GURINDAM RAMADAN

Oleh: Ustadz Nur Fajri Romadhon, Lc

30 Juli 2011

*

 

Sebentar lagi bulan Ramadan
Niat di hati mari ikhlaskan

Bulan penuh rahmat dan ampunan
Momentum lakukan perubahan

Pada Allah mohon kemudahan
Agar bebas bermacam hambatan

Tekad yang kuat ayo pancangkan
Supaya nggak futur tengah jalan

Semenjak malam mulai niatkan
Sepanjang siang nafsu kendalikan

Makan sahur jangan lewatkan
Berbarakah dan menguatkan

Di masjid yuk kita tarawehan
Jumlah rakaat jangan ributkan

Kalau kau mau sebulan khataman
Abis shalat baca empat halaman

Ingin bebas dari kemunafikan
Shalat jamaah mesti rutinkan

Sibukkan diri dengan kegiatan
Jangan banyak tidur dan bermalasan

Ibadah wajib kita mantapkan
Amalan sunnah dibiasakan

Dzikir dan doa hiasi lisan
Berharap pahala serta pengabulan

Dibanding boros belanja makanan
Sisihkanlah buat yang membutuhkan

Siang hari memang kau tak makan
Tapi kalau ghibah bangkai yang kau telan

Berjalan-jalan jagalah pandangan
Pikiran tenang hati tersucikan

Sempatkanlah saat akhir pekan
Ikuti mentoring dan pengajian

Kalau mulai lesu di pertengahan
Dengan i’tikaf semangatmu bangkitkan

Sepuluh malam akhir kita hidupkan
Mencari malam seribu bulan

Bagi siapa yang berkewajiban
Zakat fitrah sok ditunaikan

Kala terbenam mentari Ramadan
Setelah ifthar mulailah takbiran

Esoknya songsong hari kemenangan
Saling bertahni-ah dan bermaafan

Spirit Ramadan kita pertahankan
Moga bertemu di tahun depan

__________

NB:

Futur: bosan dan kehilangan gairah dalam melakukan aktifitas tertentu.

Ghibah: membicarakan aib orang lain sekalipun sesuai dengan fakta. Coba lihat QS 49:12.

I’tikaf: menetap di masjid untuk berkonsentrasi ibadah.

Ifthar: berbuka puasa, takbiran dimulai sejak terbenam matahari di hari terakhir bulan Ramadhan.

Tahni-ah: ucapan selamat saat hari raya Idul Fitri, baik dengan ucapan Taqabbalallahu minnaa wa minkum ataupun ucapan lain yang sejenis.

[Toleransi dan Menghargai Perbedaan Tanpa Mengucapkan Selamat Hari Raya terhadap Kawan-Kawan Non-Muslim yang Tidak Disertai Pembenaran Keyakinan Agama Lain dalam Mazhab Syafii & Ijma’ (Konsensus) Ulama]

Penulis: Ustadz Nur Fajri Romadhon Lc

Islam memiliki konsep umum yang begitu toleran terhadap perbedaan, bahkan terhadap non-muslim. Siapapun yang membaca sirah Kanjeng Nabi, pastilah menjumpai fakta-fakta yang membuat hati terenyuh dan makin cinta keluhuran Islam. Hanya saja, ada beberapa hal terkait hubungan non-muslim yang beliau tidak lakukan, termasuk “tahniah” (mengucapkan selamat) pada hari raya mereka. Di zaman itu Nabi menyaksikan Musyrikin berhari raya, Yahudi merayakan hari raya, Nasrani pun saat itu sudah rutin merayakan hari raya dan berinteraksi dengan kaum muslimin. Tetapi di saat para Shahabat menghikayatkan “tahniah” sesama muslim dalam Idul Fitri & Idul Adha, tidak pernah ada hikayat bahwa Nabi, Shahabat, Tabi’in, dan ulama abad-abad setelahnya mengucapkan selamat pada hari raya non-muslim padahal mereka begitu toleran berinteraksi dengan non-muslim di luar pembahasan “tahniah”. Yang ada justru sejumlah Shahabat dan ulama melarang turut serta dalam hari raya mereka. Saat itu pun hubungan dengan non-muslim tidak selalu perang, justru banyak yang damai dan berhubungan baik. Ada non-muslim dzimmi, musta’man, dan mu’ahad pula.

Pembahasan mengucapkan “tahniah” kemudian secara khusus dibahas di sekitar abad IV Hijriah. Imam Al-Hulaimi (w. 403 H), salah seorang ulama terkemuka Mazhab Syafii, melarang mengucapkan “tahniah” (ucapan selamat) terhadap hari raya Paskah dan Nowruz. Beliau mengatakan:

ولا أن يهنئه بفصحه بحال، ولا بالنيروز والمهرجان .

“Dan tidak boleh sama sekali seorang muslim memberikan tahniah/ucapan selamat hari raya kepada non-muslim pada Paskah, Nowruz, tidak pula Mahrajan.”

[Al-Minhaj fi Syuabil Iman (3/349) cet. Darul Fikr]

Berselang 4 abad, yakni di abad VIII Hijriah, yang bahkan sampai dinukilkan terjadinya ijma’ di abad tersebut. Ingat, abad VIII Hijriah artinya sudah melalui masa Perang Salib (490-670 H), menjelang pembebasan Konstantinopel (857 H), dan menjelang terusirnya muslim dari Andalusia (897 H). Semua membuktikan bahwa interaksi muslim dengan non-muslim saat konsensus haramnya tahniah itu dinyatakan sudah begitu lama dan beragam, mulai dari perang, damai, minoritas muslim di wilayah non-muslim, minoritas non-muslim di wilayah muslim, dst. Bukan hanya situasi perang sebagaimana klaim sebagian pihak. Bolehnya ucapan selamat kepada kawan-kawan non-muslim terkait selain hari raya semisal prestasi dan pernikahan pun tidak berarti bolehnya selamat terkait hari raya mereka. Apalagi kenyataan yang jelas bahwa toleransi dan sikap ramah menghargai perbedaan bukan dengan “selamat hari raya” tetapi dengan “silakan berhari raya”.

Dari sinilah jelas bahwa tidak tepat anggapan bahwa pembahasan khusus tentang hukum “tahniah” (mengucapkan selamat) terkait hari raya kawan-kawan non-muslim baru dibahas di zaman modern (abad XV Hijriah). Serta tidak benar anggapan bahwa yang melarang hanyalah ulama dari kalangan tertentu. Juga dari sinilah kita perlu meninjau kritis anggapan bahwa andai ulama klasik sepakat mengharamkan, maka zaman sekarang sudah berbeda hukumnya.

Di antara ulama di abad VIII Hijriah yang mengulas secara spesifik terkait “tahniah” terkait hari raya non-muslim dari Mazhab Syafii ialah Imam Kamaluddin Ad-Damiri (w. 808 H), ulama besar Al-Azhar Kairo Mesir, yang menyatakan saat mensyarah Minhaj Thalibin karya Imam An-Nawawi:

يُعزّر من وافق الكفار في أعيادهم ، ومن يمسك الحية ، ومن يدخل النار ، ومن قال لذمي : يا حاج ، ومَـنْ هَـنّـأه بِـعِـيـدٍ .

“Dan orang yang mengucapkan selamat kepada non-muslim dzimmi terkait hari rayanya dihukum dengan hukuman takzir.”

[An-Najmul Wahhaj fii Syarhil Minhaj (9/244) cet Darul Minhaj]

Sekitar dua abad berikutnya, pendapat tentang hukuman takzir atas mereka yang mengucapkan tahniah (selamat hari raya) kepada non-muslim dzimmi ini dipertegas kembali oleh Imam Syihabuddin Ar-Ramli (w. 957 H) dalam Hasyiyah beliau terhadap Asnal Mathalib tulisannya Syaikhul Islam Zakariyya Al-Anshari (w. 926 H) berikut:

ويُعزّر من وافق الكفار في أعيادهم ، ومن يمسك الحية ، ومن يدخل النار ، ومن قال لذمي : يا حاج ، ومَـنْ هَـنّـأه بِـعِـيـدٍ .

“Dan orang yang mengucapkan selamat kepada non-muslim dzimmi terkait hari rayanya dihukum dengan hukuman takzir.”

[Hasyiyah Ar-Ramli Al-Kabir ‘ala Asnal Mathalib (4/162) cet. Al-Maymaniyyah]

Tidak lama berselang, kedua pembahasan tadi diulang lagi sebagai pernyataan mazhab oleh Imam Al-Khathib Asy-Syirbini (w. 977 H), yang juga ulama besar Al-Azhar Kairo Mesir, dalam statement beliau juga saat mensyarah Minhaj Thalibin-nya Imam An-Nawawi.

ويُعزّر من وافق الكفار في أعيادهم ، ومن يمسك الحية ، ومن يدخل النار ، ومن قال لذمي : يا حاج ، ومَـنْ هَـنّـأه بِـعِـيـده .

“Dan orang yang mengucapkan selamat kepada non-muslim dzimmi terkait hari rayanya dihukum dengan hukuman takzir.”

[Mughnil Muhtaj ila Ma’rifati Ma’anil Minhaj (4/255) cet. Darul Ma’rifah, dikutip juga dalam Fatwa MUI Pusat no. 56 tahun 2016]

Hukuman takzir sebagaimana dijelaskan dalam Minhaj Thalibin sendiri, merupakan hukuman atas kemaksiatan (dosa/keharaman) yang tidak dirinci bentuk hukuman atau kaffaratnya dalam Alquran ataupun Hadis. Bentuk hukumannya beragam sesuai kebijakan pemerintah.

Imam An-Nawawi (w. 676 H) katakan:

يعزر في كل معصية لا حد لها ولا كفارة بحبس أو ضرب أو صفع أو توبيخ ، ويجتهد الإمام في جنسه وقدره .

“Setiap kemaksiatan (dosa/keharaman) yang tidak ada rincian hukuman ataupun kaffaratnya (dalam Alquran/Hadis), pelakunya dihukum dengan hukuman takzir berupa penjara, cambuk, pukulan, atau teguran keras. Pemerintah dipersilakan berijtihad dalam menentukan jenis dan kadarnya.”

[Minhaj Thalibin hlm. 514 cet. Darul Minhaj]

Apa yang ditulis oleh keempat ulama terkemuka Syafiiyyah lintas zaman di atas sesuai dengan nukilan konsensus oleh Imam Ibnul Qayyim (w. 751 H) atas haramnya tahniah hari raya non-muslim.

Imam Ibnu Qayyimil-Jauziyyah (w. 751 H) mengatakan:

وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق ، مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم فيقول : عيد مبارك عليك أو تهنأ بهذا العيد ونحوه . فهذا إن سلم قائله من الكفر ، فهو من المحرمات .

“Adapun mengucapkan ‘selamat’ terkait syiar-syiar kekufuran khas non-muslim, maka hukumnya haram berdasarkan kesepakatan ulama, seperti mengucapkan selamat terkait hari raya dan puasa mereka

semisal ucapan, ‘Hari raya nan berkah!’, ‘Selamat berbahagia di hari raya ini!’, atau semisalnya.

Muslim yang mengucapkan ini meskipun tidak menjadi kafir dengannya, tetapi telah melakukan perbuatan haram.”

[Ahkam Ahlidz Dzimmah (1/441) cet. Ramady lin Nasyr, dikutip juga dalam Fatwa MUI Pusat no. 56 tahun 2016]

Konsensus ulama yang dinukilkan Imam Ibnul Qayyim pada abad VIII H di atas belum ada yang mengritiknya di abad VIII H ataupun beberapa abad setelahnya. Belum pula dijumpai sebelum Imam Ibnul Qayyim satupun ulama yang memfatwakan hal berbeda dalam kasus “tahniah hari raya non-muslim” ini.

Kenyataan yang ada justru Imam Ad-Damiri, Imam Syihabuddin Ar-Ramli, dan Imam Al-Khathib Asy-Syarbini, yang notabene berbeda mazhab dengan Imam Ibnul Qayyim dalam fiqh dan ushuluddin, sepeninggal wafatnya Imam Ibnul Qayyim justru menegaskan terlarangnya “tahniah hari raya non-muslim”.

Dalam Ushul Fiqh, ijma’ kebenarannya absolut dan terlarang hukumnya membuat pendapat menyelisihi ijma’ sah yang sudah dinyatakan ulama sebelumnya. Imam As-Sarakhshi (w. 490 H), salah ulama Ushul Fiqh terkemuka dari Hanafiyyah, menyatakan:

الإجماع موجب للعلم قطعاً بمنزلة النص ، فكما لا يجوز ترك العمل بالنص باعتبار رأي يعترض له : لا يجوز مخالفة الإجماع برأي يعترض له بعدما انعقد الإجماع .

“Ijma’ (konsensus/kesepakatan ulama) memberikan informasi hukum yang absolut kebenarannya sebagaimana nash (dalam Ushul Fiqh, nash bermakna ayat/hadis yang pemahamannya disepakati hanya 1 makna, tidak multi tafsir -pent). Maka sebagaimana tidak boleh mengabaikan nash karena logika/pendapat yang dikemukakan seseorang untuk menyangkal nash, tidak boleh pula menyelisihi ijma’ dengan logika/pendapat yang menyangkalnya setelah telah terjadi ijma’.”

[Ushul As-Sarakhsi (1/308) cet. Nu’maniyyah]

Tidak hanya konsensus ulama akan haramnya tahniah hari raya non-muslim, Imam Ibnul Qayyim juga menegaskan bahwa perkara ini pada dasarnya hanya haram (dosa), bukan kekufuran. Kecuali tentu saja kalau disertai pembenaran terhadap keyakinan non-muslim atau kalau ucapan selamatnya berlebihan dari sekadar tahniah. Karena kalau disertai pembenaran terhadap kekufuran, maka semua ulama termasuk yang membolehkan tahniah pun malah mengategorikannya ke dalam kekufuran, bukan hanya haram. Tentu bukan karena menyelisihi konsensus haramnya tahniah hari raya non-muslim tanpa disertai pembenaran keyakinan karena nampaknya ijma’ ini tidak masuk kategori ma’lumun minad diini bidh dharurah. Hal ini masuknya justru ke pembahasan riddah, sebagaimana kata Imam An-Nawawi berikut.

من لم يكفر من دان بغير الإسلام كالنصارى ، أو شك في تكفيرهم ، أو صحح مذهبهم ، فهو كافر وإن أظهر مع ذلك الإسلام واعتقده .

“Barangsiapa yang tidak menganggap kufur non-muslim seperti umat Nasrani, ragu-ragu akan kekufuran mereka, atau bahkan membenarkan keyakinan mereka, maka ia telah kufur meskipun bersamaan dengan itu meyakini dan menampakkan Islam.”

[Raudhah Thalibin (7/290) cet. Dar ‘Alam Kutub]

Penting diingat bahwa nukilan ijma’ Imam Ibnul Qayyim yang tidak ada yang membatalkannya di zaman sebelumnya ataupun yang mengritisinya beberapa waktu setelahnya bukanlah masuk pada pembahasan Ijma’ Sukuti. Itu karena pada Ijma’ Sukuti yang didiamkan adalah “pendapat”, bukan “nukilan konsensus”. Apalagi ternyata ulama mazhab lain setelah beliau malah menyetujui keharamannya. Jadi yang dipertanyakan bukan lagi keabsahan nukilan konsensus ini, tetapi adakah yang menyelisihinya sebelum beliau dan adakah yang mengritisinya di abad-abad yang dekat setelah beliau?

Akan tetapi barulah di abad XV Hijriah, sejumlah ulama besar -rahimahumullah wa hafidzhahum- (tidak termasuk Syaikh Muhammad Rasyid Ridha karena setelah saya mengecek langsung di 3 tempat dalam kitab fatwa beliau, saya tidak mendapati statement pembolehan tahniah -pen) memfatwakan bolehnya mengucapkan selamat terkait hari raya non-muslim. Ini meskipun tetap wajib menghormati para ulama besar tersebut, tetap saja dianggap penyelisihan terhadap ijma’. Andai ada yang menganggap illah berbeda, maka sebenarnya ini perlu ditinjau ulang mengingat kondisi tiap wilayah Islam tidak sama dan kondisi sekarang tidak jauh berbeda dengan masa ulama klasik di atas. Jangan juga sampai mengabaikan nukilan pendapat ulama lintas zaman di atas sehingga terkesan bahwa masalah ini belum pernah dibahas dan bahwa yang melarang hanyalah mereka yang disebut kaum intoleran. Tabik.

_______
Catatan & Kesimpulan:

1. Kaum muslimin sudah terbiasa berinteraksi secara toleran dengan non-muslim sejak zaman Nabi dan sudah terbiasa melalui hari raya mereka tetapi tidak ada riwayat bahwa mereka mengucapkan selamat.

2. Sejumlah Shahabat dan ulama justru melarang turut serta dalam hari raya mereka.

3. Di abad VIII Hijriah, ada nukilan konsensus ulama terkait haramnya “tahniah” (mengucapkan selamat) terkait hari raya non-muslim dan tidak ada ulama sebelumnya yang punya pendapat berbeda tidak pula ada ulama yang mengritisi nukilan konsensus ini di beberapa abad setelahnya padahal ulama yang menukilnya populer dan buku beliau tersebar. Ini berbeda dengan Ijma’ Sukuti.

4. Ijma’ adalah dalil yang absolut kebenarannya serta tidak boleh dilanggar setelah ia terwujud.

5. Di abad IV, V, IX, dan X Hijriah ulama-ulama Syafiiyyah secara tegas menyebutkan bahwa “tahniah” hari raya non-muslim tidak boleh sama sekali, bahkan justru dihukum takzir, dan takzir hanyalah pada dasarnya diberlakukan pada keharaman.

6. Interaksi muslim dengan non-muslim saat itu sudah lama dan beragam. Tidak hanya perang, tetapi juga damai, minoritas muslim di wilayah non-muslim, sebaliknya, dst.

7. Ulama yang membolehkan baru ada di abad XV Hijriah. Itu pun masih ada ulama sezaman yang tegas melarang atau menyatakannya sebagai syubhat. Karena itulah pendapat yang membolehkan -dengan penuh takzim kepada ulama yang berpendapat- layak dianggap syadz (ganjil) karena menyelisihi ijma’ dan perkara ini bukan khilafiyyah yang muktabar. Apalagi illat dan alasan yang disampaikan juga berlaku di abad VIII Hijriah dan sebelumnya.

8. Ulama yang secara spesifik melarang berasal dari abad IV, V, VIII, IX, X, dan XV serta juga berasal dari sejumlah kalangan yang berbeda mazhab fikih dan ushuluddinnya.

9. Pembahasan haram-tidaknya mengucapkan selamat terkait hari raya non-muslim tidak tergantung dengan pembenaran keyakinan non-muslim, karena kalau disertai pembenaran keyakinan non-muslim, maka semua ulama termasuk yang membolehkan sekadar mengucapkan selamat pun menyepakati bahwa itu bukan hanya haram, tetapi juga merupakan kekufuran.

10. Sebagian ulama bisa saja keliru ketika ternyata menyelisihi ijma disebabkan alasan tertentu, tetapi meski kita tidak ikuti mereka dalam pendapat yang syadz (ganjil) di perkara ini, tetaplah para ulama adalah ahli waris para nabi yang wajib dihormati.

11. Nasihat yang bijak harus tetap disampaikan kepada yang melanggar konsensus di atas tanpa pilih-pilih sekalipun yang melakukannya adalah guru, kawan politik, dan rekan seorganisasi. Dengan tetap meyakini bahwa orang/ulama/organisasi dinilai baik adalah karena dominasi kebaikan pada dirinya, tidak harus karena kesempurnaannya. Jangan sampai ada standar ganda di antara kita (tulisan ini pun ditujukan dengan penuh cinta dan hormat kepada siapapun -pen).

12. Dalam kondisi dipaksa/darurat, perbuatan haram, bahkan kekufuran, boleh saja dilakukan. Hanya saja wajib jujur dan ditinjau dalam-dalam mengenai tingkat darurat/keterpaksaannya.

13. Hukum terkait tahniah dari lembaga negara di sejumlah negara perlu ditinjau detil, sangat mungkin beda hukumnya di beberapa tatanan masyarakat. Tetapi hukum asal bertahniah dari pribadi muslim, maka yang saya pribadi yakini hukumnya ialah haram (bukan serta merta kekufuran) sebagaimana statement ulama Syafiiyyah dan konsensus ulama di atas.

14. Bagaimanapun tidak bertahniah bukanlah ciri intoleransi dan radikalisme sebagaimana ulama yang membolehkan bertahniah tanpa pembenaran keyakinan non-muslim tidak boleh dituduh rusak akidah apalagi dikafirkan.

15. Saya secara pribadi yang minta maaf sedalam-dalamnya terhadap kawan-kawan non-muslim karena mengikuti mazhab syafii dan konsensus ulama yang melarang mengucapkan selamat hari raya non-muslim. Tetapi sejak dulu dan selalu saya akan berusaha bergaul dalam urusan dunia dengan baik dan toleran, semisal mengucapkan selamat pada selain yang terkait hari raya, apalagi kita sama-sama cinta Indonesia dan menghargai keragaman.

Wallahu a’lam.

Small Things Matter

Penulis : Erwin Frimansyah S

Alumni Teknik Kimia UI & PESAN BISA


  • Semasa hidup Imam Ahmad bin Hambal, terdapat cobaan berat yang mengusik akidah umat islam. Dunia Islam pada saat itu dipimpin oleh Khalifah al-Makmun, seorang khalifah yang terpengaruh pemikiran Mu’tazilah. Di antara pokok keyakinan Mu’tazilah ini adalah bahwa meyakini bahwa Alquran adalah makhluk.

Al-Makmun berusaha memaksakan keyakinan tersebut kepada semua rakyatnya, termasuk para ulama. Banyak ulama berpura-pura untuk menerima keyakinan ini demi menghindari penganiayaan,

Pada waktu itu, setiap ulama yang menolak keyakinan ini akan dianiaya dan dihukum dengan keras. Imam Ahmad bin Hambal, sebagai ulama paling terkenal di Baghdad, dibawa ke hadapan al-Makmun dan diperintahkan untuk berkeyakinan demikian. Ketika ia menolak, ia disiksa dan dipenjarakan. Penyiksaan yang dilakukan pihak pemerintah saat itu sangatlah parah. Diriwayatkan karena keras siksaannya, beberapa kali mengalami pingsan.

Pada suatu malam seusai disiksa dengan cambukan, Imam Ahmad ditahan di penjara yang gelap. Lalu ada seseorang dalam penjara yang memanggil beliau, “Apakah engkau Ahmad bin Hambal?”. Beliau menjawab, “Benar”.

Orang tersebut bertanya lagi, “Apakah engkau mengenalku?”. Beliau menjawab, “Tidak”.

Ia berkata kembali, “Aku Abul Haitsam, sang perampok & peminum khamr. Telah tercatat bahwa aku telah dicambuk 18 ribu kali. Aku mampu bersabar menanggungnya, padahal aku sedang ada di jalan setan. Maka bersabarlah engkau, karena engkau ada dijalan Allah!

Setelah itu pihak pemerintah pun melanjutkan untuk mengikat dan mencambuk beliau. Setiap kali cambukan mendarat di punggung beliau, beliau teringat ucapan Abul Haitsam tersebut. Dan beliau berkata dalam hati, “Bersabarlah, engkau di jalan Allah wahai Ahmad!”

Akhirnya Allah menyelamatkan akidah umat islam melalui keteguhan Imam Ahmad ini. Dan dibalik itu, seorang perampok bernama Abul Haitsam pun ikut andil dalam penjagaan akidah yang benar, dengan kata-kata penyemangat yang ia utarakan kepada Imam Ahmad.

Ya. Abul Haitsam, si pemberi semangat sang Imam untuk tetap kokoh di atas kebenaran, walaupun dirinya sendiri bergelimang keburukan.

Dan beliau (Imam Ahmad) pun sering dalam doanya, meminta kepada Allah,

Ya Allah, ampunilah Abul Haitsam, rahmatilah Abul Haitsam.

 

 

  • Pada masa Nabi Sulaiman alaihissalaam, terdapat kaum Saba’ yang dipimpin oleh Ratu Bilqis. Kaum Saba’ adalah kaum penyembah matahari pada waktu itu.

Burung Hud Hud, yang merupakan salah satu yang menjadi tentara Nabi Sulaiman melihat kaum ini sedang menyembah matahari. Rasa ghirah-nya yang tinggi terhadap kemungkaran ini, membuatnya bergegas untuk mengadukan hal ini kepada Nabi Sulaiman.

Dan hasilnya, informasi dari burung hud-hud membuat Nabi Sulaiman bergerak untuk berdakwah kepada pemimpin kaum Saba’ (yaitu Ratu Bilqis). Setelah menyaksikan mukjizat Nabi Sulaiman, Ratu Bilqis berubah menjadi mentauhidkan Allah (ia memeluk islam), yang kemudian diikuti para kaumnya yang juga berbondong-bondong mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kisah ini disebutkan dalam Al Quran Surat An Naml (27) ayat 20 sampai ayat 44.

Dibalik dakwah tauhid ini, terdapat peran penting yang dilakukan oleh burung Hud-Hud. Ghirah dan semangatnya dalam mengubah kemungkaran, menjadi awal diterimanya dakwah tauhid oleh Kaum Saba’.

 

Terkait dengan kisah ini, Abu Muadz Ar Rozi sampai berkata,

Celakalah seseorang, yang burung Hud-Hud lebih baik dari dirinya.

_________________________________________________________________

Dua kisah diatas mencontohkan amar ma’ruf nahi mungkar, yang dilakukan oleh makhluk Allah yang mungkin tidak kita sangka-sangka akan melakukannya: yaitu seorang perampok dan seekor burung. Dan amar ma’ruf nahi mungkar mereka ini, dengan izin Allah, berhasil menyebabkan perbedaan besar bagi dakwah Islam. Apa yang dilakukan seorang perampok, ternyata membantu meneguhkan kesabaran Imam Ahmad dalam mempertahankan dakwah akidah. Apa yang dilakukan seekor burung, dapat membuat berubahnya satu kaum dari syirik (menyembah matahari) menjadi tauhid (mengesakan Allah).

Mungkin pernah kita mendengar pernyataan berupa keraguan, seperti: “Bagaimana mungkin saya berkontribusi untuk umat islam padahal saya belum banyak memiliki ilmu?”

Untuk menanggapinya, jawabannya mungkin adalah sebuah hadits.

Rasulullah ﷺ bersabda,

Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari).

Yaitu sampaikanlah nasihat-nasihat baik sebatas kemampuan & pengetahuan kita. Berkontribusilah sesuai kemampuan kita.

Bukankah nasihat yang dilakukan oleh Abul Haitsam dan nahi mungkar yang dilakukan burung hud-hud adalah sesuatu yang ringan dilakukan?

Ya.. Menolong agama Allah bisa dilakukan dengan perkara-perkara yang mudah dan ringan. Banyak sekali contoh-contoh yang bisa kita lakukan.

Kita bisa mengajarkan anak-anak baca tulis alquran, yang dengan ilmu tersebut anak anak bisa memulai langkah pertama mereka dalam membaca dan memahami al quran. Dan kita tidak tahu, mungkin diantara mereka akan ada yang Allah takdirkan menjadi ulama yang luas dan bermanfaat dakwahnya.

Kita bisa menjadi admin akun sosial media yang rutin membagikan informasi kajian, yang dengannya diharapkan akan ada orang yang mendapatkan hidayah melalui kajian tersebut.

Contoh lain dari buku berjudul “The Tipping Point”, terdapat sebuah pengamatan bahwa untuk menurunkan kriminalitas di salah satu kota di Amerika Serikat secara drastis, cukup dengan melakukan hal-hal yang terlihat kecil seperti membersihkan tembok-tembok dari coretan graffiti.

Small things matter!

Mungkin juga kita akan mendengar lagi pernyataan seperti, “Cukup ustadz saja yang berdakwah, dakwah orang biasa seperti kita tidak akan berpengaruh bagi kemajuan umat Islam.”. Atau, “Ini kan hanya amal shalih biasa yang sangat kecil pengaruhnya, pasti tidak ada bedanya jika saya tingalkan.”

Jika demikian, maka mungkin kita hanya bisa menjawab dengan sebuah hadits pula.

Rasulullah ﷺ bersabda,

Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun juga walau engkau bertemu saudaramu dengan wajah berseri” (HR. Muslim no. 2626).

Pada waktu itu Abul Haitsam mungkin tidak menyangka, bahwa kalimat singkat yang ia utarakan akan berkontribusi dalam penjagaan akidah umat islam dan membuat Imam Ahmad selalu mendoakannya.

Dan kita juga mungkin awalnya merasa heran, jika dikatakan bahwa sekadar informasi dari burung hud-hud menjadi awal mula berubahnya 1 kaum menuju tauhid.

Kita tidak tahu, efek sebesar apa yang bisa dihasilkan dari kebaikan yang kita lakukan.

Jangan remehkan setiap kebaikan kecil yang bisa kita lakukan. Karena kita pasti akan melihat ganjarannya, baik di dunia maupun di akhirat, untuk setiap amalan kita. Sekecil apapun amalan itu.

 

Ingat-ingatlah firman Allah:

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (akibat)nya.

Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (akibat)nya pula.” (QS Az Zalzalah : 7-8)

 

Referensi:

https://kisahmuslim.com/4362-perjalanan-hidup-imam-ahmad-bin-hanbal.html

https://nasihatsahabat.com/kisah-mengharukan-antara-imam-besar-ahlussunnah-dengan-seorang-penjahat-besar/

https://www.youtube.com/watch?v=ROy5VmUbBSQ&t=192s

Mengakhiri Masa Amanah dengan Husnul Khatimah

Penulis: Ustadz Nur Fajri Romadhon
(Wakil Ketua Yayasan BISA & Anggota Bidang Fatwa MUI Provinsi DKI Jakarta)


 

 

“Demi Yang telah menyelamatkanku di Hari Badar…” demikian bunyi khas sumpah tegas yang lantang terucap dengan suara menggema keluar dari lisan seorang pemuda tiga puluhan tahun, Ikrimah. Statusnya sebagai putra tertua Abu Jahal, tokoh utama pengobar bendera permusuhan terhadap Islam, membuat darah Islamofobia mengalir kuat dalam dirinya. Terlebih setelah ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana ayahnya terbunuh dengan memalukan di Perang Badar dan ia mewarisi sepeninggalnya tampuk kepemimpinan Bani Makhzum, suku terpenting kedua di Quraisy setelah Bani Hasyim, sukunya musuh utamanya, Muhammad. Dengan fisik yang kekar dan postur yang tinggi serta kelihaian berperang yang luar biasa, tidak pernah sekalipun ia absen dari barisan terdepan pasukan kuda dalam ketiga perang terbesar Quraisy-Islam: Badar, Uhud, dan Khandaq.

 

Sumpah tersebut bukan tanpa alasan terlontar dari lisan lelaki Quraisy yang juga terkenal paling mahir menulis dan menghitung ini. Betapa setelah ia masuk Islam, ia merasakan kesedihan dan penyesalan mendalam karena telah lebih dari dua dekade memusuhi Islam. Meski kalah di Perang Badr, tembakan panahnya yang nyaris tidak meleset tetap mampu merepotkan kaum muslimin. Di Perang Uhud, ia bersama Khalid berhasil memporak-porandakan barisan pasukan Islam yang tadinya hampir menang. Hal yang sama di Perang Khandaq, ia berhasil meneror warga Madinah ketika kelincahan berkudanya ia gunakan untuk melompati parit pertahanan. Di Fathu Makkah bahkan namanya masuk daftar orang yang dicari untuk dihukum oleh Rasulullah karena track recordnya yang kelam selama ini. Namun, di sisi lain, membuncah rasa syukur tak terkira dalam dadanya karena ia selamat dan tidak bernasib sama seperti ayahnya yang terbunuh dalam kondisi masih musyrik hingga terwujud dalam lafal sumpahnya yang khas, “Walladzii najjaanii yawma Badr.”

 

Al-Hafidzh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq menuturkan bahwa Ikrimah bin Abi Jahl melarikan diri di hari penaklukan Mekkah setelah ia tahu bahwa Rasulullah memburonnya dan kalah dalam usahanya menghadang sebagian pasukan Islam yang baru memasuki Mekkah. Ia berkata kepada istrinya, Ummu Hakim, yang mengejarnya, “Aku tidak akan tinggal di kota ini lagi!”

 

Sang istri berkata, “Hendak kemana engkau pergi, wahai pimpinan para pemuda Quraisy? Apakah engkau hendak pergi ke suatu tempat yang tidak kamu ketahui?”

 

Ikrimah pun melangkahkan kakinya tanpa sedikitpun menggubris perkataan isterinya.

Melihat sikap keras sang suami, Ummu Hakim melapor kepada Rasulullah, “Duhai Rasulullah, sungguh Ikrimah telah melarikan diri ke negeri Yaman dan hendak berlayar menyeberang benua karena ia takut kalau-kalau engkau akan membunuhnya. Aku mohon agar engkau berkenan menjamin keselamatan nyawanya jika ia kembali.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Dia kini berada dalam jaminan keamanan.”

Mendengar jawaban itu, Ummu Hakim mohon diri untuk pergi mengejar suaminya. Akhirnya dia berhasil menemukannya di tepi pantai jazirah Arab dan baru menaiki kapal. Sang Istri dan nahkoda kapal membujuk Ikrimah kembali dan mengucapkan syahadat.

Ikrimah balik menjawab dengan ketus, “Tidak! Justru aku melarikan diri dari kalimat itu.”

Sang Istri memelas, “Wahai putra pamanku, aku datang menemuimu membawa pesan dari manusia yang paling mulia perangainya. Aku mohon engkau jangan membinasakan dirimu sendiri. Aku telah meminta jaminan keselamatan untukmu kepada Rasulullah saw.”

Ikrimah mengonfirmasi ulang kabar tersebut dan sang istri berhasil meyakinkan Ikrimah hingga ia ikut kembali ke Mekkah. Sampai ke Mekkah, Ummu Hakim menegaskan kepada suaminya tersebut untuk pergi ke Madinah menjumpai Rasulullah yang telah kembali ke sana pasca Fathu Makkah.

Tatkala Ikrimah telah dekat Madinah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang saking tergesa dan gembiranya lupa memakai imamah beliau, bersabda kepada sebagian Shahabat, “Akan datang Ikrimah kepada kalian dalam keadaan beriman dan berhijrah, maka jangan kalian cela ayahnya karena celaan terhadap orang yang sudah meninggal menyakiti kerabatnya yang masih hidup dan tidak didengar pula oleh yang telah meninggal tadi.”

 

Lalu mendekatlah Ikrimah ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi seraya disambut oleh Sang Nabi pengasih, “Marhaban birraakibil muhaajir. Selamat datang, wahai penunggang kuda handal yang telah hijrah.”

Terharu akan hangatnya penyambutan Nabi padahal begitu menggunung kejahatannya kepada kaum muslimin dahulu, Ikrimah spontan bersyahadat dan mengatakan, “Wahai Rasululallah, demi Allah, tidaklah sepeser pun harta yang dahulu kugelontorkan untuk memerangi engkau, melainkan akan aku infakkan juga senilainya untuk jihad di jalan Allah.”

 

Begitulah Ikrimah yang mengisi sisa lima tahun hidupnya dengan kerja dan jasa besar untuk Islam. Ia termasuk yang tegar dan tidak lari saat Perang Hunain, berandil besar saat Pengepungan Thaif, turut berdesakan dengan 140 ribuan jamaah Haji Wada, hingga ikut menyolati Nabi kala wafat. Sepeninggal Nabi ia bahkan dipercaya Khalifah Abu Bakr memimpin jihad untuk menumpas kaum murtad di Oman Selepas kegemilangannya mengislamkan kembali wilayah Oman, Ikrimah ditawari jabatan gubernur dan imbalan harta oleh Abu Bakr. Akan tetapi ia menolak itu semua dengan mengatakan, “Aku tidak membutuhkan itu,” dan lantas memilih bergabung dengan pasukan mujahidin ke Syam dengan diiringi doa dan kekaguman dari Abu Bakr.

 

Laksana orang kehausan di sahara terik nan gersang yang melihat oase, Ikrimah berperang luar biasa dalam rangkaian Perang Yarmuk di Ajnadin. Ia bahkan sengaja mematahkan sarung pedangnya dan melompat turun dari kudanya di tengah kecamuk perang untuk kemudian berjibaku menghabisi tentara Romawi Timur satu per satu. Melihat itu, Khalid berteriak mengingatkannya, “Wahai sepupuku, jangan kau melakukan itu karena terbunuhnya engkau akan berdampak besar pada semangat kaum muslimin!”

 

Ikrimah seolah tak mempedulikan seruan Khalid. Ia justru terus mengayunkan pedangnya ke musuh yang mengepungnya dari segala arah seraya balas berteriak, “Menjauhlah dariku, wahai Khalid! Jiwaku pernah memerangi Rasulullah dahulu. Apakah pantas setelah berislam aku justru tidak mengorbankannya untuk berjihad membela Allah dan Rasul-Nya?!”

Ikrimah terus merangsek maju menghabisi pasukan Romawi Timur hingga memotivasi pasukan lain untuk memenangkan pertempuran. Hingga akhirnya kaum muslimin memenangkan pertempuran itu. Selepas pertempuran, kaum muslimin mencari Ikrimah, tetapi ia tidaklah ditemukan melainkan dalam kondisi sekarat dengan  dipenuhi 70 luka tusukan panah dan tebasan pedang. Khalid segera mendekatinya dan hendak memberinya air minum. Tetapi Ikrimah mengisyaratkan agar air tersebut diminumkan kepada Al-Harits bin Hisyam, paman mereka yang juga sedang kritis. Setelah diminumkan kepada Al-Harits, Khalid dikejutkan dengan wafatnya Ikrimah yang syahid, husnul khatimah.

 

Demikianlah, sungguh akhir kehidupan yang mungkin tidak terbayang seorang pun saat itu. Hingga kita kini selalu melantunkan doa dan pujian “Radhiyallahu ‘anhu, semoga Allah meridhai beliau” acap kali nama Ikrimah disebut. Sama halnya seperti Umar bin Abdulaziz yang tiga dasawarsa dikenal sebagai pemboros dan pejabat dengan gaya hidup hedonis lalu menghabiskan dua setengah terakhir dalam hidupnya sebagai khalifah adil berbalut selendang zuhud dan kesederhanaan. Ibarat Fudhail bin Iyadh yang menjadi ulama setelah 40 tahun menjadi begal setelah tertegun sadar kala mendengar lantunan Surat Al-Hadid: 16. Laksana Shalahuddin Al-Ayyubi yang masa mudanya terlalaikan dari ketegaran perjuangan jihad, lalu tersentak sadar kala tergerakkan semangat keilmuan dan pembaharuan Imam Al-Ghazali, hingga menjadi pejuang peberani membebaskan Al-Quds di Perang Salib.

 

Demikian, digdaya kesalihan sering kali ditentukan di akhirnya, terlepas dari banyak kealpaan di awalnya. Dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الأعمال بالخواتيم

“Kualitas amalan sejatinya ditentukan dengan penutupnya.”

[HR. Al-Bukhari]

Merujuk penjelasan Imam Az-Zarqani dalam kitab Syarhul Muwaththa’, bagaimanapun juga, akhirlah yang menjadi penentu sekalipun awal dan pertengahan amal masih belum baik. Itu karena siapa yang berubah dari buruk menjadi baik, atau dari baik menjadi lebih baik, maka ialah orang yang sukses. Tetapi jika yang terjadi adalah menjadi baik ‘aja’ setelah sebelumnya sudah baik ‘banget’ atau bahkan menjadi buruk padahal sebelumnya sudah baik, maka ialah orang yang merugi.

Tak terkecuali dalam mengemban sebuah amanah pada periode tertentu. Tidak jarang langkah di awal amat tergopoh, derapan lari di tengah perjalanan masih tertatih, tetapi bukankah masih tersisa masa untuk memperbaiki? Satukan kembali barisan perjuangan yang mungkin belum rapi berjajar, koreksi kembali kekurangan dalam beramal jama’i, lalu akhiri dengan kesan manis tak terlupakan di akhir masa jabatan dengan suksesi yang penuh taufik Ilahi, mewariskan estafet perjuangan kepada para generasi harapan selanjutnya dengan penuh keteladanan. Semoga Allah bimbing kita menutup masa jabatan kita setahun ini dengan husnul khatimah!

 

Rujukan: Tarikh Dimasyq, Syarhul Muwaththa’ liz Zarqani, Shahih Al- Bukhari, Siyar A’lamin Nubala, Sirah Ibn Hisyam, Tafsir Al-Azhar.

*) dimuat dalam Buletin An-Naba FSI Fakultas Kedokteran UI edisi ke-40 dalam momen jelang pergantian kepengurusan BEM, LD, dan organisasi ekstra kampus lainnya

Manusia tak sempurna, pun dalam beribadah.

Penulis: Mufarrido Husnah,

-Matematika FMIPA UI 2017

 

Bismillahirrahmanirrahim…
Dalam Mukhtashar Minhajul Qashidin karya Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi; bagian seperempat pertama : Ibadah-ibadah; Kitab 4 : Puasa, Rahasia-rahasia, Urgensi, dan Apa yang Berkaitan Dengannya, dijelaskan bahwa dianjurkannya berpuasa lebih ditegaskan di hari-hari yang utama seperti tanggal 13,14, dan 15 dalam setiap bulan, puasa 6 hari di bulan Syawal, puasa Arafah, 10 Dzulhijjah dan Muharram, puasa Senin-Kamis, dan puasa Dawud.

Adapun puasa satu tahun penuh. Hisyam bin Urwah meriwayatkan bahwa bapaknya berpuasa terus menerus dan Aisyah juga melakukannya. Anas bin Malik berkata, “Abu Thalhah berpuasa terus setelah Rasulullah ﷺ wafat selama 40 tahun.”

Dijelaskan selanjutnya dalam kitab ini bahwa barangsiapa diberi kecerdikan, maka dia mengetahui tujuan dari puasa, sehingga dia membawa dirinya dalam kadar yang tidak melemahkannya dari amal yang lebih utama darinya. Ibnu Mas’ud tidak banyak berpuasa, dia berkata, “Bila aku berpuasa, maka aku tidak bisa banyak shalat padahal aku memilih shalat daripada puasa.”

Sebagian dari mereka bila berpuasa, maka dia tidak banyak membaca Al-Qur’an, maka dia jarang berpuasa sehingga mampu membaca Al-Qur’an, dan semua manusia lebih mengetahui kondisi dirinya dan apa yang baik baginya.

Terdapat kisah tauladan menarik dalam perkara ini, tertulis dalam catatan kaki no. 72 yaitu : Ibnu Abdil Barr berkata dalam at-Tamhid, “Al-Umari seorang ahli ibadah menulis surat kepada Imam Malik mengajaknya untuk berkonsentrasi dalam beribadah dan meninggalkan dunia ilmu, maka Imam Malik menjawab suratnya, “Sesungguhnya Allah telah membagi amal sebagaimana Dia telah membagi rizki, ada seorang laki-laki dimudahkan dalam shalat dan tidak dalam puasa . Ada yang lain dimudahkan dalam sedekah dan tidak dalam puasa. Ada lainnya yang dimudahkan dalam urusan jihad dan tidak dalam perkara shalat. Menyebarkan ilmu termasuk perbuatan baik yang mulia, aku menerima apa yang Allah bagikan kepadaku dalam hal ini, menurutku apa yang aku tekuni tidak lebih rendah daripada apa yang engkau tekuni, namun begitu aku berharap kita sama-sama di atas kebaikan dan kemuliaan. Setiap orang wajib menerima apa yang dibagikan kepadanya. Wassalam.”

Begitu elegan kisah ini, menggambarkan ketawadhu’-an seorang Imam Malik. Teladan yang dapat dipetik adalah kebaikan dan kemuliaan tak hanya dipetik dari satu perkara saja. Lakukanlah perkara ibadah yang dimana potensi kita besar untuk itu. Begitulah manusia. Dengan ketidaksempurnaannya, dalam hal ibadah juga belum mampu mencapai kesempurnaan. Sisi baiknya, manusia punya potensi masing-masing dalam dirinya. Dimana potensi tersebut Allah lah yang memberikannya. Potensi yang menjadi pendukung dalam peningkatan ibadah. Memang itu tujuan hidup yang Allah tentukan, yakni ibadah. Allah menciptakan manusia untuk senantiasa beribadah kepada Allah. Allah Yang Maha Pemurah tak lepas memberi kita bekal berupa potensi dalam diri. Mari kita kenali diri kita, kenali potensi diri yang Allah berikan. Beranjak dari sana lah kita bisa jadi muslim yang cerdik dalam meningkatkan ibadah kepada Allah. Wallahu a’lam bishowwab

Hari Solidaritas Internasional Palestina- Bagian III

Penulis :   Gies Andika 

– Psikologi UI 2015

– Mahasantri Rumah Ukhuwwah 2018

 

Lanjutan Bagian III


 

M. Syauqillah

Dosen Kajian Timur Tengah dan Stratejik Universitas Indonesia

 

Negara timur tengah tidak bisa diharapkan seratus persen untuk menyelesaikan konflik Palestina-Israel. Sejak Ustmani jatuh kondisi geopolitik di Timur Tengah menjadi tidak stabil sampai saat ini. Negara-negara ini masih menjadi identitas diri yang sebenarnya.

Mesir mempunyai posisi yang cukup yang bagus, tapi tetap saja masih belum lepas dari kondisi politik dalam negri yang terjadi. Turki yang cukup baik tapi ternyata standing posisinya tidak seperti Indonesia. Dia sangat pragmatis dalam politik luar negri. Arab Saudi sekarang dalam terjepit saat ini. Yordania sebenarnya cukup kuat, namun masalahnya adalah ektremisme dan masih menjadi identitas.

Apa yang bisa dilakukan Indonesia?

  • Dukungan Indonesia tidak bisa di intervensi
  • Tidak terpengaruh interdepedensi terhadap kawasan Timur Tengah
  • Indonesia sebagai negara muslim muslim mayoritas

 

Broto Wardoyo, P.hd

Dosen Hubungan Internasional Universitas Indonesia

 

Dalam literatur akademik awalnya di sebut Bangsa Arab, setelah tahun 1960-70an makan berubah menjadi Bangsa Palestina.

Proses perdamaian ada 3 :

  1. Land for Peace
  2. Peace for peace
  3. No peace at all

 

Strategi negosiasi

  • The many legs of negotiation
    • Jerussalem : Urusan Supranatural
    • Refuge : Identitas, Attachment

 

Ada 3 pendekatan Palestina

  • Bersenjata (Hamas dan Jihadis lain)
  • Perdamaian (PLO)
  • PBB (Multilateral Approach)

Namun ketiga pendekatan ini menyebar tidak koheren satu sama lain. Mestinya tiga pendekatan itu harus bersatu.

Kemudian Internal isu di Palestina

  • Hamas vs Fatah (internal rivalries)
    • Palestina diluar negri seringkali hanya diwakilkan oleh Fatah
  • Rule nya tidak jelas
    • Palestina adalah negara demokrasi
  • Kapasitas institusi rendah
    • Ini diakibatkan oleh pendanaan yang sangat terbatas

Where do we stand?

  • Negosiasi
  • PBB harus dimaksimalkan untuk kebijakan
  • Investasi ekonomi

Indonesia selalu mendukung Palestina untuk masuk PBB. Kadang seringkali kita mendebatkan mendukung Palestina karena isu agama atau nasionalisme. Keduanya tidak masalah karena tujuan kita adalah mendukung kemerdekaan Palestina.

 


 

Kamis, 29 November 2018

Balai Sidang Universitas Indonesia

Notulensi oleh : Gies Andika

 

 

 

Hari Solidaritas Internasional Palestina- Bagian II

Penulis :   Gies Andika 

– Psikologi UI 2015

– Mahasantri Rumah Ukhuwwah 2018

 

Lanjutan Bagian II


 

Hajriyanto Y Thohari

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah

 

Kegiatan ini memberi makna simbolik. Simbolik yang dimaksudkan, acara ini merupakan perwujudan dari dukungan yang secara tradisional telah ada sejak lama dari awal kemerdekaan republik ini. Bung Karno adalah sosok yang secara vokal mendukung kemerdekaan Palestina.

 

Rakyat Indonesia memiliki sensitifitas yang sangat tinggi terhadap permasalahan Palestina ini. Namun beberapa waktu belakangan ini mengalami penurunan menurut saya. Alasannya Pemerintah relatih berhasil mengelola isu ini dengan baik untuk mengambil alih yang sebelumnya dilakukan masyarakat secara langsung sehingga masyarakat merasa terwakili atas peran yang dilakukan oleh pemerintah sekarang.

 

Isu Palestina merupakan isu politik utama dalam kebijakan luar negri Indonesia. Banyak lingkaran yang bisa ditempuh melalu jalur diplomasi oleh pmerintah. Seperti ASEAN, yang mana Indonesia merupakan negara paling besar seharusnya mampu meleading isu Palestina ini di tingkat ASEAN. Ada OKI, ASIA.

Menurut saya, kondisi OKI sekarang sedang lumpuh. Tidak berdaya. Alasannya karena tulang punggung dari OKI yaitu Saudi Arabia yang juga sedang banyak masalah yang dihadapi oleh negaranya. Kemudian Liga Arab juga gagal mengakomodasi konflik-konflik yang ada di Timur Tengah. Lingkaran terbesar yang bisa dilakukan adalah ke PBB.

Indonesia harus tetap kokoh dengan posisi dukungannya untuk Palestina karena berangkat dari amanah konstitusi.

 

Menurut saya, Indonesia sekarang harus memberi dukungan yang disebut dukungan teknoratis. Selama ini dukungan kita sarat akan dukungan politik dan ideologis. Dukungan teknoratis itu berupa dukungan ekonomi, penguatan SDM. Untuk mendukung secara teknoratis dibutuhkan dana anggaran yang besar sehingga butuh di anggarkan dari APBN. Mengingat masalah yang dialami oleh Palestina semakin berat dan mengkhawatirkan.

 

Belakangan ini ada perubahan dukungan dari beberapa negara,  yang awalnya mendukung Palestina menjadi tidak mendukung lagi. Ini karena pragmatisme politik luar negri. Ini juga disebabkan negara liga arab yang juga tidak membaik dan penuh dengan konflik sehingga isu Palestina teralinasi atau dikesampingkan. Bahkan ada pernyataan menarik “Jangan lebih Arab dari negara Arab”, maksudnya banyak negara arab sendiri yang tidak terlalu peduli dengan Palestina, lalu kenapa negara non arab harus lebih peduli.

Diperlukan nafas panjang, konsistensi dan semangat juang yang tinggi untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

 

H.M Imdadun Rahmat, M,si

Direktur Said Aqil Siradj Institute (SAS Institute)

 

Yang di gali dalam sesi ini adalah Human Right (HAM). Bahasa yang paling efektif untuk mendukung Palestina adalah Bahasa Human Right. Laporan UNHCR (Lembaga PBB terkait permasalah pengungsi) Kondisi di Palestina adalah kondisi terburuk berkaitan dengan Human Right. Dalam sejarah ada dua kondisi permasalahan Human Right terparah yaitu Apherteid dan Penjajahan Palestina. Namun sekarang, Palestina the only one dengan kondisi HAM terburuk. Isu ini perlu dikampanyekan untuk mempengaruhi kebijakan PBB. Human Right harus menjadi salah satu pilar.

Adapun berbagai pelanggaran HAM diantaranya :

  • Menggunakan kekuatan dan koersif
    • Penduduk palestina dilarang berorganisasi, demonstrasi, menulis. Setiap ada aksi maka responnya dengan alat-alat mematikan
  • Praktek penangkapan sewenang-wenang
    • Penangkapan dan penyiksaan disaksikan oleh keluarganya. Sehingga banyak anak-anak trauma melihat ayaha atau saudaranya ditangkap dan disiksa
  • Perusakan properti
    • Setiap ada satu warga palestina kejahatan terhadap israel maka yang menjadi korban adalah satu keluarga, tidak hanya individu pelakunya. Bahkan rumahnya juga dihancurkan oleh Zionis Israel.
  • Anak-anak diperlakukan sama kejamnya dengan orang dewasa
  • Hukuman banyak yang merendahkan martabat, termasuk pelecehan seksual
  • Pelanggaran terhadap penduduk asli
  • Policy atas nama mengamankan pemukiman Yahudi
    • Dibangunkan tembok yang sangat tinggi mengelilingi perkampungan warga Palestina. Sehingga melumpuhkan sendi kehidupan Palestina seperti ekonomi, susa perizinan, bahkan ambulan pun susah sehingga dalam darurat banyak sekali yang meninggal sebelum ditangani medis karena lamanya proses perizinan ambulan
  • Pola sistematik pengusiran warga palestina
    • Di Yerussalem Timur ada kebijakan yang awalnya 70 dan 30, maksudnya dalam wilayah tersebut terdiri dari 30% penduduk Palestina dan 70% Yahudi. Namun sekarang Zero Persen berlaku, orang Yahudi tidak boleh disana.
  • Hak beragama
    • Mendapatkan hambatan untuk beribadah
    • Islam dan kristen di perkusi
  • Larangan ibadah haji bagi pengungsi
    • Kebijak bersama antara Arab Saudi dan Israel melarang pengungsi Palestina untuk ibadah haji kecuali mereka pindah kewarganegaraan. Politik licik ini bertujuan agar semakin berkurang penduduk Palestina.

 

 


Kamis, 29 November 2018

Balai Sidang Universitas Indonesia

Notulensi oleh : Gies Andika

 

 

Hari Solidaritas Internasional Palestina- Bagian I

Penulis :   Gies Andika 

-Psikologi UI 2015

– Mahasantri Rumah Ukhuwwah 2018

 

 

Sesi Panel

Soeripto, S.H.

Ketua Umum Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP)

 

Ada tiga masalah utama yang paling di soroti terkait konflik Palestina-Israel saat ini. Adapun masalah tersebut antara lain :

1 . Tawanan dan Tahanan

Ada sekitar 5000 penduduk Palestina ditawan dengan tidak jelas alasan penangkapannya. Beberapa tahanan di hukum sampai 200 tahun penjara artinya ini lebih kejam dari seumur hidup karena umur manusia tidak mencapai sebanyak itu. Selain itu, banyak juga anak-anak, perempuan yang di tawan oleh pihak Israel.

2.  Kekerasan

Di wilayah Tepi Barat terjadi kekerasan yang sangat kejam dan keji. Tidak berperikemanusiaan, banyak siksaan yang sudah tidak kita terima secara manusiawi. Di Jalur Gaza banyak terjadi serangan-serangan dasyat yang dilakukan oleh Israel. Permasalahan ini bagaimana carannya bisa sampai di PBB agar dapat mempengaruhi kebijakan yang dikeluarkan oleh PBB sehingga keputusan yang dikeluarkan tidak hanya resolusi tapi berupa sanksi kepada Israel.

3. Blokade

Blokade masih dilakukan oleh pihak Israel. Perbatasan Gaza-Mesir dilakukan blokade bersama Pemerintah Mesir selama 12 tahun terakhir terutama dalam hal air minum dan listrik. Sehingga mereka kesulitan air minum dan listrik.

Saya kira solusi konkret yang bisa dilakukan adalah membentuk Lembaga Persahabatan Indonesia-Palestina. Lembaga khusus untuk melakukan hal-hal nyata agar dapat membantu perjuangan rakyat Palestina. Contoh programnya, bisa mengirimkan para psikolog ke Palestina untuk melakukan riset tentang trauma yang di alami anak-anak. Disana banyak sekali anak-anak yang trauma akibat perlakuan dari tentara Israel.

 

  • Sunarko

Direktur Timur Tengah Kementrian Luar Negri Republik Indonesia

Lembaga-lembaga internasional juga sedang merayakan Hari Solidaritas ini. Dukungan total dari seluruh elemen masyarkat Indonesia tiga sampai empat tahun terakhir untuk perjuangan Palestina sangat intensif. Indonesia menempatkan Isu Palestina-Israel sebagai Isu Utama politik Luar Negri.

Mengapa Isu Palestina menjadi isu utama Indonesia?

  • Merupakan amanat UUD 1945

Terdapat dalam aliniea 1

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”

 

Dan alinia ke 4

“Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

 

  • Hubungan Historis dengan Palestina

Negara-negara Arab merupakan yang awal dalam mengakui kemerdekaan Indonesia. Termasuk Palestina

  • Sejak KAA 1955, Palestina negara satu-satunya yang belum merdeka

 

  • Karena Palestina Organisasi Kerjasama Islam (OKI) berdiri

Berdirinya OKI dipicu oleh dibakarnya Masjidil Aqsha oleh Israel. OKI merupakan pilar negara islam terdiri dari 57 anggota negara Islam.

 

 

Strategi dukungan Indonesia

  • 60 tahun KAA menghasilkan Deklarasi Pengakuan Palestina
  • KTT Luar Biasa OKI menghasilkan Deklarasi Palestina (2016)
  • Konferensi Internasional dukungan khusus kerjasama bidang teknik 2017
  • Selain itu, Indonesia telah banyak menyelenggarakan Program Capacity Building untuk penduduk Palestina di seluruh negara. Sudah sebanyak 1887 yang telah ikut program pembinaan diri tersebut.
  • Menggalang dukungan Pekan Solidaritas Palestina 12-18 Oktober 2018
  • Indonesia memberikan dukungan nyata di Yordania, Syuria, Libanon.
  • Membangun Rumah Sakit yang beroperasi di Gaza
  • Sejak Januari 2019 secara resmi Indonesia merupakan Anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Indonesia juga akan memberikan dukungan di bidang ekonomi dengan mengeluarkan kebijakan Zero Tarif untuk produk Palestina agar bisa masuk ke Indonesia.

 

 

 


Kamis, 29 November 2018

Balai Sidang Universitas Indonesia

Notulensi oleh : Gies Andika

 

Hari Solidaritas Internasional Palestina

Penulis :   Gies Andika 

-Psikologi UI 2015

– Mahasantri Rumah Ukhuwwah 2018

Keynote Speech

H.E. DR. Zuhair Al-Shun

Duta Besar Palestina untuk Indonesia

Cerita di palestina ada yang menyedihkan, ada pula yang membahagiakan. Kami sangat terbantu dengan hadirnya pemerintah Indonesia yang selalu mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina. Pada tahun 1977, PBB membagi wilayah palestina menjadi dua bagian yaitu Palestina itu sendiri dan negara Israel. Pembagian tersebut tanpa meminta pendapat rakyat Palestina. Semua itu dilakukan secara sepihak oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Sejak 2012 lalu, Palestina di akui menjadi anggota tidak tetap PBB. Dalam pidatonya, Al-Shun juga menyampaikan tekadnya bahwa sebesar apapun perlawanan yang akan dihadapi, kami akan tetap berjuang membentuk negara Palestina yang merdeka dan Yerussalem Ibu Kotanya. Hari Solidaritas ini juga merupakan  kesempatan kami untuk menyampaikan ke dunia internasional bahwa permasalahan Palestina belum selesai. Rakyat Palestina membutuhkan hari solidaritas seperti yang dilakukan hari ini.

Beliau juga menyampaikan kondisi terkini di Palestina. Saat ini, proses politik di Palestina sedang membeku atau stagnan. Penyebabnya adalah Israel yang menolak untuk berdamai dengan palestina. Mereka terus mengepung wilayah Palestina. Dengan ini, mereka sendiri yang menggagalan perdamaian yang sudah disepakati bersama.

Kita telah menyaksikan bagaimana kebijakan Presiden Amerika Serikat, Donal Trump yang memindahkan ibukota Israel ke Kota Yerussalem. Keputusan ini adalah pelanggaran keras terhadap peraturan, kesepakatan, dan perjanjian internasional. Kami menolak pemindahan secara sepihak yang dilakukan AS tersebut.

Kami tidak mempermasalahkan agama Yahudi. Yang menjadi musuh kami adalah Zionis Yahudi. Penduduk Palestina saat ini terdpat 6 Juta di dalam negri dan 6 juta menyebar di seluruh dunia mengungsi.

Hubungan Palestina dengan Indonesia sangat istemewa dan spesial. Terima kasih Indonesia atas dukungan berkesinambungan untuk rakyat Palestina.

 


Kamis, 29 November 2018

Balai Sidang Universitas Indonesia

Notulensi Oleh : Gies Andika

 

Kajian alumni pesan: Minhaj Ath-Thoolibiin – Bab Zina

Disampaikan oleh:   Ustadz Nur Fajri Romadhon, Lc.
Ditulis oleh:  Gifar Rabakhir 

18 Nopember 2018

—————————————————————————————

 

Muhson : Mukallaf, Hurr (merdeka), memasukkan hasyafahnya di dalam qubul, dalam nikah yang sah
*Pendapat ashoh: memasukkannya saat dia merdeka dan mukallaf
**Jika sudah memenuhi 4 syarat, termasuk kamil. Jika sudah memenuhi kamil dan melakukannya dengan wanita yang tidak memenuhi syarat, dia tetap muhson (pendapat al-ashoh) -> lelaki dirajam, wanita dicambuk 100x dan diasingkan 1 tahun

Hukuman gadis merdeka: diasingkan 1 tahun (berturut-turut; tidak boleh dicicil) sejauh jarak qasar (jarak safar: 88 km) – > jika justru melakukan hal lebih buruk, dipenjara
*Dalam pendapat ashoh, jika sudah ditentukan suatu tempat, tidak boleh memilih tempat lain
+حقوق الله مبنيّة على المسامحة (ketetapan-ketetapan Allah berasal dari kelonggaran)
**Perantau tidak boleh diasingkan ke tempat asalnya
+Hikmah diasingkan agar pelaku mampu bermuhasabah dan merasakan bagaimana perihnya kesepian

Untuk perempuan, bisa diasingkan bersama suaminya atau mahromnya (jika tidak mau, tidak dipaksa; hakim bisa memberi solusi untuk perempuan lain menemani)

Budak mendapat hukuman 50x cambuk (boleh dihukum langsung oleh tuannya) dan diasingkan setengah tahun (pendapat Imam Syafi’i – qowlan- tetap setahun; qiyash terhadap ila; bahkan ada pendapat – qowlan- lain, ia tidak diasingkan)

Hukuman zina berlaku dengan bukti atau satu kali pengakuan
*Jika membatalkan pengakuan, maka batal juga hukuman zinanya
**Jika kabur, tidak dianggap rajam dan tetap dilanjut lemparan batunya

Jika ada satu perempuan yang diberi persaksian oleh 4 laki-laki jika dia berzina dan diberi persaksian oleh 4 perempuan jika dia masih gadis, yang diterima adalah persaksian perempuan – > perempuan yang dituduh tidak diberi hukuman zina, 4 laki-laki yang menuduh tidak diberi hukuman qadzhaf
*Jika 4 orang bersaksi zina, tapi salah seorang bersaksi dengan tempat yang berbeda yang dituduh tidak dihukum zina, tetapi yang menuduh mendapat hukuman qadzhaf

Yang memberi hukuman adalah imam, yaitu pemimpin tertinggi atau hakim atau algojo dan semisalnya (jika pelaku merdeka)
*Jika budak boleh dihukum oleh tuannya (budak mukatab dihukum oleh imam)
**Jika tuannya adalah orang fasik atau budak mukatab pelaku dihukum oleh imam

Rajam dilakukan dengan madar (tanah yang dibuktikan) atau batu ukuran sedang
*Laki-laki tidak dimasukkan ke dalam lubang
**Perempuan yang berzina dan dipersaksikan 4 orang disunnahkan dipendam tubuhnya ke dalam tanah saat dirajam
***Rajam tetap dilakukan meskipun sedang sakit, sedang cuaca panas sekali, ataupun cuaca dingin sekali
**Hukuman cambuk disunnahkan untuk ditunda jika sedang sakit atau cuaca panas sekali atau dingin sekali- > jika sakit parah dipukul dengan cara yang sama seperti Nabi Ayyub
***Jika imam melanggar dan menyebabkan pelaku mati, imam tidak menanggung kematiannya

NB: catatan ini ditulis ulang dengan segala kekhilafan pencatat. Semoga Allah mengampuni saya untuk kesalahan-kesalahan pencatatan yang terdapat dalam catatan ini