Serial Mengenal Para Imam Qiraat (2)- IMAM IBNU KATSIR AL-MAKKI

Penulis : Abid Fathurrahman Arif (Pengajar Pesantren Kosan Yayasan Bisa , Mahasiswa Sarjana Sastra Arab UI 2016)

 

IMAM IBNU KATSIR AL-MAKKI

Identitas : Beliau bernama lengkap Abdullah bin Katsir Abu Ma’bad Al-Makki Ad-Dari, lebih dikenal dengan Ibnu Katsir. Beliau dilahirkan di Mekkah tahun 45 H/666 M, dan bertemu beberapa Sahabat Nabi Shallallahu alaihi wassallam seperti : Abdullah bin az-Zubair, Abu Ayyub Al-Anshari dan Anas bin Malik Radhiyallahu Anhum. Beliau wafat pada tahun 120 H/738 di Mekkah.
Guru-gurunya : Beliau berguru kepada Abdullah bin as-Sa’ib , Mujahid bin Jabr, Dirbas Maula (bekas budak) Ibnu Abbas.

Murid-muridnya : Diantara yg terkenal adalah Ismail bin Abdullah Al-Qisth, Ismail bin Muslim, Jarir bin Hazim, Al-Harits bin Qudamah , Shadaqah bin Abdullah bin Katsir (anaknya), Syibl bin Abbad, Isa bin Umar Ats-Tsaqafi, dll.

Kepribadian : Beliau adalah orang yang paling fasih dan pandai retorika (balaghah) bahasa Arab, sikapnya tenang dan berwibawa. Beliau adalah Imam Qiraat kota Mekkah sampai wafatnya.

Qiraatnya : Bacaan beliau dipakai oleh penduduk Mekkah dalam beberapa waktu lamanya, krn dianggap sebagai pemimpin par Qari di Mekkah. Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafii (w. 204/820 M) termasuk orang yang terpengaruh dengan Qiraat Ibnu Katsir, yang berefek pada sebagian2 hukum Fikihnya karena Mekkah adalah salah satu madrasah fikih beliau. Ibnu Mujahid (w. 324 H) memilih dua rawi bagi Ibnu Katsir, yaitu : Al-Bazzi dan Qunbul. Beliau berdua bukanlah murid langsung Ibnu Katsir, tetapi diperantarai beberapa perawi, yaitu : Abul Hasan Ahmad Al-Qawas – Abul Ikhrith Wahb bin Wadhih Al-Makki, Abul Qasim Ikrimah bin Sulaiman, dan Abdullah bin Ziyad Al-Makki – Ismail bin Abdullah Al-Qisth  – Ibnu Misykan dan Syibl bin Abbad – Ibnu Katsir.


Sumber :
Ahmad, Fathoni. 2016. Tuntunan Praktis 99 Maqra’ Qira’at Mujawwad & الكلمات الفرشية Riwayat Al-Bazziy & Qunbul dalam Thariq asy-Syathibiyyah. Jakarta : Pesantren Takhassus IIQ Jakartaa

Taufiq Dhamrah. 2017. Ath-Thariqul Munir Ila Qira’ati Ibni Katsir bi Riwayati al-Bazzi wa Qunbul min Thariq Syathibiyah wa Yalihal Farqu baina asy-Syathibiyah wath Thayyibah. Yordania : Dar Ammar

Serial Mengenal Para Imam Qiraat (1)(Lanjutan……)

Penulis : Abid Fathurrahman Arif (Pengajar Pesantren Kosan Yayasan Bisa , Mahasiswa Sarjana Sastra Arab UI 2016)

PERAWI IMAM NAFI : IMAM QALUN DAN WARSY

Imam Syathibi (w. 590 H/1194 M) berkata dalam Hirzul Amani wa Wajhut Tahani (Matan Syathibiyah)-nya :

فأما الكريم السر في الطيب نافع * فذاك الذي اختار المدينة منزلا
وقالون عيسى ثم عثمان ورشهم * بصحبته المجد الرفيع تأثلا

Terjemah bebas = Imam Nafi Al-Madani dengan dua Perawinya, Qalun dan Warsy

1A. Imam Qalun
Identitas : Beliau bernama lengkap Abu Musa Isa bin Mina bin Wardan bin Isa bin Abdul Shamad Al-Madani. Beliau berasal dari Romawi (Ruum), bekas budak (maula) Bani Zahrah. Beliau digelari (laqab) ‘Qalun‘, kata dalam bahasa Romawi yang berarti bagus (Jayyid). Hal ini diungkapkan oleh gurunya, Imam Nafi ketika menyimak bacaannya saat setoran (Talaqqi). Beliau lahir tahun 120 H/738 M dan wafat tahun 220 H/835 M.

Guru-gurunya : Beliau berguru kepada Imam Nafi dan imam-imam yg lainnya. Diriwayatkan bahwa beliau mengkhatamkan Al-Qur’an ke Imam Nafi berkali-kali kurang lebih 20 tahun. Beliau juga berguru kepada Imam Isa bin Wardan Al-Hidza’i.

Murid-muridnya : Diantara yg terkenal adalah anaknya, Ahmad dan Ibrahim, Abu Nasyith Muhammad bin Harun, Ahmad Al-Hulwani, Ahmad Al-Mishri, Ismail bin Ishaq Al-Qadhi dan lainnya.

Kepribadian : Beliau adalah orang yang tuli parah tdk dpt mendengar suara keraspun,  sehingga ketika mengoreksi bacaan murid2nya beliau melihat gerakan mulut2nya.

Qiraatnya : Beliau dijadikan Rawi pertama bagi Qiraat Imam Nafi. Diantara ciri khas bacaannya :
– Tidak menghitung Basmalah sebagai ayat pertama Surat Al-Fatihah , tetapi membaca Basmalah antara dua surat
– Mad Jaiz Munfashil 2 Harakat (Muqaddam fil Ada/lebih didahulukan penggunaannya) dan 4 Harakat
– Membaca Taqlil (bunyi antara Fathah dan Imalah/e) pd lafaz التورىة (attaureeh)* dan Imalah (bunyi antara fathah dan Kasrah/e) pd lafaz هار (heer)**
– Mensukunkan huruf Ha pd lafaz وهو (wahwa)
Dll.

1B. Imam Warsy
Identitas: Bernama lengkap Abu Said Utsman bin Said bin Abdullah Al-Qibthi Al-Mishri. Beliau lahir tahun 110 H/729 M di Mesir dan wafat tahun 197 H/813 M di Mesir juga. Beliau digelari ‘Warsy‘ oleh gurunya (Imam Nafi) karena jubah yang dikenakannya pendek dan mengakibatkan tampak kakinya ketika berjalan. Dikatakan juga ‘Warsy‘ adalah adalah sesuatu yang terbuat dari susu sehingga menjadi putih, digelari tersebut krn keputihan kulitnya.

Guru-gurunya : Beliau berguru kepada Imam Nafi di Madinah dalam rangka mendalami ilmu qiraat, padahal sebelumnya beliau sudah dikenal sebagai Imam Qari di Mesir.

Murid-muridnya : Diantaranya adalah Ahmad bin Shalih, Abdul Shamad bin Abdurrahman bin Al-Qasim, Abu Ya’qub Al-Azraq, Yunus bin Abdul A’la dan lainnya.

Kepribadian : Beliau memiliki suara yang indah dan menggema ketika membaca Al-Qur’an, bahkan ketika setoran dgn Imam Nafi suaranya dapat memenuhi isi Masjid. Beliau ahli dalam Qiraat dan Nahwu, sehingga pernah membuat yayasan pengajaran Al-Qur’an dan Bahasa Arab yg dinamakan Maqra’ah Warsy.

Qiraatnya : Beliau dijadikan Rawi kedua bagi Qiraat Imam Nafi. Bacaan beliau banyak perbedaan dgn Imam Qalun , krn pengaruh Riwayat-riwayat yang diambil dari 70 gurunya yang lain. Diantara ciri khas bacaannya :
– Tidak menghitung Basmalah sebagai ayat pertama Surat Al-Fatihah , tetapi membaca Basmalah antara dua surat dengan 3 cara : Memisahkannya dgn Basmalah, Saktah tanpa Basmalah (Muqaddam fil Ada‘), Washal tanpa Basmalah
– Mad Jaiz Munfashil dan Wajib Muttasil dibaca 6 Harakat
– Membaca Taqlil (bunyi antara Fathah dan Imalah/e) pd lafaz- lafaz tertentu yang banyak rinciannya, contohnya ketika diakhiri Alif Maqshurah ***: والضحى (wadhdhuhee), استوى (istawee), السلوى (as-salwee), dan Imalah pada huruf Ha pada lafaz طه (thahee)
– Memiliki hukum Lam Taglizh (tebal) , contoh : الصلاة (ash-shalooh), مصلى (mushalloo), فصل (fashalo)
– Memiliki hukum Naqlul Harakat ****, contoh : الأرض (alardh), عذاب أليم (adzaabunaliim)
– Dll.

(Bersambung, InsyaAllah…..)

Catatan Kaki :
Taqlil berbunyi ‘e’ seperti : Tebet, Bekasi atau logat Melayu.
** Imalah berbunyi ‘e’ seperti : Depok, Ember atau logat Betawi.
*** Alif Maqshurah adalah Alif yang berfisik ya tidak bertitik , atau dikenal dgn Alif bengkok.
**** Naqlul Harakat adalah memindahkan harakat huruf yg bersukun ke hamzah berharakat setelahnya.

Sumber :

Taufiq, Dhamrah. 2017. Al-Jisrul Ma’mun Ila Riwayati Qalun min Thariq Syathibiyah wa Yalihal Farqu baina asy-Syathibiyah wath Thayyibah. Yordania : Dar Ammar
Taufiq, Dhamrah. 2017. Ats-Tsamarul Yani’ Fi Riwayati Warsy an Nafi’ min Thariq Syathibiyah wa Yalihal Farqu baina asy-Syathibiyah wath Thayyibah. Yordania : Dar Ammar

Serial Mengenal Para Imam Qiraat (1)

Penulis : Abid Fathurrahman Arif (Pengajar Pesantren Kosan Yayasan Bisa , Mahasiswa Sarjana Sastra Arab UI 2016)

1. Imam Nafi Al-Madani

Identitas : Beliau bernama lengkap Nafi bin Abdurrahman bin Abi Nuaim Al-Laitsi, yang memilki Kunyah (gelar) Abu Ruwaim lahir tahun 70 H/690 M dan wafat tahun 169 H/786 M. Beliau adalah salah satu Imam Ahli Qiraat yang berasal dari Madinah Al-Munawwarah pada zamannya. Beliau merupakan pengajar dan Imam Masjid Nabawi selama 60 tahun. Imam Al-Qasim bin Firruh Asy-Syatibi (w. 590 H) mengurutkan beliau sebagai Imam Qiraat pertama dalam Matan Hirzul Amani wa Wajhut Tahani (Syathibiyah)*.

Guru-gurunya : Beliau berguru kepada 70 orang Tabiin, yang terkenal diantaranya : Abu Ja’far bin Yazid bin Al-Qa’qa (salah satu Imam Qiraat Asyrah) **, Abdurrahman bin Hurmuz Al-A’raj , Muslim bin Jundub dan Yazid bin Ruman.

Murid-muridnya : Banyak yang belajar Al-Qur’an kepada beliau dari kalangan Tabiin maupun setelahnya , diantaranya yang terkenal : Imam Malik bin Anas *** , Isa bin Mina Qalun, Utsman bin Said Warsy , Isa bin Wardan, Sulaiman bin Muslim bin Jammaz, Al-Laits bin Sa’ad dan lainnya. Ibnul Mujahid (w. 324 H/936 M) memilihkan dua perawi untuk Qiraat Imam Nafi, yaitu : Qalun dan Warsy.

Kepribadian : Imam Nafi terkenal sebagai orang yang paling bagus bacaannya dan Ahli dalam berbagai macam Qiraat (Awjuhul Qira’at) , berperangai mulia, zuhud terhadap dunia, tawadhu, perhatian terhadap murid-muridnya. Beliau berkulit hitam dan berwajah yang sejuk dipandang dan memiliki wangi yang harum.

Qiraatnya : Bacaan beliau digunakan oleh penduduk Madinah dalam beberapa waktu lamanya. Imam Malik bin Anas berkata:

قراءة أهل المدينة سنة  ، قيل له قراءة نافع ، قيل نعم
Bacaan (Qiraat) penduduk Ahli Madinah adalah Sunnah, dikatakan padanya: Qiraat Nafi, beliau berkata : Ya.

Begitupula Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata :

سألت أبي أي القراءة أحب إليك ، قال : قراءة أهل المدينة ، قلت فإن لم يكن ، قال : قراءة عاصم
Saya bertanya kepada bapak (Imam Ahmad), Qiraat apa yang anda paling sukai? Beliau jawab : Qiraat Ahli Madinah (Nafi), saya berkata : jikalau tdk (dapat atau memungkinkan), beliau jawab : Qiraat Ashim.

Bacaan antara Imam Qalun dan Warsy (dua Rawi Imam Nafi) memiliki banyak perbedaan, tetapi menurut kebanyakan Ahli Qira’at bacaan Imam Qalun adalah yang lebih dekat kepada Imam Nafi, krn Imam Warsy memiliki kaidah2 tersendiri yang tidak didapati dari Imam Nafi, melainkan dari riwayat-riwayat gurunya yang lain.
Bacaan Imam Nafi termasuk salah satu Qiraat yang masih eksis di kalangan umum saat ini, utamanya di daerah Maghribi/ Afrika utara dan barat seperti : Maroko, Aljazair, sebagian Mesir, Sudan, Libya dan sekitarannya.

(Bersambung……)


Catatan Kaki :
Hirzul Amani wa Wajhut Tahani atau yang lebih dikenal Matan Syathibiyah adalah matan yang berisikan kaidah-kaidah seputar Ilmu Qira’at, yang dibuat Imam Syathibi dengan memasukkan 7 Imam (Aimmatul Qurra as-Sab’ah) sebagai rujukan bahasannya.
**  Qira’at Asyrah  (10 Imam) disusun oleh Imam Muhammad bin Muhammad bin Yusuf Al-Jazari (w. 833 H) dalam karangannya : Thayyibatun Nasyr fil Qira’atil Asyr dengan memasukan 3 nama Imam yang tidak dimasukan Imam Syathibi dlm Matan-nya. Hal ini didasari penelitian Ibnul Jazari dan Ahli Qiraat pd zamannya terhadap qiraat-qiraat lainnya  yang dapat dikategorikan sbg Qira’at Mutawatirah.
*** Imam Malik merupakan teman dekat Imam Nafi, dan saling belajar diantara keduanya. Imam Malik belajar Qiraat kepada Imam Nafi, sedangkan Imam Nafi belajar Kitab Muwaththa kepada Imam Malik. Atas hubungan ini, Qiraat Nafi bersandingan dengan Mazhab Maliki sehingga terjadi korelasi antara Mazhab Qiraat dan Fikih.

Sumber :

Taufiq, Dhamrah. 2017. Al-Jisrul Ma’mun Ila Riwayati Qalun min Thariq Syathibiyah wa Yalihal Farqu baina asy-Syathibiyah wath Thayyibah. Yordania : Dar Ammar
Taufiq, Dhamrah. 2017. Ats-Tsamarul Yani’ Fi Riwayati Warsy an Nafi’ min Thariq Syathibiyah wa Yalihal Farqu baina asy-Syathibiyah wath Thayyibah. Yordania : Dar Ammar

Guru Al-Qur’an yang Mutqin

Penulis : Abid Fathurrahman Arif (Pengajar Pesantren Kosan Yayasan Bisa Depok, Juara III MHQ 30 Juz Tingkat Kota Bekasi)

Belajar Al-Qur’an dengan metode Talaqqi wal Musyafahah (bertemu langsung dan tatap muka) kepada seorang guru adalah metode para Salaf yang patut dilestarikan. Wabil khusus bacaan Al-Qur’an yang memiliki keistimewaan tersendiri, yang dimana bacaan tersebut memiliki mata rantai yang tersambung kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam melalui Ahli Qiraat, Tabiin hingga Sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam. -Ridhwanullahi alaihim-

Tentunya tidak sembarang orang yang bisa dijadikan guru , setidaknya mereka adalah orang yang Mutqin bacaan dan/atau hafalan. Diantara kriteria Mutqin bacaan adalah :

1. Memahami teori-teori dasar seputar kaidah2 Tajwid, Makhraj Huruf dan Sifat
2. Mampu mengoreksi kesalahan bacaan Al-Qur’an, baik ringan atau berat (Khafiy/Jaliy)
3. Memahami Waqaf Ibtida yang benar
4. Tidak bermudah-mudahan dalam menilai bacaan seseorang
5. Mampu menunjukan praktek yang benar terhadap bacaan Al-Qur’an dari kaidah-kaidah Tajwid kepada muridnya
6. Memiliki Sanad Kitab-kitab Tajwid dan Qiraat, dan bacaan Al-Qur’an 30 Juz minimal 1 Riwayat atau lebih (bukan syarat utama)

Diantara kriteria Mutqin hafalan :
1. Mampu membedakan ayat-ayat yang serupa/mirip di dalam Al-Qur’an
2. Mengetahui letak-letak awal, tengah dan akhir Juz dan nama-nama Surat dalam Al-Qur’an
3. Lancar atau sedikit kesalahan ketika dalam Majelis Tasmi’
4. Mampu menyambungkan ayat-ayat Al-Qur’an secara acak, baik untuk dirinya atau kepada muridnya
5. Mampu membaca Al-Qur’an tanpa Mushaf (bil Ghaib) setiap saat atau sebagian waktu
6. Memiliki Syahadah (Sertifikat) hafalan 30 Juz (bukan syarat utama)

Kriteria Mutqin bacaan dan hafalan bukanlah hal yang harus dipertentangkan. Jikalau ada seorang guru yang memiliki 2 hal tersebut, maka lebih didahulukan dan diutamakan. Adapun jika ingin memprioritaskan, maka dahulukan yang Mutqin bacaan walau guru tersebut belum Hafizh Qur’an 30 Juz, krn tujuan utama dalam pembelajaran Al-Qur’an adalah membenarkan bacaan dan ini adalah Fardhu Ain bagi setiap muslim. Adapun menghafal Al-Qur’an, maka hukumnya Sunnah Muakkadah atau maksimal adalah Fardhu Kifayah. Hukum Fardhu Ain terjadi ketika penghafal Qur’an dituntut menjaga hafalan Qur’annya.

Sebagian para pengajar Al-Qur’an yang Mutqin tersebut, memiliki perbedaan dalam metode pembelajarannya. Diantara mereka ada yg mengharuskan hafal Al-Qur’an 30 Juz
dan dilengkapi Syahadah Tahfizh-nya ketika ingin mengambil Sanad salah satu Riwayat bacaan Al-Qur’an (contoh: Riwayat Hafsh an Ashim). Sehingga, mereka menginginkan muridnya menjadi Mutqin hafalan dan bacaan.

Sebagian lagi ada yang tidak mewajibkan menghafal Al-Qur’an 30 Juz, tapi setidaknya menghafal Matan dasar ilmu Tajwid, seperti Tuhfatul Athfal dan Muqaddimah Al-Jazariyyah. Hal ini akan menguatkan teori tajwid sang murid dan memudahkannya untuk mempraktekan bacaan secara benar. Sehingga, yang ditekankan sang guru adalah Mutqin bacaan, adapun Mutqin hafalan bisa dilakukan sepanjang waktu sembari Talaqqi.

Kedua metode ini dibenarkan, selama tujuan utama dari pembelajaran Al-Qur’an untuk membacanya dengan Tartil tercapai. Dan hal ini tidak bisa dicapai kecuali dengan bimbingan guru, sebagaimana pesan salah satu guru kami , Syaikh Al-Muqri Abdul Karim bin Silmi Al-Jazairy, Lc. MA. Hafizhahullah (Pewaris Sanad Qiraat Asyrah Sugra dan Kubra, Mudir Ma’had Zaid bin Tsabit Yogyakarta) :

الشيخ هو المفتاح
” Guru adalah kunci “

Kunci dari pemahaman , karena jikalau hanya mengandalkan buku-buku tanpa ada bimbingan guru maka akan bingung dan tidak terarah belajarnya.

Sebagai penutup, Hendaknya sebagai penuntut Ilmu kita juga bersemangat dalam hal-hal yang bermanfaat bagi diri kita dan tidak merasa cukup. Secara khusus dalam Ilmu Al-Qur’an, ketika kita sudah mampu membaca dengan benar, maka tingkatkan dengan hafalan , tafsir dan mentadabburinya hingga mendapat Sanad 30 Juz atau sebagian Al-Qur’an yg bersambung sampai Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam.

Diantara nasihat guru kami, Syaikh Al-Muqri Muhammad Al-Farabi Asmar, Lc. (Pewaris Sanad Qiraat Asyrah Sugra dan Kubra dan Alumnus Syariah Universitas Al-Azhar Mesir) : “Jangan mempertentangkan sesama kebaikan. Memutqinkan bacaan Al-Qur’an adalah baik, mendapatkan Sanad bacaannya (khususnya Sanad yang tinggi) adalah baik. Jikalau mendapatkan keduanya, maka semakin Terbaik. ”

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita Ahli Qur’an. Amin.