Khutbah Jumat “Mendulang Hikmah dibalik Wabah”

Waktu : Jumat, 29 Ramadhan 1441 H/ 22 Mei 2020
Tempat : Masjid Baiturrahman Kemang Pratama 3 Bekasi (daerah zona hijau, dan mendapat izin dari pihak berwenang setempat untuk ibadah di Masjid sesuai protokol Covid-19)
Oleh : Ustadz Abid Fathurrahman Arif (Imam Masjid Baiturrahman Kemang Pratama 3 Bekasi dan Pengajar Pesantren Kosan Yayasan Bisa Depok).

 

Suasana Shalat Jumat

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه. اللهم صل وسلم على نبينا و سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بعد
فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثاتها وكل محدثات (في الدين) بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار

Jamaah Jum’at – Rahimani wa Rahimakumullah –

Pertama-tama, Hendaklah kita bersyukur kepada Allah Ta’ala yang telah memberikan kita nikmat Islam, Iman dan Ihsan yang dimana ketiga nikmat tersebut adalah sebaik-baik nikmat bagi Manusia. Sebagaimana pesan para Khatib di setiap Jumat, hendaknya kita berpegang teguh dgn Agama Islam dan jangan mati kecuali diatasnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mewafatkan kita sebagai orang Muslim dan dalam ketaatan. Amin Ya Rabbal Alamin.

Pada kesempatan kali ini, izinkan saya menyampaikan khutbah bertemakan : “Mendulang Hikmah dibalik Wabah”

Sebagaimana yg kita ketahui dan rasakan bersama, masa-masa ini adalah masa yg penuh cobaan dan kesulitan yg dirasakan manusia di dunia ini. Betapa tidak, Wabah Covid 19 yang telah muncul sekitar 3 bulan terakhir ini memunculkan berbagai permasalahan kehidupan manusia. Baik permasalahan di bidang pendidikan, ekonomi, sosial , dan lainnya.

Di tengah kewaspasdaan orang-orang terhadap Virus Corona, nyatanya ada saja hikmah yang dapat dirasakan dalam kondisi spt ini. Seorang Muslim harus melihat musibah yang menimpanya dari dua sisi, yaitu positif dan negatifnya. Tentunya, sisi positif harus kita kedepankan agar tidak mengeluh terhadap ketetapan Allah. Akidah Ahlussunnah wal Jamaah meyakini adanya takdir baik dan buruk. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dlm Surat Al-Hadid ayat 22-23 :

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (22) لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (23)
(22) Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
(23) Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

pexels.com-masjid

Menetap di rumah (Stay at home) menjadi keharusan setiap orang untuk mencegah penularan virus dan hal-hal yang tidak diinginkan. Dalam Akidah, kita harus أخذ السبب (mengambil sebab) dan Tawakal terhadap suatu peristiwa.

Menetap di Rumah bukan menjadi penghalang kita utk produktif. Dimanapun kita berada, seharusnya kita melakukan hal2 yg bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Diantara mereka ada yang mengaplikasikan kebermanfaatan dgn orang lain dgn melakukan bantuan sosial dlm rangka mengurangi beban kehidupan sebagian orang krn Virus Corona. Tentu ini adalah perbuatan yang menghasilkan pahala besar. Dalam Hadis yg terdapat di Kitab Riyadhus Salihin Imam Nawawi yg diriwayatkan Abu Hurairah dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam bersabda :

….احرص على ما ينفعك، واستعن بالله ولا تعجز…

….Bersemangatlah terhadap apa2 yang bermanfaat bagimu dan minta tolong pd Allah dan jangan lemah…. (HR. Muslim)

Diantara mereka ada yg sibuk dgn hal2 Ubudiyah , baik Ibadah Mahdhah atau Ghairu Mahdhah. Salah satunya, Tawasul kepada Allah Ta’ala dengan amal saleh, yg merupakan Tawasul yang disyariatkan. Bentuk Tawasulnya adalah dengan banyaknya majelis2 online, baik Riwayah dan Dirayah.

Di dalam Majelis tersebut ada keberkahan, seperti : Pembacaan salawat kepada Baginda Rasulullah Shallalahu alaihi wassallam dalam majelis2 Hadis, pembacaan biografi (Manaqib) para ulama dan wali Allah, pembacaan matan2 ilmu yg ringkas multi faedah, dan lainnya. Guru-guru kami yang melakukan hal ini berharap dgn adanya keberkahan2 majelis ini dapat mengangkat wabah virus yang sedang terjadi, krn perkumpulan orang-orang saleh dalam hal kebaikan dapat mengundang ridha Allah.

Tentunya, keberkahan majelis akan lebih terasa ketika talaqqi secara langsung (offline) . Adapun online, maka ini wasilah yang Allah berikan kpd manusia zaman ini yg patut kita manfaatkan juga. Harapan majlis ini sbgmn Hadis no.34 dalam Arbain Nawawi yg diriwayatkan Abu Hurairah dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam :
….. وما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله يتلون كتاب الله، ويتدارسونه بينهم، إلا نزلت عليهم السكينة، وغشيتهم الرحمة، وحفتهم الملائكة، وذكرهم الله فيمن عنده….

“……Tidaklah berkumpul sekelompok orang di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, rahmat meliputinya, para malaikat mengelilinginya, dan Allah menyanjung namanya kepada Malaikat yang ada di sisi-Nya….. ” (HR. Muslim dgn lafazh ini)

Sebaliknya, masa-masa spt ini bukanlah untuk bermalasan apalagi bermaksiat sehingga dpt mengundang murka Allah Ta’ala. Masih banyak Kitab-kitab yg belum dibaca, tugas-tugas kuliah/sekolah/pekerjaan yg belum tuntas, karya2 yang menunggu kreasimu dan waktu yang menunggu aktivitasmu.

 

Khutbah kedua

الحمد لله وكفى والصلاة والسلام على رسول الله المصطفى وعلى آله وصحبه ومن وفى . اللهم صل وسلم على نبينا و سيدنا وحبيبنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Diantara aktifitas produktif yang dapat kita lakukan di saat wabah di bulan Ramadhan ini adalah dengan memperbanyak interaksi dgn Al-Qur’an. Kegiatan Ibadah Ramadhan yg biasanya di Masjid, spt salat Fardhu dan Tarawih menjadi di rumah adlh tantangan bagi kita utk belajar menjadi imam salat bagi keluarga kita.

Saat-saat seperti inilah kita bisa menambah hafalan Al-Qur’an kita, memperbaiki bacaan kita dgn Tahsin, mempelajari agama dan lainnya. Secara khusus Hafalan Al-Qur’an, Allah jamin akan kemudahannya tetapi yg sulit adalah menjaganya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dlm 4 tempat di Surat Al-Qamar (ayat 17, 22,32, dan 40) :

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?

Dan juga adanya wabah ini dapat menumbuhkan sikap dewasa dan bijaksana dalam melihat perbedaan pendapat. Hendaknya kita saling menghargai antara yg memilih salat di rumah sebagai ketaatan terhadap ulil amri, dan yg salat di Masjid jikalau memang berada di zona hijau (harus sesuai protokol covid-19 dan arahan pemerintah setempat).

Terlebih di bulan Ramadhan, selain meningkatkan kualitas ibadah spiritual, kita harus tingkatkan etika dan mental dalam bermuamalah sesama manusia.

Diujung Khutbah, marilah kita bertafakur di hari-hari terakhir Ramadhan ini agar kita yg menjadi Rabbaniyun bukan Ramadhaniyyun, yang hanya beribadah di bulan Ramadhan , tetapi lepas Ramadhan tidak bersemangat ibadah lagi. Semoga Allah menerima amal-amal kita di bulan Ramadhan dan dapat bertemu kembali dengan Ramadhan berikutnya. Aamin Ya Rabbal Alamin

إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على ابراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
اللهم ارفع عنا البلاء والوباء والغلاء والفحشاء و شدائد المحن ما ظهر منها و ما بطن من هذا البلد اندونيسيا خاصةً وسائر بلاد المسلمين عامة
اللهم جنبا فيروس كورونا و من كل فيروس والأمراض
اللهم احفظ أنفسنا وأهلنا من كل الأمراض و الأسقام
اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى طَاعَتِكَ وَاهْدِهِمْ سَوَاءَ السَّبِيْلِ، اَللَّهُمَّ جَنِّبْهُمْ الْفِتَنَ مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَابَطَنَ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
ربنا تقبل منا صيامنا و قيامنا و ركوعنا وسجودنا في رمضان هذه السنة و في كل شهر وتب علينا انك انت التواب الرحيم و بلغنا رمضان الآتية برحمتك يا أرحم الراحمين
و صلى الله على سيدنا محمد والحمد لله رب العالمين

 

عباد الله {۞ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ} [النحل : 90} فاذكرو الله يذكركم ولذكر الله أكبر

اقم الصلاة إن الصلاة تنهى عن الفحشاء و المنكر

Bagaimana proses metode rukyat dan hisab dalam penentuan bulan Hijriah dilakukan?

Penulis : Nafiys Ismail

(Alumnus Pesan BISA & Mahasiswa Fisika UI 2016)

Illustrasi : Proses Rukyatul Hilal

Pada hari Jumat (22/5) Kemenag RI, Fachrul Razi,  resmi menetapkan bahwa Idul Fitri 1441 H jatuh pada hari Ahad, 24 Mei 2020 esok hari. Dengan demikian bulan Ramadhan tahun ini genap menjadi tiga puluh hari, dikarenakan posisi hilal (bulan baru) di seluruh 80 titik pantuan di Indonesia masih belum terlihat dan ketinggianya di bawah ufuk barat. Ketetapan proses rukyatul hilal ini membuat seluruh masyarakat Indonesia akan menjumpai 1 Syawal 1441 secara serempak, karena proses hisab (perhitungan) seperti yang dilakukan oleh Muhammadiyah pun telah mendapatkan hasil penanggalan 1 Syawal 1441  bertepatan pada 24 Mei 2020 terlebih dahulu.

Lantas yang menjadi pertanyaan banyak orang, bagaimana sih proses rukyatul hilal dilakukan? Apa perbedaanya antara proses rukyatul hilal dengan proses hisab, yang terkadang menyebabkan terjadi perbedaan penanggalan?

 

Mengenal Metode Rukyatul Hilal

Pada masa Nabi Muhammad  ﷺ  sebenarnya cara menentukan datangnya bulan baru itu sederhana, yaitu dengan melihat hilal (bulan baru, berbentuk sabit) pada waktu setelah maghrib. Sebagaimana  hadits “Berpuasalah kalian pada saat kalian telah melihatnya (bulan), dan berbukalah kalian juga di saat telah melihatnya (hilal bulan Syawal) Dan apabila tertutup mendung bagi kalian maka genapkanlah bulan Sya’ban menjadi 30 hari” riwayat Bukhari dan Muslim. Karena dalam penaggalan kalender Hijriah perhitungan hari dimulai saat matahari tenggelam (waktu maghrib), maka cukup menanti matahari terbenam di hari ke-29 lalu amati langit apakah telah terlihat hilal atau tidak.

pexels.com

Untuk memastikan terlihatnya hilal khusus pada bulan Ramadhan, cukup diperlukan satu orang saksi, berbeda dengan bulan selain Ramadhan yang diperlukan dua orang saksi (pendapat yang dipilih Imam Syafi’i), maka sudah bisa dilaporkan kepada pihak terkait dan lantas dipastikan bahwa malam itu sudah masuk tanggal 1 bulan baru.

Sebaliknya, jika saat itu hilal tidak terlihat, maka jumlah hari dalam bulan tersebut akan digenapkan menjadi 30 hari.  Penanggalan Hijriah didasarkan atas peredaran bulan mengelilingi bumi (revolusi bulan). Setiap bulan diawali dengan kemunculan hilal yaitu bulan sabit muda pertama (first visible crescent) di ufuk barat langit saat waktu terbenamnya matahari dan juga diakhiri dengan dengan kemunculan hilal.

Secara astronomis, waktu revolusi bulan terhadap bumi adalah 29.531 hari, maka terdapat dua pilihan dalam menentukan penanggalan esok harinya, yaitu pilihannya antara 29 hari atau digenapkan 30 hari, bergantung kepada kondisi saat hilal akan dilihat (dirukyat). Mungkin timbul pertanyaan, mengapa waktu revolusi bulan bisa tidak genap dalam bilangan bulat?

Hal ini terjadi karena dari hari ke hari penampakan bulan akan berubah jika dilihat dari bumi. Letak perubahan yang mengakibatkan “wajah bulan” juga akan mengalami perubahan. Semakin menjauh dari matahari, maka cahaya bulan akan semakin luas. Perubahan inilah yang kemudian jadi tanda, bahwa bulan sabit adalah awal/akhir bulan (antara tanggal 29, 30, atau 1) dan bulan purnama adalah tepat di hari tengah-tengah bulan (tanggal 15).

Dari pembacaan fase wajah bulan itu kemudian lahirlah metode yang kemudian kita kenal sebagai metode “Rukyatul Hilal”. Rukyat secara etimologis berarti melihat, sedangkan Hilal adalah bulan sabit baru pertama yang teramati sesudah maghrib. Rukyatul Hilal berarti upaya untuk melihat secara langsung bulan sabit di kaki langit di waktu ghurub dengan mata, baik menggunakan alat bantu optik maupun dengan mata telanjang (Muhammad Hadi Bashori, Pengantar Ilmu Falak, hal. 193).

Gambar 1. Garis tanggal Syawal 1441 berdasarkan kriteria Wujudul Hilal (garis merah dan putih ketinggian bulan 2 derajat (antara arsir putih dan biru), dan kriteria Odeh (antara arsir biru dan hijau) yang disimulasikan oleh Prof. Thomas Djamaluddin (Ketua LAPAN)

Namun patut diakui, melihat hilal adalah perkara yang tidak mudah, terlebih bila kondisi cuaca mendung. Hal ini disebabkan karena hanya sekitar 1,25% bagian dari permukaan bulan saja yang terkena paparan sinar matahari menjelang matahari terbenam.

Apabila dilihat dari posisi  bumi di ufuk barat, posisi matahari, hilal, dan cakrawala (horison) akan membentuk sudut segitiga. Horison sebagai garis di sudut bawah, hilal sebagai titik di sudut atas, dan matahari sebagai titik sudut bawah. Jarak antara bulan dan horison disebut sebagai sudut azimut. Sedangkan sudut garis antara bulan ke matahari ini disebut sudut elongasi.

Gambar 2. Posisi bumi dan matahari ditinjau dari proses revolusi bulan

Untuk terlihat, hilal paling tidak harus berada di sudut azimut (sudut antara bulan & horison) bernilai  lebih 2˚ dari matahari. Sederhananya, bulan harus ada di atas matahari. Jika kurang dari itu maka posisi bulan dari bumi akan terlihat sejajar dengan matahari, dan itu akan membuat hilal ikut tenggelam saat langit mulai sedikit gelap dan membuat posisi menjadi ijtimak (posisi bumi, bulan, matahari sejajar) yang membuat hilal tidak terlihat.

Oleh karenanya, Prof. Thomas Djamaluddin, Ketua LAPAN dan Guru Besar Astronomi ITB, menyatakan bahwa melakukan wujudul hilal mulai dilakukan ketika matahari terbenam sebelum bulan terbenam karena visibilitas tampaknya lebih tinggi.

Pada masa sekarang, tentunya pengelihatan hilal sudah dilakukan dengan teknologi yang canggih Teleskop dan binokuler (keker) adalah utama yang digunakan membantu pengamatan. Fungsi utama teleskop dalam pengamatan objek redup seperti hilal adalah memperbanyak cahaya yang dikumpulkan dan difokuskan ke mata. Sebagai perbandingan, pupil mata diameternya hanya sekitar 0,5 cm, sehingga cahaya yang ditangkap minim sekali.

Dengan menggunakan teleskop dengan diameter lensa objektif atau cermin yang jauh lebih besar, maka cahaya yang diteruskan ke mata semakin banyak. Para pengamat LAPAN pun menggunakan juga teknologi kamera CCD (Charged-coupled Device) yang prosesnya cepat karena terbantu oleh berbagai program komputer pengolah citra dan kontrasnya dapat diperjelas. Untuk kasus di Indonesia, LAPAN bersama Tim Falakiyah dari Kemenag RI menetapkan kriteria imkan rukyat sebesar  (2˚- 3’- 8”), yaitu (1) tinggi bulan minimal 2 derajat, (2) jarak sudut elongasi 3 derajat, dan (3) umur bulan minimal 8 jam.

 

Mengenal Metode Hisab

Hisab secara harfiah bermakna perhitungan. Istilah hisab sering digunakan dalam ilmu falak (astronomi) untuk memperkirakan posisi Matahari dan bulan terhadap bumi untuk penanggalan, dimana pada kasus paling lazim untuk penentuan waktu bulan Ramadhan.

Perhitungan hisab yang dilakukan para ahli falak (astronomi) dipandang cukup dan punya akurasi yang presisi. Karena alasan ini, tidak sedikit ulama kontemporer yang menggunakan metode ini. Meskipun di sisi lain ada juga beberapa ulama yang menganggap bahwa penggunaan hisab secara murni (dalam kasus penentuan bulan Ramadan) juga dinilai sebagai bid’ah, bila tidak dibarengi dengan metode rukyatul hilal.

pexels.com

Sederhananya,  perbedaan ini terletak pada konsep Wujudul Hilal (keberadaan hilal) bagi golongan yang menggunakan metode hisab murni. Artinya, makna terkait dari “melihat hilal” dipahami sebagai melihat tidak harus dengan mata kepala tetapi juga bisa menggunakan ilmu. Dengan hisab, posisi hilal akan bisa diprediksi ada “disana” sekalipun wujudnya tidak terlihat.

Terdapat dua metode hisab yang digunakan, yaitu Hisab Taqribi (mengukur ketinggian bulan berdasarkan umur bulan) dan Hisab Hakiki (mengukur posisi bulan sesungguhnya) dalam terminologi ilmu falak. Karena bulan secara rata-rata bergerak ke Timur 12 ˚ perhari, maka tinggi bulan ditaksir setengah umur bulan (dari 12˚ / 24 jam x umur bulan). Jadi bila ijtimak terjadi pukul 13.00 dan maghrib pukul 18.00, maka umur bulan = 5 jam dan tinggi bulan ditaksir 5/2 = 2.5˚ derajat. Hasil hisab taqribi umumnya lebih tinggi dari hisab hakiki.

Gambar 3. Waktu yang dibutuhkan bulan untuk melakukan revolusi terhadap bumi

Dewasa ini, metode hisab telah banyak menggunakan komputer dengan tingkat presisi dan akurasi yang tinggi. Berbagai perangkat lunak (software) yang praktis juga telah ada. Hisab sering kali digunakan sebelum rukyat dilakukan, seperti yang dilakukan oleh Muhammadiyah.

Kriteria Visibilitas Sebagai Dasar Penyatuan Kalender Islam

pexels.com

Dua metode ini adalah gambaran, bahwa dengan metode hisab, para ulama mencoba menggunakan pendekatan rasional. Melihat pola, membacanya, lalu menyusun prediksi-prediksinya. Semua dilakukan dalam rumus-rumus. Sedangkan metode rukyat, para ulama menggunakan metode teknis dengan pendekatan empirik secara real-time. Bagaimana pengalaman menyaksikan tanda-tanda alam adalah penentu sebuah hukum syariat berlaku.

Penyatuan kriteria menjadi prasyarat utama untuk menyatukan kalender Islam. Mewujudkan kalender Islam yang mapan adalah cita-cita utama penyatuan umat. Karena penentuan awal bulan qamariyah juga terkait dengan ibadah, khususnya dalam penentuan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, maka kalender Islam semestinya juga menjadi kalender ibadah. Terkait dengan kalender ibadah, pemilihan kriteria menjadi titik krusial yang harus disatukan.

Dalam hal ini, kita juga harus menyadari bahwa pengamal rukyat dan pengamal hisab harus diwadahi setara. Bagi pengamal hisab, cukuplah awal bulan mengikuti hasil hisab yang tercantum di kalender. Sedangkan bagi pengamal rukyat, awal bulan harus dibuktikan dengan hasil rukyat yang di-itsbat-kan (ditetapkan) oleh pemerintah. Jadi, demi persatuan ummat dan penyatuan kalender Islam, kriteria yang harus digunakan adalah kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat). Dengan kriteria itu, hasil rukyat akan sama dengan hasil hisab yang tercantum di kalender.

Dalam mencari titik temu, tentu masing-masing pihak perlu terbuka untuk menerima konsep pihak lain, tanpa merasa menang atau kalah. Para pengamal hisab harus terbuka untuk menerima konsep rukyat sehingga kriteria yang disepakati harus berbasis visibilitas hilal atau imkan rukyat. Sementara para pengamal rukyat pun harus terbuka untuk menerima konsep hisab yang pasti sehingga ketika posisi bulan yang telah memenuhi kriteria namun gagal rukyat haruslah hisab diterima sebagai penentu masuknya awal bulan. Hal itu mendasarkan pada Fatwa MUI No. Kep/276/MUI/VII/1981 yang membolehkan penetapan awal bulan berdasarkan hisab saja bila bulan sudah imkan rukyat (mungkin dirukyat), walau hilal tidak terlihat.

Bila kita sudah bersepakat menggunakan kriteria yang sama, maka langkah berikutnya adalah merumuskan kriterianya. Pilihannya bisa menggunakan kriteria optimistik ala Odeh, Yallop, SAAO, atau Shaukat. Atau menggunakan kriteria optimalistik ala kriteria LAPAN 2010 atau kriteria lain yang disepakati.  Agar kalender yang disepakati menjadi kalender yang mapan, perlu juga disepakati otoritas tunggal yang menjaga sistem kalender tersebut, yaitu otoritas defacto atau pemerintah. Juga perlu ditegaskan batas wilayah keberlakukannya, misalnya negara kesatuan Republik Indonesia atau misalkan ke tingkat regional meliputi wilayah Asia Tenggara.

Pada akhirnya, seperti yang sudah dijalankan selama bertahun-tahun, pemerintah Indonesia menggabungkan dua metode ini secara bersamaan. Pendekatan rasional dengan hisab dan pendekatan empirik dengan rukyat ini harus terus dilakukan secara beriiringan dengan menyepakati kriteria yang disepakati secara resmi oleh pemerintah NKRI dan dikeluarkan fatwa oleh Majelis Ulama Indonesia. Wallahu’alam bishowab.

_____________________________________________________

Bandung, 30 Ramadhan 1441 H

_____________________________________________________

REFERENSI

[1] T. Djamaluddin. (2013). Peran Astronomi Dalam Penyatuan Penetapan Awal Bulan Qamariyah

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2013/08/05/peran-astronomi-dalam-penyatuan-penetapan-awal-bulan-qamariyah/

[2] Ahmad Khadafi. (2019). Memahami Rukyat dan Hisab untuk Menentukan 1 Ramadan https://tirto.id/memahami-rukyat-dan-hisab-untuk-menentukan-1-ramadan-coNg

[3] M. H. Bashori. (2015). Pengantar Ilmu Falak. Pustaka Al-Kautsar

[4] J. Arifin. (2019). Dialektika Hubungan Ilmu Falak dan Penentuan Awal Ramadhan, Syawal, Dzulhijjah di Indonesia (Sinergi Antara Independensi Ilmuwan dan Otoritas Negara). Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus, Indonesia

[5] Cara Melakukan Pemantauan Hilal  https://www.youtube.com/watch?v=lU2UdNIfQo4&pbjreload=10

[6] Cukup Satu Saksi dalam Melihat Hilal Ramadhan  https://rumaysho.com/3457-cukup-satu-saksi-dalam-melihat-hilal-ramadhan.html

[7] Hasil Sidang Isbat Tetapkan IdulFitri Minggu 24 Mei. (2020). https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200522062620-20-505755/hasil-sidang-isbat-tetapkan-idulfitri-minggu-24-mei

Hal-Hal Terkait Pembangunan Gedung Dalam Ayat-Ayat Al-Quran

Penulis : Muhamad Ziddan

Building by Pexels

“Air itu mengalir dari tempat yang tinggi menuju ke tempat yang lebih rendah”.

Begitulah kira-kira ungkapan yang sering mengetuk telinga kita sejak kecil, apalagi yang sudah besarnya masuk ke sekolah jurusan IPA, pastinya ungkapan itu sangat tidak asing baginya. Namun lain halnya ketika kita berbicara mengenai cara membangun sesuatu, kita mesti menggunakan prinsip membangun dengan arah yang berlawanan dengan air yaitu membangun dari tempat yang rendah menuju ke tempat yang lebih tinggi.

Entah dalam prakteknya itu membangun hubungan sosial, pengetahuan, atau bahkan juga bangunan gedung. Dalam tulisan kali ini kita hanya akan fokus dengan bangunan gedung. Berikut ini adalah hal-hal terkait dengan membangun sebuah bangunan gedung yang menariknya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala isyaratkan dalam beberapa ayat dalam Al-Quran.

pexels.com

1. Prinsip

Prinsip dalam membangun sebuah bangunan gedung hampir sama dengan prinsip Allah SWT ketika menciptakan langit dan bumi. Prinsip tersebut difirmankan oleh Allah SWT secara tersirat yaitu:

هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ لَكُم مَّا فِى ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعًا ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ فَسَوَّىٰهُنَّ سَبۡعَ سَمَٰوَٰتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيمٌ

“Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikanNya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” [QS. Al-Baqarah: 29]

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat di atas, bahwa Allah SWT memulai ciptaanNya dengan menciptakan bumi, kemudian setelahnya menciptakan tujuh lapis langit. Memang demikianlah cara membangun sesuatu, yaitu dimulai dari bagian bawah, setelah itu baru bagian atasnya [1]. Penjelasan ini tampak jelas mengindikasikan sebuah prinsip dalam membangun sebuah bangunan gedung yang sejatinya dimulai dari mendirikan pondasi kemudian setelahnya merangkai atap. Dengan kata lain, bumi diibaratkan sebagai pondasi dan langit diibaratkan sebagai atap.

Dalam ilmu teknik sipil, hal demikian dinamakan dengan sistem Bottom-Up, di mana sebuah bangunan gedung dibangun mulai dari bawah lalu merangkak naik ke atas, yaitu dimulai dari pondasi, lantai, kolom, balok, dan terakhir atap. Sebenarnya bangunan gedung juga bisa dibangun menggunakan sistem Top-Down, kebalikan dari sistem Bottom-Up, dimulai dari atas lalu terjun turun ke bawah, tetapi sistem ini hanya bisa dipakai dalam kondisi-kondisi tertentu, beda halnya dengan sistem bottom-up yang menjadi keumuman dalam mendirikan bangunan gedung.

Oleh karena itu sistem bottom-up inilah yang menjadi poin utama dalam pembahasan prinsip membangun sebuah bangunan gedung. Namun pada akhirnya, kedua sistem ini memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, pemilihan sistem tergantung dari variabel-variabel yang ada di lapangan dan pihak pelaksana (dibaca: kontraktor) yang melaksanakan pembangunan gedung [2].

2.  Fasilitas

Setelah bangunan gedung tersebut sudah terbangun kuat dan kokoh, hal selanjutnya yang dilakukan adalah memfasilitasi gedung tersebut yang menariknya juga tampak sama dengan prinsip penghamparan bumi oleh Allah SWT.

Hal tersebut difirmankan oleh Allah SWT dalam urutan ayatNya yaitu:

وَٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ دَحَىٰهَآ

أَخۡرَجَ مِنۡهَا مَآءَهَا وَمَرۡعَىٰهَا

وَٱلۡجِبَالَ أَرۡسَىٰهَ

مَتَٰعًا لَّكُمۡ وَلِأَنۡعَٰمِكُمۡ

“Dan bumi sesudah itu dihamparkanNya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkanNya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu” [QS. An-Nazi’at: 30-33]

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat-ayat di atas, bahwa bumi itu diciptakan sebelum penciptaan langit, tetapi bumi baru dihamparkan sesudah langit diciptakan [2]. Dengan kata lain urutannya adalah:

  1. Allah SWT menciptakan bumi
  2. Allah SWT menciptakan langit
  3. Allah SWT menghamparkan bumi (mengeluarkan semua yang terkandung di dalam bumi)

Berkata Ibnu Abbas RA sehubungan dengan makna penghamparan bumi (dahhaha) ialah mengeluarkan mata airnya dan tetumbuhannya, serta membelah jalan-jalan dan sungai-sungainya. Menjadikan padanya gunung-gunung, padang pasir, jalan-jalan, dan dataran-dataran tingginya [3]. Semua itu disediakan sebagai kesenangan bagi manusia dan untuk memenuhi keperluan-keperluan mereka di bumi [4].

Jika bumi dihamparkan dengan sebegitu hebatnya oleh Allah SWT, lain halnya dengan ‘penghamparan gedung’ alias pemenuhan fasilitas-fasilitas untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia di dalam gedung, seperti memasang instalasi air, instalasi listrik, tempat pembuangan, dan beragam furnitur. Demikian itu adalah demi kesenangan bagi pemilik bangunan gedung dan tamu-tamunya kelak [5].

pexel.com

4. Jadwal

Ketiga proses di atas tentunya membutuhkan waktu dalam masa pengerjaannya, baik dalam menciptakan bumi dan langit atau dalam membangun sebuah gedung, meskipun perlu dipahami bahwa di sini Allah SWT terlepas dari sifat kurang dan sifat lemah berbeda dengan makhlukNya yang penuh kekurangan. Dalam kasus penciptaan alam semesta Allah SWT dengan Maha BesarNya menyebutkan secara detail tentang masa penciptaan bumi dan langit.

Hal tersebut terungkap dalam potongan firmanNya:

ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَا فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ…

“Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa…” [QS. As-Sajdah: 4]

Dalam Tafsir Jalalain dijelaskan bahwa Allah SWT menciptakan langit dan bumi selama enam hari dimulai dari hari Ahad dan selesai pada hari Jumat [6].

Sekarang pindah ke kasus pembangunan gedung. Sebelum itu, mari kita mundur sejenak mengingat-ingat apa yang sudah dipelajari di kampus. Dalam pelaksanaan konstruksi, dalam hal ini pembangunan gedung, ada tiga komponen penting yang perlu diketahui yaitu, biaya, mutu, dan waktu, biasa disingkat dengan BMW atau BMW+, plus (+) artinya zero accident, semuanya merupakan faktor penting dalam menentukan berhasil atau tidaknya proyek konstruksi. Untuk menghubungkan faktor-faktor tersebut dibutuhkanlah jadwal perencanaan yang juga bertujuan memetakan jenis-jenis pekerjaan dari tahapan awal sampai akhir.

Jadwal perencanaan tidak disusun oleh sembarang orang, melainkan disusun oleh orang yang memahami ilmu Manajemen Konstruksi dengan baik dan benar. Metode yang biasa digunakan oleh mereka untuk membuat jadwal perencanaan adalah kurva S, yaitu kurva yang menghubungkan antara persentase jenis pekerjaan di sumbu Y dengan waktu pekerjaan di sumbu X. Dengan adanya kurva ini, pelaksana diharapkan dapat mengendalikan waktu pekerjaan konstruksi dengan mempertimbangkan biaya yang akan dikeluarkan, sehingga pelaksana dapat mengerjakan proyek dengan waktu dan biaya seoptimal mungkin tanpa mengurangi kualitas dari mutu bangunan gedung yang sedang/akan dibangun [7].

Kesimpulannya, prinsip pembangunan bangunan gedung memiliki prinsip yang sama dengan penciptaaan bumi dan langit. Keduanya sama-sama harus selalu melalui rangkaian tahapan yang sistematis, tidak bisa saling longkap-melongkapi, karna tahapan tersebut saling berkaitan dan terjadwal. Wallahualam wahuwal muwaffiq.

 


Catatan Kaki:

[1] https://tafsir.learn-quran.co/id/surat-2-al-baqarah/ayat-29

[2] https://tekniksipildopp.blogspot.com/2018/11/metode-konstruksi-basement-bottom-up-dan-top-down.html

[3] https://tafsir.learn-quran.co/id/surat-79-an-naziat/ayat-30

[4] https://tafsir.learn-quran.co/id/surat-79-an-naziat/ayat-33

[5] Lihat: Simamora, Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Gedung

[6] https://tafsir.learn-quran.co/id/surat-32-as-sajdah/ayat-4

[7] https://www.pengadaanbarang.co.id/2019/12/kurva-s.html

 

 

Adab Khatam Al-Qur’an

Terjemah dan Catatan kaki oleh : Ustadz Abid Fathurrahman Arif

Di penghujung Bulan Ramadhan 1441 H, sebagian kita sudah ada yang ingin mengkhatamkan Al-Qur’an, atau bahkan sudah ada yg lebih dari satu kali. Tapi, apakah kita sudah mengetahui Adab-adab yg berkaitan dengan Khatam Al-Qur’an ?

Berikut saya nukilkan dari Kitab At-Tibyan Fi Adab Hamalatil Qur’an Imam An-Nawawi Radhiyallahu Anhu (hlm.181-186 cet. Darul Minhaj):

في آداب الختم وما يتعلق به

وفيه مسائل :

الأولى في وقته : قد تقدم أن الختم للقارئ وحده يستحب أن يكون في الصلاة ، وأنه يستحب أن يكون في ركعتي سنة الفجر ، أو ركعتي سنة المغرب ، و في ركعتي سنة الفجر أفضل ، وأنه يستحب أن يختم ختمة في أول النهار في دور ، ويختم ختمة أخرى في أول الليل في دور آخر *

(Pasal) Seputar Adab-adab Khataman dan yang berkaitan dengannya

Diantara Permasalahannya :

Permasalahan pertama seputar waktu (khataman) : Telah berlalu (penjelasan) bahwa Khataman bagi seorang pembaca Al-Qur’an secara sendiri dianjurkan (mustahab) ketika salat. Dan dianjurkan juga dilakukan di dua rakaat sunnah (Qabliyah) Fajar, atau dua rakaat sunnah (Ba’diyah) Magrib. Dan dua rakaat sunnah (Qabliyah) Fajar lebih utama utk Khataman.

 

وأما من يختم في غير الصلاة ، والجماعة الذين يختمون مجتمعين .. فيستحب أن يكون ختمهم في أول النهار ، أو في أول الليل كما تقدم ، وأول النهار أفضل عند بعض العلماء .
Adapun yang mengkhatamkan di luar Salat, dan yang membaca Al-Qur’an dan mengkhatamkannya secara berjamaah, Maka disukai pula untuk mengkhatamkan di awal siang (Pagi), atau awal malam (Sore) sebagaimana telah berlalu penjelasannya. Dan Awal siang lebih utama menurut sebagian ulama.

 

المسألة الثانية : يستحب صيام يوم الختم ، إلا أن يصادف يوما نهى الشرع عن صيامه ، وقد روى ابن أبى داود بإسناده الصحيح : (أن طلحة بن مصرف ، وحبيب بن أبى ثابت ، والمسيب بن رافع التابعيين الكوفيين رضي الله عنهم أجمعين ، كانو يصبحون اليوم الذي يختمون فيه القرآن صياما ) **
Permasalahan kedua : Disukai berpuasa ketika khataman, kecuali berbenturan dengan hari yang dilarang berpuasa secara syariat. Diriwayatkan dari Ibnu Abi Daud dengan sanad yang sahih :” (Bahwasannya Para Tabiin Kufah Thalhah bin Musharrif ,Habib bin Abi Tsabit, Al-Musayyib bin Rafi Radhiyallahu Anhum, mereka menjadikan hari khataman mereka dengan berpuasa.)”

المسألة الثالثة : يستحب حضور مجلس ختم القرآن استحبابا متأكدا ، فقد ثبت في الصحيحين : (أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أمر الحيض بالخروج يوم العيد ، فيشهدون الخير ودعوة المسلمين ). *
Permasalahan ketiga : Sangat dianjurkan menghadiri majelis khataman Al-Qur’an , sebagaimana yang telah ditegaskan dlm Sahihain (Bukhari dan Muslim) : “(Bahwasannya Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam memerintahkan para wanita Haid keluar pada hari Ied , agar mereka menyaksikan kebaikan dan doa kaum Muslimin.) ”

 

وروى الدارمي وابن أبي داود بإسنادهما عن ابن عباس رضي الله عنهما : ( أنه كان يجعل رجلا يراقب رجلا يقرأ القرآن ، فإذا أراد أن يختم .. أعلم ابن عباس ، فيشهد ذلك )
و روى ابن أبي داود بإسنادين صحيحين عن قتادة التابعي الجليل صاحب أنس رضي الله عنه قال : (كان أنس بن مالك رضي الله عنه إذا ختم القرآن … جمع أهله ودعا)
Imam Darimi dan Ibnu Abi Daud meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma : ” (Bahwasannya ia menjadikan seseoran utk memperhatikan orang lain ketika membaca Al-Qur’an.. Apabila ingin Khatam, maka ia akan memberitahu Ibnu Abbas dan beliau ikut menyaksikannya ) ”

Imam Nawawi menyebutkan beberapa hadist lagi setelahnya yg berisikan tindakan sahabat, Tabiin ketika Khataman Al-Qur’an dan mengharapkan rahmat yg turun padanya. (Saya ringkas dlm rangka efektifitas tulisan)

المسألة الرابعة : يستحب الدعاء عقب الختم استحبابا متأكدا ، لما ذكرناه في المسألة التي قبلها ، و روى الدارمي بإسناده عن حميد الأعرج قال : (من قرأ القرآن ثم دعا .. أمّن على دعائه أربعة آلاف ملك)
Permasalahan keempat : Sangat disukai berdoa setelah khataman, sebagaimana yang telah kami sebutkan pd permasalahan sbnrnya , Imam Darini meriwayatkan dengan sanadnya dari Humaid Al-A’raj, ia berkata : “(Barangsiapa yg membaca Al-Qur’an kemudian berdoa, 4000 malaikat mengaminkan doanya) ”

 

وينبغي أن يلح في الدعاء ، وأن يدعو بالأمور المهمة ، وأن يكثر من ذلك في صلاح المسلمين و صلاح سلطانهم ، وسائر ولاة أمورهم ، وقد روى الحاكم أبو عبد الله النيسابوري بإسناده : (أن عبد الله بن المبارك رضي الله عنه كان إذا ختم القرآن … أكثر من دعائه للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات) * وقد قال نحو ذلك غيره
Sepantasnya untuk tekun atau sungguh-sungguh dalam berdoa, dan berdoa perihal hal-hal yang penting, memperbanyak doa untuk kemaslahatan kaum muslimin dan para penguasa dan orang-orang  yg memegang urusan pemerintahan. Imam Al-Hakim Abu Abdillah An-Naisaburi meriwayatkan dengan sanadnya : ” (Bahwasannya Ketika Abdullah bin Mubarak Radhiyallahu Anhu mengkhatamkan Al-Qur’an, beliau memperbanyak doa utk kaum muslimin/at dan mukminin/at.) ”

Imam Nawawi menuliskan lafazh-lafazh doa yang berkaitan dengan kriteria beliau yang disebutkan, tetapi dlm mengefektifkan tulisan maka silahkan lihat ke Kitab At-Tibyan Bab Fi Adabil Khatmil wa ma Yata’allaqu minhu. Lafazh-Lafazh doanya bebas selama mengandung kebaikan (termasuk doa khataman yang biasa dipakai orang Indonesia), krn para ulama jg membuat doa-doa sendiri yang sifatnya mutlak.

 

المسألة الخامسة : يستحب إذا فرغ من الختمة أن يشرع في أخرى عقبها ، فقد استحبه السلف ، واحتجوا فيه بحديث أنس رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : (خير الأعمال الحل والرحلة ) قيل : وما هما ؟ قال : افتتاح القرآن وختمه
Permasalahan kelima : Disukai jika telah selesai khataman untuk memulai bacaan kembali dari awal sampai khatam kembali. Para Salaf sangat menganjurkan hal tsb. Mereka berargumentasi dengan hadist Anas Radhiyallahu Anhu bahwasannya Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam bersabda : “(Sebaik-baik amal adalah Al-Hallu War Rihlah : bersegera dlm beramal) “. Ditanyakan kepada beliau : ” Apakah keduanya itu ? “, Beliau berkata : ” Memulai membaca Al-Qur’an dan mengkhatamkannya” .

Catatan kaki :
* Perbuatan ini bertujuan utk mendapatkan keutaman yg berlandaskan Hadis Imam Darimi dari Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu Anhu (tercantum di akhir Bab Fil Kalam an Khatmil Qur’an fi Muddah Mu’ayyanah hlm.82 cet. Darul Minhaj) :

إذا وافق ختم القرآن أول الليل .. صلت عليه الملائكة حتى يصبح ، وإن وافق ختمه آخر الليل .. صلت عليه الملائكة حتى يمسي ( قال الدارمي : هذا حسن عن سعد)

“Jika khataman bertepatan dengan awal malam, Para Malaikat akan bersalawat (kepada yg mengkhatamkan) sampai pagi. Jika khataman bertepatan dengan akhir malam, Para Malaikat akan bersalawat sampai sore. ” (Ad-Darimi berkata : Ini Hasan dari Sa’ad).

** Imam Ibnu Alan Rahimahullah di Kitab Al-Futuhat Ar-Rabbaniyah mengatakan hikmah berpuasa ketika khataman utk mensyukuri nikmat dan sarana pengabulan doa.

* Ini adalah Qiyas (analogi) yg digunakan Imam Nawawi, agar dianjurkan mendatangi majlis2 yang penuh kebaikan.

— Sebagian Hadis2 Imam Nawawi memang Dhaif, tetapi beliau berpendapat akan kebolehannya jika dipakai dlm Fadhail aAmal, sbgmn yg diterangkan dlm Mukadimah Arbain Nawawi. —

—————————-

Doa Khatam Qur’an Imam An-Nawawi

Doa Khatam Qur’an Imam An-Nawawi. Bisa dipraktekan di dalam dan luar Salat. Jika dalam Salat, maka bacanya setelah selesai surat An-Naas sebelum Ruku. Sebagaimana dipraktekan Para Imam Haramain saat ini.

 

 

Dua Cara Membaca Iqlab dan Ikhfa Syafawi

Penulis : Ustadz Abid Faturrahman

 

Iqlab terjadi ketika Nun sukun/ Tanwin bertemu huruf Ba (ب) , dalilnya sbgmn perkataan Imam Sulaiman Al-Jamzuri Rahimahullah (w. 1200an H) dlm Manzhumah Tuhfatul Athfal :

والثالث الإقلاب عند الباء * ميما بغنة مع الإخفاء

Dan juga perkaraan Imam Ibnul Jazari Rahimahullah dlm Muqaddimah Al-Jazariyyah :

والقلب عند الباء بغنة كذا * الإخفاء لدى باقي الحروف أخذا

Adapun Ikhfa Syafawi terjadi ketika huruf Mim Sukun (م) bertemu huruf Ba (ب), sbgmn perkataan Imam Sulaiman Al-Jamzuri Rahimahullah dlm Manzhumah Tuhfatul Athfal :

فالأول الإخفاء عند الباء * وسمه الشفوي للقراء

Begitupula Imam Ibnul Jazari Rahimahullah (w. 833 H) dlm Muqaddimah Al-Jazariyyah :

الميم إن تسكن بغنة لدى * باء على المختار من أهل الأداء

Cara membaca Iqlab dan Ikhfa Syafawi yg disepakati Qurra akan kebolehannya adalah :

-Tarkul Furjah : Meninggalkan sedikit celah diantara dua bibir ketika mengucapkan Iqlab dan Ikhfa Syafawi

– Inthibaq/Ithbaq : Merapatkan kedua bibir tanpa Kazz (tekanan) ketika mengucapkan Iqlab dan Ikhfa Syafawi

Adapun cara yg dilarang adalah :
– Membuat celah yg lebih lebar daripada Tarkul Furjah, sehingga menimbulkan suara yg lebih samar dan memunculkan huruf baru seperti Waw (و).

Perbedaan cara ini tidak mempengaruhi keabsahan bacaan Al-Qur’an seseorang, dan jg bukan perbedaan Riwayat dari para Imam Qiraat. Kedua cara ini adalah Khilaf yg Muktabar, sehingga boleh memilih salah satunya atau menggabungkannya tanpa harus saling menyalahkan.

 

Sumber :
– Manzhumah Tuhfatul Athfal Imam Sulaiman Al-Jamzuri
– Muqaddimah Fima Yajibu Ala Qari’ihi an Ya’lamahu Imam Ibnul Jazari
– Ghayatul Murid Fi Ilmit Tajwid Syekh Athiyyah Nashr

Serial Psikologi: Jurusanku Membawaku pada Tauhid

Psikologi: Part 1

 

Bismillahirrahmanirrahim

“Eh, kamu kan anak psikologi, berarti kamu bisa baca pikiranku dong?” Nope. We are not mind-reader or something you percept like that. We can’t read your mind and we have to say sorry that we couldn’t understand you one hundred percent. In the other hand, we are imperfect –we are in progress to update ourselves to be better. Percayalah, untuk memahami diri sendiri saja kadang kita masih sulit, bagaimana mau sepenuhnya memahami orang lain? Walau begitu, ada satu hal yang selalu dan paling mengerti tentang diri kita: Allaah Azza wa Jalla. Allaah Subhanahu wa Ta’ala adalah Yang Paling Tahu segala perkara. Allah Azza wa Jalla berfirman:

عْلَمُ أَمِ اللَّهُ  أَ أَأَنْتُمْ قُلْ

Katakanlah: “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allâh?” [al-Baqarah/2: 140]

pexels.com

 

Aku masih ingat betul perkataan seorang akhwat; “Ilmu Psikologi memang agak sesat sih karena ilmunya abstrak, cabang dari filsafat. Berdasarkan akal manusia dan ilmu manusia juga. Padahal akal itu makhluk, pastilah banyak salahnya”. Jujur, kala itu aku cenderung setuju-setuju saja dengan opininya. Padahal, dia bukan mahasiswa Psikologi. Bisa saja dia hanya mendengar ilmu ini dari sebagian orang saja yang bukan ahlinya kemudian mengambil kesimpulan demikian. Tapi kini, aku kurang setuju dengan opininya. Bagiku, malahan, biidznillah, disini aku bisa menemukan rasa takut, harap dan kagumku kepada Allaah.

Oh ya, to be confirmed before we go further, Psikologi itu ilmu yang mempelajari tentang perilaku manusia. Bukan ilmu nujum atau ramalan. Bagaimana manusia bertingkah laku? Apa yang menyebabkan mereka bertindak demikian? Apa motivasinya? Hingga ke pertanyaan seperti; kenapa mereka mau mengulangi kesalahan yang sama padahal tau mereka salah? Kami belajar berdasarkan observasi atau pengamatan, yang kemudian dikombinasikan dengan metode penelitian, statistika dan riset scientific. Sehingga bisa disimpulkan bahwa, insyaAllaah, Psikologi ini bukan sekedar ilmu tebak-tebakan ala ahli nujum.

Tidak hanya itu, di sini kami diajarkan untuk bisa mengenal diri kami lebih dalam. Apa saja kekurangan yang kami punya? Karakter seperti apa ada pada diri kami? Singkatnya, kami juga diajarkan untuk melakukan self assessment terhadap diri kami sendiri –kami diajarkan untuk selalu muhasabah diri. Bukankah ciri-ciri orang yang bertaqwa ialah mereka yang selalu melakukan muhasabah? Seperti yang telah Allah Azza wa Jalla firmankan:

 

اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِۢمَا تَعْمَلُوْنَ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَـنْظُرْ نَـفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۚ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18).

Dalam ayat tersebut, Allah menerangkan bahwa muhasabah tidak hanya merupakan ciri orang yang bertaqwa,akan tetapi juga sebagai pelaksanaan perintah-Nya. MasyaAllaah.

Lantas mungkin kalian bertanya, mengapa ilmu ini bisa membawa rasa takut dan harapku kepada Allaah azza wa jalla semakin bertambah? Nah, aku akan menjelaskan beberapa mata kuliah yang sudah aku ambil selama 2 paruh ini satu persata dan korelasinya dengan rasa khauf (takut) dan raja’  (harap):

a.       SSTL (Sistem Saraf dan Tingkah Laku)

Sesuai dengan judulnya, matkul ini mempelajari tentang Sistem Saraf yang ada dalam tubuh kita serta dampak dan hubungannya dengan tingkah laku manusia. Walau baru belajar sedikit, tapi aku merasa mata kuliah ini yang paling membuatku semakin amaze terhadap kuasa Allaah Tabaraka wa ta’ala.

Allah menciptakan setiap akson, dendrite, soma, impuls, sinaps, neuron, glia, sistem sensorik dan motorik, hingga ke fungsi kognitif otak manusia sesuai dengan fungsinya tanpa ada satu cacatpun.  Padahal, sistem tersebut sangat miskroskoptik –tak kasat mata, halus sekali.Tidak hanya sampai disitu, masing-masing dari neuron tersebut kemudian saling bersinergi dan membentuk sistem dengan fungsi yang baru. MasyaAllaah.

Hal tersebut membuktikan bahwa hanya Allaah lah satu-satunya Pencipta –as shamad (الصَّمَدُ اللهُ ) dan al khabir.

Allah Ta’ala berfirman:

الْخَبِيرُ اللَّطِيفُ وَهُوَ خَلَقَ مَنْ يَعْلَمُ أَلَا

“Sejatinya yang menciptakan itu sangat mengetahui. Dan Dia adalah yang Maha Lembut dan Maha Mengetahui.” (QS. Al-Mulk: 14)

Imam Ibnul Qayyim menjelaskan perbedaan antara al-ilmu dengan al khabir. Menurut beliau, al-‘ilmu itu bersifat zhahir (bagian luar dari pengetahuan), sedangkan al-khibrah merupakan bagian dalam yang tersembunyi. (Fahmi, 2014).

 

pexels.com

 

Hal tersebut juga senada dengan pernyataan ustadz Khalid Basalamah pada salah satu ceramah tauhidnya.  Beliau mengatakan bahwasanya “Sang Pencipta lah yang paling tau dengan ciptaan-Nya”. Allah ciptakan kita untuk beribadah kepada-Nya (sesuai dengan surat Adz-Dzariyat: 56), sehingga Allaah lah yang menjamin segala kebutuhan kita untuk beribadah. Allah sediakan segala fasilitas untuk kita sesuai dengan porsi yang kita butuhkan –tidak lebih dan tidak kurang, sehingga kita menjadi nyaman untuk beribadah kepadanya di kehidupan dunia ini.

Dia Allaah –Rabb kita, yang menciptakan, memberikan rezeki, dan tidak meninggalkan kita atau menyia-nyiakan kita. Itulah makna dan implementasi sejati dari tauhid rububiyah.

Allah Ta’ala berfirman:

سُدًى  يُّتْرَكَ اَنْ الْاِنْسَانُ اَيَحْسَبُ  ۗ

“Apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al-Qiyamah 75: Ayat 36)

 

MasyaAllaah.

 

Maka nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?

 

b.      Psikologi Perkembangan

Matakuliah Psikologi Perkembangan merupakan salah satu mata kuliah favoritku. Pada mata kuliah Psikologi Perkembangan ini, kami diajak untuk menyelami perkembangan manusia. Bahasa kerennya: “from womb to tomb” atau dari sebelum dilahirkan hingga kita meninggal. Sayangnya, aku belum belajar semua chapter dari mata kuliah ini –baru beberapa saja. Jadi hanya sedikit yang bisa kubahas. Akan tetapi, jumlah yang sedikit itu sudah membuat  logika ini tunduk di bawah syariat islam.

Pada mata kuliah Psikologi Perkembangan chapter awal mengenai Forming New Life (Papalia&Martorell, 20XX), aku semakin yakin betapa hina dan lemahnya manusia itu. Sudah menjadi sebuah kesepakatan umum bahwa manusia tercipta melalui proses bertemunya sel sperma dan sel telur (ovum). Manusia tercipta dari air mani hina yang terpancar.

Allaah Ta’ala berfirman:

رَآئِبِ وَالتَّ الصُّلْبِ بَيْنِ مِنْۢ يَّخْرُجُ  ۗ  دَافِقٍ مَّآءٍ مِنْ خُلِقَ  ۙ  خُلِقَ مِمَّ  الْاِنْسَانُ فَلْيَنْظُرِ

“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan. Dia (manusia) diciptakan dari air (mani) yang terpancar. yang keluar dari antara tulang punggung (sulbi) dan tulang dada” (Q.S At-Tariq 5-7).

Allah Ta’ala berfirman:

وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah’” (An Nisa: 2)

Manusia itu terlahir lemah dan akan kembali dalam keadaan lemah. Ibnul Qayyim, rahimmahullah, menjelaskan bahwa kelemahan di sini mencakup semuanya secara umum. Kelemahannya lebih dari hal ini dan lebih banyak. Manusia lemah badan, lemah kekuatan, lemah keinginan, lemah ilmu dan lemah kesabaran  (Bahraen, 2018). Sebenarnya, tidak perlu teori panjang-panjang. Cukup perhatikan saja. Manusia ketika masih bayi ia sering menangis –tidak bisa apa-apa dan sangat bergantung pada orang lain. Begitu sudah memasuki masa senja juga demikian –semua organ tubuhnya sudah melemah sehingga sangat menjadi sangat tergantung.

Itu lah manusia –makhluk yang lemah, tapi acap kali sombong.

Selain itu, melalui matakuliah Psikologi Perkembangan ini aku juga belajar bahwa kebenaran akan agama Tauhid ini –Islam adalah hakiki. Salah satu contohnya pada sabda Rasulullah ﷺ  -dalam kitab Hadits Arba’in mengenai tahap perkembangan janin:

“Sesungguhnya salah seorang diantara kalian dipadukan bentuk ciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari (dalam bentuk mani) lalu menjadi segumpal darah selama itu pula (selama 40 hari), lalu menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh pada janin tersebut, lalu ditetapkan baginya empat hal: rizkinya, ajalnya, perbuatannya, serta kesengsaraannya dan kebahagiaannya.” [Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu].

Menurut ilmu kedokteran dan psikologis, tahapan dari perkembangan prenatal terdiri dari 3 tahap: Germinal Stage (dari proses pembuahan hingga 2 minggu), Embryonic Stage (2-8 minggu), hingga Fetal Stagel (8 minggu hingga lahir). (Papalia&Martorel, 20XX). Pada hadits di atas, Rasulullah ﷺ  menyebutkan tiga kali tahap perkembangan manusia dalam perut ibunya: (1) dipadukan dan dikumpulkan dalam perut ibunya –germinal stage, (2) menjadi segumpal darah dan segumpal daging –embryonic stage, (3) ditetapkan empat hal setelah (setelah bentuk-bentuk wajah dan anggota tubuh sudah mulai terlihat) –Fetal Stage.

Tidak hanya itu, pada chapter awal Psikologi Perkembangan, kami juga diajarkan mengenai penyebab kelahiran anak abnormal (special needs). Anak abnormal biasanya disebabkan faktor genetic chromosomal abnormalities. Bisa dikarenakan keturunan dari orang tua atau adanya kesalahan dalam pembelahan sel. Kesalahan dalam pembelahan sel ini lah salah satu hal diluar kuasa kita sebagai manusia. Alhasil, mau tak mau, kita sebagai hamba-Nya, wajib bersabar atas cobaan yang Allaah berikan kepada kita.  Tidak hanya itu, kita yang dilahirkan dengan kondisi normal, patut bersyukur. Jangan jadikan mereka yang terlahir dengan kebutuhan khusus sebagai bahan olokkan. Bukankah apa yang terjadi pada mereka itu, diluar kemampuan mereka? Salah satu di antara hikmah dalam penciptaan Allah bahwa Allah akan memberi cobaan kepada mereka, dan menjadikan sebagian mereka sebagai cobaan bagi yang lain. Wallahu’alam.

Kembali lagi ke awal, kita ini manusia lemah yang tidak punya kuasa apapun. Hanya Allah yang Maha Kuasa dan Maha Kaya. Allah Ta’ala berfirman:

الْحَمِيدُ الْغَنِيُّ هُوَ وَاللَّهُ اللَّهِ إِلَى الْفُقَرَاءُ أَنْتُمُ النَّاسُ أَيُّهَا يَا

“Hai manusia, kamulah yang sangat butuh kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Seluruh makhluk amat butuh pada Allah dalam setiap aktivitasnya, bahkan dalam diam mereka sekali pun. Secara dzat, Allah sungguh tidak butuh pada mereka. Oleh karena itu, Allah katakan bahwa Dialah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji, yaitu Allah-lah yang bersendirian, tidak butuh pada makhluk-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. (Tuasikal, 2011).

Dalam hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman,

“Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertaqwa seperti orang yang paling bertaqwa di antara kalian, tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun. Jika orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kalian, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga.” (HR. Muslim no. 2577)

Nah, semakin jelas kan bahwasanya kita sebagai manusia sangat butuh kepada Allaah? Apa yang terjadi pada kita bukan karena apa yang kita upayakan, tapi atas kehendak dan ridho dari Allaah. Manusia sangat butuh pada Allaah dalam penghambaan, dan cinta kepada-Nya. (Tuasikal,2011). Sehingga, kita wajib untuk mengikhlaskan segala ibada kita hanya kepada-Nya. Kita wajib untuk melaksanakan tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah. Sebab, apabila kita tidak melakukan penghambaan, niscaya kita akan hancur secara keseluruhan –hati, ruh dan kondisi.

Sejatinya, ada banyak mata kuliah lain yang sangat menarik untuk dibahas: seperti Psikologi Pendidikan Keluarga, Psikologi Umum, Psikologi Belajar, Psikologi Adiksi, Sejarah Aliran Psikologi, Psikologi Kognitif dan lainnya. Akan tetapi, Ilmu yang disampaikan dan diterapkan satu persatu secara bertahap akan jauh lebih efektif tentunya.

Tidak hanya itu, ilmu yang bermanfaat itu sejatinya; ada di dalam dada manusia, menambah keimanan, ketaqwaan dan rasa takut-harap kepada Allaah Azza wa Jalla. Berkata ustadz Nuzul hafidzahullah ketika membahas kitab Tadzkiratus sami’ “Ilmu yang sesungguhnya itu berada di dalam dada setiap manusia. Allah Ta’ala berfirman:

ۗ  الظّٰلِمُوْنَ اِلَّا بِاٰيٰتِنَاۤ جْحَدُ وَمَا الْعِلْمَ يَ اُوْتُوا الَّذِيْنَ صُدُوْرِ فِيْ بَيِّنٰتٌ اٰيٰتٌۢ هُوَ بَلْ

“Sebenarnya, (Al-Qur’an) itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada orang-orang yang berilmu. Hanya orang-orang yang zalim yang mengingkari ayat-ayat Kami.” (Q.S Al-Ankabut:49).

Ketika ilmu Allaah tempatkan kedalam hati manusia, ia akan mengetahui konten ilmunya sementara hati tunduk akan syariatnya. Sehingga, ilmu yang sejati itu akan menambah rasa takut (khauf) dan harap (raja’) di dalam jiwa manusia.

Aku bermohon kepada-Nya agar melindungi dari syubhat-syubhat yang mungkin aku dengar selama menjalani perkuliahan. Aku juga bermohon kepada Allaah azza wa jalla agar memberikanku ketetapan hati diatas manhaj yang lurus dalam mempelajari ilmu ini, terbebas dari ilmu yang tidak bermanfaat dan diberikan ilmu yang bermanfaat.  Amiin.

Alhamdulillahirabbilalamin.

 

——————————————————————————–

References:

Al-Qur’anul Karim.

Kitab Al Wajibat Muslimin wa Muslimat (Al wajibatu almutahattimatu alma’rifati a’la kulli muslimin wa muslimat) Syekh Qor’awi.

Bahraen, R. (2018). Tafsir Ayat: “Manusai Diciptakan Lemah.” Retrieved February 17, 2019, from https://muslim.or.id/41307-tafsir-ayat-manusia-diciptakan-lemah.html

Fahmi, M. N., & Muhammad, S. (2014). Al Khabir, Maha Mengetahui Perkara Yang Tersembunyi. Retrieved February 17, 2019, from https://muslim.or.id/20969-al-khabir-maha-mengetahui-perkara-yang-tersembunyi.html

Papalia, D. E., & Martorell, G. (n.d.). Experience Human Development (Thirteenth). New York: McGraw-Hill International Edition.

Tarmizi, N. A. (2016). Mengapa Perlu Muhasabah Diri? Retrieved February 17, 2019, from https://muslim.or.id/27695-mengapa-perlu-muhasabah-diri.html

Tim Almanhaj or id. (2011). Proses dan Perkembangan Janin di Rahim. Retrieved February 17, 2019, from https://almanhaj.or.id/3033-proses-dan-perkembangan-janin-di-rahim.html

Tuasikal, A. M. (2011). Sangat Butuh Pada Allah. Retrieved February 17, 2019, from https://rumaysho.com/1701-sangat-butuh-pada-allah.html

 

 

GURINDAM RAMADAN

Oleh: Ustadz Nur Fajri Romadhon, Lc

30 Juli 2011

*

 

Sebentar lagi bulan Ramadan
Niat di hati mari ikhlaskan

Bulan penuh rahmat dan ampunan
Momentum lakukan perubahan

Pada Allah mohon kemudahan
Agar bebas bermacam hambatan

Tekad yang kuat ayo pancangkan
Supaya nggak futur tengah jalan

Semenjak malam mulai niatkan
Sepanjang siang nafsu kendalikan

Makan sahur jangan lewatkan
Berbarakah dan menguatkan

Di masjid yuk kita tarawehan
Jumlah rakaat jangan ributkan

Kalau kau mau sebulan khataman
Abis shalat baca empat halaman

Ingin bebas dari kemunafikan
Shalat jamaah mesti rutinkan

Sibukkan diri dengan kegiatan
Jangan banyak tidur dan bermalasan

Ibadah wajib kita mantapkan
Amalan sunnah dibiasakan

Dzikir dan doa hiasi lisan
Berharap pahala serta pengabulan

Dibanding boros belanja makanan
Sisihkanlah buat yang membutuhkan

Siang hari memang kau tak makan
Tapi kalau ghibah bangkai yang kau telan

Berjalan-jalan jagalah pandangan
Pikiran tenang hati tersucikan

Sempatkanlah saat akhir pekan
Ikuti mentoring dan pengajian

Kalau mulai lesu di pertengahan
Dengan i’tikaf semangatmu bangkitkan

Sepuluh malam akhir kita hidupkan
Mencari malam seribu bulan

Bagi siapa yang berkewajiban
Zakat fitrah sok ditunaikan

Kala terbenam mentari Ramadan
Setelah ifthar mulailah takbiran

Esoknya songsong hari kemenangan
Saling bertahni-ah dan bermaafan

Spirit Ramadan kita pertahankan
Moga bertemu di tahun depan

__________

NB:

Futur: bosan dan kehilangan gairah dalam melakukan aktifitas tertentu.

Ghibah: membicarakan aib orang lain sekalipun sesuai dengan fakta. Coba lihat QS 49:12.

I’tikaf: menetap di masjid untuk berkonsentrasi ibadah.

Ifthar: berbuka puasa, takbiran dimulai sejak terbenam matahari di hari terakhir bulan Ramadhan.

Tahni-ah: ucapan selamat saat hari raya Idul Fitri, baik dengan ucapan Taqabbalallahu minnaa wa minkum ataupun ucapan lain yang sejenis.

[Toleransi dan Menghargai Perbedaan Tanpa Mengucapkan Selamat Hari Raya terhadap Kawan-Kawan Non-Muslim yang Tidak Disertai Pembenaran Keyakinan Agama Lain dalam Mazhab Syafii & Ijma’ (Konsensus) Ulama]

Penulis: Ustadz Nur Fajri Romadhon Lc

Islam memiliki konsep umum yang begitu toleran terhadap perbedaan, bahkan terhadap non-muslim. Siapapun yang membaca sirah Kanjeng Nabi, pastilah menjumpai fakta-fakta yang membuat hati terenyuh dan makin cinta keluhuran Islam. Hanya saja, ada beberapa hal terkait hubungan non-muslim yang beliau tidak lakukan, termasuk “tahniah” (mengucapkan selamat) pada hari raya mereka. Di zaman itu Nabi menyaksikan Musyrikin berhari raya, Yahudi merayakan hari raya, Nasrani pun saat itu sudah rutin merayakan hari raya dan berinteraksi dengan kaum muslimin. Tetapi di saat para Shahabat menghikayatkan “tahniah” sesama muslim dalam Idul Fitri & Idul Adha, tidak pernah ada hikayat bahwa Nabi, Shahabat, Tabi’in, dan ulama abad-abad setelahnya mengucapkan selamat pada hari raya non-muslim padahal mereka begitu toleran berinteraksi dengan non-muslim di luar pembahasan “tahniah”. Yang ada justru sejumlah Shahabat dan ulama melarang turut serta dalam hari raya mereka. Saat itu pun hubungan dengan non-muslim tidak selalu perang, justru banyak yang damai dan berhubungan baik. Ada non-muslim dzimmi, musta’man, dan mu’ahad pula.

Pembahasan mengucapkan “tahniah” kemudian secara khusus dibahas di sekitar abad IV Hijriah. Imam Al-Hulaimi (w. 403 H), salah seorang ulama terkemuka Mazhab Syafii, melarang mengucapkan “tahniah” (ucapan selamat) terhadap hari raya Paskah dan Nowruz. Beliau mengatakan:

ولا أن يهنئه بفصحه بحال، ولا بالنيروز والمهرجان .

“Dan tidak boleh sama sekali seorang muslim memberikan tahniah/ucapan selamat hari raya kepada non-muslim pada Paskah, Nowruz, tidak pula Mahrajan.”

[Al-Minhaj fi Syuabil Iman (3/349) cet. Darul Fikr]

Berselang 4 abad, yakni di abad VIII Hijriah, yang bahkan sampai dinukilkan terjadinya ijma’ di abad tersebut. Ingat, abad VIII Hijriah artinya sudah melalui masa Perang Salib (490-670 H), menjelang pembebasan Konstantinopel (857 H), dan menjelang terusirnya muslim dari Andalusia (897 H). Semua membuktikan bahwa interaksi muslim dengan non-muslim saat konsensus haramnya tahniah itu dinyatakan sudah begitu lama dan beragam, mulai dari perang, damai, minoritas muslim di wilayah non-muslim, minoritas non-muslim di wilayah muslim, dst. Bukan hanya situasi perang sebagaimana klaim sebagian pihak. Bolehnya ucapan selamat kepada kawan-kawan non-muslim terkait selain hari raya semisal prestasi dan pernikahan pun tidak berarti bolehnya selamat terkait hari raya mereka. Apalagi kenyataan yang jelas bahwa toleransi dan sikap ramah menghargai perbedaan bukan dengan “selamat hari raya” tetapi dengan “silakan berhari raya”.

Dari sinilah jelas bahwa tidak tepat anggapan bahwa pembahasan khusus tentang hukum “tahniah” (mengucapkan selamat) terkait hari raya kawan-kawan non-muslim baru dibahas di zaman modern (abad XV Hijriah). Serta tidak benar anggapan bahwa yang melarang hanyalah ulama dari kalangan tertentu. Juga dari sinilah kita perlu meninjau kritis anggapan bahwa andai ulama klasik sepakat mengharamkan, maka zaman sekarang sudah berbeda hukumnya.

Di antara ulama di abad VIII Hijriah yang mengulas secara spesifik terkait “tahniah” terkait hari raya non-muslim dari Mazhab Syafii ialah Imam Kamaluddin Ad-Damiri (w. 808 H), ulama besar Al-Azhar Kairo Mesir, yang menyatakan saat mensyarah Minhaj Thalibin karya Imam An-Nawawi:

يُعزّر من وافق الكفار في أعيادهم ، ومن يمسك الحية ، ومن يدخل النار ، ومن قال لذمي : يا حاج ، ومَـنْ هَـنّـأه بِـعِـيـدٍ .

“Dan orang yang mengucapkan selamat kepada non-muslim dzimmi terkait hari rayanya dihukum dengan hukuman takzir.”

[An-Najmul Wahhaj fii Syarhil Minhaj (9/244) cet Darul Minhaj]

Sekitar dua abad berikutnya, pendapat tentang hukuman takzir atas mereka yang mengucapkan tahniah (selamat hari raya) kepada non-muslim dzimmi ini dipertegas kembali oleh Imam Syihabuddin Ar-Ramli (w. 957 H) dalam Hasyiyah beliau terhadap Asnal Mathalib tulisannya Syaikhul Islam Zakariyya Al-Anshari (w. 926 H) berikut:

ويُعزّر من وافق الكفار في أعيادهم ، ومن يمسك الحية ، ومن يدخل النار ، ومن قال لذمي : يا حاج ، ومَـنْ هَـنّـأه بِـعِـيـدٍ .

“Dan orang yang mengucapkan selamat kepada non-muslim dzimmi terkait hari rayanya dihukum dengan hukuman takzir.”

[Hasyiyah Ar-Ramli Al-Kabir ‘ala Asnal Mathalib (4/162) cet. Al-Maymaniyyah]

Tidak lama berselang, kedua pembahasan tadi diulang lagi sebagai pernyataan mazhab oleh Imam Al-Khathib Asy-Syirbini (w. 977 H), yang juga ulama besar Al-Azhar Kairo Mesir, dalam statement beliau juga saat mensyarah Minhaj Thalibin-nya Imam An-Nawawi.

ويُعزّر من وافق الكفار في أعيادهم ، ومن يمسك الحية ، ومن يدخل النار ، ومن قال لذمي : يا حاج ، ومَـنْ هَـنّـأه بِـعِـيـده .

“Dan orang yang mengucapkan selamat kepada non-muslim dzimmi terkait hari rayanya dihukum dengan hukuman takzir.”

[Mughnil Muhtaj ila Ma’rifati Ma’anil Minhaj (4/255) cet. Darul Ma’rifah, dikutip juga dalam Fatwa MUI Pusat no. 56 tahun 2016]

Hukuman takzir sebagaimana dijelaskan dalam Minhaj Thalibin sendiri, merupakan hukuman atas kemaksiatan (dosa/keharaman) yang tidak dirinci bentuk hukuman atau kaffaratnya dalam Alquran ataupun Hadis. Bentuk hukumannya beragam sesuai kebijakan pemerintah.

Imam An-Nawawi (w. 676 H) katakan:

يعزر في كل معصية لا حد لها ولا كفارة بحبس أو ضرب أو صفع أو توبيخ ، ويجتهد الإمام في جنسه وقدره .

“Setiap kemaksiatan (dosa/keharaman) yang tidak ada rincian hukuman ataupun kaffaratnya (dalam Alquran/Hadis), pelakunya dihukum dengan hukuman takzir berupa penjara, cambuk, pukulan, atau teguran keras. Pemerintah dipersilakan berijtihad dalam menentukan jenis dan kadarnya.”

[Minhaj Thalibin hlm. 514 cet. Darul Minhaj]

Apa yang ditulis oleh keempat ulama terkemuka Syafiiyyah lintas zaman di atas sesuai dengan nukilan konsensus oleh Imam Ibnul Qayyim (w. 751 H) atas haramnya tahniah hari raya non-muslim.

Imam Ibnu Qayyimil-Jauziyyah (w. 751 H) mengatakan:

وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق ، مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم فيقول : عيد مبارك عليك أو تهنأ بهذا العيد ونحوه . فهذا إن سلم قائله من الكفر ، فهو من المحرمات .

“Adapun mengucapkan ‘selamat’ terkait syiar-syiar kekufuran khas non-muslim, maka hukumnya haram berdasarkan kesepakatan ulama, seperti mengucapkan selamat terkait hari raya dan puasa mereka

semisal ucapan, ‘Hari raya nan berkah!’, ‘Selamat berbahagia di hari raya ini!’, atau semisalnya.

Muslim yang mengucapkan ini meskipun tidak menjadi kafir dengannya, tetapi telah melakukan perbuatan haram.”

[Ahkam Ahlidz Dzimmah (1/441) cet. Ramady lin Nasyr, dikutip juga dalam Fatwa MUI Pusat no. 56 tahun 2016]

Konsensus ulama yang dinukilkan Imam Ibnul Qayyim pada abad VIII H di atas belum ada yang mengritiknya di abad VIII H ataupun beberapa abad setelahnya. Belum pula dijumpai sebelum Imam Ibnul Qayyim satupun ulama yang memfatwakan hal berbeda dalam kasus “tahniah hari raya non-muslim” ini.

Kenyataan yang ada justru Imam Ad-Damiri, Imam Syihabuddin Ar-Ramli, dan Imam Al-Khathib Asy-Syarbini, yang notabene berbeda mazhab dengan Imam Ibnul Qayyim dalam fiqh dan ushuluddin, sepeninggal wafatnya Imam Ibnul Qayyim justru menegaskan terlarangnya “tahniah hari raya non-muslim”.

Dalam Ushul Fiqh, ijma’ kebenarannya absolut dan terlarang hukumnya membuat pendapat menyelisihi ijma’ sah yang sudah dinyatakan ulama sebelumnya. Imam As-Sarakhshi (w. 490 H), salah ulama Ushul Fiqh terkemuka dari Hanafiyyah, menyatakan:

الإجماع موجب للعلم قطعاً بمنزلة النص ، فكما لا يجوز ترك العمل بالنص باعتبار رأي يعترض له : لا يجوز مخالفة الإجماع برأي يعترض له بعدما انعقد الإجماع .

“Ijma’ (konsensus/kesepakatan ulama) memberikan informasi hukum yang absolut kebenarannya sebagaimana nash (dalam Ushul Fiqh, nash bermakna ayat/hadis yang pemahamannya disepakati hanya 1 makna, tidak multi tafsir -pent). Maka sebagaimana tidak boleh mengabaikan nash karena logika/pendapat yang dikemukakan seseorang untuk menyangkal nash, tidak boleh pula menyelisihi ijma’ dengan logika/pendapat yang menyangkalnya setelah telah terjadi ijma’.”

[Ushul As-Sarakhsi (1/308) cet. Nu’maniyyah]

Tidak hanya konsensus ulama akan haramnya tahniah hari raya non-muslim, Imam Ibnul Qayyim juga menegaskan bahwa perkara ini pada dasarnya hanya haram (dosa), bukan kekufuran. Kecuali tentu saja kalau disertai pembenaran terhadap keyakinan non-muslim atau kalau ucapan selamatnya berlebihan dari sekadar tahniah. Karena kalau disertai pembenaran terhadap kekufuran, maka semua ulama termasuk yang membolehkan tahniah pun malah mengategorikannya ke dalam kekufuran, bukan hanya haram. Tentu bukan karena menyelisihi konsensus haramnya tahniah hari raya non-muslim tanpa disertai pembenaran keyakinan karena nampaknya ijma’ ini tidak masuk kategori ma’lumun minad diini bidh dharurah. Hal ini masuknya justru ke pembahasan riddah, sebagaimana kata Imam An-Nawawi berikut.

من لم يكفر من دان بغير الإسلام كالنصارى ، أو شك في تكفيرهم ، أو صحح مذهبهم ، فهو كافر وإن أظهر مع ذلك الإسلام واعتقده .

“Barangsiapa yang tidak menganggap kufur non-muslim seperti umat Nasrani, ragu-ragu akan kekufuran mereka, atau bahkan membenarkan keyakinan mereka, maka ia telah kufur meskipun bersamaan dengan itu meyakini dan menampakkan Islam.”

[Raudhah Thalibin (7/290) cet. Dar ‘Alam Kutub]

Penting diingat bahwa nukilan ijma’ Imam Ibnul Qayyim yang tidak ada yang membatalkannya di zaman sebelumnya ataupun yang mengritisinya beberapa waktu setelahnya bukanlah masuk pada pembahasan Ijma’ Sukuti. Itu karena pada Ijma’ Sukuti yang didiamkan adalah “pendapat”, bukan “nukilan konsensus”. Apalagi ternyata ulama mazhab lain setelah beliau malah menyetujui keharamannya. Jadi yang dipertanyakan bukan lagi keabsahan nukilan konsensus ini, tetapi adakah yang menyelisihinya sebelum beliau dan adakah yang mengritisinya di abad-abad yang dekat setelah beliau?

Akan tetapi barulah di abad XV Hijriah, sejumlah ulama besar -rahimahumullah wa hafidzhahum- (tidak termasuk Syaikh Muhammad Rasyid Ridha karena setelah saya mengecek langsung di 3 tempat dalam kitab fatwa beliau, saya tidak mendapati statement pembolehan tahniah -pen) memfatwakan bolehnya mengucapkan selamat terkait hari raya non-muslim. Ini meskipun tetap wajib menghormati para ulama besar tersebut, tetap saja dianggap penyelisihan terhadap ijma’. Andai ada yang menganggap illah berbeda, maka sebenarnya ini perlu ditinjau ulang mengingat kondisi tiap wilayah Islam tidak sama dan kondisi sekarang tidak jauh berbeda dengan masa ulama klasik di atas. Jangan juga sampai mengabaikan nukilan pendapat ulama lintas zaman di atas sehingga terkesan bahwa masalah ini belum pernah dibahas dan bahwa yang melarang hanyalah mereka yang disebut kaum intoleran. Tabik.

_______
Catatan & Kesimpulan:

1. Kaum muslimin sudah terbiasa berinteraksi secara toleran dengan non-muslim sejak zaman Nabi dan sudah terbiasa melalui hari raya mereka tetapi tidak ada riwayat bahwa mereka mengucapkan selamat.

2. Sejumlah Shahabat dan ulama justru melarang turut serta dalam hari raya mereka.

3. Di abad VIII Hijriah, ada nukilan konsensus ulama terkait haramnya “tahniah” (mengucapkan selamat) terkait hari raya non-muslim dan tidak ada ulama sebelumnya yang punya pendapat berbeda tidak pula ada ulama yang mengritisi nukilan konsensus ini di beberapa abad setelahnya padahal ulama yang menukilnya populer dan buku beliau tersebar. Ini berbeda dengan Ijma’ Sukuti.

4. Ijma’ adalah dalil yang absolut kebenarannya serta tidak boleh dilanggar setelah ia terwujud.

5. Di abad IV, V, IX, dan X Hijriah ulama-ulama Syafiiyyah secara tegas menyebutkan bahwa “tahniah” hari raya non-muslim tidak boleh sama sekali, bahkan justru dihukum takzir, dan takzir hanyalah pada dasarnya diberlakukan pada keharaman.

6. Interaksi muslim dengan non-muslim saat itu sudah lama dan beragam. Tidak hanya perang, tetapi juga damai, minoritas muslim di wilayah non-muslim, sebaliknya, dst.

7. Ulama yang membolehkan baru ada di abad XV Hijriah. Itu pun masih ada ulama sezaman yang tegas melarang atau menyatakannya sebagai syubhat. Karena itulah pendapat yang membolehkan -dengan penuh takzim kepada ulama yang berpendapat- layak dianggap syadz (ganjil) karena menyelisihi ijma’ dan perkara ini bukan khilafiyyah yang muktabar. Apalagi illat dan alasan yang disampaikan juga berlaku di abad VIII Hijriah dan sebelumnya.

8. Ulama yang secara spesifik melarang berasal dari abad IV, V, VIII, IX, X, dan XV serta juga berasal dari sejumlah kalangan yang berbeda mazhab fikih dan ushuluddinnya.

9. Pembahasan haram-tidaknya mengucapkan selamat terkait hari raya non-muslim tidak tergantung dengan pembenaran keyakinan non-muslim, karena kalau disertai pembenaran keyakinan non-muslim, maka semua ulama termasuk yang membolehkan sekadar mengucapkan selamat pun menyepakati bahwa itu bukan hanya haram, tetapi juga merupakan kekufuran.

10. Sebagian ulama bisa saja keliru ketika ternyata menyelisihi ijma disebabkan alasan tertentu, tetapi meski kita tidak ikuti mereka dalam pendapat yang syadz (ganjil) di perkara ini, tetaplah para ulama adalah ahli waris para nabi yang wajib dihormati.

11. Nasihat yang bijak harus tetap disampaikan kepada yang melanggar konsensus di atas tanpa pilih-pilih sekalipun yang melakukannya adalah guru, kawan politik, dan rekan seorganisasi. Dengan tetap meyakini bahwa orang/ulama/organisasi dinilai baik adalah karena dominasi kebaikan pada dirinya, tidak harus karena kesempurnaannya. Jangan sampai ada standar ganda di antara kita (tulisan ini pun ditujukan dengan penuh cinta dan hormat kepada siapapun -pen).

12. Dalam kondisi dipaksa/darurat, perbuatan haram, bahkan kekufuran, boleh saja dilakukan. Hanya saja wajib jujur dan ditinjau dalam-dalam mengenai tingkat darurat/keterpaksaannya.

13. Hukum terkait tahniah dari lembaga negara di sejumlah negara perlu ditinjau detil, sangat mungkin beda hukumnya di beberapa tatanan masyarakat. Tetapi hukum asal bertahniah dari pribadi muslim, maka yang saya pribadi yakini hukumnya ialah haram (bukan serta merta kekufuran) sebagaimana statement ulama Syafiiyyah dan konsensus ulama di atas.

14. Bagaimanapun tidak bertahniah bukanlah ciri intoleransi dan radikalisme sebagaimana ulama yang membolehkan bertahniah tanpa pembenaran keyakinan non-muslim tidak boleh dituduh rusak akidah apalagi dikafirkan.

15. Saya secara pribadi yang minta maaf sedalam-dalamnya terhadap kawan-kawan non-muslim karena mengikuti mazhab syafii dan konsensus ulama yang melarang mengucapkan selamat hari raya non-muslim. Tetapi sejak dulu dan selalu saya akan berusaha bergaul dalam urusan dunia dengan baik dan toleran, semisal mengucapkan selamat pada selain yang terkait hari raya, apalagi kita sama-sama cinta Indonesia dan menghargai keragaman.

Wallahu a’lam.

Small Things Matter

Penulis : Erwin Frimansyah S

Alumni Teknik Kimia UI & PESAN BISA


  • Semasa hidup Imam Ahmad bin Hambal, terdapat cobaan berat yang mengusik akidah umat islam. Dunia Islam pada saat itu dipimpin oleh Khalifah al-Makmun, seorang khalifah yang terpengaruh pemikiran Mu’tazilah. Di antara pokok keyakinan Mu’tazilah ini adalah bahwa meyakini bahwa Alquran adalah makhluk.

Al-Makmun berusaha memaksakan keyakinan tersebut kepada semua rakyatnya, termasuk para ulama. Banyak ulama berpura-pura untuk menerima keyakinan ini demi menghindari penganiayaan,

Pada waktu itu, setiap ulama yang menolak keyakinan ini akan dianiaya dan dihukum dengan keras. Imam Ahmad bin Hambal, sebagai ulama paling terkenal di Baghdad, dibawa ke hadapan al-Makmun dan diperintahkan untuk berkeyakinan demikian. Ketika ia menolak, ia disiksa dan dipenjarakan. Penyiksaan yang dilakukan pihak pemerintah saat itu sangatlah parah. Diriwayatkan karena keras siksaannya, beberapa kali mengalami pingsan.

Pada suatu malam seusai disiksa dengan cambukan, Imam Ahmad ditahan di penjara yang gelap. Lalu ada seseorang dalam penjara yang memanggil beliau, “Apakah engkau Ahmad bin Hambal?”. Beliau menjawab, “Benar”.

Orang tersebut bertanya lagi, “Apakah engkau mengenalku?”. Beliau menjawab, “Tidak”.

Ia berkata kembali, “Aku Abul Haitsam, sang perampok & peminum khamr. Telah tercatat bahwa aku telah dicambuk 18 ribu kali. Aku mampu bersabar menanggungnya, padahal aku sedang ada di jalan setan. Maka bersabarlah engkau, karena engkau ada dijalan Allah!

Setelah itu pihak pemerintah pun melanjutkan untuk mengikat dan mencambuk beliau. Setiap kali cambukan mendarat di punggung beliau, beliau teringat ucapan Abul Haitsam tersebut. Dan beliau berkata dalam hati, “Bersabarlah, engkau di jalan Allah wahai Ahmad!”

Akhirnya Allah menyelamatkan akidah umat islam melalui keteguhan Imam Ahmad ini. Dan dibalik itu, seorang perampok bernama Abul Haitsam pun ikut andil dalam penjagaan akidah yang benar, dengan kata-kata penyemangat yang ia utarakan kepada Imam Ahmad.

Ya. Abul Haitsam, si pemberi semangat sang Imam untuk tetap kokoh di atas kebenaran, walaupun dirinya sendiri bergelimang keburukan.

Dan beliau (Imam Ahmad) pun sering dalam doanya, meminta kepada Allah,

Ya Allah, ampunilah Abul Haitsam, rahmatilah Abul Haitsam.

 

 

  • Pada masa Nabi Sulaiman alaihissalaam, terdapat kaum Saba’ yang dipimpin oleh Ratu Bilqis. Kaum Saba’ adalah kaum penyembah matahari pada waktu itu.

Burung Hud Hud, yang merupakan salah satu yang menjadi tentara Nabi Sulaiman melihat kaum ini sedang menyembah matahari. Rasa ghirah-nya yang tinggi terhadap kemungkaran ini, membuatnya bergegas untuk mengadukan hal ini kepada Nabi Sulaiman.

Dan hasilnya, informasi dari burung hud-hud membuat Nabi Sulaiman bergerak untuk berdakwah kepada pemimpin kaum Saba’ (yaitu Ratu Bilqis). Setelah menyaksikan mukjizat Nabi Sulaiman, Ratu Bilqis berubah menjadi mentauhidkan Allah (ia memeluk islam), yang kemudian diikuti para kaumnya yang juga berbondong-bondong mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kisah ini disebutkan dalam Al Quran Surat An Naml (27) ayat 20 sampai ayat 44.

Dibalik dakwah tauhid ini, terdapat peran penting yang dilakukan oleh burung Hud-Hud. Ghirah dan semangatnya dalam mengubah kemungkaran, menjadi awal diterimanya dakwah tauhid oleh Kaum Saba’.

 

Terkait dengan kisah ini, Abu Muadz Ar Rozi sampai berkata,

Celakalah seseorang, yang burung Hud-Hud lebih baik dari dirinya.

_________________________________________________________________

Dua kisah diatas mencontohkan amar ma’ruf nahi mungkar, yang dilakukan oleh makhluk Allah yang mungkin tidak kita sangka-sangka akan melakukannya: yaitu seorang perampok dan seekor burung. Dan amar ma’ruf nahi mungkar mereka ini, dengan izin Allah, berhasil menyebabkan perbedaan besar bagi dakwah Islam. Apa yang dilakukan seorang perampok, ternyata membantu meneguhkan kesabaran Imam Ahmad dalam mempertahankan dakwah akidah. Apa yang dilakukan seekor burung, dapat membuat berubahnya satu kaum dari syirik (menyembah matahari) menjadi tauhid (mengesakan Allah).

Mungkin pernah kita mendengar pernyataan berupa keraguan, seperti: “Bagaimana mungkin saya berkontribusi untuk umat islam padahal saya belum banyak memiliki ilmu?”

Untuk menanggapinya, jawabannya mungkin adalah sebuah hadits.

Rasulullah ﷺ bersabda,

Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari).

Yaitu sampaikanlah nasihat-nasihat baik sebatas kemampuan & pengetahuan kita. Berkontribusilah sesuai kemampuan kita.

Bukankah nasihat yang dilakukan oleh Abul Haitsam dan nahi mungkar yang dilakukan burung hud-hud adalah sesuatu yang ringan dilakukan?

Ya.. Menolong agama Allah bisa dilakukan dengan perkara-perkara yang mudah dan ringan. Banyak sekali contoh-contoh yang bisa kita lakukan.

Kita bisa mengajarkan anak-anak baca tulis alquran, yang dengan ilmu tersebut anak anak bisa memulai langkah pertama mereka dalam membaca dan memahami al quran. Dan kita tidak tahu, mungkin diantara mereka akan ada yang Allah takdirkan menjadi ulama yang luas dan bermanfaat dakwahnya.

Kita bisa menjadi admin akun sosial media yang rutin membagikan informasi kajian, yang dengannya diharapkan akan ada orang yang mendapatkan hidayah melalui kajian tersebut.

Contoh lain dari buku berjudul “The Tipping Point”, terdapat sebuah pengamatan bahwa untuk menurunkan kriminalitas di salah satu kota di Amerika Serikat secara drastis, cukup dengan melakukan hal-hal yang terlihat kecil seperti membersihkan tembok-tembok dari coretan graffiti.

Small things matter!

Mungkin juga kita akan mendengar lagi pernyataan seperti, “Cukup ustadz saja yang berdakwah, dakwah orang biasa seperti kita tidak akan berpengaruh bagi kemajuan umat Islam.”. Atau, “Ini kan hanya amal shalih biasa yang sangat kecil pengaruhnya, pasti tidak ada bedanya jika saya tingalkan.”

Jika demikian, maka mungkin kita hanya bisa menjawab dengan sebuah hadits pula.

Rasulullah ﷺ bersabda,

Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun juga walau engkau bertemu saudaramu dengan wajah berseri” (HR. Muslim no. 2626).

Pada waktu itu Abul Haitsam mungkin tidak menyangka, bahwa kalimat singkat yang ia utarakan akan berkontribusi dalam penjagaan akidah umat islam dan membuat Imam Ahmad selalu mendoakannya.

Dan kita juga mungkin awalnya merasa heran, jika dikatakan bahwa sekadar informasi dari burung hud-hud menjadi awal mula berubahnya 1 kaum menuju tauhid.

Kita tidak tahu, efek sebesar apa yang bisa dihasilkan dari kebaikan yang kita lakukan.

Jangan remehkan setiap kebaikan kecil yang bisa kita lakukan. Karena kita pasti akan melihat ganjarannya, baik di dunia maupun di akhirat, untuk setiap amalan kita. Sekecil apapun amalan itu.

 

Ingat-ingatlah firman Allah:

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (akibat)nya.

Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (akibat)nya pula.” (QS Az Zalzalah : 7-8)

 

Referensi:

https://kisahmuslim.com/4362-perjalanan-hidup-imam-ahmad-bin-hanbal.html

https://nasihatsahabat.com/kisah-mengharukan-antara-imam-besar-ahlussunnah-dengan-seorang-penjahat-besar/

https://www.youtube.com/watch?v=ROy5VmUbBSQ&t=192s

Mengakhiri Masa Amanah dengan Husnul Khatimah

Penulis: Ustadz Nur Fajri Romadhon
(Wakil Ketua Yayasan BISA & Anggota Bidang Fatwa MUI Provinsi DKI Jakarta)


 

 

“Demi Yang telah menyelamatkanku di Hari Badar…” demikian bunyi khas sumpah tegas yang lantang terucap dengan suara menggema keluar dari lisan seorang pemuda tiga puluhan tahun, Ikrimah. Statusnya sebagai putra tertua Abu Jahal, tokoh utama pengobar bendera permusuhan terhadap Islam, membuat darah Islamofobia mengalir kuat dalam dirinya. Terlebih setelah ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana ayahnya terbunuh dengan memalukan di Perang Badar dan ia mewarisi sepeninggalnya tampuk kepemimpinan Bani Makhzum, suku terpenting kedua di Quraisy setelah Bani Hasyim, sukunya musuh utamanya, Muhammad. Dengan fisik yang kekar dan postur yang tinggi serta kelihaian berperang yang luar biasa, tidak pernah sekalipun ia absen dari barisan terdepan pasukan kuda dalam ketiga perang terbesar Quraisy-Islam: Badar, Uhud, dan Khandaq.

 

Sumpah tersebut bukan tanpa alasan terlontar dari lisan lelaki Quraisy yang juga terkenal paling mahir menulis dan menghitung ini. Betapa setelah ia masuk Islam, ia merasakan kesedihan dan penyesalan mendalam karena telah lebih dari dua dekade memusuhi Islam. Meski kalah di Perang Badr, tembakan panahnya yang nyaris tidak meleset tetap mampu merepotkan kaum muslimin. Di Perang Uhud, ia bersama Khalid berhasil memporak-porandakan barisan pasukan Islam yang tadinya hampir menang. Hal yang sama di Perang Khandaq, ia berhasil meneror warga Madinah ketika kelincahan berkudanya ia gunakan untuk melompati parit pertahanan. Di Fathu Makkah bahkan namanya masuk daftar orang yang dicari untuk dihukum oleh Rasulullah karena track recordnya yang kelam selama ini. Namun, di sisi lain, membuncah rasa syukur tak terkira dalam dadanya karena ia selamat dan tidak bernasib sama seperti ayahnya yang terbunuh dalam kondisi masih musyrik hingga terwujud dalam lafal sumpahnya yang khas, “Walladzii najjaanii yawma Badr.”

 

Al-Hafidzh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq menuturkan bahwa Ikrimah bin Abi Jahl melarikan diri di hari penaklukan Mekkah setelah ia tahu bahwa Rasulullah memburonnya dan kalah dalam usahanya menghadang sebagian pasukan Islam yang baru memasuki Mekkah. Ia berkata kepada istrinya, Ummu Hakim, yang mengejarnya, “Aku tidak akan tinggal di kota ini lagi!”

 

Sang istri berkata, “Hendak kemana engkau pergi, wahai pimpinan para pemuda Quraisy? Apakah engkau hendak pergi ke suatu tempat yang tidak kamu ketahui?”

 

Ikrimah pun melangkahkan kakinya tanpa sedikitpun menggubris perkataan isterinya.

Melihat sikap keras sang suami, Ummu Hakim melapor kepada Rasulullah, “Duhai Rasulullah, sungguh Ikrimah telah melarikan diri ke negeri Yaman dan hendak berlayar menyeberang benua karena ia takut kalau-kalau engkau akan membunuhnya. Aku mohon agar engkau berkenan menjamin keselamatan nyawanya jika ia kembali.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Dia kini berada dalam jaminan keamanan.”

Mendengar jawaban itu, Ummu Hakim mohon diri untuk pergi mengejar suaminya. Akhirnya dia berhasil menemukannya di tepi pantai jazirah Arab dan baru menaiki kapal. Sang Istri dan nahkoda kapal membujuk Ikrimah kembali dan mengucapkan syahadat.

Ikrimah balik menjawab dengan ketus, “Tidak! Justru aku melarikan diri dari kalimat itu.”

Sang Istri memelas, “Wahai putra pamanku, aku datang menemuimu membawa pesan dari manusia yang paling mulia perangainya. Aku mohon engkau jangan membinasakan dirimu sendiri. Aku telah meminta jaminan keselamatan untukmu kepada Rasulullah saw.”

Ikrimah mengonfirmasi ulang kabar tersebut dan sang istri berhasil meyakinkan Ikrimah hingga ia ikut kembali ke Mekkah. Sampai ke Mekkah, Ummu Hakim menegaskan kepada suaminya tersebut untuk pergi ke Madinah menjumpai Rasulullah yang telah kembali ke sana pasca Fathu Makkah.

Tatkala Ikrimah telah dekat Madinah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang saking tergesa dan gembiranya lupa memakai imamah beliau, bersabda kepada sebagian Shahabat, “Akan datang Ikrimah kepada kalian dalam keadaan beriman dan berhijrah, maka jangan kalian cela ayahnya karena celaan terhadap orang yang sudah meninggal menyakiti kerabatnya yang masih hidup dan tidak didengar pula oleh yang telah meninggal tadi.”

 

Lalu mendekatlah Ikrimah ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi seraya disambut oleh Sang Nabi pengasih, “Marhaban birraakibil muhaajir. Selamat datang, wahai penunggang kuda handal yang telah hijrah.”

Terharu akan hangatnya penyambutan Nabi padahal begitu menggunung kejahatannya kepada kaum muslimin dahulu, Ikrimah spontan bersyahadat dan mengatakan, “Wahai Rasululallah, demi Allah, tidaklah sepeser pun harta yang dahulu kugelontorkan untuk memerangi engkau, melainkan akan aku infakkan juga senilainya untuk jihad di jalan Allah.”

 

Begitulah Ikrimah yang mengisi sisa lima tahun hidupnya dengan kerja dan jasa besar untuk Islam. Ia termasuk yang tegar dan tidak lari saat Perang Hunain, berandil besar saat Pengepungan Thaif, turut berdesakan dengan 140 ribuan jamaah Haji Wada, hingga ikut menyolati Nabi kala wafat. Sepeninggal Nabi ia bahkan dipercaya Khalifah Abu Bakr memimpin jihad untuk menumpas kaum murtad di Oman Selepas kegemilangannya mengislamkan kembali wilayah Oman, Ikrimah ditawari jabatan gubernur dan imbalan harta oleh Abu Bakr. Akan tetapi ia menolak itu semua dengan mengatakan, “Aku tidak membutuhkan itu,” dan lantas memilih bergabung dengan pasukan mujahidin ke Syam dengan diiringi doa dan kekaguman dari Abu Bakr.

 

Laksana orang kehausan di sahara terik nan gersang yang melihat oase, Ikrimah berperang luar biasa dalam rangkaian Perang Yarmuk di Ajnadin. Ia bahkan sengaja mematahkan sarung pedangnya dan melompat turun dari kudanya di tengah kecamuk perang untuk kemudian berjibaku menghabisi tentara Romawi Timur satu per satu. Melihat itu, Khalid berteriak mengingatkannya, “Wahai sepupuku, jangan kau melakukan itu karena terbunuhnya engkau akan berdampak besar pada semangat kaum muslimin!”

 

Ikrimah seolah tak mempedulikan seruan Khalid. Ia justru terus mengayunkan pedangnya ke musuh yang mengepungnya dari segala arah seraya balas berteriak, “Menjauhlah dariku, wahai Khalid! Jiwaku pernah memerangi Rasulullah dahulu. Apakah pantas setelah berislam aku justru tidak mengorbankannya untuk berjihad membela Allah dan Rasul-Nya?!”

Ikrimah terus merangsek maju menghabisi pasukan Romawi Timur hingga memotivasi pasukan lain untuk memenangkan pertempuran. Hingga akhirnya kaum muslimin memenangkan pertempuran itu. Selepas pertempuran, kaum muslimin mencari Ikrimah, tetapi ia tidaklah ditemukan melainkan dalam kondisi sekarat dengan  dipenuhi 70 luka tusukan panah dan tebasan pedang. Khalid segera mendekatinya dan hendak memberinya air minum. Tetapi Ikrimah mengisyaratkan agar air tersebut diminumkan kepada Al-Harits bin Hisyam, paman mereka yang juga sedang kritis. Setelah diminumkan kepada Al-Harits, Khalid dikejutkan dengan wafatnya Ikrimah yang syahid, husnul khatimah.

 

Demikianlah, sungguh akhir kehidupan yang mungkin tidak terbayang seorang pun saat itu. Hingga kita kini selalu melantunkan doa dan pujian “Radhiyallahu ‘anhu, semoga Allah meridhai beliau” acap kali nama Ikrimah disebut. Sama halnya seperti Umar bin Abdulaziz yang tiga dasawarsa dikenal sebagai pemboros dan pejabat dengan gaya hidup hedonis lalu menghabiskan dua setengah terakhir dalam hidupnya sebagai khalifah adil berbalut selendang zuhud dan kesederhanaan. Ibarat Fudhail bin Iyadh yang menjadi ulama setelah 40 tahun menjadi begal setelah tertegun sadar kala mendengar lantunan Surat Al-Hadid: 16. Laksana Shalahuddin Al-Ayyubi yang masa mudanya terlalaikan dari ketegaran perjuangan jihad, lalu tersentak sadar kala tergerakkan semangat keilmuan dan pembaharuan Imam Al-Ghazali, hingga menjadi pejuang peberani membebaskan Al-Quds di Perang Salib.

 

Demikian, digdaya kesalihan sering kali ditentukan di akhirnya, terlepas dari banyak kealpaan di awalnya. Dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الأعمال بالخواتيم

“Kualitas amalan sejatinya ditentukan dengan penutupnya.”

[HR. Al-Bukhari]

Merujuk penjelasan Imam Az-Zarqani dalam kitab Syarhul Muwaththa’, bagaimanapun juga, akhirlah yang menjadi penentu sekalipun awal dan pertengahan amal masih belum baik. Itu karena siapa yang berubah dari buruk menjadi baik, atau dari baik menjadi lebih baik, maka ialah orang yang sukses. Tetapi jika yang terjadi adalah menjadi baik ‘aja’ setelah sebelumnya sudah baik ‘banget’ atau bahkan menjadi buruk padahal sebelumnya sudah baik, maka ialah orang yang merugi.

Tak terkecuali dalam mengemban sebuah amanah pada periode tertentu. Tidak jarang langkah di awal amat tergopoh, derapan lari di tengah perjalanan masih tertatih, tetapi bukankah masih tersisa masa untuk memperbaiki? Satukan kembali barisan perjuangan yang mungkin belum rapi berjajar, koreksi kembali kekurangan dalam beramal jama’i, lalu akhiri dengan kesan manis tak terlupakan di akhir masa jabatan dengan suksesi yang penuh taufik Ilahi, mewariskan estafet perjuangan kepada para generasi harapan selanjutnya dengan penuh keteladanan. Semoga Allah bimbing kita menutup masa jabatan kita setahun ini dengan husnul khatimah!

 

Rujukan: Tarikh Dimasyq, Syarhul Muwaththa’ liz Zarqani, Shahih Al- Bukhari, Siyar A’lamin Nubala, Sirah Ibn Hisyam, Tafsir Al-Azhar.

*) dimuat dalam Buletin An-Naba FSI Fakultas Kedokteran UI edisi ke-40 dalam momen jelang pergantian kepengurusan BEM, LD, dan organisasi ekstra kampus lainnya