa sallam diam.” [Hr Ahmad]

 

Para ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan khilafah ‘ala minhaj nubuwwah ialah khilafah yang diawali Al-Mahdi sebagaimana Nabi bersabda, “Akan memimpin setelahku para khalifah. Setelah itu para umara’. Setelah itu para raja. Setelah itu para diktator. Setelah itu muncul seseorang dari Ahlu Baitku.” [Hr Ad-Daraquthni]

 

Hadits lain tentang Al-Mahdi ialah: “Seandainya dunia tidaklah tersisa melainkan sehari saja, niscaya Allah akan mengutus seorang laki-laki dari keturunanku yang akan memenuhi dunia dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi kezaliman.” [Hr Ahmad].

 

Berdalilkan hadits ini, Al-Hafidzh dan para ulama lainnya meyakini bahwa Imam Mahdi akan muncul sebelum Nabi ‘Isa ‘alaihissalam, bukan setelah beliau. Itu karena Nabi ‘Isa menegakkan keadilan.

 

Di antara hal yang mendukung bahwa Al-Mahdi muncul sebelum turun Nabi ‘Isa ‘alaihissalam dan akan berkolaborasi dengan Nabi ‘Isa ialah sabda Nabi: “Imam mereka adalah seorang laki-laki yang shalih. Ketika pemimpin mereka hendak maju ke depan untuk mengimami dalam shalat subuh, tiba-tiba turunlah Isa bin Maryam, maka mundurlah imam mereka ke belakang supaya Isa maju untuk mengimami shalat. Isa lalu meletakkan tangannya di antara dua bahunya (pemimpin mereka) sambil berkata, ‘Majulah engkau dan pimpinlah shalat, karena sesungguhnya ia ditegakkan untuk kalian.’ Akhirnya pemimpin mereka pun mengimami mereka shalat.” [Hr Ibnu Majah]. Imam As-Suyuthi (w. 911 H) mengemukakan riwayat dari Musnad Al-Harits bahwa imam tersebut merupakan Imam Mahdi.

 

Nabi juga telah memberikan banyak petunjuk tentang pribadi beliau bahkan mendeskripsikan sebagian sifat fisik beliau. “Dahinya lebar, hidungnya mancung.” [Hr Abu Dawud]

 

“Ia dari Ahlu Baitku. Namanya menyamai namaku. Nama ayahnya sama dengan nama ayahku.” [Hr Abu Dawud]

 

“Al-Mahdi dari ‘itrahku (keturunanku), dari keturunan Fathimah.” [Hr Abu Dawud]

 

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu suatu hari memandang kepada putra beliau, Al-Hasan, lalu berkata, “Sesungguhnya putraku ini pemimpin sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam nubuwatkan. Kelak akan lahir dari sulbinya seorang lelaki yang namanya seperti nama Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perangainya menyerupai perangai beliau, tetapi fisiknya tidak.[Hr Abu Dawud]

Hadits-hadits inilah yang menjadi bukti bahwa Imam Mahdi yang diklaim oleh pihak tertentu tadi pasti keliru, sebab nama ayahnya ialah Hasan Al-‘Askari (w. 260 H), bukan ‘Abdullah. Apalagi ia juga sebenarnya tidak memiliki putra kandung sebagaimana disebutkan oleh salah satu pakar sejarah terbesar Ahlussunnah, Ibnu Jarir Ath-Thabari (w. 310 H) dan salah satu tokoh terpenting pihak tersebut, Al-Kulaini (w. 329 H). Bahkan uniknya imam-imam pihak tersebut sebelumnya sejak yang keempat hingga yang kesebelas, yakni Hasan Al-‘Askari sendiri, seluruhnya keturunan Al-Husain radhiyallahu ‘anhuma, bukan keturunan Al-Hasan radhiyallahu ‘anhuma.

 

Selanjutnya Al-Hafidzh menyebutkan beberapa peristiwa menjelang dan fenomena menggembirakan di masa kepemimpinan Al-Mahdi. Nabi bersabda, “Akan terjadi perselisihan setelah wafatnya seorang pemimpin. Lalu keluarlah seorang lelaki dari penduduk Madinah mencari perlindungan ke Mekkah. Kemudian datanglah beberapa orang dari penduduk Mekkah kepada lelaki ini, lalu mereka membai’at Imam Mahdi secara paksa, maka ia dibai’at di antara salah satu rukun (sudut Ka’bah) dan Maqam Ibrahim (di depan Ka’bah). Kemudian diutuslah sepasukan manusia dari penduduk Syam, maka mereka dibenamkan di sebuah daerah bernama Al-Baida yang berada di antara Mekkah dan Madinah.

 

Bila hal itu dilihat oleh orang-orang maka ia didatangi oleh orang-orang shalih nan ahli ibadah dari Syam serta orang-orang terbaik dari dari Iraq untuk berbai’at kepadanya. Kemudian muncul seorang lelaki dari Quraisy yang pamannya dari kabilah Kalb. Lelaki ini akan membawa pasukan untuk menentang Imam Mahdi, tetapi pasukan al-Mahdi berhasil mengalahkan mereka. Kerugian bagi orang yang tidak menyaksikan harta rampasan perang kabilah Kalb. Imam Mahdi akan membagi-bagikan harta dan beramal mengikut sunnah Nabi mereka di tengah manusia. Ketika itu kedudukan Islam kian kokoh. Dia akan memerintah selama tujuh tahun kemudian wafat dan jenazahnya dishalatkan oleh umat Islam.” [Hr Abu Dawud]

 

Dalam riwayat At-Tirmidzi terdapat penjelasan tentang perselisihan yang terjadi setelah wafatnya seorang pemimpin itu. “Akan ada tiga orang putra khalifah yang akan saling berperang, tetapi tidak seorang pun menang dan memperoleh kekuasaan. Kemudian datanglah bendera-bendera hitam dari arah timur.”

 

“Akan muncul dari arah timur orang-orang yang membawa bendera hitam. Mereka akan meminta kebaikan tetapi tidak diberi. Mereka akan berperang dan akan menang. Mereka pun mendapat kebaikan yang mereka minta sebelumnya, tetapi mereka justru tidak menerimanya hingga mereka memberikannya kepada seorang lelaki dari Ahlu Baitku. Dia akan memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana sebelumnya ia dipenuhi kezaliman. Jika kalian telah mendapati zaman itu maka berbai’atlah dengannya walaupun kalian harus merangkak di atas salju.” [Hr Ibnu Majah]

 

“Akan muncul sekelompok manusia dari arah timur, mereka akan menyokong kepemimpinan Al-Mahdi.” [Hr Ibnu Majah]

 

“Muncul seseorang bernama Al-Harits, yang berprofesi sebagai petani, dari negeri di balik sungai. Di hadapan lelaki ini ada seseorang bernama Manshur, yang menyokong berkuasanya seorang keluarga Muhammad sebagaimana para shahabat dari Quraisy dahulu menyokong Rasulullah. Wajib atas setiap muslim untuk menolong atau menjawab panggilannya.” [Hr Abu Dawud]

 

Sungai yang dimaksud seperti tertulis dalam ‘Aunul Ma’bud, syarh Sunan Abu Dawud, yakni sungai Amu Darya, sebuah sungai besar di Asia Tengah. Negeri-negeri seperti Uzbekistan dan Turkmenistan memang disebut negeri-negeri di balik sungai, bilad maa wara-an nahr, karena posisinya dari Arab berada setelah sungai besar ini.

 

Dengan para penyokong dari Irak dan Syam inilah Imam Mahdi kelak akan muncul. Sebelumnya Allah telah mengampuni dosa Al-Mahdi, membimbing dan memberi beliau ilham. Demikianlah penjelasan Al-Hafidzh berkaitan hadits: “Al-Mahdi dari Ahlu Baitku. Allah akan memperbaikinya dalam semalam.” [Hr Ahmad]

 

Demikian. Wallahu a’lam.

Wakaf Uang Sepanjang Sejarah

Oleh : Ustadz Nur Fajri Ramadhaan
@nf_rom

Sebagian orang mungkin mengira bahwa wakaf uang yang difatwakan boleh oleh MUI pada 11 Mei 2002 dan diregulasikan dalam UU no. 41 tahun 2004 pasal 16 ayat (3) adalah perkara baru di zaman materialistis ini yang mana uang kertas merajalela sementara belum pernah ada contohnya di kalangan penghulu umat Islam yang shalih maupun generasi-generasi terdahulu.

Ya, memang tidak didapatkan riwayat tentang wakaf uang di kalangan penghulu Islam kecuali sedikit saja. Tetapi wakaf uang sudah ada dan benar-benar diterapkan sejak masa-masa itu. Riwayat tertua terkait wakaf uang adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih beliau: Az-Zuhri berfatwa mengenai orang yang menjadikan 1000 dinarnya di jalan Allah dan mewakafkannya kepada budaknya yang mahir berdagang, lalu profit dagangan itu dijadikan sedekah untuk orang miskin dan kerabat, apakah pewakaf ini berhak mengambil bagian dari profit tadi? Jika tidak boleh, maka ia akan berikan juga kepada orang miskin”. Kata Az-Zuhri: “Untung tersebut tidak boleh ia ambil.” [Shahih Al Bukhari (4/12)]. Az-Zuhri ini adalah Ibnu Syihab, tabiin senior nan populer yang hidup di abad pertama dan kedua Hijriah (58-124 H).

Adanya pertanyaan ini di majelisnya Az-Zuhri mengisyaratkan adanya wakaf uang di masa yang sangat awal di saat shahabat masih banyak yang hidup. Begitu juga Imam Malik (93-179 H) pernah ditanya pertanyaan berikut: “Jika ada seseorang yang mewakafkan 100 dinar, ia hutangkan kepada orang0orang dan mereka melunasinya, lalu diwakafkan lagi, dan begitu seterusnya, apakah engkau memandang ada kewajiban zakat di sana?” Imam Malik menjawab: “Iya, saya memandang ada kewajiban zakat padanya.” [Al Mudawwanah Al Kubra (1/343)]. Lihatlah bahwa Imam Malik tidak engingkari wakaf uang yang disebutkan dalam pertanyaan.

Pertanyaan ini pun diajukan di majelisnya Imam Malik di Madinah Al-Munawwarah. Ini menunjukkan bahwa wakaf uang ada dan terus berlangsung di kota Madinah yang penuh ilmu dan ulama. Di abad ketiga Hijriah pun ada bukti yang menunjukkan bahwa wakaf uang telah berlangsung di tengah masyarakat Islam bahkan hingga ke jantung Khilafah Abbasiyah di Baghdad. Imam Ahmad (164-241 H) pernah ditanya tentang seseorang yang mewakafkan 1000 dirham di jalan Allah, apakah dia dapat mengabil jatah dari situ? Imam Ahad menjawab, “Jika itu wakaf, maka ia tidak boleh mengambil apa-apa.” [Majmuatul Fatawa (31/234)]. Kondisi ini terus berlangsung di sejumlah wilayah Islam sebagaimana dihikayatkan oleh Ad-Dasuqi (653-696 H): “Dahulu di pelabuhan Fes ada seribu uqiyah emas yang diwakafkan untuk hutang. Sayangnya orang-orang malah melunasi hutang tersebut dengan kuningan dan lama-lama uang tersebut habis.” [Hasyiyah Ad Dasuqi (4/77)].

 

 

Sejarah lalu mencatat penyebaran wakaf uang yang signifikan di era Khilafah Utsmaniyyah di mana madzhab Hanafi kuat pada saat itu dan bahkan menjadi madzhab resmi negara. Bukti penyebaran wakaf uang pada masa itu ialah bahwa sejumlah fuqaha menuliskan buku-buku untuk menjelaskan tidak bolehnya wakaf uang serta mengingkari fenoena di masyarakat. Di saat yang sama, fuqaha lain turut menjawab dengan buku untuk menjelaskan bahwa itu boleh. Disertai bantahan terhadap argumentasi mereka yang melarang. Haji Khalifah mengisahkan fenomena ini: “Maulana Jawi Zadah menuliskan bukumenjelaskan tidak bolehnya wakaf uang. Ia juga berusaha membatalkan wakaf-wakaf uang di zamannya saat menjabat sebagai hakim di Eropa Timur. Kemudian Imam Abus Su’ud (896-982 H) membantah beliau dan mefatwakan bahwa itu boleh.” [Kasyfudzh Dzhunun (1/898)]. Pengingkaran Al-Qadhi Jawi Zadah seperti itu menunjukkan bahwa wakaf uang sudah tersebar di masayarakat zamannya. Adapun perbedaan pendapat antar sesama ulama Ahnaf di kalangan Utsmaniyyah, maka itu tidak aneh. Para fuqaha Hanafiyyah sendiri memang tidak satu suara terkait wakaf uang, sekalipun pendapat resmi yang dianut madzhab mereka adalah bahwa itu boleh, seperti halnya Malikiyyah dan sebagian Syafiiyyah dan Hanabilah. Tidak hanya sampai di situ, bahkan Khilafah Utsmaniyyah memerintahkan para hakimnya untuk mengesahkan wakaf-wakaf uang sebagaimana dinyatakan oleh ‘Alauddin Ak-Hashkafi (1025-1088 H) [Hasyiyah Ibni Abidin (4/364)].

Selanjutnya Hanafiyyah kontemporer seolah sepakat akan bolehnya wakaf uang meski masih ada sanggahan dari fuqaha lain [Kasyfudzh Dzhunun (2/10)]. Memang harus diakui memang bahwa wakaf uang ini belum terlalu menyebar di negeri-negeri Arab seperti luasnya penyebaran wakaf uang di semenanjung Anatolia (Turki sekarang) dan semenanjung Balkan (Eropa Timur sekarang) meski seluruhnya berada di bawah naungan Utsmaniyyah. Ibnu Abidin mengatakan, “Wakaf dirham populer di Turki & Eropa tetapi belum populer di negeri kami (Syam).” [Hasyiyah Ibni Abidin (4/364)].

Apapun itu, wakaf uang sebagaimana dinyatakan oleh Dr. Muhammad Al-Arnauth telah berkembang pesat dan itu salah satu kekhasan Utsmaniyyah. Data menunjukkan bahwa dalam rentang waktu 1340-1947 M, yang kebanyakan masa ini dunia Islam dikuasai Utsmaniyyah, wakaf uang tinggi dengan jumlah 5,5% dari total wakaf. Angka ini tentu tidak sedikit untuk wakaf uang karena kebanyakan orang (93%) masih mengutamakan wakaf properti [Alwaqful Islamy wa Tanmiyatul Mujtama’ hlm. 136]. Demikian seterusnya hingga wakaf uang kini menjadi hal yang lumrah di negeri-negeri Islam termasuk Indonesia. Wallahu a’lam.

Benarkah Al-Qur’an Hasil Pemikiran Muhammad ?

 

Al-Qur’an

Penulis : Ustadz Nur Fajri Ramadhan

@nf_rom
8 Okt 2010

Kitab suci umat Islam yang terkenal dengan sebutan Al-Qur’an ini sungguh sangat menakjubkan. Bahasanya sangat indah, padahal ia bukan syair. Diksinya bagus, padahal ia bukan puisi. Kisah-kisah di dalamnya valid, padahal ia bukan ensiklopedi sejarah. Rev R Bosworth, seorang orientalis, dalam bukunya Muhammad and Muhammadanism menyebutnya sebagai “… a miracle of purity, style, wisdom, and truth..”. Kitab ini juga dihafal oleh jutaan orang di seluruh dunia dari masa ke masa selain juga dikhatamkan berkali-kali. Bila ditilawahkan sungguh merdu didengar. Pokoknya kalau tulisan ini ditujukan untuk menyebutkan keistimewaan Al-Qur’an saja, tidak akan cukup! Lalu, siapakah gerangan yang telah mampu menghadirkan mukjizat luar biasa ini?

 

Dalam Al-Qur’an langsung didapat jawaban tegas atas pertanyaan tersebut dalam surat yang sudah sering kita baca, ” Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya kitab suci (Al-Qur’an)…“ (Al-Kahf:1). Juga di surat Al-Insan yang sama-sama sering dibaca di hari jum’at,Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an kepadamu dengan berangsur-angsur.” (Al-Insan:23). Jadi Al-Qur’an adalah wahyu dari Allah Rabb semesta alam.

 

Akan tetapi bersamaan dengan itu masih saja ada pihak-pihak yang tidak mempercayai akan hal ini. Mereka mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah hasil pemikiran dan gubahan sang Rasul, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan firman Allah Yang Maha Pengasih. Di antara yang berpendapat demikian adalah orang-orang musyrik Quraisy dahulu dan kalangan orientalis seperti Julius Wellhausen, Dr Bruce, dan lain-lain. Allah ‘azza wa jalla telah menyebutkan klaim mereka dalam firman-Nya, “Dan orang-orang yang kafir berkata, ‘ Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad dan dia dibantu oleh kaum yang lain’. Sungguh mereka telah berbuat suatu kedzhaliman dan dusta yang besar.“ (Al-Furqan:4)

Dengan mengemukakan alasan-alasan yang rapuh mereka berusaha memutarbalikkan fakta sehingga kitab suci ini tidak “suci“ lagi karena ia ternyata hanya hasil pemikiran seorang anak Adam, bukan firman Tuhan. Selanjutnya agama Islam yang berlandaskan dengan Al-Qur’an pun menjadi sama kedudukannya dengan produk-produk pemikiran manusia lain macam Marxisme, Fasisme, dst. Jadi kalau syariat Islam bertentangan dengan kepentingan mereka, dengan mudahnya bisa diabaikan, digugat, atau malah `diamandemen`. Inilah tujuan mereka sebenarnya.

Namun sudah merupakan sunnatullah, setiap penentang Allah `azza wa jalla pasti tidak akan berhasil. Klaim batil kaum penentang itu termentahkan dengan beberapa bukti bahwasanya:

 

Pertama: Nabi Muhammad –dengan penuh penghormatan kepada beliau- adalah seseorang yang buta aksara. Hal ini tampak dari sejarah kehidupan beliau dan juga disebutkan dengan tegas dalam banyak ayat di al-Qur’an, misalnya Al-’Ankabut :48 dan Al-A’raf:157-158. Di sisi lain Al-Qur’an merupakan suatu mukjizat yang menandingi sastra Arab pada waktu itu. Kita tahu bahwa pada abad 5-7 Masehi sastra Arab telah berada pada masa keemasannya dan belum tercampuri vocab bahasa-bahasa asing. Setiap tahunnya di Mekkah juga digelar semacam festival sastra yang diperlombakan di sana syair-syair dari berbagai kabilah. Di antara sastrawan ulung yang terkenal Qais bin Sa’idah, Aktsam bin Shaifi, dan Al-Walid bin Mughirah. Maka merupakan kemustahilan kalau seseorang yang sejak kecil tidak pernah belajar baca-tulis apalagi kuliah jurusan sastra Arab tiba-tiba pada usia 40 tahun menghasilkan sesuatu yang membuat para sastrawan sendiri terkagum-kagum serta tak mampu membuat yang semisalnya.

Lebih istimewa lagi, ayat Al-Qur’an yang beliau bacakan tidak berbeda dari masa ke masa. Padahal sulit bagi seseorang untuk mengucapkan sesuatu persis seperti apa yang diucapkannya sebelumnya, apalagi dalam tempo waktu yang lama. Mesti ada perubahan karena lupa misalnya. Belum lagi melihat kenyataan bahwa Al-Qur’an tidak `terbit` sekaligus, tapi berangsur-angsur dalam kurun kurang lebih 22 tahun. Terkadang secara insidental, terkadang juga Allah ta’alaa menurunkannya begitu saja, tanpa ada faktor. Tapi lihat, Al-Qur’an yang beliau baca dari sholat ke sholat tetap itu-itu juga, persis seperti yang kita baca sekarang ini, tanpa ada perubahan “dan“ menjadi “atau“, “kaum“ menjadi “umat“, atau perubahan semisalnya.

Kedua: Dalam agama Islam, selain Al-Qur’an ada yang namanya hadits Qudsi, dan hadits Nabawi, kedua-duanya biasa disebut hadits saja. Masing-masing mempunyai gaya bahasa yang khas, berbeda satu dengan lainnya. Dengan mudah kita bisa membedakan antara Al-Qur’an, hadits Qudsi, dan hadits Nabawi dengan memperhatikan model penuturannya, coba saja bandingkan Al-Qur’an dengan sebuah buku kumpulan hadits berjudul Riyadhush-Shalihin misalnya. Perbedaan ini terjadi karena Al-Qur’an adalah firman Allah Yang Maha Esa sedangkan hadits adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seandainya Al-Qur’an adalah buatan Muhammad, tentu ada kesamaan gaya bahasa dari ketiganya karena authornya sama. Merupakan hal yang maklum bahwa sejenius apapun seorang sastrawan, selalu ia memiliki gaya bahasa khas yang hampir selalu tampak pada setiap karyanya, karena yang menulis semua karyanya ya dia-dia juga. Bagaimana pula kasusnya kalau ini terjadi pada seorang yang tidak pernah memperdalam sastra?

Ketiga: Al-Qur’an memuat kisah-kisah tentang orang-orang terdahulu, hukum-hukum ibadah dan sosial, keadaan di hari akhir, serta fakta-fakta ilmiah yang belum terjamah intelektualitas bangsa Arab waktu itu. Rasionalkah bahwa seseorang yang tidak pernah mengenyam pendidikan ini telah menulisnya? Darimana ia tahu tentang proses perkembangan embrio dalam janin? Darimana ia mengetahui bahwa semakin tinggi suatu dataran dari permukaan laut, volume udaranya semakin sedikit? Kisah-kisah tentang orang-orang terdahulu pun diceritakan dalam metode yang berbeda dengan kitab suci sebelumnya, Injil dan Taurat.Hukum yang ada pun lebih adil dan lengkap dari hukum buatan manusia lainnya semisal buatan Hammurabi. Sekali lagi, mungkinkah seorang Muhammad menulisnya dengan penuh ketelitian sampai tidak terdapat satu kesalahan pun? Ataukah ia mendapatkan info tersebut melalui wahyu Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu?

 

Keempat: Dalam kehidupan manusia siapa sih yang tidak mau disebut dan dipuji sebagai seseorang yang telah menghasilkan sebuah karya agung nan menakjubkan atau punya pemikiran cemerlang? Bahkan terkadang untuk memperoleh kehormatan tersebut seseorang sampai mengklaim karya orang lain sebagai karyanya? Al-Qur’an jelas merupakan mukjizat tiada tanding, lalu kenapa beliau tidak mengatakan bahwa Al-Qur’an itu merupakan masterpiece dan hasil pemikiran beliau sehingga semakin tenar sajalah beliau? Yang ada justru beliau enggan menisbatkan Al-Qur’an kepada dirinya bahkan mengatakan: anzalahulladzii ya’lamus sirra fis samaawaati wa maa fil ardhi (Al-Furqan:6), “Al-Qur’an itu diturunkan oleh Allah yang Maha Mengetahui semua rahasia di langit dan bumi! “

Bahkan agar ia bisa menguasai Arab – seperti yang dituduhkan beberapa orientalis-, kenapa beliau tidak berkompromi saja dengan kaum Quraisy, misalnya dengan membolehkan menyembah berhala dalam Al-Qur’an yang merupakan `kreasinya`? Atau kenapa beliau di dalam `karyanya` ini tidak memuji kepercayaan Trinitas dan Zoroaster yang menjadi agama beberapa imperium besar waktu itu, semisal Romawi, Abbesinia, dan Persia, sehingga mendapat dukungan dari luar? Semua itu tidak beliau lakukan karena memang Al-Qur’an itu hanya wahyu dari Allah dan beliau cuma menyampaikan saja. isi di luar tanggung jawab percetakan, istilahnya begitu seperti disebut di beberapa koran dan majalah.

 

Beliau shalallahu `alaihi wa sallam sampai rela diusir oleh musyrikin Quraisy dari tanah kelahirannya, Mekkah, karena tetap teguh mendakwahkan pengesaan Tuhan. Ja’far bin Abi Thalib, pemimpin kafilah hijrah pertama, tetap membacakan surat Maryam yang berisi hakikat Rasul-Nya, Isa `alaihissalam, tanpa ragu di hadapan Negus, pemimpin Abbesinia, yang beragama Nasrani. Surat yang dibawa kepada Kisra dan Heraklius pun berisi ajakan untuk mengesakan Allah Yang Maha Kuasa, bukan tawaran untuk berkoalisi menguasai Arab. Allah berfirman:

 

Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami itu berkata, `Datangkanlah Al-Qur’an yang lain dari ini atau gantilah ia`. Katakanlah wahai Muhammad: `Tidaklah patut bagiku menggantinya menurut kehendakku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku terhadap siksa hari yang besar (kiamat)`. (Yunus:15)

Kelima: Bahkan ada beberapa tempat dalam Al-Qur’an yang beisi kritik tegas terhadap Muhammad, misalnya di awal surat `Abasa dan At-Tahrim, kemudian di At-Taubah:43 dan 113, Ali `Imran:61, Al-Anfal:67-68, Al-Kahf:23-24, dan di Al-Ahzab:37. Semua tetap beliau sampaikan kepada para sahabat beliau serta dibaca di dalam sholat.

 

Hal ini tentu saja semakin membuat akal sulit menerima klaim bahwa Al-Qur’an yang dibuat oleh Muhammad malah membongkar aib-aib beliau sendiri. Di luar itu sebenarnya justru banyak momen berharga yang lebih bisa `menonjolkan` keistimewaan beliau, namun tidak disebutkan di dalam Al-Qur’an. Kalau memang Muhammad menulis Al-Qur’an supaya populer dan punya pengikut, hal yang demikian tentu terlalu ceroboh untuk diperbuat.

 

Dr Maurice Bucaille, seorang orientalis yang dalam hal ini bersikap objektif, mengatakan dalam bukunya, The Bible, The Qur’an, and Science, “The above observation makes the hypothesis which advanced by those who see Muhammad as the author of the Qur’an untenable. How could a man, from being illiterate, become the most important author, in terms of literary merits, in the whole of Arabic literature? How could he then pronounce truths of a scientific nature that no other human being could possibly have developed at that time, and all these without once making the slightest error in his pronouncement on the subject?”

 

Maka akal sehat manakah yang masih `menuduh` bahwa Al-Qur’an adalah kreasi dari seorang Muhammad? Jelaslah sudah bahwa Al-Qur’an adalah wahyu dari Allah Yang Maha Agung sedangkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah hamba-Nya dan utusan-Nya yang ditugaskan menyampaikan firman-firman-Nya kepada segenap manusia di seluruh penjuru dunia. Maka siapa yang menghinakan Al-Qur’an, sesungguhnya ia tidak sedang menghinakan karya seorang manusia, tapi ia sedang menghinakan kalam Tuhan semesta alam. Sebaliknya siapa yang menghormati Al-Qur’an dan melakukan pembelaan untuknya, mudah-mudahan dicatat sebagai orang-orang yang mengagungkan dan membela kalam-Nya. “Wa man yu’adzhdzhim sya’aa-irallahi fainnahaa min taqwal quluub..” (Al-Hajj:32).

###

Usir Marhaen itu!

sosok-marhaen-dari-lidahibu.com_

 

Dahulu, Indonesia bukanlah apa-apa
Dijajah tiga setengah abad lamanya
Tapi tidak mempu berbuat apa-apa
Ingin lepas, tapi tidak tau bagaimana caranya

Akhirnya muncul perlawanan keras dari seluruh Nusantara
Dari Sabang sampai Merauke, mereka sepakat ingn merdeka
Kemudian, wacana kemerkedakaan itupun mengemuka
Bukan karena golongan tua yang ingin merdeka,
Tapi golongan muda-lah yang berdiri dan tampil berbeda
Merdekalah Indonesia!

Tidak bisa dibayangkan, jika para pemuda saat itu
masih terlelap, mungkin sekarang masih seperti sedia kala
Kurus, hitam dan kelaparan menjadi gambaran sehari-harinya
Sekarang saatnya Anda untuk menjadi seorang pemuda yang sebenarnya,
Pegang erat-erat gelar tersebut dan buktikanlah bahwa Anda bisa!

Dari Sebuah Penjara Suci
27 Maret 2014

Penulis : Agung Sugiarto,

(Alumni PESAN 3, PNJ 2015)

GAUL SYAR’I

Hablumminaallah, yaitu hubungan dengan ALLAH SWT sebagai Tuhannya, manusia juga dituntut harus mampu untuk menjalankan Hablumminannas, sebuah kewajiban untuk menjalin hubungan yang baik dengan sesama manusia agar bisa menjalani kehidupannya di dunia ini secara seimbang. Selain saling mengenal, manusia juga sangat dianjurkan agar dapat menjalin hubungan yang baik antar sesamanya. Hal ini dijelaskan dalam Al-Quran, surah Al-Hujurat ayat 10-12: “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

Para pemuda muslim yang dalam keseharian menjalankan beragam perannya, sebagai pelajar, wirausaha dan profesi lain dalam kehidupan sosial lainnya. Hal ini memungkinkan bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai kalangan dan latar belakang. Namun, tidak bisa dipungkiri, era modernisasi dan globalisasi seperti dewasa ini memaksa para pemuda muslim bisa mengikuti perubahan setiap detiknya bila tidak ingin tergilas zaman, termasuk dalam interaksinya dengan orang lain. Belum lagi gempuran informasi yang bertubi-tubi dari seluruh penjuru dunia, dan dari berbagai media yang tidak semuanya memberikan dampak positif bahkan tidak jarang mengajak ke arah kerusakan akhlak atas nama modernisasi. Hal ini yang kadangkala membuat para pemuda muslim yang tanpa sadar terseret arus sehingga terperosok ke gaya hidup yang tidak diridhoi Allah SWT. Demi sebuah eksistensi dan pengakuan dari lingkungan sosialnya, terkadang mampu menggerus kadar keimanan seseorang. Dari yang awalnya paham kalau sesuatu itu dilarang, lalu dengan pengaruh atau informasi dari luar, menjadi tidak masalah kalau sedikit, lalu benar-benar dilanggar.

Hidup menjadi semakin berorientasi pada kenikmatan duniawi ketika Al Qur’an dan Hadist yang seharusnya menjadi pegangan hidup, telah digantikan dengan referensi yang diklaim ciptaan manusia yang modern, sehingga bila ingin dianggap modern juga harus mau mengikutinya. Ini merupakan tantangan zaman para pemuda muslim, akan tetapi para pemuda muslim tak boleh berkecil hati, potensi seorang muslim sangat besar dalam menjalani kehidupan dunia yang telah diciptakan oleh Allah SWT. Dengan tantangan pergaulan yang ada saat ini harus memotivasi untuk menjadikan ini sebagai ladang dakwah.

Dengan dakwah idelogis, yaitu dakwah yang menyadari realitas kerusakan  dan keterbelakangan masyarakat. Gerakan ini akan melihat realitas permasalahan yang ada serta melakukan kajian secara mendalam tentang solusi yang bersifat fundamental atau menyeluruh (taghyir al juduriy). Karakter dakwah bersifat ideologis alamiyah akan berbenturan dengan pemikiran lama, perasaan kolektif masyarakat, peraturan-peraturan dan para aparaturnya (sistem yang sudah ada) dengan pemikiran yang dibawa oleh entitas gerakan ideologis. Sebuah pertarungan pemikiran dan politik benar-benar terjadi, baik dalam warna yang terang maupun terkadang masih abu-abu. Dalam hal ini para pemuda muslim dapat menyampaikan dakwahnya dengan bergaul dan tetap menjalankan akhlak yang syar’i sebagai muslim, mengetahui pergaulan mana yang haram, halal dan mubah. Selain itu, para pemuda muslim harus memiliki beberapa hal agar menjadi pemuda ideal dalam pergaulan, antara lain: Ummatun Wâhidah, Ummatun Wasathan, Khairu Ummah, Baldatun Thoyyibatun, Ummatun Muqtashidah.

 

Ummatun Wahidah bahwa manusia dari dahulu hingga kini merupakan satu umat. Allah Swt menciptakan mereka sebagai makhluk sosial yang saling berkaitan dan saling membutuhkan. Mereka sejak dahulu hingga kini baru dapat hidup jika bantu membantu sebagai satu umat, yakni kelompok yang memiliki persamaan dan keterikatan. Karena itu dalam bergaul     para pemuda muslim harus menjadikan teman-temannya sebagai saudara yang saling menyayangi dan mengasihi. Ummatun wasathan, kata wasathan terdiri dari huruf wau, sîn dan tha’ yang bermakna dasar pertengahan atau moderat yang memang menunjuk pada pengertian adil. Dalam bergaul adil adalah hal yang harus dimiliki. Makna kelompok pertengahan (ummatun muqtashidah) adalah segolongan kelompok yang berlaku pertengahan dalam melakukan agamanya, tidak berlebihan juga tidak melalaikan. Sehingga dalam exis dan gaul harus mengetahui apakah itu mubah atau tidak, sehingga tidak dzalim.

Istilah khairu Ummah berarti umat terbaik atau umat unggul atau masyarakat ideal hanya sekali saja disebutkan diantara 64 kata ummah dalam Al-Quran yakni dalam surah Ali Imran: 110. “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” Dalam ayat tersebut, dijelaskan kriteria-kriteria Khairu Ummah, yaitu menyuruh kepada ma’ruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Jadi dalam pergaulan harus tetap membawa syariat Islam di lingkungan tersebut. Baldatun Thoyyibah berarti mengacu kepada tempat, yaitu pemuda muslim harus menciptakan lingkungan yang baik dan jauh dari hal-hal yang dilarang agama.

Sebagai contoh  fashion karya designer busana islami terkemuka, seperti Dian Pelangi, Monika Jufry, dan Rya Baraba. Karena sebagai muslimah yang aktif, tentu diperlukan busana yang cocok dalam setiap acara, yang bisa membuat pemakainya tampil modis dan trendi namun tetap syar’i atau sesuai syari’ah. Mungkin kita bisa mengambil contoh dari Indari Mastuti, founder IIDN. Bagi pendiri Sekolah Perempuan, Indscript Copywriting dan Indscript Personal Branding tersebut, pilihan fashionnya yang syar’i sama sekali tidak menghalangi mobilitasnya, untuk terus bergerak, berkresi dan berprestasi. Sejumlah nama public figure lain dengan hijab syar’i dan kesantunannya dalam bersosialisasi juga bisa menjadi rujukan dalam memilih busana dan menunjukkan eksistensi diri tanpa meninggalkan identitasnya sebagai muslimah yang tidak melanggar aturan agama.

Dalam kehidupan kampus misalnya, para pemuda muslim bebas melakukan hal yang mubah seperti aktif berorganisasi, aktif dalam lomba-lomba akademik maupun non akademik, tidak ada batasan dalam proses mengembangkan diri. Jika dalam lingkungan masyarakat masih tidak dapat menerima syariat agama Islam misalnya hijab, para pemuda muslim dapat mencari lapangan pekerjaan lain, karena sejatinya masih banyak tempat yang dapat membawa kita menuju RidhoNya. Rezeki manusia telah diatur oleh Allah SWT, jadi tidak ada yang membatasi potensi pemuda muslim untuk tetap exis dan gaul tapi tetap dalam syariat Islam yaitu akhlak baik yang menunjukkan syar’i. Pada era digital ini tidak dapat dipungkiri teknologi semakin canggih, untuk mengikuti perkembangan zaman ini mari para pemuda muslim untuk tetap exis dan gaul sebagai seorang muslim yang membawa akhlak yang baik, tetap dalam koridor Islam untuk lingkungan dan kehidupan sehari-hari.

Penulis : Nabila Nur Mufida – PNJ 2015

[Belum Nemu Header]*yak beneran belum nemu header yg cocok untuk tulisan ini

 

 

Entah kenapa akhir-akhir ini saya seneng banget kalo ngeliat orang-orang yang secara duniawi punya banyak hal yang bisa dibanggakan (seperti eksistensi tinggi, terkenal, kaya, ganteng, pinter, tokoh di komunitasnya) baik temen, adik kelas, kakak kelas, dosen, bahkan artis mulai belajar agama (sesuai Al-Quran dan As-Sunnah, selanjutnya disebut ngaji/hijrah).

Ya keren aja menurut saya dan saya gak habis pikir kenapa mereka mau meninggalkan semua itu demi sesuatu yang mungkin banyak orang belum mau mencarinya atau menganggap itu adalah sesuatu yg abstrak (Keridhaan Allah dan Kebahagiaan yang hakiki)

Mereka yang terkenal, rela merendahkan hati bahkan jadi orang yang dianggap asing pun mereka gak masalah.

Mereka yang ganteng, bisa gebet kanan gebet kiri, pakai pakaian necis karena tajir abis lebih memilih untuk menundukkan pandangan dan berpenampilan yang mungkin wanita awam bakal anti terhadap mereka

Mereka yang jadi tokoh masyarakat minimal ketua geng, sekarang berani untuk berubah jadi lebih baik meskipun mereka sekarang sering dihina, dibully, dibilang kaya kambing lah (padahal kata ustad @AbuTakeru adalah salah satu
bintang surga), dibilang fanatik lah, dibilang teroris lah, dibilang berlebihan lah dan istilah istilah lain yang sebenernya mereka (re: penyinyir) belum tahu artinya.

Ada artis yang berani hijrah pas lagi naik daun

Ada karyawan yang berani resign meskipun gajinya besar karena ada sistem riba pekerjaannya

 

terus saya kan penasaran, jadi saya coba tanya ke beberapa dari mereka (bukan artis), dengan pertanyaan

“Apa sih motivasi kamu hijrah?”
Rata-rata jawabannya karena mau jadi lebih baik

trus saya tanya lagi
“apasih hal pertama yg bikin kamu mulai ngaji/hijrah?”

Ada yang jawab karena hidupnya mulai merasa penat dengan kehidupan dunia, ada yg penasaran temennya sekarang jadi ramah banget, ada gak sengaja dengerin ceramah yg diplay temennya, dll.

Kok bisa ya? Apa mungkin ini yang namanya Hidayah? Jadi hidayah bisa lewat perantara apa aja? bahkan mungkin hal simpel seperti postingan yang dilike atau dishare temen kita?

Semoga kita selalu diberi hidayah oleh Allah dan diteguhkan di atas Agama ini

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-MU

@di stasiun UP peron 2

Penulis : Muhammad Syarifful H -, Mahasiswa FKG Universitas Indonesia

 

Hijrah
Ihsan Nurahman-, Mantan Pemain Band Noah

silakan di share jika dirasa bermanfaat

Video Animasi-Pengantar Ilmu Nahwu