Manusia tak sempurna, pun dalam beribadah.

Penulis: Mufarrido Husnah,

-Matematika FMIPA UI 2017

 

Bismillahirrahmanirrahim…
Dalam Mukhtashar Minhajul Qashidin karya Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi; bagian seperempat pertama : Ibadah-ibadah; Kitab 4 : Puasa, Rahasia-rahasia, Urgensi, dan Apa yang Berkaitan Dengannya, dijelaskan bahwa dianjurkannya berpuasa lebih ditegaskan di hari-hari yang utama seperti tanggal 13,14, dan 15 dalam setiap bulan, puasa 6 hari di bulan Syawal, puasa Arafah, 10 Dzulhijjah dan Muharram, puasa Senin-Kamis, dan puasa Dawud.

Adapun puasa satu tahun penuh. Hisyam bin Urwah meriwayatkan bahwa bapaknya berpuasa terus menerus dan Aisyah juga melakukannya. Anas bin Malik berkata, “Abu Thalhah berpuasa terus setelah Rasulullah ﷺ wafat selama 40 tahun.”

Dijelaskan selanjutnya dalam kitab ini bahwa barangsiapa diberi kecerdikan, maka dia mengetahui tujuan dari puasa, sehingga dia membawa dirinya dalam kadar yang tidak melemahkannya dari amal yang lebih utama darinya. Ibnu Mas’ud tidak banyak berpuasa, dia berkata, “Bila aku berpuasa, maka aku tidak bisa banyak shalat padahal aku memilih shalat daripada puasa.”

Sebagian dari mereka bila berpuasa, maka dia tidak banyak membaca Al-Qur’an, maka dia jarang berpuasa sehingga mampu membaca Al-Qur’an, dan semua manusia lebih mengetahui kondisi dirinya dan apa yang baik baginya.

Terdapat kisah tauladan menarik dalam perkara ini, tertulis dalam catatan kaki no. 72 yaitu : Ibnu Abdil Barr berkata dalam at-Tamhid, “Al-Umari seorang ahli ibadah menulis surat kepada Imam Malik mengajaknya untuk berkonsentrasi dalam beribadah dan meninggalkan dunia ilmu, maka Imam Malik menjawab suratnya, “Sesungguhnya Allah telah membagi amal sebagaimana Dia telah membagi rizki, ada seorang laki-laki dimudahkan dalam shalat dan tidak dalam puasa . Ada yang lain dimudahkan dalam sedekah dan tidak dalam puasa. Ada lainnya yang dimudahkan dalam urusan jihad dan tidak dalam perkara shalat. Menyebarkan ilmu termasuk perbuatan baik yang mulia, aku menerima apa yang Allah bagikan kepadaku dalam hal ini, menurutku apa yang aku tekuni tidak lebih rendah daripada apa yang engkau tekuni, namun begitu aku berharap kita sama-sama di atas kebaikan dan kemuliaan. Setiap orang wajib menerima apa yang dibagikan kepadanya. Wassalam.”

Begitu elegan kisah ini, menggambarkan ketawadhu’-an seorang Imam Malik. Teladan yang dapat dipetik adalah kebaikan dan kemuliaan tak hanya dipetik dari satu perkara saja. Lakukanlah perkara ibadah yang dimana potensi kita besar untuk itu. Begitulah manusia. Dengan ketidaksempurnaannya, dalam hal ibadah juga belum mampu mencapai kesempurnaan. Sisi baiknya, manusia punya potensi masing-masing dalam dirinya. Dimana potensi tersebut Allah lah yang memberikannya. Potensi yang menjadi pendukung dalam peningkatan ibadah. Memang itu tujuan hidup yang Allah tentukan, yakni ibadah. Allah menciptakan manusia untuk senantiasa beribadah kepada Allah. Allah Yang Maha Pemurah tak lepas memberi kita bekal berupa potensi dalam diri. Mari kita kenali diri kita, kenali potensi diri yang Allah berikan. Beranjak dari sana lah kita bisa jadi muslim yang cerdik dalam meningkatkan ibadah kepada Allah. Wallahu a’lam bishowwab

Hari Solidaritas Internasional Palestina- Bagian III

Penulis :   Gies Andika 

– Psikologi UI 2015

– Mahasantri Rumah Ukhuwwah 2018

 

Lanjutan Bagian III


 

M. Syauqillah

Dosen Kajian Timur Tengah dan Stratejik Universitas Indonesia

 

Negara timur tengah tidak bisa diharapkan seratus persen untuk menyelesaikan konflik Palestina-Israel. Sejak Ustmani jatuh kondisi geopolitik di Timur Tengah menjadi tidak stabil sampai saat ini. Negara-negara ini masih menjadi identitas diri yang sebenarnya.

Mesir mempunyai posisi yang cukup yang bagus, tapi tetap saja masih belum lepas dari kondisi politik dalam negri yang terjadi. Turki yang cukup baik tapi ternyata standing posisinya tidak seperti Indonesia. Dia sangat pragmatis dalam politik luar negri. Arab Saudi sekarang dalam terjepit saat ini. Yordania sebenarnya cukup kuat, namun masalahnya adalah ektremisme dan masih menjadi identitas.

Apa yang bisa dilakukan Indonesia?

  • Dukungan Indonesia tidak bisa di intervensi
  • Tidak terpengaruh interdepedensi terhadap kawasan Timur Tengah
  • Indonesia sebagai negara muslim muslim mayoritas

 

Broto Wardoyo, P.hd

Dosen Hubungan Internasional Universitas Indonesia

 

Dalam literatur akademik awalnya di sebut Bangsa Arab, setelah tahun 1960-70an makan berubah menjadi Bangsa Palestina.

Proses perdamaian ada 3 :

  1. Land for Peace
  2. Peace for peace
  3. No peace at all

 

Strategi negosiasi

  • The many legs of negotiation
    • Jerussalem : Urusan Supranatural
    • Refuge : Identitas, Attachment

 

Ada 3 pendekatan Palestina

  • Bersenjata (Hamas dan Jihadis lain)
  • Perdamaian (PLO)
  • PBB (Multilateral Approach)

Namun ketiga pendekatan ini menyebar tidak koheren satu sama lain. Mestinya tiga pendekatan itu harus bersatu.

Kemudian Internal isu di Palestina

  • Hamas vs Fatah (internal rivalries)
    • Palestina diluar negri seringkali hanya diwakilkan oleh Fatah
  • Rule nya tidak jelas
    • Palestina adalah negara demokrasi
  • Kapasitas institusi rendah
    • Ini diakibatkan oleh pendanaan yang sangat terbatas

Where do we stand?

  • Negosiasi
  • PBB harus dimaksimalkan untuk kebijakan
  • Investasi ekonomi

Indonesia selalu mendukung Palestina untuk masuk PBB. Kadang seringkali kita mendebatkan mendukung Palestina karena isu agama atau nasionalisme. Keduanya tidak masalah karena tujuan kita adalah mendukung kemerdekaan Palestina.

 


 

Kamis, 29 November 2018

Balai Sidang Universitas Indonesia

Notulensi oleh : Gies Andika

 

 

 

Hari Solidaritas Internasional Palestina- Bagian II

Penulis :   Gies Andika 

– Psikologi UI 2015

– Mahasantri Rumah Ukhuwwah 2018

 

Lanjutan Bagian II


 

Hajriyanto Y Thohari

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah

 

Kegiatan ini memberi makna simbolik. Simbolik yang dimaksudkan, acara ini merupakan perwujudan dari dukungan yang secara tradisional telah ada sejak lama dari awal kemerdekaan republik ini. Bung Karno adalah sosok yang secara vokal mendukung kemerdekaan Palestina.

 

Rakyat Indonesia memiliki sensitifitas yang sangat tinggi terhadap permasalahan Palestina ini. Namun beberapa waktu belakangan ini mengalami penurunan menurut saya. Alasannya Pemerintah relatih berhasil mengelola isu ini dengan baik untuk mengambil alih yang sebelumnya dilakukan masyarakat secara langsung sehingga masyarakat merasa terwakili atas peran yang dilakukan oleh pemerintah sekarang.

 

Isu Palestina merupakan isu politik utama dalam kebijakan luar negri Indonesia. Banyak lingkaran yang bisa ditempuh melalu jalur diplomasi oleh pmerintah. Seperti ASEAN, yang mana Indonesia merupakan negara paling besar seharusnya mampu meleading isu Palestina ini di tingkat ASEAN. Ada OKI, ASIA.

Menurut saya, kondisi OKI sekarang sedang lumpuh. Tidak berdaya. Alasannya karena tulang punggung dari OKI yaitu Saudi Arabia yang juga sedang banyak masalah yang dihadapi oleh negaranya. Kemudian Liga Arab juga gagal mengakomodasi konflik-konflik yang ada di Timur Tengah. Lingkaran terbesar yang bisa dilakukan adalah ke PBB.

Indonesia harus tetap kokoh dengan posisi dukungannya untuk Palestina karena berangkat dari amanah konstitusi.

 

Menurut saya, Indonesia sekarang harus memberi dukungan yang disebut dukungan teknoratis. Selama ini dukungan kita sarat akan dukungan politik dan ideologis. Dukungan teknoratis itu berupa dukungan ekonomi, penguatan SDM. Untuk mendukung secara teknoratis dibutuhkan dana anggaran yang besar sehingga butuh di anggarkan dari APBN. Mengingat masalah yang dialami oleh Palestina semakin berat dan mengkhawatirkan.

 

Belakangan ini ada perubahan dukungan dari beberapa negara,  yang awalnya mendukung Palestina menjadi tidak mendukung lagi. Ini karena pragmatisme politik luar negri. Ini juga disebabkan negara liga arab yang juga tidak membaik dan penuh dengan konflik sehingga isu Palestina teralinasi atau dikesampingkan. Bahkan ada pernyataan menarik “Jangan lebih Arab dari negara Arab”, maksudnya banyak negara arab sendiri yang tidak terlalu peduli dengan Palestina, lalu kenapa negara non arab harus lebih peduli.

Diperlukan nafas panjang, konsistensi dan semangat juang yang tinggi untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

 

H.M Imdadun Rahmat, M,si

Direktur Said Aqil Siradj Institute (SAS Institute)

 

Yang di gali dalam sesi ini adalah Human Right (HAM). Bahasa yang paling efektif untuk mendukung Palestina adalah Bahasa Human Right. Laporan UNHCR (Lembaga PBB terkait permasalah pengungsi) Kondisi di Palestina adalah kondisi terburuk berkaitan dengan Human Right. Dalam sejarah ada dua kondisi permasalahan Human Right terparah yaitu Apherteid dan Penjajahan Palestina. Namun sekarang, Palestina the only one dengan kondisi HAM terburuk. Isu ini perlu dikampanyekan untuk mempengaruhi kebijakan PBB. Human Right harus menjadi salah satu pilar.

Adapun berbagai pelanggaran HAM diantaranya :

  • Menggunakan kekuatan dan koersif
    • Penduduk palestina dilarang berorganisasi, demonstrasi, menulis. Setiap ada aksi maka responnya dengan alat-alat mematikan
  • Praktek penangkapan sewenang-wenang
    • Penangkapan dan penyiksaan disaksikan oleh keluarganya. Sehingga banyak anak-anak trauma melihat ayaha atau saudaranya ditangkap dan disiksa
  • Perusakan properti
    • Setiap ada satu warga palestina kejahatan terhadap israel maka yang menjadi korban adalah satu keluarga, tidak hanya individu pelakunya. Bahkan rumahnya juga dihancurkan oleh Zionis Israel.
  • Anak-anak diperlakukan sama kejamnya dengan orang dewasa
  • Hukuman banyak yang merendahkan martabat, termasuk pelecehan seksual
  • Pelanggaran terhadap penduduk asli
  • Policy atas nama mengamankan pemukiman Yahudi
    • Dibangunkan tembok yang sangat tinggi mengelilingi perkampungan warga Palestina. Sehingga melumpuhkan sendi kehidupan Palestina seperti ekonomi, susa perizinan, bahkan ambulan pun susah sehingga dalam darurat banyak sekali yang meninggal sebelum ditangani medis karena lamanya proses perizinan ambulan
  • Pola sistematik pengusiran warga palestina
    • Di Yerussalem Timur ada kebijakan yang awalnya 70 dan 30, maksudnya dalam wilayah tersebut terdiri dari 30% penduduk Palestina dan 70% Yahudi. Namun sekarang Zero Persen berlaku, orang Yahudi tidak boleh disana.
  • Hak beragama
    • Mendapatkan hambatan untuk beribadah
    • Islam dan kristen di perkusi
  • Larangan ibadah haji bagi pengungsi
    • Kebijak bersama antara Arab Saudi dan Israel melarang pengungsi Palestina untuk ibadah haji kecuali mereka pindah kewarganegaraan. Politik licik ini bertujuan agar semakin berkurang penduduk Palestina.

 

 


Kamis, 29 November 2018

Balai Sidang Universitas Indonesia

Notulensi oleh : Gies Andika

 

 

Hari Solidaritas Internasional Palestina- Bagian I

Penulis :   Gies Andika 

-Psikologi UI 2015

– Mahasantri Rumah Ukhuwwah 2018

 

 

Sesi Panel

Soeripto, S.H.

Ketua Umum Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP)

 

Ada tiga masalah utama yang paling di soroti terkait konflik Palestina-Israel saat ini. Adapun masalah tersebut antara lain :

1 . Tawanan dan Tahanan

Ada sekitar 5000 penduduk Palestina ditawan dengan tidak jelas alasan penangkapannya. Beberapa tahanan di hukum sampai 200 tahun penjara artinya ini lebih kejam dari seumur hidup karena umur manusia tidak mencapai sebanyak itu. Selain itu, banyak juga anak-anak, perempuan yang di tawan oleh pihak Israel.

2.  Kekerasan

Di wilayah Tepi Barat terjadi kekerasan yang sangat kejam dan keji. Tidak berperikemanusiaan, banyak siksaan yang sudah tidak kita terima secara manusiawi. Di Jalur Gaza banyak terjadi serangan-serangan dasyat yang dilakukan oleh Israel. Permasalahan ini bagaimana carannya bisa sampai di PBB agar dapat mempengaruhi kebijakan yang dikeluarkan oleh PBB sehingga keputusan yang dikeluarkan tidak hanya resolusi tapi berupa sanksi kepada Israel.

3. Blokade

Blokade masih dilakukan oleh pihak Israel. Perbatasan Gaza-Mesir dilakukan blokade bersama Pemerintah Mesir selama 12 tahun terakhir terutama dalam hal air minum dan listrik. Sehingga mereka kesulitan air minum dan listrik.

Saya kira solusi konkret yang bisa dilakukan adalah membentuk Lembaga Persahabatan Indonesia-Palestina. Lembaga khusus untuk melakukan hal-hal nyata agar dapat membantu perjuangan rakyat Palestina. Contoh programnya, bisa mengirimkan para psikolog ke Palestina untuk melakukan riset tentang trauma yang di alami anak-anak. Disana banyak sekali anak-anak yang trauma akibat perlakuan dari tentara Israel.

 

  • Sunarko

Direktur Timur Tengah Kementrian Luar Negri Republik Indonesia

Lembaga-lembaga internasional juga sedang merayakan Hari Solidaritas ini. Dukungan total dari seluruh elemen masyarkat Indonesia tiga sampai empat tahun terakhir untuk perjuangan Palestina sangat intensif. Indonesia menempatkan Isu Palestina-Israel sebagai Isu Utama politik Luar Negri.

Mengapa Isu Palestina menjadi isu utama Indonesia?

  • Merupakan amanat UUD 1945

Terdapat dalam aliniea 1

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”

 

Dan alinia ke 4

“Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

 

  • Hubungan Historis dengan Palestina

Negara-negara Arab merupakan yang awal dalam mengakui kemerdekaan Indonesia. Termasuk Palestina

  • Sejak KAA 1955, Palestina negara satu-satunya yang belum merdeka

 

  • Karena Palestina Organisasi Kerjasama Islam (OKI) berdiri

Berdirinya OKI dipicu oleh dibakarnya Masjidil Aqsha oleh Israel. OKI merupakan pilar negara islam terdiri dari 57 anggota negara Islam.

 

 

Strategi dukungan Indonesia

  • 60 tahun KAA menghasilkan Deklarasi Pengakuan Palestina
  • KTT Luar Biasa OKI menghasilkan Deklarasi Palestina (2016)
  • Konferensi Internasional dukungan khusus kerjasama bidang teknik 2017
  • Selain itu, Indonesia telah banyak menyelenggarakan Program Capacity Building untuk penduduk Palestina di seluruh negara. Sudah sebanyak 1887 yang telah ikut program pembinaan diri tersebut.
  • Menggalang dukungan Pekan Solidaritas Palestina 12-18 Oktober 2018
  • Indonesia memberikan dukungan nyata di Yordania, Syuria, Libanon.
  • Membangun Rumah Sakit yang beroperasi di Gaza
  • Sejak Januari 2019 secara resmi Indonesia merupakan Anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Indonesia juga akan memberikan dukungan di bidang ekonomi dengan mengeluarkan kebijakan Zero Tarif untuk produk Palestina agar bisa masuk ke Indonesia.

 

 

 


Kamis, 29 November 2018

Balai Sidang Universitas Indonesia

Notulensi oleh : Gies Andika

 

Hari Solidaritas Internasional Palestina

Penulis :   Gies Andika 

-Psikologi UI 2015

– Mahasantri Rumah Ukhuwwah 2018

Keynote Speech

H.E. DR. Zuhair Al-Shun

Duta Besar Palestina untuk Indonesia

Cerita di palestina ada yang menyedihkan, ada pula yang membahagiakan. Kami sangat terbantu dengan hadirnya pemerintah Indonesia yang selalu mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina. Pada tahun 1977, PBB membagi wilayah palestina menjadi dua bagian yaitu Palestina itu sendiri dan negara Israel. Pembagian tersebut tanpa meminta pendapat rakyat Palestina. Semua itu dilakukan secara sepihak oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Sejak 2012 lalu, Palestina di akui menjadi anggota tidak tetap PBB. Dalam pidatonya, Al-Shun juga menyampaikan tekadnya bahwa sebesar apapun perlawanan yang akan dihadapi, kami akan tetap berjuang membentuk negara Palestina yang merdeka dan Yerussalem Ibu Kotanya. Hari Solidaritas ini juga merupakan  kesempatan kami untuk menyampaikan ke dunia internasional bahwa permasalahan Palestina belum selesai. Rakyat Palestina membutuhkan hari solidaritas seperti yang dilakukan hari ini.

Beliau juga menyampaikan kondisi terkini di Palestina. Saat ini, proses politik di Palestina sedang membeku atau stagnan. Penyebabnya adalah Israel yang menolak untuk berdamai dengan palestina. Mereka terus mengepung wilayah Palestina. Dengan ini, mereka sendiri yang menggagalan perdamaian yang sudah disepakati bersama.

Kita telah menyaksikan bagaimana kebijakan Presiden Amerika Serikat, Donal Trump yang memindahkan ibukota Israel ke Kota Yerussalem. Keputusan ini adalah pelanggaran keras terhadap peraturan, kesepakatan, dan perjanjian internasional. Kami menolak pemindahan secara sepihak yang dilakukan AS tersebut.

Kami tidak mempermasalahkan agama Yahudi. Yang menjadi musuh kami adalah Zionis Yahudi. Penduduk Palestina saat ini terdpat 6 Juta di dalam negri dan 6 juta menyebar di seluruh dunia mengungsi.

Hubungan Palestina dengan Indonesia sangat istemewa dan spesial. Terima kasih Indonesia atas dukungan berkesinambungan untuk rakyat Palestina.

 


Kamis, 29 November 2018

Balai Sidang Universitas Indonesia

Notulensi Oleh : Gies Andika

 

Kajian alumni pesan: Minhaj Ath-Thoolibiin – Bab Zina

Disampaikan oleh:   Ustadz Nur Fajri Romadhon, Lc.
Ditulis oleh:  Gifar Rabakhir 

18 Nopember 2018

—————————————————————————————

 

Muhson : Mukallaf, Hurr (merdeka), memasukkan hasyafahnya di dalam qubul, dalam nikah yang sah
*Pendapat ashoh: memasukkannya saat dia merdeka dan mukallaf
**Jika sudah memenuhi 4 syarat, termasuk kamil. Jika sudah memenuhi kamil dan melakukannya dengan wanita yang tidak memenuhi syarat, dia tetap muhson (pendapat al-ashoh) -> lelaki dirajam, wanita dicambuk 100x dan diasingkan 1 tahun

Hukuman gadis merdeka: diasingkan 1 tahun (berturut-turut; tidak boleh dicicil) sejauh jarak qasar (jarak safar: 88 km) – > jika justru melakukan hal lebih buruk, dipenjara
*Dalam pendapat ashoh, jika sudah ditentukan suatu tempat, tidak boleh memilih tempat lain
+حقوق الله مبنيّة على المسامحة (ketetapan-ketetapan Allah berasal dari kelonggaran)
**Perantau tidak boleh diasingkan ke tempat asalnya
+Hikmah diasingkan agar pelaku mampu bermuhasabah dan merasakan bagaimana perihnya kesepian

Untuk perempuan, bisa diasingkan bersama suaminya atau mahromnya (jika tidak mau, tidak dipaksa; hakim bisa memberi solusi untuk perempuan lain menemani)

Budak mendapat hukuman 50x cambuk (boleh dihukum langsung oleh tuannya) dan diasingkan setengah tahun (pendapat Imam Syafi’i – qowlan- tetap setahun; qiyash terhadap ila; bahkan ada pendapat – qowlan- lain, ia tidak diasingkan)

Hukuman zina berlaku dengan bukti atau satu kali pengakuan
*Jika membatalkan pengakuan, maka batal juga hukuman zinanya
**Jika kabur, tidak dianggap rajam dan tetap dilanjut lemparan batunya

Jika ada satu perempuan yang diberi persaksian oleh 4 laki-laki jika dia berzina dan diberi persaksian oleh 4 perempuan jika dia masih gadis, yang diterima adalah persaksian perempuan – > perempuan yang dituduh tidak diberi hukuman zina, 4 laki-laki yang menuduh tidak diberi hukuman qadzhaf
*Jika 4 orang bersaksi zina, tapi salah seorang bersaksi dengan tempat yang berbeda yang dituduh tidak dihukum zina, tetapi yang menuduh mendapat hukuman qadzhaf

Yang memberi hukuman adalah imam, yaitu pemimpin tertinggi atau hakim atau algojo dan semisalnya (jika pelaku merdeka)
*Jika budak boleh dihukum oleh tuannya (budak mukatab dihukum oleh imam)
**Jika tuannya adalah orang fasik atau budak mukatab pelaku dihukum oleh imam

Rajam dilakukan dengan madar (tanah yang dibuktikan) atau batu ukuran sedang
*Laki-laki tidak dimasukkan ke dalam lubang
**Perempuan yang berzina dan dipersaksikan 4 orang disunnahkan dipendam tubuhnya ke dalam tanah saat dirajam
***Rajam tetap dilakukan meskipun sedang sakit, sedang cuaca panas sekali, ataupun cuaca dingin sekali
**Hukuman cambuk disunnahkan untuk ditunda jika sedang sakit atau cuaca panas sekali atau dingin sekali- > jika sakit parah dipukul dengan cara yang sama seperti Nabi Ayyub
***Jika imam melanggar dan menyebabkan pelaku mati, imam tidak menanggung kematiannya

NB: catatan ini ditulis ulang dengan segala kekhilafan pencatat. Semoga Allah mengampuni saya untuk kesalahan-kesalahan pencatatan yang terdapat dalam catatan ini

Review Buku Kitaabul ‘ilmi Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin

 

Menuntut ilmu, jalan menuju surga

Bismillahirrahmanirrahim

Seorang penuntut ilmu adalah seorang pengembara yang sedang menempuh sebuah perjalanan. Bagi orang-orang yang diberikan hidayah, tujuan akhir dari perjalanan tersebut sudah semakin jelas tergambar. Sebuah tempat yang tidak ada lagi kematian dan kesedihan di dalamnya. Segala kenikmatan yang belum pernah ada semasa hidup telah Allaah janjikan melalui banyak firman-Nya. Namun jalan manakah yang harus dipilih ketika menemui persimpangan jalan? Apa yang harus dilakukan ketika dihadapkan pada berbagai rintangan? Kapankah waktu yang tepat untuk berjalan pelan, berlarian kecil, atau sekedar beristirahat melepas penat di bawah pohon yang rindang?

Semakin banyaknya majelis ilmu dengan berbagai metode dan sarana penyampaian  memudahkan para penuntut ilmu dalam berburu manisnya ilmu. Khususnya bagi orang-orang awam yang tidak memiliki latar belakang pendidikan formal di sekolah agama atau keluarga yang agamis. Semua orang kini memiliki kesempatan yang sama dalam proses mendalami ilmu syar’i. Namun layaknya dalam sebuah perjalanan, kita mesti memerhatikan berbagai rambu yang ada di sepanjang jalan. Buku yang akan dibahas selanjutnya dapat membantu kita untuk mengenal berbagai rambu dan etika dalam menempuh perjalanan menuntut ilmu.

Kitaabul ‘Ilmi merupakan salah satu dari banyak karya Syaikh Shalih al-‘Utsaimin yang memberi makna tersendiri di hati para penuntut ilmu. Buku ini tidak hanya berisi berbagai definisi, hukum-hukum, serta cara-cara dalam menuntut ilmu. Kita sebagai pembaca diajak untuk berpikir lebih dalam bagaimana keterkaitan antara hal tersebut dengan berbagai permasalahan yang riil terjadi di kehidupan sehari-hari. Hal ini semakin memudahkan kita dalam menyikapi berbagai dinamika yang terjadi dalam kehidupan. Maka membaca buku ini sekali tidak akan cukup karena pada kali kedua dan ketiga kita membacanya, semakin banyak keutamaan yang sebelumnya tidak kita perhatikan.

Salah satu contoh ketika Syaikh menuliskan tentang perselisihan pendapat yang sudah terjadi sejak jaman Para Sahabat. Masalah yang diperselisihkan adalah masalah yang dibolehkan berijtihad di dalamnya -seperti masalah bersedekap setelah bangkit dari rukuk-, bukan terkait masalah-masalah ‘aqidah , maka Syaikh menuliskan:

Hal ini tidak boleh kita jadikan sebab terjadinya permusuhan dan perpecahan antara ahli ilmu. Kita melihat bahwa perbedaan paham tidak harus menyebabkan manusia saling membenci dan mencela kehormatan saudaranya.

Maka setiap penuntut ilmu wajib menjadi saudara sekalipun mereka berbeda pendapat dalam beberapa masalah furu’. Setiap orang harus memanggil pihak lain dengan lembut dan berdialog yang ditujukan untuk menggapai wajah Allah dan mencapai ilmu.

Jika hanya jika banyak penuntut ilmu mengetahui dan mengamalkan isi dari buku ini, maka perdebatan panjang di media sosial dan kejadian saling tuding-menuding kesalahan sesama muslim tidak akan tumbuh subur. Buku ini juga memuat 119 pertanyaan yang diajukan orang-orang kepada Syaikh terkait berbagai masalah mengenai perjalanan menuntut ilmu dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya ketika penuntut ilmu menemui kesulitan menetapkan niat ikhlas semata untuk Allah namun terbayang-bayang tujuan lain seperti mendapatkan ijazah, masalah taqlid bagi penuntut ilmu yang pemula, menyikapi adanya perbedaan diantara para asatidz, penyikapan masalah tahdzir yang terjadi, dan hal-hal lainnya.

Jika pembaca adalah seorang yang suka untuk menandai kalimat-kalimat yang penting, niscaya bukunya akan penuh dengan berbagai garis bawah dan coretan karena setiap kalimat memiliki makna yang mendalam. Sulit untuk memilih mana yang lebih penting diantara yang lainnya. Menyelesaikan buku ini hanya satu kali rasanya tidak akan cukup. Bahkan buku ini semakin memikat meski sudah berulang-ulang dibaca karena semakin banyak faidah baru yang ditemukan.

Apakah di Serambi Masjid Dilarang Berjualan?

Penulis: Nur Fajri Romadhon

Anggota Komisi Fatwa MUI Provinsi DKI Jakarta & anggota Majelis Tarjih & Tajdid Muhammadiyah Kota Depok)

 

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
إذا رأيتُم من يبيعُ أو يبتاعُ في المسجدِ، فقولوا : لا أربحَ اللهُ تجارتَك
“Jika kalian melihat orang membeli atau menjual di masjid, maka katakanlah kepada mereka: Semoga Allah tidak memberikan keuntungan pada perdaganganmu.”
[Hr. At-Tirmidzi (2/139)]

Mayoritas ulama menyatakan bahwa hadis di atas menunjukkan makruhnya jual-beli di dalam masjid [lihat Fathul Qadir (2/112), Jawahirul Iklil (2/203), Al-Majmu (2/203), & Al-Mughni (2/202)]. Yang memalingkan larangan pada hadis di atas dari pengharaman menjadi pemakruhan ialah ijma ulama yang dinukilkan oleh Al-Hafidzh Al-Iraqi
[Nailul Authar (2/185)] dan Imam Al-Mardawi [Al-Inshaf (3/347)] bahwa jual beli tersebut bagaimanapun tetap sah.

Adapun jual-beli di teras dan serambi masjid, maka selama tidak mengganggu masjid dsri sisi kebisingan dan kebersihan, mayoritas ulama tidak memasukkannya ke dalam konteks larangan jual-beli di masjid yang hukumnya makruh tadi [lihat Hasyiyah Ibn Abidin (1/343), Hasyiyah Ad-Dasuqi (2/190), Al-Inshaf (3/258)] Pendapat ini juga didukung Fatwa Majelis Ulama Indonesia Pusat No. 34 tahun 2013 bahwa hukum pemanfaatan area masjid untuk kegiatan sosial yang bernilai ekonomis, terlebih membawa maslahat bagi masjid, adalah boleh. MUI Pusat mensyaratkan bahwa yang dijual-belikan tidak terlarang secara syar’i, senantiasa menjaga kehormatan masjid, dan tidak mengganggu pelaksanaan ibadah.

Di antara dalilnya ialah hadis Ibnu Abbas
أمر رسول الله بالرجم عند باب مسجده
Nabi memerintahkan pelaksanaan rajam dilangsungkan di dekat pintu masjid Nabawi.
[Hr. Ahmad (5/261)]

Padahal Nabi sendiri yang juga bersabda:
لا تقام الحدود في المساجد
Tidak boleh menegakkan hukuman hudud (termasuk rajam -pent) di masjid.”
[Hr. At-Tirmidzi (4/12)]

Itu berarti bagian luar masjid meski dekat pintu, hukumnya sudah berbeda.

Juga hadis Aisyah
“كن المعتكفات إذا حضن أمر رسول الله صلى الله عليه وسلم بإخراجهن من المسجد، وأن يضربن الأخبية في رحبة المسجد حتى يطهرن”
“Dahulu jika para peserta itikaf wanita sedang haid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan mereka keluar dari masjid dan membuat tenda di serambi masjid sampai mereka suci dari haid.”
[Hr. Ibnu Baththah, dinilai hasan oleh Imam Ibnu Muflih dalam Al-Furu’ (5/167)]

Ini menunjukkan bahwa serambi masjid hukumnya beda dengan hukum masjid. Wanita haid tidak boleh stay di dalam masjid. Jika seandainya serambi masjid hukumnya sama dengan masjid, tidak perlu para “akhawat” tersebut Nabi shallallahu alaihi wasallam suruh ke serambi. Jika ada yang menyanggah dengan mengatakan, “Itikaf pun tidak bisa kecuali di masjid,” maka kita jawab bahwa tidak ada perintah itikaf di serambi masjid. Mereka di sana bukan untuk itikaf, tetapi agar tetap mendapatkan semangat beribadah, berbeda kalau justru pulang ke rumah.

Dalam Al-Muwaththa’ juga disebutkan bahwa Amirul Mukminin Umar ibnul Khaththab membangun serambi masjid berukuran kecil. Lalu beliau bertitah:
من كان يريد أن يلغط أو ينشد شعراً أو يرفع صوته فليخرج إلى هذه الرحبة
“Barangsiapa ingin bercanda gaduh, menyenandungkan syair, atau mengeraskan suara, hendaklah ia keluar dari masjid dan melakukannya di halaman ini.”
[Hr. Malik (1/173)]

Ini juga menunjukkan fahmush shahabah (pemahaman shahabat) bahwa hukum serambi masjid beda dari hukum masjid.

Dalil lain adalah amalan shahabat, di mana Abu Hurairah pernah melihat sekelompok orang duduk di serambi bersiap mendengarkan khutbah Jumat sementara masjid masih banyak ruang lowong. Beliau berkata:
ادخلوا المسجد، فإنه لا جمعة إلا في المسجد
“Ayo, masuklah ke dalam masjid. Karena tidak sah shalat Jumat kecuali di masjid.”
[Hr. Ibnu Abi Syaibah (2/614)]

Sekali lagi ini menunjukkan bahwa serambi masjid tidak dihukumi sama seperti bagian dalam masjid. Jika ada yang mengritik dengan mengatakan, “Bukankah jika masjid penuh, salat Jumat pun sah di serambi masjid?” Kita jelaskan bahwa itu hukum darurat saat penuh saja. Bahkan jika penuh, parkiran, bahkan jalanan pun sah untuk salat Jumat, padahal kita sepakat bahwa jalanan di luar pagar masjid pun hukumnya sudah bukan lagi masjid.

Wallahu a’lam.


Sebagai jawaban pribadi atas pertanyaan saudara-saudari dari MII FMIPA UI