Khutbah Jumat “Mendulang Hikmah dibalik Wabah”

Waktu : Jumat, 29 Ramadhan 1441 H/ 22 Mei 2020
Tempat : Masjid Baiturrahman Kemang Pratama 3 Bekasi (daerah zona hijau, dan mendapat izin dari pihak berwenang setempat untuk ibadah di Masjid sesuai protokol Covid-19)
Oleh : Ustadz Abid Fathurrahman Arif (Imam Masjid Baiturrahman Kemang Pratama 3 Bekasi dan Pengajar Pesantren Kosan Yayasan Bisa Depok).

 

Suasana Shalat Jumat

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه. اللهم صل وسلم على نبينا و سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بعد
فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثاتها وكل محدثات (في الدين) بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار

Jamaah Jum’at – Rahimani wa Rahimakumullah –

Pertama-tama, Hendaklah kita bersyukur kepada Allah Ta’ala yang telah memberikan kita nikmat Islam, Iman dan Ihsan yang dimana ketiga nikmat tersebut adalah sebaik-baik nikmat bagi Manusia. Sebagaimana pesan para Khatib di setiap Jumat, hendaknya kita berpegang teguh dgn Agama Islam dan jangan mati kecuali diatasnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mewafatkan kita sebagai orang Muslim dan dalam ketaatan. Amin Ya Rabbal Alamin.

Pada kesempatan kali ini, izinkan saya menyampaikan khutbah bertemakan : “Mendulang Hikmah dibalik Wabah”

Sebagaimana yg kita ketahui dan rasakan bersama, masa-masa ini adalah masa yg penuh cobaan dan kesulitan yg dirasakan manusia di dunia ini. Betapa tidak, Wabah Covid 19 yang telah muncul sekitar 3 bulan terakhir ini memunculkan berbagai permasalahan kehidupan manusia. Baik permasalahan di bidang pendidikan, ekonomi, sosial , dan lainnya.

Di tengah kewaspasdaan orang-orang terhadap Virus Corona, nyatanya ada saja hikmah yang dapat dirasakan dalam kondisi spt ini. Seorang Muslim harus melihat musibah yang menimpanya dari dua sisi, yaitu positif dan negatifnya. Tentunya, sisi positif harus kita kedepankan agar tidak mengeluh terhadap ketetapan Allah. Akidah Ahlussunnah wal Jamaah meyakini adanya takdir baik dan buruk. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dlm Surat Al-Hadid ayat 22-23 :

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (22) لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (23)
(22) Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
(23) Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

pexels.com-masjid

Menetap di rumah (Stay at home) menjadi keharusan setiap orang untuk mencegah penularan virus dan hal-hal yang tidak diinginkan. Dalam Akidah, kita harus أخذ السبب (mengambil sebab) dan Tawakal terhadap suatu peristiwa.

Menetap di Rumah bukan menjadi penghalang kita utk produktif. Dimanapun kita berada, seharusnya kita melakukan hal2 yg bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Diantara mereka ada yang mengaplikasikan kebermanfaatan dgn orang lain dgn melakukan bantuan sosial dlm rangka mengurangi beban kehidupan sebagian orang krn Virus Corona. Tentu ini adalah perbuatan yang menghasilkan pahala besar. Dalam Hadis yg terdapat di Kitab Riyadhus Salihin Imam Nawawi yg diriwayatkan Abu Hurairah dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam bersabda :

….احرص على ما ينفعك، واستعن بالله ولا تعجز…

….Bersemangatlah terhadap apa2 yang bermanfaat bagimu dan minta tolong pd Allah dan jangan lemah…. (HR. Muslim)

Diantara mereka ada yg sibuk dgn hal2 Ubudiyah , baik Ibadah Mahdhah atau Ghairu Mahdhah. Salah satunya, Tawasul kepada Allah Ta’ala dengan amal saleh, yg merupakan Tawasul yang disyariatkan. Bentuk Tawasulnya adalah dengan banyaknya majelis2 online, baik Riwayah dan Dirayah.

Di dalam Majelis tersebut ada keberkahan, seperti : Pembacaan salawat kepada Baginda Rasulullah Shallalahu alaihi wassallam dalam majelis2 Hadis, pembacaan biografi (Manaqib) para ulama dan wali Allah, pembacaan matan2 ilmu yg ringkas multi faedah, dan lainnya. Guru-guru kami yang melakukan hal ini berharap dgn adanya keberkahan2 majelis ini dapat mengangkat wabah virus yang sedang terjadi, krn perkumpulan orang-orang saleh dalam hal kebaikan dapat mengundang ridha Allah.

Tentunya, keberkahan majelis akan lebih terasa ketika talaqqi secara langsung (offline) . Adapun online, maka ini wasilah yang Allah berikan kpd manusia zaman ini yg patut kita manfaatkan juga. Harapan majlis ini sbgmn Hadis no.34 dalam Arbain Nawawi yg diriwayatkan Abu Hurairah dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam :
….. وما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله يتلون كتاب الله، ويتدارسونه بينهم، إلا نزلت عليهم السكينة، وغشيتهم الرحمة، وحفتهم الملائكة، وذكرهم الله فيمن عنده….

“……Tidaklah berkumpul sekelompok orang di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, rahmat meliputinya, para malaikat mengelilinginya, dan Allah menyanjung namanya kepada Malaikat yang ada di sisi-Nya….. ” (HR. Muslim dgn lafazh ini)

Sebaliknya, masa-masa spt ini bukanlah untuk bermalasan apalagi bermaksiat sehingga dpt mengundang murka Allah Ta’ala. Masih banyak Kitab-kitab yg belum dibaca, tugas-tugas kuliah/sekolah/pekerjaan yg belum tuntas, karya2 yang menunggu kreasimu dan waktu yang menunggu aktivitasmu.

 

Khutbah kedua

الحمد لله وكفى والصلاة والسلام على رسول الله المصطفى وعلى آله وصحبه ومن وفى . اللهم صل وسلم على نبينا و سيدنا وحبيبنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Diantara aktifitas produktif yang dapat kita lakukan di saat wabah di bulan Ramadhan ini adalah dengan memperbanyak interaksi dgn Al-Qur’an. Kegiatan Ibadah Ramadhan yg biasanya di Masjid, spt salat Fardhu dan Tarawih menjadi di rumah adlh tantangan bagi kita utk belajar menjadi imam salat bagi keluarga kita.

Saat-saat seperti inilah kita bisa menambah hafalan Al-Qur’an kita, memperbaiki bacaan kita dgn Tahsin, mempelajari agama dan lainnya. Secara khusus Hafalan Al-Qur’an, Allah jamin akan kemudahannya tetapi yg sulit adalah menjaganya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dlm 4 tempat di Surat Al-Qamar (ayat 17, 22,32, dan 40) :

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?

Dan juga adanya wabah ini dapat menumbuhkan sikap dewasa dan bijaksana dalam melihat perbedaan pendapat. Hendaknya kita saling menghargai antara yg memilih salat di rumah sebagai ketaatan terhadap ulil amri, dan yg salat di Masjid jikalau memang berada di zona hijau (harus sesuai protokol covid-19 dan arahan pemerintah setempat).

Terlebih di bulan Ramadhan, selain meningkatkan kualitas ibadah spiritual, kita harus tingkatkan etika dan mental dalam bermuamalah sesama manusia.

Diujung Khutbah, marilah kita bertafakur di hari-hari terakhir Ramadhan ini agar kita yg menjadi Rabbaniyun bukan Ramadhaniyyun, yang hanya beribadah di bulan Ramadhan , tetapi lepas Ramadhan tidak bersemangat ibadah lagi. Semoga Allah menerima amal-amal kita di bulan Ramadhan dan dapat bertemu kembali dengan Ramadhan berikutnya. Aamin Ya Rabbal Alamin

إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على ابراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
اللهم ارفع عنا البلاء والوباء والغلاء والفحشاء و شدائد المحن ما ظهر منها و ما بطن من هذا البلد اندونيسيا خاصةً وسائر بلاد المسلمين عامة
اللهم جنبا فيروس كورونا و من كل فيروس والأمراض
اللهم احفظ أنفسنا وأهلنا من كل الأمراض و الأسقام
اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى طَاعَتِكَ وَاهْدِهِمْ سَوَاءَ السَّبِيْلِ، اَللَّهُمَّ جَنِّبْهُمْ الْفِتَنَ مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَابَطَنَ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
ربنا تقبل منا صيامنا و قيامنا و ركوعنا وسجودنا في رمضان هذه السنة و في كل شهر وتب علينا انك انت التواب الرحيم و بلغنا رمضان الآتية برحمتك يا أرحم الراحمين
و صلى الله على سيدنا محمد والحمد لله رب العالمين

 

عباد الله {۞ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ} [النحل : 90} فاذكرو الله يذكركم ولذكر الله أكبر

اقم الصلاة إن الصلاة تنهى عن الفحشاء و المنكر

Bagaimana proses metode rukyat dan hisab dalam penentuan bulan Hijriah dilakukan?

Penulis : Nafiys Ismail

(Alumnus Pesan BISA & Mahasiswa Fisika UI 2016)

Illustrasi : Proses Rukyatul Hilal

Pada hari Jumat (22/5) Kemenag RI, Fachrul Razi,  resmi menetapkan bahwa Idul Fitri 1441 H jatuh pada hari Ahad, 24 Mei 2020 esok hari. Dengan demikian bulan Ramadhan tahun ini genap menjadi tiga puluh hari, dikarenakan posisi hilal (bulan baru) di seluruh 80 titik pantuan di Indonesia masih belum terlihat dan ketinggianya di bawah ufuk barat. Ketetapan proses rukyatul hilal ini membuat seluruh masyarakat Indonesia akan menjumpai 1 Syawal 1441 secara serempak, karena proses hisab (perhitungan) seperti yang dilakukan oleh Muhammadiyah pun telah mendapatkan hasil penanggalan 1 Syawal 1441  bertepatan pada 24 Mei 2020 terlebih dahulu.

Lantas yang menjadi pertanyaan banyak orang, bagaimana sih proses rukyatul hilal dilakukan? Apa perbedaanya antara proses rukyatul hilal dengan proses hisab, yang terkadang menyebabkan terjadi perbedaan penanggalan?

 

Mengenal Metode Rukyatul Hilal

Pada masa Nabi Muhammad  ﷺ  sebenarnya cara menentukan datangnya bulan baru itu sederhana, yaitu dengan melihat hilal (bulan baru, berbentuk sabit) pada waktu setelah maghrib. Sebagaimana  hadits “Berpuasalah kalian pada saat kalian telah melihatnya (bulan), dan berbukalah kalian juga di saat telah melihatnya (hilal bulan Syawal) Dan apabila tertutup mendung bagi kalian maka genapkanlah bulan Sya’ban menjadi 30 hari” riwayat Bukhari dan Muslim. Karena dalam penaggalan kalender Hijriah perhitungan hari dimulai saat matahari tenggelam (waktu maghrib), maka cukup menanti matahari terbenam di hari ke-29 lalu amati langit apakah telah terlihat hilal atau tidak.

pexels.com

Untuk memastikan terlihatnya hilal khusus pada bulan Ramadhan, cukup diperlukan satu orang saksi, berbeda dengan bulan selain Ramadhan yang diperlukan dua orang saksi (pendapat yang dipilih Imam Syafi’i), maka sudah bisa dilaporkan kepada pihak terkait dan lantas dipastikan bahwa malam itu sudah masuk tanggal 1 bulan baru.

Sebaliknya, jika saat itu hilal tidak terlihat, maka jumlah hari dalam bulan tersebut akan digenapkan menjadi 30 hari.  Penanggalan Hijriah didasarkan atas peredaran bulan mengelilingi bumi (revolusi bulan). Setiap bulan diawali dengan kemunculan hilal yaitu bulan sabit muda pertama (first visible crescent) di ufuk barat langit saat waktu terbenamnya matahari dan juga diakhiri dengan dengan kemunculan hilal.

Secara astronomis, waktu revolusi bulan terhadap bumi adalah 29.531 hari, maka terdapat dua pilihan dalam menentukan penanggalan esok harinya, yaitu pilihannya antara 29 hari atau digenapkan 30 hari, bergantung kepada kondisi saat hilal akan dilihat (dirukyat). Mungkin timbul pertanyaan, mengapa waktu revolusi bulan bisa tidak genap dalam bilangan bulat?

Hal ini terjadi karena dari hari ke hari penampakan bulan akan berubah jika dilihat dari bumi. Letak perubahan yang mengakibatkan “wajah bulan” juga akan mengalami perubahan. Semakin menjauh dari matahari, maka cahaya bulan akan semakin luas. Perubahan inilah yang kemudian jadi tanda, bahwa bulan sabit adalah awal/akhir bulan (antara tanggal 29, 30, atau 1) dan bulan purnama adalah tepat di hari tengah-tengah bulan (tanggal 15).

Dari pembacaan fase wajah bulan itu kemudian lahirlah metode yang kemudian kita kenal sebagai metode “Rukyatul Hilal”. Rukyat secara etimologis berarti melihat, sedangkan Hilal adalah bulan sabit baru pertama yang teramati sesudah maghrib. Rukyatul Hilal berarti upaya untuk melihat secara langsung bulan sabit di kaki langit di waktu ghurub dengan mata, baik menggunakan alat bantu optik maupun dengan mata telanjang (Muhammad Hadi Bashori, Pengantar Ilmu Falak, hal. 193).

Gambar 1. Garis tanggal Syawal 1441 berdasarkan kriteria Wujudul Hilal (garis merah dan putih ketinggian bulan 2 derajat (antara arsir putih dan biru), dan kriteria Odeh (antara arsir biru dan hijau) yang disimulasikan oleh Prof. Thomas Djamaluddin (Ketua LAPAN)

Namun patut diakui, melihat hilal adalah perkara yang tidak mudah, terlebih bila kondisi cuaca mendung. Hal ini disebabkan karena hanya sekitar 1,25% bagian dari permukaan bulan saja yang terkena paparan sinar matahari menjelang matahari terbenam.

Apabila dilihat dari posisi  bumi di ufuk barat, posisi matahari, hilal, dan cakrawala (horison) akan membentuk sudut segitiga. Horison sebagai garis di sudut bawah, hilal sebagai titik di sudut atas, dan matahari sebagai titik sudut bawah. Jarak antara bulan dan horison disebut sebagai sudut azimut. Sedangkan sudut garis antara bulan ke matahari ini disebut sudut elongasi.

Gambar 2. Posisi bumi dan matahari ditinjau dari proses revolusi bulan

Untuk terlihat, hilal paling tidak harus berada di sudut azimut (sudut antara bulan & horison) bernilai  lebih 2˚ dari matahari. Sederhananya, bulan harus ada di atas matahari. Jika kurang dari itu maka posisi bulan dari bumi akan terlihat sejajar dengan matahari, dan itu akan membuat hilal ikut tenggelam saat langit mulai sedikit gelap dan membuat posisi menjadi ijtimak (posisi bumi, bulan, matahari sejajar) yang membuat hilal tidak terlihat.

Oleh karenanya, Prof. Thomas Djamaluddin, Ketua LAPAN dan Guru Besar Astronomi ITB, menyatakan bahwa melakukan wujudul hilal mulai dilakukan ketika matahari terbenam sebelum bulan terbenam karena visibilitas tampaknya lebih tinggi.

Pada masa sekarang, tentunya pengelihatan hilal sudah dilakukan dengan teknologi yang canggih Teleskop dan binokuler (keker) adalah utama yang digunakan membantu pengamatan. Fungsi utama teleskop dalam pengamatan objek redup seperti hilal adalah memperbanyak cahaya yang dikumpulkan dan difokuskan ke mata. Sebagai perbandingan, pupil mata diameternya hanya sekitar 0,5 cm, sehingga cahaya yang ditangkap minim sekali.

Dengan menggunakan teleskop dengan diameter lensa objektif atau cermin yang jauh lebih besar, maka cahaya yang diteruskan ke mata semakin banyak. Para pengamat LAPAN pun menggunakan juga teknologi kamera CCD (Charged-coupled Device) yang prosesnya cepat karena terbantu oleh berbagai program komputer pengolah citra dan kontrasnya dapat diperjelas. Untuk kasus di Indonesia, LAPAN bersama Tim Falakiyah dari Kemenag RI menetapkan kriteria imkan rukyat sebesar  (2˚- 3’- 8”), yaitu (1) tinggi bulan minimal 2 derajat, (2) jarak sudut elongasi 3 derajat, dan (3) umur bulan minimal 8 jam.

 

Mengenal Metode Hisab

Hisab secara harfiah bermakna perhitungan. Istilah hisab sering digunakan dalam ilmu falak (astronomi) untuk memperkirakan posisi Matahari dan bulan terhadap bumi untuk penanggalan, dimana pada kasus paling lazim untuk penentuan waktu bulan Ramadhan.

Perhitungan hisab yang dilakukan para ahli falak (astronomi) dipandang cukup dan punya akurasi yang presisi. Karena alasan ini, tidak sedikit ulama kontemporer yang menggunakan metode ini. Meskipun di sisi lain ada juga beberapa ulama yang menganggap bahwa penggunaan hisab secara murni (dalam kasus penentuan bulan Ramadan) juga dinilai sebagai bid’ah, bila tidak dibarengi dengan metode rukyatul hilal.

pexels.com

Sederhananya,  perbedaan ini terletak pada konsep Wujudul Hilal (keberadaan hilal) bagi golongan yang menggunakan metode hisab murni. Artinya, makna terkait dari “melihat hilal” dipahami sebagai melihat tidak harus dengan mata kepala tetapi juga bisa menggunakan ilmu. Dengan hisab, posisi hilal akan bisa diprediksi ada “disana” sekalipun wujudnya tidak terlihat.

Terdapat dua metode hisab yang digunakan, yaitu Hisab Taqribi (mengukur ketinggian bulan berdasarkan umur bulan) dan Hisab Hakiki (mengukur posisi bulan sesungguhnya) dalam terminologi ilmu falak. Karena bulan secara rata-rata bergerak ke Timur 12 ˚ perhari, maka tinggi bulan ditaksir setengah umur bulan (dari 12˚ / 24 jam x umur bulan). Jadi bila ijtimak terjadi pukul 13.00 dan maghrib pukul 18.00, maka umur bulan = 5 jam dan tinggi bulan ditaksir 5/2 = 2.5˚ derajat. Hasil hisab taqribi umumnya lebih tinggi dari hisab hakiki.

Gambar 3. Waktu yang dibutuhkan bulan untuk melakukan revolusi terhadap bumi

Dewasa ini, metode hisab telah banyak menggunakan komputer dengan tingkat presisi dan akurasi yang tinggi. Berbagai perangkat lunak (software) yang praktis juga telah ada. Hisab sering kali digunakan sebelum rukyat dilakukan, seperti yang dilakukan oleh Muhammadiyah.

Kriteria Visibilitas Sebagai Dasar Penyatuan Kalender Islam

pexels.com

Dua metode ini adalah gambaran, bahwa dengan metode hisab, para ulama mencoba menggunakan pendekatan rasional. Melihat pola, membacanya, lalu menyusun prediksi-prediksinya. Semua dilakukan dalam rumus-rumus. Sedangkan metode rukyat, para ulama menggunakan metode teknis dengan pendekatan empirik secara real-time. Bagaimana pengalaman menyaksikan tanda-tanda alam adalah penentu sebuah hukum syariat berlaku.

Penyatuan kriteria menjadi prasyarat utama untuk menyatukan kalender Islam. Mewujudkan kalender Islam yang mapan adalah cita-cita utama penyatuan umat. Karena penentuan awal bulan qamariyah juga terkait dengan ibadah, khususnya dalam penentuan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, maka kalender Islam semestinya juga menjadi kalender ibadah. Terkait dengan kalender ibadah, pemilihan kriteria menjadi titik krusial yang harus disatukan.

Dalam hal ini, kita juga harus menyadari bahwa pengamal rukyat dan pengamal hisab harus diwadahi setara. Bagi pengamal hisab, cukuplah awal bulan mengikuti hasil hisab yang tercantum di kalender. Sedangkan bagi pengamal rukyat, awal bulan harus dibuktikan dengan hasil rukyat yang di-itsbat-kan (ditetapkan) oleh pemerintah. Jadi, demi persatuan ummat dan penyatuan kalender Islam, kriteria yang harus digunakan adalah kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat). Dengan kriteria itu, hasil rukyat akan sama dengan hasil hisab yang tercantum di kalender.

Dalam mencari titik temu, tentu masing-masing pihak perlu terbuka untuk menerima konsep pihak lain, tanpa merasa menang atau kalah. Para pengamal hisab harus terbuka untuk menerima konsep rukyat sehingga kriteria yang disepakati harus berbasis visibilitas hilal atau imkan rukyat. Sementara para pengamal rukyat pun harus terbuka untuk menerima konsep hisab yang pasti sehingga ketika posisi bulan yang telah memenuhi kriteria namun gagal rukyat haruslah hisab diterima sebagai penentu masuknya awal bulan. Hal itu mendasarkan pada Fatwa MUI No. Kep/276/MUI/VII/1981 yang membolehkan penetapan awal bulan berdasarkan hisab saja bila bulan sudah imkan rukyat (mungkin dirukyat), walau hilal tidak terlihat.

Bila kita sudah bersepakat menggunakan kriteria yang sama, maka langkah berikutnya adalah merumuskan kriterianya. Pilihannya bisa menggunakan kriteria optimistik ala Odeh, Yallop, SAAO, atau Shaukat. Atau menggunakan kriteria optimalistik ala kriteria LAPAN 2010 atau kriteria lain yang disepakati.  Agar kalender yang disepakati menjadi kalender yang mapan, perlu juga disepakati otoritas tunggal yang menjaga sistem kalender tersebut, yaitu otoritas defacto atau pemerintah. Juga perlu ditegaskan batas wilayah keberlakukannya, misalnya negara kesatuan Republik Indonesia atau misalkan ke tingkat regional meliputi wilayah Asia Tenggara.

Pada akhirnya, seperti yang sudah dijalankan selama bertahun-tahun, pemerintah Indonesia menggabungkan dua metode ini secara bersamaan. Pendekatan rasional dengan hisab dan pendekatan empirik dengan rukyat ini harus terus dilakukan secara beriiringan dengan menyepakati kriteria yang disepakati secara resmi oleh pemerintah NKRI dan dikeluarkan fatwa oleh Majelis Ulama Indonesia. Wallahu’alam bishowab.

_____________________________________________________

Bandung, 30 Ramadhan 1441 H

_____________________________________________________

REFERENSI

[1] T. Djamaluddin. (2013). Peran Astronomi Dalam Penyatuan Penetapan Awal Bulan Qamariyah

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2013/08/05/peran-astronomi-dalam-penyatuan-penetapan-awal-bulan-qamariyah/

[2] Ahmad Khadafi. (2019). Memahami Rukyat dan Hisab untuk Menentukan 1 Ramadan https://tirto.id/memahami-rukyat-dan-hisab-untuk-menentukan-1-ramadan-coNg

[3] M. H. Bashori. (2015). Pengantar Ilmu Falak. Pustaka Al-Kautsar

[4] J. Arifin. (2019). Dialektika Hubungan Ilmu Falak dan Penentuan Awal Ramadhan, Syawal, Dzulhijjah di Indonesia (Sinergi Antara Independensi Ilmuwan dan Otoritas Negara). Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus, Indonesia

[5] Cara Melakukan Pemantauan Hilal  https://www.youtube.com/watch?v=lU2UdNIfQo4&pbjreload=10

[6] Cukup Satu Saksi dalam Melihat Hilal Ramadhan  https://rumaysho.com/3457-cukup-satu-saksi-dalam-melihat-hilal-ramadhan.html

[7] Hasil Sidang Isbat Tetapkan IdulFitri Minggu 24 Mei. (2020). https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200522062620-20-505755/hasil-sidang-isbat-tetapkan-idulfitri-minggu-24-mei

Hal-Hal Terkait Pembangunan Gedung Dalam Ayat-Ayat Al-Quran

Penulis : Muhamad Ziddan (Alumnus Pesan BISA)

Building by Pexels

“Air itu mengalir dari tempat yang tinggi menuju ke tempat yang lebih rendah”.

Begitulah kira-kira ungkapan yang sering mengetuk telinga kita sejak kecil, apalagi yang sudah besarnya masuk ke sekolah jurusan IPA, pastinya ungkapan itu sangat tidak asing baginya. Namun lain halnya ketika kita berbicara mengenai cara membangun sesuatu, kita mesti menggunakan prinsip membangun dengan arah yang berlawanan dengan air yaitu membangun dari tempat yang rendah menuju ke tempat yang lebih tinggi.

Entah dalam prakteknya itu membangun hubungan sosial, pengetahuan, atau bahkan juga bangunan gedung. Dalam tulisan kali ini kita hanya akan fokus dengan bangunan gedung. Berikut ini adalah hal-hal terkait dengan membangun sebuah bangunan gedung yang menariknya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala isyaratkan dalam beberapa ayat dalam Al-Quran.

pexels.com

1. Prinsip

Prinsip dalam membangun sebuah bangunan gedung hampir sama dengan prinsip Allah SWT ketika menciptakan langit dan bumi. Prinsip tersebut difirmankan oleh Allah SWT secara tersirat yaitu:

هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ لَكُم مَّا فِى ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعًا ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ فَسَوَّىٰهُنَّ سَبۡعَ سَمَٰوَٰتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيمٌ

“Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikanNya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” [QS. Al-Baqarah: 29]

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat di atas, bahwa Allah SWT memulai ciptaanNya dengan menciptakan bumi, kemudian setelahnya menciptakan tujuh lapis langit. Memang demikianlah cara membangun sesuatu, yaitu dimulai dari bagian bawah, setelah itu baru bagian atasnya [1]. Penjelasan ini tampak jelas mengindikasikan sebuah prinsip dalam membangun sebuah bangunan gedung yang sejatinya dimulai dari mendirikan pondasi kemudian setelahnya merangkai atap. Dengan kata lain, bumi diibaratkan sebagai pondasi dan langit diibaratkan sebagai atap.

Dalam Ilmu Teknik Sipil, hal demikian dinamakan dengan sistem Bottom-Up, di mana sebuah bangunan gedung dibangun mulai dari bawah lalu merangkak naik ke atas, yaitu dimulai dari pondasi, lantai, kolom, balok, dan terakhir atap. Sebenarnya bangunan gedung juga bisa dibangun menggunakan sistem Top-Down, kebalikan dari sistem Bottom-Up, dimulai dari atas lalu terjun turun ke bawah, tetapi sistem ini hanya bisa dipakai dalam kondisi-kondisi tertentu, beda halnya dengan sistem Bottom-Up yang menjadi keumuman dalam mendirikan bangunan gedung.

Oleh karena itu sistem Bottom-Up inilah yang menjadi poin utama dalam pembahasan prinsip membangun sebuah bangunan gedung. Namun pada akhirnya, kedua sistem ini memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, pemilihan sistem tergantung dari variabel-variabel yang ada di lapangan dan pihak pelaksana (dibaca: kontraktor) yang melaksanakan pembangunan gedung [2].

2.  Fasilitas

Setelah bangunan gedung tersebut sudah terbangun kokoh dan stabil, hal selanjutnya yang dilakukan adalah memfasilitasi gedung tersebut, yang menariknya juga tampak sama dengan prinsip penghamparan bumi oleh Allah SWT.

Hal tersebut difirmankan oleh Allah SWT dalam urutan ayatNya yaitu:

وَٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ دَحَىٰهَآ

أَخۡرَجَ مِنۡهَا مَآءَهَا وَمَرۡعَىٰهَا

وَٱلۡجِبَالَ أَرۡسَىٰهَ

مَتَٰعًا لَّكُمۡ وَلِأَنۡعَٰمِكُمۡ

“Dan bumi sesudah itu dihamparkanNya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkanNya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu” [QS. An-Nazi’at: 30-33]

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat-ayat di atas, bahwa bumi itu diciptakan sebelum penciptaan langit, tetapi bumi baru dihamparkan sesudah langit diciptakan [2]. Dengan kata lain urutannya adalah:

  1. Allah SWT menciptakan bumi
  2. Allah SWT menciptakan langit
  3. Allah SWT menghamparkan bumi (mengeluarkan semua yang terkandung di dalam bumi)

Berkata Ibnu Abbas RA sehubungan dengan makna penghamparan bumi (dahhaha) ialah mengeluarkan mata airnya dan tetumbuhannya, serta membelah jalan-jalan dan sungai-sungainya. Menjadikan padanya gunung-gunung, padang pasir, jalan-jalan, dan dataran-dataran tingginya [3]. Semua itu disediakan sebagai kesenangan bagi manusia dan untuk memenuhi keperluan-keperluan mereka di bumi [4].

Jika bumi dihamparkan dengan sebegitu hebatnya oleh Allah SWT, lain halnya dengan ‘penghamparan gedung’ alias pemenuhan fasilitas-fasilitas untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia di dalam gedung, seperti memasang instalasi air, instalasi listrik, tempat pembuangan, dan beragam furnitur. Demikian itu adalah demi kesenangan bagi pemilik bangunan gedung dan tamu-tamunya kelak [5].

pexel.com

3. Jadwal

Ketiga proses di atas tentunya membutuhkan waktu dalam masa pengerjaannya, baik dalam menciptakan bumi dan langit atau dalam membangun sebuah gedung. Meskipun perlu dipahami bahwa di sini Allah SWT terlepas dari sifat kurang dan sifat lemah, berbeda dengan makhlukNya yang penuh dengan kekurangan. Dalam kasus penciptaan alam semesta, Allah SWT dengan Maha BesarNya menyebutkan secara detail tentang masa penciptaan bumi dan langit.

Hal tersebut terungkap dalam potongan firmanNya:

ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَا فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ…

“Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa…” [QS. As-Sajdah: 4]

Dalam Tafsir Jalalain dijelaskan bahwa Allah SWT menciptakan langit dan bumi selama enam hari dimulai dari hari Ahad dan selesai pada hari Jumat [6].

Lalu bagaimana dengan masa pembangunan sebuah bangunan gedung?. sebelum kita pindah ke kasus pembangunan gedung, mari kita mundur sejenak mengingat-ingat apa yang sudah dipelajari di kampus. Dalam pelaksanaan konstruksi, dalam hal ini pembangunan gedung, ada tiga komponen penting yang perlu diketahui yaitu, biaya, mutu, dan waktu, biasa disingkat dengan BMW atau BMW+, plus (+) artinya zero accident, semuanya merupakan faktor penting dalam menentukan berhasil atau tidaknya proyek konstruksi. Untuk menghubungkan faktor-faktor tersebut dibutuhkanlah jadwal perencanaan yang juga bertujuan memetakan jenis-jenis pekerjaan dari tahapan awal sampai akhir.

Jadwal perencanaan tidak disusun oleh sembarang orang, melainkan disusun oleh orang yang memahami ilmu Manajemen Konstruksi dengan baik dan benar. Metode yang biasa digunakan oleh mereka untuk membuat jadwal perencanaan adalah kurva S, yaitu kurva yang menghubungkan antara persentase jenis pekerjaan di sumbu Y dengan waktu pekerjaan di sumbu X. Dengan adanya kurva S ini, pelaksana diharapkan dapat mengendalikan waktu pekerjaan konstruksi dengan mempertimbangkan biaya yang akan dikeluarkan, sehingga pelaksana dapat mengerjakan proyek dengan waktu dan biaya seoptimal mungkin tanpa mengurangi kualitas dari mutu bangunan gedung yang sedang/akan dibangun [7].

Kesimpulannya, prinsip pembangunan bangunan gedung memiliki prinsip yang sama dengan penciptaaan bumi dan langit. Keduanya sama-sama harus selalu melalui rangkaian tahapan yang sistematis, tidak bisa saling longkap-melongkapi, karna tahapan tersebut saling berkaitan dan terjadwal. Wallahualam wahuwal muwaffiq.

 


Catatan Kaki:

[1] https://tafsir.learn-quran.co/id/surat-2-al-baqarah/ayat-29

[2] https://tekniksipildopp.blogspot.com/2018/11/metode-konstruksi-basement-bottom-up-dan-top-down.html

[3] https://tafsir.learn-quran.co/id/surat-79-an-naziat/ayat-30

[4] https://tafsir.learn-quran.co/id/surat-79-an-naziat/ayat-33

[5] Lihat: Simamora, Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Gedung

[6] https://tafsir.learn-quran.co/id/surat-32-as-sajdah/ayat-4

[7] https://www.pengadaanbarang.co.id/2019/12/kurva-s.html

 

 

Adab Khatam Al-Qur’an

Terjemah dan Catatan kaki oleh : Ustadz Abid Fathurrahman Arif

Di penghujung Bulan Ramadhan 1441 H, sebagian kita sudah ada yang ingin mengkhatamkan Al-Qur’an, atau bahkan sudah ada yg lebih dari satu kali. Tapi, apakah kita sudah mengetahui Adab-adab yg berkaitan dengan Khatam Al-Qur’an ?

Berikut saya nukilkan dari Kitab At-Tibyan Fi Adab Hamalatil Qur’an Imam An-Nawawi Radhiyallahu Anhu (hlm.181-186 cet. Darul Minhaj):

في آداب الختم وما يتعلق به

وفيه مسائل :

الأولى في وقته : قد تقدم أن الختم للقارئ وحده يستحب أن يكون في الصلاة ، وأنه يستحب أن يكون في ركعتي سنة الفجر ، أو ركعتي سنة المغرب ، و في ركعتي سنة الفجر أفضل ، وأنه يستحب أن يختم ختمة في أول النهار في دور ، ويختم ختمة أخرى في أول الليل في دور آخر *

(Pasal) Seputar Adab-adab Khataman dan yang berkaitan dengannya

Diantara Permasalahannya :

Permasalahan pertama seputar waktu (khataman) : Telah berlalu (penjelasan) bahwa Khataman bagi seorang pembaca Al-Qur’an secara sendiri dianjurkan (mustahab) ketika salat. Dan dianjurkan juga dilakukan di dua rakaat sunnah (Qabliyah) Fajar, atau dua rakaat sunnah (Ba’diyah) Magrib. Dan dua rakaat sunnah (Qabliyah) Fajar lebih utama utk Khataman.

 

وأما من يختم في غير الصلاة ، والجماعة الذين يختمون مجتمعين .. فيستحب أن يكون ختمهم في أول النهار ، أو في أول الليل كما تقدم ، وأول النهار أفضل عند بعض العلماء .
Adapun yang mengkhatamkan di luar Salat, dan yang membaca Al-Qur’an dan mengkhatamkannya secara berjamaah, Maka disukai pula untuk mengkhatamkan di awal siang (Pagi), atau awal malam (Sore) sebagaimana telah berlalu penjelasannya. Dan Awal siang lebih utama menurut sebagian ulama.

 

المسألة الثانية : يستحب صيام يوم الختم ، إلا أن يصادف يوما نهى الشرع عن صيامه ، وقد روى ابن أبى داود بإسناده الصحيح : (أن طلحة بن مصرف ، وحبيب بن أبى ثابت ، والمسيب بن رافع التابعيين الكوفيين رضي الله عنهم أجمعين ، كانو يصبحون اليوم الذي يختمون فيه القرآن صياما ) **
Permasalahan kedua : Disukai berpuasa ketika khataman, kecuali berbenturan dengan hari yang dilarang berpuasa secara syariat. Diriwayatkan dari Ibnu Abi Daud dengan sanad yang sahih :” (Bahwasannya Para Tabiin Kufah Thalhah bin Musharrif ,Habib bin Abi Tsabit, Al-Musayyib bin Rafi Radhiyallahu Anhum, mereka menjadikan hari khataman mereka dengan berpuasa.)”

المسألة الثالثة : يستحب حضور مجلس ختم القرآن استحبابا متأكدا ، فقد ثبت في الصحيحين : (أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أمر الحيض بالخروج يوم العيد ، فيشهدون الخير ودعوة المسلمين ). *
Permasalahan ketiga : Sangat dianjurkan menghadiri majelis khataman Al-Qur’an , sebagaimana yang telah ditegaskan dlm Sahihain (Bukhari dan Muslim) : “(Bahwasannya Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam memerintahkan para wanita Haid keluar pada hari Ied , agar mereka menyaksikan kebaikan dan doa kaum Muslimin.) ”

 

وروى الدارمي وابن أبي داود بإسنادهما عن ابن عباس رضي الله عنهما : ( أنه كان يجعل رجلا يراقب رجلا يقرأ القرآن ، فإذا أراد أن يختم .. أعلم ابن عباس ، فيشهد ذلك )
و روى ابن أبي داود بإسنادين صحيحين عن قتادة التابعي الجليل صاحب أنس رضي الله عنه قال : (كان أنس بن مالك رضي الله عنه إذا ختم القرآن … جمع أهله ودعا)
Imam Darimi dan Ibnu Abi Daud meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma : ” (Bahwasannya ia menjadikan seseoran utk memperhatikan orang lain ketika membaca Al-Qur’an.. Apabila ingin Khatam, maka ia akan memberitahu Ibnu Abbas dan beliau ikut menyaksikannya ) ”

Imam Nawawi menyebutkan beberapa hadist lagi setelahnya yg berisikan tindakan sahabat, Tabiin ketika Khataman Al-Qur’an dan mengharapkan rahmat yg turun padanya. (Saya ringkas dlm rangka efektifitas tulisan)

المسألة الرابعة : يستحب الدعاء عقب الختم استحبابا متأكدا ، لما ذكرناه في المسألة التي قبلها ، و روى الدارمي بإسناده عن حميد الأعرج قال : (من قرأ القرآن ثم دعا .. أمّن على دعائه أربعة آلاف ملك)
Permasalahan keempat : Sangat disukai berdoa setelah khataman, sebagaimana yang telah kami sebutkan pd permasalahan sbnrnya , Imam Darini meriwayatkan dengan sanadnya dari Humaid Al-A’raj, ia berkata : “(Barangsiapa yg membaca Al-Qur’an kemudian berdoa, 4000 malaikat mengaminkan doanya) ”

 

وينبغي أن يلح في الدعاء ، وأن يدعو بالأمور المهمة ، وأن يكثر من ذلك في صلاح المسلمين و صلاح سلطانهم ، وسائر ولاة أمورهم ، وقد روى الحاكم أبو عبد الله النيسابوري بإسناده : (أن عبد الله بن المبارك رضي الله عنه كان إذا ختم القرآن … أكثر من دعائه للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات) * وقد قال نحو ذلك غيره
Sepantasnya untuk tekun atau sungguh-sungguh dalam berdoa, dan berdoa perihal hal-hal yang penting, memperbanyak doa untuk kemaslahatan kaum muslimin dan para penguasa dan orang-orang  yg memegang urusan pemerintahan. Imam Al-Hakim Abu Abdillah An-Naisaburi meriwayatkan dengan sanadnya : ” (Bahwasannya Ketika Abdullah bin Mubarak Radhiyallahu Anhu mengkhatamkan Al-Qur’an, beliau memperbanyak doa utk kaum muslimin/at dan mukminin/at.) ”

Imam Nawawi menuliskan lafazh-lafazh doa yang berkaitan dengan kriteria beliau yang disebutkan, tetapi dlm mengefektifkan tulisan maka silahkan lihat ke Kitab At-Tibyan Bab Fi Adabil Khatmil wa ma Yata’allaqu minhu. Lafazh-Lafazh doanya bebas selama mengandung kebaikan (termasuk doa khataman yang biasa dipakai orang Indonesia), krn para ulama jg membuat doa-doa sendiri yang sifatnya mutlak.

 

المسألة الخامسة : يستحب إذا فرغ من الختمة أن يشرع في أخرى عقبها ، فقد استحبه السلف ، واحتجوا فيه بحديث أنس رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : (خير الأعمال الحل والرحلة ) قيل : وما هما ؟ قال : افتتاح القرآن وختمه
Permasalahan kelima : Disukai jika telah selesai khataman untuk memulai bacaan kembali dari awal sampai khatam kembali. Para Salaf sangat menganjurkan hal tsb. Mereka berargumentasi dengan hadist Anas Radhiyallahu Anhu bahwasannya Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam bersabda : “(Sebaik-baik amal adalah Al-Hallu War Rihlah : bersegera dlm beramal) “. Ditanyakan kepada beliau : ” Apakah keduanya itu ? “, Beliau berkata : ” Memulai membaca Al-Qur’an dan mengkhatamkannya” .

Catatan kaki :
* Perbuatan ini bertujuan utk mendapatkan keutaman yg berlandaskan Hadis Imam Darimi dari Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu Anhu (tercantum di akhir Bab Fil Kalam an Khatmil Qur’an fi Muddah Mu’ayyanah hlm.82 cet. Darul Minhaj) :

إذا وافق ختم القرآن أول الليل .. صلت عليه الملائكة حتى يصبح ، وإن وافق ختمه آخر الليل .. صلت عليه الملائكة حتى يمسي ( قال الدارمي : هذا حسن عن سعد)

“Jika khataman bertepatan dengan awal malam, Para Malaikat akan bersalawat (kepada yg mengkhatamkan) sampai pagi. Jika khataman bertepatan dengan akhir malam, Para Malaikat akan bersalawat sampai sore. ” (Ad-Darimi berkata : Ini Hasan dari Sa’ad).

** Imam Ibnu Alan Rahimahullah di Kitab Al-Futuhat Ar-Rabbaniyah mengatakan hikmah berpuasa ketika khataman utk mensyukuri nikmat dan sarana pengabulan doa.

* Ini adalah Qiyas (analogi) yg digunakan Imam Nawawi, agar dianjurkan mendatangi majlis2 yang penuh kebaikan.

— Sebagian Hadis2 Imam Nawawi memang Dhaif, tetapi beliau berpendapat akan kebolehannya jika dipakai dlm Fadhail aAmal, sbgmn yg diterangkan dlm Mukadimah Arbain Nawawi. —

—————————-

Doa Khatam Qur’an Imam An-Nawawi

Doa Khatam Qur’an Imam An-Nawawi. Bisa dipraktekan di dalam dan luar Salat. Jika dalam Salat, maka bacanya setelah selesai surat An-Naas sebelum Ruku. Sebagaimana dipraktekan Para Imam Haramain saat ini.

 

 

Dua Cara Membaca Iqlab dan Ikhfa Syafawi

Penulis : Ustadz Abid Faturrahman

 

Iqlab terjadi ketika Nun sukun/ Tanwin bertemu huruf Ba (ب) , dalilnya sbgmn perkataan Imam Sulaiman Al-Jamzuri Rahimahullah (w. 1200an H) dlm Manzhumah Tuhfatul Athfal :

والثالث الإقلاب عند الباء * ميما بغنة مع الإخفاء

Dan juga perkaraan Imam Ibnul Jazari Rahimahullah dlm Muqaddimah Al-Jazariyyah :

والقلب عند الباء بغنة كذا * الإخفاء لدى باقي الحروف أخذا

Adapun Ikhfa Syafawi terjadi ketika huruf Mim Sukun (م) bertemu huruf Ba (ب), sbgmn perkataan Imam Sulaiman Al-Jamzuri Rahimahullah dlm Manzhumah Tuhfatul Athfal :

فالأول الإخفاء عند الباء * وسمه الشفوي للقراء

Begitupula Imam Ibnul Jazari Rahimahullah (w. 833 H) dlm Muqaddimah Al-Jazariyyah :

الميم إن تسكن بغنة لدى * باء على المختار من أهل الأداء

Cara membaca Iqlab dan Ikhfa Syafawi yg disepakati Qurra akan kebolehannya adalah :

-Tarkul Furjah : Meninggalkan sedikit celah diantara dua bibir ketika mengucapkan Iqlab dan Ikhfa Syafawi

– Inthibaq/Ithbaq : Merapatkan kedua bibir tanpa Kazz (tekanan) ketika mengucapkan Iqlab dan Ikhfa Syafawi

Adapun cara yg dilarang adalah :
– Membuat celah yg lebih lebar daripada Tarkul Furjah, sehingga menimbulkan suara yg lebih samar dan memunculkan huruf baru seperti Waw (و).

Perbedaan cara ini tidak mempengaruhi keabsahan bacaan Al-Qur’an seseorang, dan jg bukan perbedaan Riwayat dari para Imam Qiraat. Kedua cara ini adalah Khilaf yg Muktabar, sehingga boleh memilih salah satunya atau menggabungkannya tanpa harus saling menyalahkan.

 

Sumber :
– Manzhumah Tuhfatul Athfal Imam Sulaiman Al-Jamzuri
– Muqaddimah Fima Yajibu Ala Qari’ihi an Ya’lamahu Imam Ibnul Jazari
– Ghayatul Murid Fi Ilmit Tajwid Syekh Athiyyah Nashr