Benarkah Al-Qur’an Hasil Pemikiran Muhammad ?

 

Al-Qur’an

Penulis : Ustadz Nur Fajri Ramadhan

@nf_rom
8 Okt 2010

Kitab suci umat Islam yang terkenal dengan sebutan Al-Qur’an ini sungguh sangat menakjubkan. Bahasanya sangat indah, padahal ia bukan syair. Diksinya bagus, padahal ia bukan puisi. Kisah-kisah di dalamnya valid, padahal ia bukan ensiklopedi sejarah. Rev R Bosworth, seorang orientalis, dalam bukunya Muhammad and Muhammadanism menyebutnya sebagai “… a miracle of purity, style, wisdom, and truth..”. Kitab ini juga dihafal oleh jutaan orang di seluruh dunia dari masa ke masa selain juga dikhatamkan berkali-kali. Bila ditilawahkan sungguh merdu didengar. Pokoknya kalau tulisan ini ditujukan untuk menyebutkan keistimewaan Al-Qur’an saja, tidak akan cukup! Lalu, siapakah gerangan yang telah mampu menghadirkan mukjizat luar biasa ini?

 

Dalam Al-Qur’an langsung didapat jawaban tegas atas pertanyaan tersebut dalam surat yang sudah sering kita baca, ” Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya kitab suci (Al-Qur’an)…“ (Al-Kahf:1). Juga di surat Al-Insan yang sama-sama sering dibaca di hari jum’at,Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an kepadamu dengan berangsur-angsur.” (Al-Insan:23). Jadi Al-Qur’an adalah wahyu dari Allah Rabb semesta alam.

 

Akan tetapi bersamaan dengan itu masih saja ada pihak-pihak yang tidak mempercayai akan hal ini. Mereka mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah hasil pemikiran dan gubahan sang Rasul, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan firman Allah Yang Maha Pengasih. Di antara yang berpendapat demikian adalah orang-orang musyrik Quraisy dahulu dan kalangan orientalis seperti Julius Wellhausen, Dr Bruce, dan lain-lain. Allah ‘azza wa jalla telah menyebutkan klaim mereka dalam firman-Nya, “Dan orang-orang yang kafir berkata, ‘ Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad dan dia dibantu oleh kaum yang lain’. Sungguh mereka telah berbuat suatu kedzhaliman dan dusta yang besar.“ (Al-Furqan:4)

Dengan mengemukakan alasan-alasan yang rapuh mereka berusaha memutarbalikkan fakta sehingga kitab suci ini tidak “suci“ lagi karena ia ternyata hanya hasil pemikiran seorang anak Adam, bukan firman Tuhan. Selanjutnya agama Islam yang berlandaskan dengan Al-Qur’an pun menjadi sama kedudukannya dengan produk-produk pemikiran manusia lain macam Marxisme, Fasisme, dst. Jadi kalau syariat Islam bertentangan dengan kepentingan mereka, dengan mudahnya bisa diabaikan, digugat, atau malah `diamandemen`. Inilah tujuan mereka sebenarnya.

Namun sudah merupakan sunnatullah, setiap penentang Allah `azza wa jalla pasti tidak akan berhasil. Klaim batil kaum penentang itu termentahkan dengan beberapa bukti bahwasanya:

 

Pertama: Nabi Muhammad –dengan penuh penghormatan kepada beliau- adalah seseorang yang buta aksara. Hal ini tampak dari sejarah kehidupan beliau dan juga disebutkan dengan tegas dalam banyak ayat di al-Qur’an, misalnya Al-’Ankabut :48 dan Al-A’raf:157-158. Di sisi lain Al-Qur’an merupakan suatu mukjizat yang menandingi sastra Arab pada waktu itu. Kita tahu bahwa pada abad 5-7 Masehi sastra Arab telah berada pada masa keemasannya dan belum tercampuri vocab bahasa-bahasa asing. Setiap tahunnya di Mekkah juga digelar semacam festival sastra yang diperlombakan di sana syair-syair dari berbagai kabilah. Di antara sastrawan ulung yang terkenal Qais bin Sa’idah, Aktsam bin Shaifi, dan Al-Walid bin Mughirah. Maka merupakan kemustahilan kalau seseorang yang sejak kecil tidak pernah belajar baca-tulis apalagi kuliah jurusan sastra Arab tiba-tiba pada usia 40 tahun menghasilkan sesuatu yang membuat para sastrawan sendiri terkagum-kagum serta tak mampu membuat yang semisalnya.

Lebih istimewa lagi, ayat Al-Qur’an yang beliau bacakan tidak berbeda dari masa ke masa. Padahal sulit bagi seseorang untuk mengucapkan sesuatu persis seperti apa yang diucapkannya sebelumnya, apalagi dalam tempo waktu yang lama. Mesti ada perubahan karena lupa misalnya. Belum lagi melihat kenyataan bahwa Al-Qur’an tidak `terbit` sekaligus, tapi berangsur-angsur dalam kurun kurang lebih 22 tahun. Terkadang secara insidental, terkadang juga Allah ta’alaa menurunkannya begitu saja, tanpa ada faktor. Tapi lihat, Al-Qur’an yang beliau baca dari sholat ke sholat tetap itu-itu juga, persis seperti yang kita baca sekarang ini, tanpa ada perubahan “dan“ menjadi “atau“, “kaum“ menjadi “umat“, atau perubahan semisalnya.

Kedua: Dalam agama Islam, selain Al-Qur’an ada yang namanya hadits Qudsi, dan hadits Nabawi, kedua-duanya biasa disebut hadits saja. Masing-masing mempunyai gaya bahasa yang khas, berbeda satu dengan lainnya. Dengan mudah kita bisa membedakan antara Al-Qur’an, hadits Qudsi, dan hadits Nabawi dengan memperhatikan model penuturannya, coba saja bandingkan Al-Qur’an dengan sebuah buku kumpulan hadits berjudul Riyadhush-Shalihin misalnya. Perbedaan ini terjadi karena Al-Qur’an adalah firman Allah Yang Maha Esa sedangkan hadits adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seandainya Al-Qur’an adalah buatan Muhammad, tentu ada kesamaan gaya bahasa dari ketiganya karena authornya sama. Merupakan hal yang maklum bahwa sejenius apapun seorang sastrawan, selalu ia memiliki gaya bahasa khas yang hampir selalu tampak pada setiap karyanya, karena yang menulis semua karyanya ya dia-dia juga. Bagaimana pula kasusnya kalau ini terjadi pada seorang yang tidak pernah memperdalam sastra?

Ketiga: Al-Qur’an memuat kisah-kisah tentang orang-orang terdahulu, hukum-hukum ibadah dan sosial, keadaan di hari akhir, serta fakta-fakta ilmiah yang belum terjamah intelektualitas bangsa Arab waktu itu. Rasionalkah bahwa seseorang yang tidak pernah mengenyam pendidikan ini telah menulisnya? Darimana ia tahu tentang proses perkembangan embrio dalam janin? Darimana ia mengetahui bahwa semakin tinggi suatu dataran dari permukaan laut, volume udaranya semakin sedikit? Kisah-kisah tentang orang-orang terdahulu pun diceritakan dalam metode yang berbeda dengan kitab suci sebelumnya, Injil dan Taurat.Hukum yang ada pun lebih adil dan lengkap dari hukum buatan manusia lainnya semisal buatan Hammurabi. Sekali lagi, mungkinkah seorang Muhammad menulisnya dengan penuh ketelitian sampai tidak terdapat satu kesalahan pun? Ataukah ia mendapatkan info tersebut melalui wahyu Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu?

 

Keempat: Dalam kehidupan manusia siapa sih yang tidak mau disebut dan dipuji sebagai seseorang yang telah menghasilkan sebuah karya agung nan menakjubkan atau punya pemikiran cemerlang? Bahkan terkadang untuk memperoleh kehormatan tersebut seseorang sampai mengklaim karya orang lain sebagai karyanya? Al-Qur’an jelas merupakan mukjizat tiada tanding, lalu kenapa beliau tidak mengatakan bahwa Al-Qur’an itu merupakan masterpiece dan hasil pemikiran beliau sehingga semakin tenar sajalah beliau? Yang ada justru beliau enggan menisbatkan Al-Qur’an kepada dirinya bahkan mengatakan: anzalahulladzii ya’lamus sirra fis samaawaati wa maa fil ardhi (Al-Furqan:6), “Al-Qur’an itu diturunkan oleh Allah yang Maha Mengetahui semua rahasia di langit dan bumi! “

Bahkan agar ia bisa menguasai Arab – seperti yang dituduhkan beberapa orientalis-, kenapa beliau tidak berkompromi saja dengan kaum Quraisy, misalnya dengan membolehkan menyembah berhala dalam Al-Qur’an yang merupakan `kreasinya`? Atau kenapa beliau di dalam `karyanya` ini tidak memuji kepercayaan Trinitas dan Zoroaster yang menjadi agama beberapa imperium besar waktu itu, semisal Romawi, Abbesinia, dan Persia, sehingga mendapat dukungan dari luar? Semua itu tidak beliau lakukan karena memang Al-Qur’an itu hanya wahyu dari Allah dan beliau cuma menyampaikan saja. isi di luar tanggung jawab percetakan, istilahnya begitu seperti disebut di beberapa koran dan majalah.

 

Beliau shalallahu `alaihi wa sallam sampai rela diusir oleh musyrikin Quraisy dari tanah kelahirannya, Mekkah, karena tetap teguh mendakwahkan pengesaan Tuhan. Ja’far bin Abi Thalib, pemimpin kafilah hijrah pertama, tetap membacakan surat Maryam yang berisi hakikat Rasul-Nya, Isa `alaihissalam, tanpa ragu di hadapan Negus, pemimpin Abbesinia, yang beragama Nasrani. Surat yang dibawa kepada Kisra dan Heraklius pun berisi ajakan untuk mengesakan Allah Yang Maha Kuasa, bukan tawaran untuk berkoalisi menguasai Arab. Allah berfirman:

 

Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami itu berkata, `Datangkanlah Al-Qur’an yang lain dari ini atau gantilah ia`. Katakanlah wahai Muhammad: `Tidaklah patut bagiku menggantinya menurut kehendakku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku terhadap siksa hari yang besar (kiamat)`. (Yunus:15)

Kelima: Bahkan ada beberapa tempat dalam Al-Qur’an yang beisi kritik tegas terhadap Muhammad, misalnya di awal surat `Abasa dan At-Tahrim, kemudian di At-Taubah:43 dan 113, Ali `Imran:61, Al-Anfal:67-68, Al-Kahf:23-24, dan di Al-Ahzab:37. Semua tetap beliau sampaikan kepada para sahabat beliau serta dibaca di dalam sholat.

 

Hal ini tentu saja semakin membuat akal sulit menerima klaim bahwa Al-Qur’an yang dibuat oleh Muhammad malah membongkar aib-aib beliau sendiri. Di luar itu sebenarnya justru banyak momen berharga yang lebih bisa `menonjolkan` keistimewaan beliau, namun tidak disebutkan di dalam Al-Qur’an. Kalau memang Muhammad menulis Al-Qur’an supaya populer dan punya pengikut, hal yang demikian tentu terlalu ceroboh untuk diperbuat.

 

Dr Maurice Bucaille, seorang orientalis yang dalam hal ini bersikap objektif, mengatakan dalam bukunya, The Bible, The Qur’an, and Science, “The above observation makes the hypothesis which advanced by those who see Muhammad as the author of the Qur’an untenable. How could a man, from being illiterate, become the most important author, in terms of literary merits, in the whole of Arabic literature? How could he then pronounce truths of a scientific nature that no other human being could possibly have developed at that time, and all these without once making the slightest error in his pronouncement on the subject?”

 

Maka akal sehat manakah yang masih `menuduh` bahwa Al-Qur’an adalah kreasi dari seorang Muhammad? Jelaslah sudah bahwa Al-Qur’an adalah wahyu dari Allah Yang Maha Agung sedangkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah hamba-Nya dan utusan-Nya yang ditugaskan menyampaikan firman-firman-Nya kepada segenap manusia di seluruh penjuru dunia. Maka siapa yang menghinakan Al-Qur’an, sesungguhnya ia tidak sedang menghinakan karya seorang manusia, tapi ia sedang menghinakan kalam Tuhan semesta alam. Sebaliknya siapa yang menghormati Al-Qur’an dan melakukan pembelaan untuknya, mudah-mudahan dicatat sebagai orang-orang yang mengagungkan dan membela kalam-Nya. “Wa man yu’adzhdzhim sya’aa-irallahi fainnahaa min taqwal quluub..” (Al-Hajj:32).

###

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *