Fadhilah/Keutama’an Puasa

Penulis: Afif Wiludin, ST

Alumnus PESAN 1

Alumnus Teknik Perkapalan ITS

  1. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

 

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

 

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.”” (HR. Muslim no. 1151)

 

2. Dijauhkan Dari Api Neraka

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits,

 

ما من عبد يصوم يوما في سبيل الله إلا باعد الله بذلك وجهه عن النار سبعين خريفا

 

“Tidaklah ada seorang hamba yang berpuasa satu hari di jalan Allah, melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya dengan puasanya itu dari api neraka (sepanjang perjalanan) tujuh puluh tahun.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Sa’id al-Khudriy)

 

3. Orang yang Berpuasa Memiliki Waktu Mustajab Terkabulnya Do’a

 

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

 

“Tiga orang yang do’anya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizholimi”.[HR. Ahmad 2: 305]

 

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Hadits ini menunjukkan bahwa disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk berdo’a dari awal ia berpuasa hingga akhirnya karena ia dinamakan orang yang berpuasa ketika itu.” Kata Imam Nawawi, “Disunnahkan orang yang berpuasa berdoa saat berpuasa dalam urusan akhirat dan dunianya, juga doa yang ia sukai, begitu pula doa kebaikan untuk kaum muslimin.”[Al Majmu’, 6: 273.]

 

4. Puasa adalah penangkal dan pemberi syafaat pada hari kiamat

Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Amr bahwasanya Nabi SAW bersabda : “Puasa dan al-Qur’an akan memberi syafa’at kepada seorang hamba pada Hari Kiamat. Puasa berkata, ‘Wahai Rabbku, aku telah menghalanginya dari makan dan syahwatnya di siang hari, maka izinkan aku memberi syafa’at kepadanya.’ Al-Qur`an berkata, ‘Aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka izinkan aku memberi syafa’at kepadanya.”[HR. Ahmad dalam musnadnya, hadits no. 6626]

 

5. Perisai

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

“اَلصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ، فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ (مَرَّتَيْنِ)، وَالَّذِيْ نَفْسِي بِيَدِهِ، لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ، يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي، اَلصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا.”

 

“Puasa itu adalah perisai. Oleh karena itu, jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah dia berkata-kata kotor dan tidak juga berlaku bodoh. Jika ada orang yang memerangi atau mencacinya, maka hendaklah dia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’ (sebanyak dua kali). Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah Ta’ala daripada aroma minyak kesturi, di mana dia meninggalkan makanan, minuman, dan nafsu syahwatnya karena Aku (Allah). Puasa itu untuk-Ku dan Aku akan memberikan pahala karenanya dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya.” [Muttafaqun ‘alaih]

6  Menghapus Kesalahan

Hadits yang diriwayatkan oleh Hudzaifah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

“فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَجَارِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلاَةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ.”

 

“Kesalahan seseorang terhadap keluarga, harta dan tetangganya akan dihapuskan oleh shalat, puasa dan shadaqah.” [Muttafaqun ‘alaih]

 

7. Masuk Surga Ar-Rayyan

Hadits yang diriwayatkan dari Sahl Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

“إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَاباً يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ: أَيْنَ الصَّائِمُوْنَ؟ فَيَقُوْمُوْنَ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُوْا أُغْلِقُ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ.”

 

‘Sesungguhnya di Surga itu terdapat satu pintu yang diberi nama ar-Rayyan. Dari pintu itu orang-orang yang berpuasa akan masuk pada hari Kiamat kelak. Tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu itu selain mereka. Ditanyakan, ‘Mana orang-orang yang berpuasa?’ Lalu mereka pun berdiri. Tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu itu selain mereka. Jika mereka sudah masuk, maka pintu itu akan ditutup sehingga tidak ada lagi seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut.’” [Muttafaqun ‘alaih]

 

8. Menjaga Tubuh, Baik Lahiriyah Maupun Bathiniyah

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Puasa memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam menjaga anggota tubuh yang bersifat lahiriah dan juga kekuatan bathin serta melindunginya dari faktor-faktor pencemaran yang merusak. Jika faktor-faktor pencemaran tersebut telah menguasai dirinya, maka ia akan rusak.

Dengan demikian, puasa akan menjaga kejernihan hati dan kesehatan anggota badan sekaligus akan mengembalikan segala sesuatu yang telah berhasil dirampas oleh nafsu syahwat. Puasa merupakan pembantu yang paling besar dalam merealisasikan ketakwaan…”[Zaadul Ma’aad (I/320)]

 

9. Pembersih Jiwa

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz telah mengatakan, “Pada puasa itu terdapat banyak manfaat dan hikmah yang besar, di antaranya adalah pembersihan, penggemblengan dan pensucian jiwa dari akhlak tercela dan sifat-sifat buruk, seperti tamak, rakus dan kikir, untuk kemudian dibiasakan dengan akhlak mulia seperti sabar, santun, dermawan, murah hati, dan pengerahan jiwa untuk mengerjakan segala hal yang diridhai Allah dan dapat mendekatkan diri kepada-Nya.

 

Dari Segi Medis Manfaat Puasa Adalah

1-Membuang Racun dalam Tubuh

2-Menjaga Kesehatan Jantung

3-Baik untuk Kesehatan Mental

4-Memperlancar Sistem Pencernaan

5-Mengurangi Gula Darah dan Lemak

6-Menurunkan Hipertensi

7-Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh

8-Meningkatkan Kinerja Otak

9-Memperbaiki Fungsi Ginjal

cek penjelasannya di ( https://www.hidayatullah.com/ramadhan/mutiara-ramadhan/read/2016/06/16/96541/10-rahasia-fadhilah-puasa-bagi-kesehatan-menurut-ilmuwan.html )

 

Disarikan dari berbagai Sumber

Yuks, Perbanyak Puasa di Bulan Mulia, Bulan Rajab ini yang Pahalanya dilipatgandakan, bisa dengan Puasa Daud, Senin-Kamis, Ayyamul Bidh dll

 

Allumma Baariklana fii Rojab, Wa Sya’ban Wa Ballighna Romadhon

Aamiin Yaa Robbal ‘Aalaamiin

Semoga Bermanfa’at

Ketergesaan dari Setan

Penulis: Ustadz Nur Fajri Romadhon, Lc

@nf_rom
16 Agustus 2014

Kanjeng Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ﺍﻟﺘﺄﻧﻲ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﻌﺠﻠﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ

” Ketenangan bertindak dari Allah dan ketergesaan dari setan.”
[Hadits hasan riwayat al-Baihaqi]

*

Ketergesaan adalah tabiat manusia. Allah ta’ala berfirman:
“Manusia diciptakan dengan sifat tergesa-gesa.” [Qs 21: 37].

Setan pun berusaha memaksimalkan tabiat ini dalam keseharian kita. Meski demikian, Allah mengilhamkan ketenangan dan kematangan bertindak dan berucap ke dalam diri hamba-hambaNya.
Ketergesaan tanpa perhitungan yang matang sering manjadi petaka dan penyesalan di kemudian hari.
Tentu kita tidak lupa akan ketergesaan Bapak kita, Nabi Adam, yang mencicipi buah terlarang karena tergiur janji setan bahwa ia akan menjadi kekal. Padahal, justru sebaliknya, setelah dimakan, Beliau yang tadinya kekal di surga, malah dikeluarkan.

Nabi Musa juga memberi kita pelajaran. Ketika Beliau tergesa-gesa mengingkari Nabi Khidhr, justru mereka harus berpisah. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika Musa bersabar, akan lebih banyak pelajaran yang didapat.” [Hr al-Bukhari]

*

Ketergesaan begitu sering menyertai kita. Kita tergesa belajar, hingga akhirnya banyak hal yang tidak kita kuasai betul. Imam Az-Zuhri mengatakan, “Sungguh ilmu yang kami miliki ini adalah buah menghafal satu-dua hadits atau satu-dua masalah fikih per hari.” Sering kita tergesa dalam doa, sampai langsung mendikte Allah. Lupa mengawali doa dengan pujian dan shalawat.

Saat doa tak kunjung terlihat hasilnya, kita mengklaim sepihak bahwa Allah enggan mengabulkan. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Doa kalian akan dikabulkan selama tidak tergesa- gesa.” [muttafaqun ‘alaihi]

Kita kadang tergesa dalam berdakwah tanpa memperhatikan prioritas-prioritas dakwah hingga
dakwah tidak efektif atau bahkan gagal. Jika sudah tidak mendapat penerimaan, kita pun tergesa mencap mereka sebagai orang-orang yang menolak kebenaran, pengikut hawa nafsu, dan sebagainya tanpa mengoreksi metode dakwah kita.

Benarlah kata para ulama: “Manista’jala syaian qabla awaanihi, ‘uuqiba bihirmaanihi (Barangsiapa tergesa melakukan sesuatu sebelum momennya, tidak akan memperolehnya).”

*

Bahkan dosa-dosa pada hakikatnya bersumber dari ketergesaan. Riba dan korupsi adalah bentuk ketergesaan mendapat harta sebanyak mungkin, semudah mungkin.  Zina dan pacaran adalah ketergesaan syahwat sebelum tiba momen yang halal. Menuduh dan memaki adalah wujud ketergesaan kita sebelum tabayyun dan memberi uzur. Demikian seterusnya. Semua adalah ketergesaan kita demi mereguk kepuasan sesaat dengan mengorbankan kebahagiaan abadi kelak.

*

Namun ingat, tidak tergesa-gesa bukan berarti lamban dan tidak peka. Perbedaannya ada pada kesesuaian dengan petunjuk agama, pemikiran yang matang, musyawarah, dan metode yang tepat.
Taufik dan bimbingan Allah juga besar pengaruhnya. Pun juga tipu daya setan. Lafal hadits di atas seolah mengisyaratkan bahwa seringkali kita menghendaki cepat tanggap, namun setan mengganggu dan menjadikannya ketergesaan. Atau bahkan kita sebenarnya menunda untuk berpikir matang karena ragu, namun dengan itulah Allah bimbing kita kepada at-taanni. Wallahu a’lam

Mari Puasa Sunnah di Bulan-Bulan Haram, Termasuk Rajab

Penulis: Ustadz Nur Fajri Romadhon, Lc

@nf_rom
30 Jumadil Akhir 1439 H

Imam An-Nawawi (w. 676 H) mewakili madzhab Syafii menyatakan:
قال أصحابنا: ومن الصوم المستحب صوم  الأشهر الحرم، وهي: ذو العقدة وذو الحجة والمحرم ورجب، وأفضلها المحرم.
“Berkata ulama-ulama Syafiiyyah: Di antara puasa yang disunnahkan ialah puasa pada bulan-bulan haram, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Dari keempat bulan ini yang paling afdhal ialah bulan Muharram.” [Al-Majmu’ (6/439)]

Puasa di keempat bulan haram yang Allah sebutkan di Qs 9:36 ini juga dinyatakan sunnah hukumnya dalam madzhab Hanafi seperti dinyatakan Imam As-Sarakhsi (w. 490 H), madzhab Maliki seperti dinyatakan Al-Kharasyi (w. 1101 H), dan madzhab Hanbali seperti ditegaskan Al Muwaffaq Ibnu Qudamah (w. 620 H).

Memperbanyak berpuasa sunnah di bulan Rajab bukanlah hal baru yang tercela dalam agama.

Imam Al-Mardawi (w. 885 H), salah seorang ulama Hanabilah terkemuka, menyatakan:
وأما صيام بعض رجب، فمتفق على استحبابه عند أهل المذاهب الأربعة لما سبق، وليس بدعة.
“Berpuasa pada sebagian bulan Rajab disepakati kesunnahannya oleh ulama dari madzhab yang empat. Dan bukanlah bid’ah.” [Al-Inshaf (3/245)]

*
Di antara dalil disyariatkannya puasa ini ialah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
صم من الحرم واترك
“Puasalah sebagian dari bulan-bulan haram dan jangan puasa seluruhnya.”
[Hr Abu Dawud dan beliau tidak komentar yang berindikasi beliau minimal menghasankannya]

*

Al-Hafidzh Ibnu Shalah (w. 643 H) pernah ditanya apakah orang yang berpuasa sunnah di bulan Rajab mendapat pahala ataukah mendapat dosa?

Beliau menjawab:
“لا إثم عليه في ذلك، ولم  يؤثمه بذلك أحد من علماء الأمة فيما نعلمه، بل قال حفاظ الحديث: لم يثبت في صوم رجب حديث، أي فضل خاص، وهذا لا يوجِب زهداً في صومه؛ بما ورد من النصوص في فضل الصوم مطلقاً، والحديث الوارد في سنن أبي داود في صوم الأشهر الحرم كاف في الترغيب.”

“Dia tidak berdosa. Dan tidak ada ulama Islam yang menyatakan dia berdosa sepanjang pengetahuan saya.

Memang para ulama hadits menyatakan bahwa tidak ada hadits yang shahih terkait keutamaan puasa sunnah Rajab secara khusus. Tetapi ini tidak menyebabkan kita tidak puasa di bulan tersebut. Itu karena banyaknya hadits-hadits tentang keutamaan memperbanyak puasa sunnah secara umum. Apalagi hadits riwayat Abu Dawud tentang disunnahkannya memperbanyak puasa sunnah di bulan-bulan haram sudah cukup menjadi motivasi untuk berpuasa di bulan Rajab.”
[Mawahibul Jalil (2/411)]

*

Adapun cara berpuasa di bulan-bulan haram ini ialah sebagaimana yang dinyatakan Imam Ahmad (w. 241 H):
وقال أحمد: “وإن صامه رجل أفطر فيه يوماً أو أياماً بقدر ما لا يصومه كله.”
“Jika seseorang ingin memperbanyak puasa sunnah di bulan-bulan haram ini maka hendaklah ia juga sengaja tidak berpuasa sehari atau beberapa hari agar tidak berpuasa sebulan penuh.” [Al-Mughni (3/53)]

Sebagaimana dinyatakan Imam Al-Mardawi di atas, puasa bulan-bulan haram (termasuk Syaban) secara tidak penuh sebulan adalah hal yang disunnahkan menurut kesepakatan ulama.

Akan tetapi Madzhab Syafii memiliki pandangan bahwa seandainya ada yang mampu berpuasa penuh di bulan-bulan itu, maka ia tetap mendapatkan keutamaan. Imam An-Nawawi menyatakan:
إنما أمره بالترك ; لأنه كان يشق عليه إكثار الصوم كما ذكره في أول الحديث . فأما من لم يشق عليه فصوم جميعها فضيلة
Nabi memerintahkan agar jangan berpuasa di sebagian bulan haram hanyalah karena hal itu menyulitkan Al-Bahili sebagaimana tersirat dari kelengkapan hadits di awalnya. Adapun bagi yang tidak kesulitan, maka berpuasa sepenuh bulan merupakan keutamaan. [Al-Majmu’ (6/439)]

Namun, penulis dalam praktek lebih memilih apa yang dikatakan Imam Ahmad dan para ulama lainnya. Terlebih lagi Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan:

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasa selama satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan. Aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa padanya (dibandingkan) pada bulan Sya’ban.”
[Hr Al-Bukhari-Muslim]

*
Memang, madzhab Hanbali, sebagaimana ditegaskan Al-Muwaffaq Ibu Qudamah, memakruhkan puasa jika dikhususkan hanya pada bulan Rajab.

Tetapi Imam Ibnu Muflih (w. 763 H), murid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (w. 728 H), menyatakan bahwa dalam madzhab Hanbali kemakruhan ini akan hilang jika tidak puasa penuh walau hanya tidak berpuasa sehari. Kemakruhan juga hilang jika berpuasa sunnah juga walau sehari di bulan lain. [Al-Inshaf (3/245)]

*

Akan tetapi perlu diingat bahwa memperbanyak puasa sunnah di bulan Muharram dan Syaban lebih afdhal daripada di bulan Rajab, Dzulqa’dah, maupun Dzulhijjah.

Imam An-Nawawi menjelaskan:
وأفضلها المحرم، ويلي المحرم في الفضيلة شعبان، وقال صاحب البحر: رجب أفضل من المحرم. وليس كما قال”
“Bulan terbaik utk memperbanyak puasa sunnah ialah Muharram lalu Syaban. Adapun klaim Imam Ar-Ruwwiyyani: ‘Memperbanyak puasa sunnah di bulan Rajab lebih afdhal dari di bulan Muharram,’ maka ucapan beliau ini tidaklah tepat.” [Raudhah Thalibin (2/388)]

*

Akhir kata, mari siapkan diri kita menyambut bulan Rajab nan suci (haram) ini, juga untuk menghadapi Syaban dan Ramadhan.

Imam Ibnu Abi Syaibah (w. 235) meriwayatkan:
وعن ابن عمر -رضي الله عنهما- أنه: “إذا رأى الناس وما يُعِدون لرجب كره ذلك”
Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma membenci orang-orang yang tidak menyiapkan apa-apa menjelang bulan Rajab. [Mushannaf Ibn Abi Syaibah (2/513) dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Irwaul Ghalil (4/114)].

*
Kesimpulan:

1. Memperbanyak puasa Sunnah di bulan-bulan haram disunnahkan menurur madzhab yang empat.

2. Bulan-bulan haram yang disebutkan dalam Qs 9:36 adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

3. Puasa di sini sebaiknya tidak sampai sebulan penuh meski ada pendapat yang menyatakan hal tersebut tetap sebuah keutamaan.

4. Cara mengamalkannya dapat dengan berpuasa di hari apapun, bisa juga dengan sekaligus puasa Senin-Kamis, puasa Dawud, puasa Ayyamul Bidh, ataupun puasa 3 hari per bulan.

4. Banyak hadits yang tidak shahih terkait puasa bulan Rajab.

5. Jangan lupa untuk sempatkan puasa sunnah juga pada bulan haram lainnya selain Rajab seperti di Dzulqa’dah sebagaimana juga di bulan Dzulhijjah dan Muharram.

Wallahu a’lam.

 

RESUME BUKU “Tuhan, Inilah Proposal Hidupku..”

 

Judul buku                : Tuhan, Inilah Proposal Hidupku..

Penulis                        : Jamil Azzaini

Penerbit                     : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit              : 2009

Tebal buku                 : 106 halaman

Alasan Memilih Buku ini : mendapatkan inspirasi

Pembuat Resume : Ismlail Khozen (Alumnus PESAN angk. 2
Administrasi Fiskal UI 2014)

Banyak dari kita yang beranggapan bahwa hidup hanyalah menjalani takdir, sehingga cukuplah dibiarkan mengalir bagai air, let it just flow like a waterflow. Memang tidak ada yang salah dengan menganggap kehidupan sebagai jalinan takdir yang sudah Tuhan tetapkan. Namun kita juga tidak boleh lupa bahwa takdir ada dua jenis, satu di antaranya adalah jenis takdir mu’allaq, yaitu takdir yang tertulis yang boleh tetap dan boleh berubah dengan kehendak Allah, bergantung kepada sebab-sebab yang diusahakan oleh manusia. Maka melalui buku yang cukup singkat dan ringan dibawa, Jamil Azzaini dengan judul bukunya “Tuhan, Inilah Proposal Hidupku..” ingin mengajak kita agar tidak menyerah pada takdir, agar tidak menyalahkan takdir, tetapi berkompromi dan menyiasati agar takdir-takdir kita yang masih dapat diubah dioptimalkan sebaik mungkin.

 

Jamil Azzaini adalah seorang Inspirator SuksesMulia. Ia mengembangkan PT. Kubik Kreasi Sisilain bersama Farid Poniman dan Indrawan Nugroho. Pria kelahiran Purworejo Jawa Tengah 9 Agustus 1968 ini menempuh pendidikan formalnya S1 dan S2 di Institut Pertanian Bogor. Selain sebagai Direktur di PT. Kubik Kreasi Sisilain, ia juga menjadi dosen Pascasarjana di IPB. Dalam buku karangannya ini, Jamil sempat bercerita bahwa IPK ketika masih S1 di IPB tidak lebih dari 3, suatu kabar gembira bahwa kesuksesan tidaklah ditentukan oleh besaran angka.

 

Berbeda dengan buku-buku motivasi lain, buku yang di tahun 2015 sudah memasuki cetakan kesebelasnya ini memiliki keunikan karena sang penulis seperti memberi dorongan kuat yang membuat pembaca lebih paham dan mau memulai bergerak sedikit demi sedikit. Hal tersebut belum tentu didapat dibanding membaca buku lain. Mungkin karena buku ini tipis, padat, jelas, dan berisi panduan yang sederhana membuat proposal hidup ala kita sendiri. Buku ini juga seperti buku kerja (workbook) bukan buku motivasi yang biasa kita baca, didalam isi buku ini penulis mengajarkan kita untuk menghargai diri kita sendiri. Di akhir muka surat buku ini kita akan disuruh melengkapkan tulisan proposal kita.

 

Karena buku ini semacam workbook, kita tidak akan memperoleh banyak manfaat bila hanya membaca tanpa melakukan aktifitas yang penulis minta. Oleh karena itu, pembaca buku diharapkan secara bertahap dapat mengerjakan dan mengikuti instruksi yang diminta dengan baik. Apabila pembaca mengikuti semua instruksi yang ada di buku ini, begitu pembaca selesai membaca dan mengerjakan aktivitas di dalam buku ini maka jadilah itu bahan baku PROPOSAL HIDUP bagi pembaca sendiri.

 

Dalam menyusun Proposal Hidup, penulis memberikan lima langkah sederhana. Di setiap akhir sesi, pembaca dianjurkan untuk mengisi lembar kerja secara langsung. Langkah pertama adalah menyadari bahwa setiap kita adalah masterpiece. Setiap kita adalah mahakarya dari sang pencipta. Masing-masing kita adalah masterpiece yang tiada duanya. Begitu kita terlahir-tumbuh-meninggal maka tidak akan pernah ada lagi makhluk yang persis sama. Pada bagian ini, penulis menunjukkan dengan ilustrasi yang menarik bahwa setiap kita benar-benar spesial. Masing-masing orang hanya satu-satunya yang ada dimuka bumi ini. Tidak ada satupun makhluk yang kehidupanya persis sama.

Langkah kedua adalah menetapkan prestasi terbaik yang ingin diraih. Banyak diantara kita hidup seperti itu-itu saja atau monoton. Kita hidup mengikuti kebiasaan yang sudah berlaku, terus bekerja dengan keras namun kehilangan kesempatan mengetahui bahwa di dekat kita banyak peluang yang bisa memberi kebahagiaan kepada kita.  Untuk menghindari hal tersebut kita harus menentukan arah hidup kita sendiri, tidak asal ikut-ikutan  tradisi yang sudah ada. Untuk merancang masa depan, kita harus menetapkan prestasi terbaik yang ingin kita raih selama hidup. Karena kita adalah spesial dan berharga mahala, jangan sampai kita menyinyiakan hidup dengan melakukan pekerjaan murahan dan tidak pantas dilakukan oleh orang yang spesial. Pastikan prestasi atau karya kita sebanding dengan harga diri kita yang begitu mahal.

 

Langkah ketiga adalah jadilah seorang expert, ahli dan mumpuni di bidangnya. Pilihlah keahlian yang itu menyenangkan ketika dikerjakan. Bukan hanya itu, keahlian itupun bisa dijadikan sebagai sumber penghasilan. Mulailah dengan mendaftar semua kegiatan yang telah dijalani dan banyak menghabiskan waktu kita. Kemudian kelompokan kegiatan tersebut menjadi tiga bagian kegiatan yang paling dikuasai, kegiatan yang  dicintai, dan kegiatan yang menghasilkan. Berikutnya, pilih dari daftar itu satu, dua atau tiga hal yang paling kita kuasai, cintai dan menghasilkan. Lihatlah daftar kembali, ciptakan rencana untuk mendelegasikan semua kegiatan lain kepada orang lain.

 

Langkah keempat adalah “Sempurnakan Hidup Anda Sekarang”. Memang prestasi dan keahlian yang ingin anda kuasai telah anda tuliskan. Itu adalah kehidupan masa depan anda. Ingatlah, untuk mencapainya anda perlu menyempurnakan hidup anda saat ini. Sebab, keberhasilan anda mewujudkan prestasi terbaik dan expertise yang ingin anda kuasai sangat ditentukan oleh kehidupan anda saat ini. Mulai sekarang, sempurnakanlah karya-karya anda.

 

Langkah kelima adalah “Sempurnakan Lingkungan Anda”. Agar prestasi terbaik anda tercapai, keahlian anda semakin terlatih maka anda harus menciptakan lingkungan anda. Anda perlu menciptakan lingkungan pendukung antara lain mulailah dari rumah anda, sampaikan proposal hidup anda dalam setiap kesempatan, berdoalah, mensyukuri keberhasilan di setiap tahapan.

 

  1. Sebagaimana yang disampaikan penulisnya, pembaca buku ini tidak akan memperoleh banyak manfaat bila hanya membacanya tanpa melakukan aktivitas yang diminta. Maka dari itu, untuk mendapatkan hasil yang optimal, pembaca sangat dianjutkan untuk mengikuti instruksi yang diminta oleh penulis. Satu hal yang tidak kalah penting adalah tidak ada kata terlambat. Buku ini cocok dibaca untuk semua kalangan dan semua umur khususnya mereka yang ingin menata kehidupanya di masa depan, buku ini banyak mengajari kita tentang menghargai diri sendiri dan pentingnya kehidupan di masa depan.

 

 

RESUME BUKU “: Dahsyatnya Bangun Pagi, Tahajjud, Subuh & Dhuha: Cara Hidup Sehat, Berkah, dan Rezeki Berlimpah Dimulai Bangun Lebih Pagi “

Judul buku                : Dahsyatnya Bangun Pagi, Tahajjud, Subuh & Dhuha: Cara Hidup Sehat, Berkah, dan Rezeki Berlimpah Dimulai Bangun Lebih Pagi

Penulis                        : Fadlan Al-Ikhwani

Penerbit                     : Ziyad Visi Media

Tahun Terbit              : 2011

Tebal buku                 : 174 halaman

Alasan Memilih Buku ini :  motivasi dan perbaikan diri

Pembuat Resume : Ismail Khozen (Alumnus PESAN angk. 2
Administrasi Fiskal UI 2014)

Ada 4 kemenangan di hari ini yang patut Anda rayakan, jika Anda memang benar melakukannya: (1) Kemenangan ke-1 adalah saat Anda mampu bangun pagi; (2) kemenangan ke2 adalah saat Anda mampu shalat tahajjud; (3) kemenangan ke-3 adalah saat Anda mampu shalat berjamaah; dan kemenangan ke-4 adalah saat Anda mampu shalat dhuha.” Kutipan yang langsung menohok tersebut merupakan kalimat pertama dalam buku yang ditulis oleh Fadlan al-Ikhwani. Bangun pagi untuk kemudian melaksanakan tiga aktivitas mulia tersebut memang bukan perkara mudah. Terlalu banyak godaan yang menghampiri untuk benar-benar dapat melaksanakannya. Hal tersebut memang sudah disinyalir dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Di dalam hadits tersebut dinyatakan bahwa setan membuat simpul di kepala orang yang tidur, di mana setiap simpul yang dipasan setan tersebut akan terlepas satu-satu manakala ia bangun, berwudlu, kemudian shalat. Dari sinilah, penulis kemudian berani menyatakan keutamaan berupa kemenangan bagi mereka yang berhasil mengawali hari dengan amal-amal mulia.

 

Berdasarkan penghayatan yang dilakukan penulis, pada bagian-bagian awal buku ini penulis membeberkan fakta mengenai yang dapat menghalangi seseorang untuk bangun pagi. Di antara penghalang tersebut yaitu tidak adanya keinginan atau minimnya keinginan untuk bangun pagi, lemahnya motivasi, belum memiliki kebiasaan terpola, begadang, bermaksiat di siang harinya, diperdaya oleh setan, tiada faktor x, dan memperturutkan rasa malas. Terkait minimnya keinginan untuk bangun pagi, hal tersebut menurut penulis disebabkan oleh rendahnya kesadaran akan manfaat yang akan diperoleh dengan bangun pagi, begitu juga halnya dengan lemahnya motivasi. Sementara begadang erat kaitannya dengan kebiasaan yang tidak terpola. Padahal ketahanan tubuh seseorang berbeda-beda untuk kemudian dapat tetap bangun tepat waktu. Hal yang cukup menarik yang dipaparkan penulis yaitu susahnya bangun yang diakibatkan oleh maksiat yang kita lakukan. Terkait hal ini, penulis mengutip hikmah dari seorang sufi, yaiut ”jangan bermaksiat kepada-Nya di siang hari, niscaya Dia akan membangunkanmu di malam hari. Karena kehadiranmu di hadapan-nya adalah kemuliaan. Dan orang yang bermaksiat tidak layak mendapatkan kemuliaan itu.”

 

Pada bagian kedua buku ini, penulis mengaitkan pentingnya bangun pagi dengan berburu reseki. Pagi hari adalah saat-saat istimewa di mana rezeki dari-Nya bertebaran. Pada pagi hari pintu-pintu rezeki terbuka lebar. Untuk menyambut rezeki tersebut maka tidak ada cara lain kecuali dengan bangun lebih awal, mengaminkan panggilan Sang Pemberi Rizki. Selain itu, bangun pagi menandakan produktivitas dimana hal tersebut sangat menyehatkan bagi jiwa dan raga kita. Manfaat lain dari bangun pagi yaitu terkait dengan kesehatan. Bangun pagi merupakan salah satu terapi keseatan. Dengan bangun pagi maka kita bisa mendapatkan udara yang masih bersih dan segar, mencegah penyakit berbahaya, pagi hari adalah titik jernih pikiran, dan dengan bangun pagi maka akan dapat menumbuhkan semangat diri.

Selanjutnya, penulis memberikan kiat-kiat praktis agar dapat bangun pagi. Di antara cara-cara yang perlu dilakukan sehingga dapat lebih mudah bangun pagi yaitu ikhlas, memiliki keinginan yang kuat, tidak tidaur terlalu malam, berwudhu sebelum tidur, selalu berdoa kepada Allah, membuat jadwal kegiatan esok harinya, tidak melakukan maksiat, tidak terlalu kenyang, tidur siang meski sebentar, dan memberi hadiah kepada diri sendiri untuk lebih memotivasi agar dapat bangun pagi. Sementara itu, bila sudah terlanjur kesiangan, penulis memberikan kiat-kiat agar hal tersebut tidak terulang, yaitu melakukan evaluasi diri, memperbanyak istighfar, memberikan hukuman kepada diri sendiri, memancangkan komitmen, mengikuti dengan amalan lain, dan merencanakan ulang agenda tertunda.

 

Pada bagian selanjutnya, penulis menekankan pentingnya bangun pagi dari sisi keutamaan shalat tahajjud, shalat shubuh, dan shalat dhuha. Di antara keutamaan shalat tahajjud yaitu, ia adalah shalat sunnah yang paling utama, mendapat pujian dari Allah, mendapatkan keistimewaan waktu sahur, dan ia merupakan kebiasaan orang-orang shaleh. Sementara untuk keutamaan shalat subuh berjamaah yaitu, disaksikan oleh para malaikat, senilai shalat malam semalam suntuk, dan dijamin baginya surga. Karena saking utamanya shalat shubuh berjamaah ini, maka dalam suatu riwayat disebutkan bahwa seandainya manusia mengetahuinya maka ia akan rela meskipun harus dengan merangkak. Sementara keutamaan shalat dhuha yaitu menjadi manusia paling kaya, dan berkaitan erat dengan kelancaran rezeki.

Bagi Anda yang ingin kehidupan yang lebih baik, maka bangun pagilah, dirikanlah qiyamullail, shalat shubuh berjamaahlah, dan dirikan shalat dhuha. Membaca buku ini insyaallah bisa juga menjadi jalan proses hijrah Anda.

 

Menunggu Kiprah Pengusaha Muslim di Tahun Politik

 

Penulis : Ismail Khozen (Alumnus PESAN angk. 2
Administrasi Fiskal UI 2014)

Menjelang berlangsungnya pesta demokrasi berupa Pilkada serentak di tahun 2018 ini, yang kemudian akan disusul dengan Pemilu dan Pilpres 2019, tidak dapat dipungkiri bahwa aktor-aktor berduit dan para pemilik modal akan banyak “bermain” demi memuluskan kepentingan mereka ke depan.

Memang di antara manusia-manusia lainnya, pengusaha adalah manusia spesial yang selalu jeli dalam melihat setiap peluang. Di mata pengusaha, segala sesuatunya dapat diuangkan. Maka dampaknya, sebagaimana dinyatakan Henry C. Simon, penguasaan atas uang atau penghasilan dapat memberikan pemanfaatan kontrol atas penggunaan sumber daya masyarakat yang terbatas.

Manusia adalah makhluk dengan keinginan tidak terbatas sehingga selalu menginginkan sesuatu melebihi yang dibutuhkan. Di kemudian hari, karakter ini oleh Adam Smith dicirikan sebagai Homo Economicus. Manusia yang selalu berusaha memenuhi segala keinginannya dapat berpotensi menimbulkan ketamakan dalam dirinya. Berpuluh abad yang lalu, Aristoteles menamakan secara khusus sifat ini dengan pleonexia, yaitu rasa tidak pernah puas sehingga mengejar keuntungan bagi diri sendiri dengan cara mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi hak orang lain.

Nabi saw juga telah menggarisbawahi mengenaia karakter manusia ini, salah satunya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Bahwasanya manusia seandainya diberi lembah penuh dengan emas, ia masih menginginkan lembah kedua yang semisalnya. Andai lembah kedua ia dapatkan, ia pun masih menginginkan lembah ketiga, dan demikian seterusnya. Mereka baru berhenti setelah kematian mendatangi.

Memiliki banyak kekayaan dan harta dengan memilih menjadi pengusaha bukan berarti tidak boleh. Rasulullah saw. sendiri justru seorang pengusaha ulung. Sembilan dari sepuluh sahabat beliau yang dijamin masuk surga juga adalah pengusaha. Bahkan tidak dapat dipungkiri bahwa dakwah Islam sejauh ini dapat berkembang karena kontribusi aktif dari ummatnya yang salah satunya melalui harta yang mereka keluarkan. Kecukupan harta yang dimiliki oleh ummat Islam juga telah terbukti menjadi modal dalam membentengi ummat dari berbagai ancaman. Betapa banyak persoalan ummat yang dapat terpenuhi dengan kecukupan finansial ini. Maka tidak mengherankan bila dalam urusan muamalah, Islam menentukan secara jelas batas-batas antara yang halal dengan yang haram.

Yang menjadi persoalana adalah ketika seorang pengusaha membenarkan segala cara dalam memenuhi rasa tamaknya. Hal tersebut sebagaimana yang telah diwanti-wanti Rasulullah dalam riwayat Ahmad, “Sungguh banyak di antara para pebisnis yang mereka adalah para pendosa.” Para sahabat pun kaget, “Ya Rasulallah, bukankah Allah telah menghalalkan jual beli?” Rasulullah menjawab, “Betul, tetapi kebanyakan mereka sering berdusta dalam berkata, dan mereka bahkan bersumpah tetapi palsu.”

Dapat dibayangkan berapa besar dan menumpuknya persoalan ummat jika para pengusaha banyak yang menjaja dusta. Lebih mengkhawatirkan lagi ketika mereka tidak saja menyasar penguasaan ekonomi, tetapi merambah pula pada penguasaan politik, juga dengan dusta. Maka muncullah semacam kredo yang kemudian berkembang di tengah masyarakat, yakni pengusaha kalau menginginkan usahanya lancar harus dapat menggandeng politisi, sedangkan politisi kalau ingin mengamankan kekuasaannya perlulah dibekingi pengusaha.

Kolusi antara pengusaha dan politisi ini kemudian menjadi kabut paling pekat yang menghalangi pandangan sehingga terkadang kita sendiri tidak mengetahui apa inti persoalan di sekeliling kita. Hal tersebut tidak lagi aneh ketika objek transaksi telah beralih menjadi produk hukum. Hukum kemudian menjadi milik mereka para penawar tertinggi. Na’udzu billah.

Pengusaha yang berorientasi pada kepentingan politik ataupun politisi yang hanya mencari keuntungan ekonomis adalah musibah bagi bangsa manusia itu sendiri. Keduanya, yang berjalan di atas dasar keserakahan merupakan ancaman serius yang dapat dengan mudahnya mengatur kebebasan seseorang bahkan mungkin hidup matinya.

 

Menyikapi Tawaran Transaksi

Berkenaan dengan politik transaksional yang kian marak terjadi, ada satu kisah menarik yang terjadi di masa awal dakwah Nabi saw. Beberapa tahun setelah diangkat menjadi Rasul, beliau mulai melakukan ekspansi dakwah dengan mengenalkan Islam kepada para kabilah yang datang ke Mekkah untuk berhaji. Salah satu yang beliau datangi adalah Bani Amir bin Sha’sha’ah.

Ibnu Hisyam dalam sirahnya menuturkan bahwa di saat banyak kabilah yang menolak mentah-mentah seruan Nabi, salah seorang pembesar Bani Amir bin Sha’sha’ah melihat seruan tersebut dari kacamata berbeda. Biharah bin Firas, nama pembesar tersebut berbisik kepada beberapa orang di sekitarnya, “Demi Allah, jika aku menerima seruan pemuda Quraisy ini maka aku akan dapat menguasai seluruh tanah Arab.”

Maka sejarah pun mencatat bagaimana Biharah mengajukan klausul politik dimaksud. Ia berkata kepada Rasulullah saw, “Bagaimana menurutmu jika kami berbaiat padamu mengenai urusan ini, kemudian engkau memperoleh kemenangan atas musuh, apakah kami berhak mendapatkan kekuasaan setelah dirimu?”

Namun Rasulullah saw, seorang pengusaha ulung yang juga ahli dalam politik dengan tegas menjawab, “Semua urusan itu milik Allah. Urusan tersebut Dia serahkan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.”

Beginilah Rasulullah saw bersikap. Dari awal beliau telah menutup jalan bagi politik transaksional yang sebenarnya menggiurkan. Meskipun pada saat itu beliau seorang diri dalam masa-masa sulit, beliau tetap menolak bantuan suatu kabilah besar karena mereka dalam memberikan bantuan hanya menginginkan duniawi saja.

Sebagai seorang pengusaha yang sudah terbiasa dengan negosiasi, tentu bukan hal yang sulit bagi Rasulullah saw untuk meluluhkan kabilah tersebut. Akan tetapi hal tersebut tidak beliau lakukan demi menjaga independensi dakwah dan politik Islam.

Khalid Muhammad Khalid dalam 10 Episode Teragung Rasulullah saw mengemukakan alasan di balik ketidaktertarikan Rasulullah saw memperpanjang urusan tersebut dengan kabilah Bani Amir bin Sha’sha’ah ini. Beliau cukup paham bahwa amanah yang beliau emban  terlalu agung untuk berubah menjadi suatu transaksi dan tawar-menawar kekuasaan.

 

The Endless Exam-Reward Cycle

Penulis : Ustadz Nur Fajri Romadhon Lc, Hafizhahullah

Whoever survives and shows his consistency upon Allah’s guidance even in difficult times, would be granted many benefits in this life even before the Hereafter according to several verses.

This pious one will carry off ease in matters, way out of problems and unexpected provision.

For instance, Allah said, “Ask forgiveness of your Lord. Indeed, He is truly Most Forgiver.
He will send (rain from) the sky upon you in (continuing) showers.
And give you increase in wealth and children and provide for you gardens and provide for you rivers.”
[Noah: 10-12]

In meantime, such merits could be sophisticated smartphones, luxury cars, wealth, beauty and other honourable achievements.

But, indeed these rewards later on become other new examinations in different face. And this kind of exam in fact is more effortful than the bitter and painful ones like sickness, poverty or lack of success.

Thus, the cycle is as below:
Exam – Consistency – Reward (next exam) – Consistency – Reward (more difficult exam) – …

or as following:
Exam – Failure – Reward (easier exam) – Consistency – Reward (more difficult exam) – …

This exam-reward cycle will endlessly continue as tests of our lifelong obedience.

Allah said:
“If they remain straight on the way, We would give them abundant provision, as a test for them.”
[Al-Jinn:16-17]

May Allah be with us at every step we take and help us when life gets rough