[Toleransi dan Menghargai Perbedaan Tanpa Mengucapkan Selamat Hari Raya terhadap Kawan-Kawan Non-Muslim yang Tidak Disertai Pembenaran Keyakinan Agama Lain dalam Mazhab Syafii & Ijma’ (Konsensus) Ulama]

Penulis: Ustadz Nur Fajri Romadhon Lc

Islam memiliki konsep umum yang begitu toleran terhadap perbedaan, bahkan terhadap non-muslim. Siapapun yang membaca sirah Kanjeng Nabi, pastilah menjumpai fakta-fakta yang membuat hati terenyuh dan makin cinta keluhuran Islam. Hanya saja, ada beberapa hal terkait hubungan non-muslim yang beliau tidak lakukan, termasuk “tahniah” (mengucapkan selamat) pada hari raya mereka. Di zaman itu Nabi menyaksikan Musyrikin berhari raya, Yahudi merayakan hari raya, Nasrani pun saat itu sudah rutin merayakan hari raya dan berinteraksi dengan kaum muslimin. Tetapi di saat para Shahabat menghikayatkan “tahniah” sesama muslim dalam Idul Fitri & Idul Adha, tidak pernah ada hikayat bahwa Nabi, Shahabat, Tabi’in, dan ulama abad-abad setelahnya mengucapkan selamat pada hari raya non-muslim padahal mereka begitu toleran berinteraksi dengan non-muslim di luar pembahasan “tahniah”. Yang ada justru sejumlah Shahabat dan ulama melarang turut serta dalam hari raya mereka. Saat itu pun hubungan dengan non-muslim tidak selalu perang, justru banyak yang damai dan berhubungan baik. Ada non-muslim dzimmi, musta’man, dan mu’ahad pula.

Pembahasan mengucapkan “tahniah” kemudian secara khusus dibahas di sekitar abad IV Hijriah. Imam Al-Hulaimi (w. 403 H), salah seorang ulama terkemuka Mazhab Syafii, melarang mengucapkan “tahniah” (ucapan selamat) terhadap hari raya Paskah dan Nowruz. Beliau mengatakan:

ولا أن يهنئه بفصحه بحال، ولا بالنيروز والمهرجان .

“Dan tidak boleh sama sekali seorang muslim memberikan tahniah/ucapan selamat hari raya kepada non-muslim pada Paskah, Nowruz, tidak pula Mahrajan.”

[Al-Minhaj fi Syuabil Iman (3/349) cet. Darul Fikr]

Berselang 4 abad, yakni di abad VIII Hijriah, yang bahkan sampai dinukilkan terjadinya ijma’ di abad tersebut. Ingat, abad VIII Hijriah artinya sudah melalui masa Perang Salib (490-670 H), menjelang pembebasan Konstantinopel (857 H), dan menjelang terusirnya muslim dari Andalusia (897 H). Semua membuktikan bahwa interaksi muslim dengan non-muslim saat konsensus haramnya tahniah itu dinyatakan sudah begitu lama dan beragam, mulai dari perang, damai, minoritas muslim di wilayah non-muslim, minoritas non-muslim di wilayah muslim, dst. Bukan hanya situasi perang sebagaimana klaim sebagian pihak. Bolehnya ucapan selamat kepada kawan-kawan non-muslim terkait selain hari raya semisal prestasi dan pernikahan pun tidak berarti bolehnya selamat terkait hari raya mereka. Apalagi kenyataan yang jelas bahwa toleransi dan sikap ramah menghargai perbedaan bukan dengan “selamat hari raya” tetapi dengan “silakan berhari raya”.

Dari sinilah jelas bahwa tidak tepat anggapan bahwa pembahasan khusus tentang hukum “tahniah” (mengucapkan selamat) terkait hari raya kawan-kawan non-muslim baru dibahas di zaman modern (abad XV Hijriah). Serta tidak benar anggapan bahwa yang melarang hanyalah ulama dari kalangan tertentu. Juga dari sinilah kita perlu meninjau kritis anggapan bahwa andai ulama klasik sepakat mengharamkan, maka zaman sekarang sudah berbeda hukumnya.

Di antara ulama di abad VIII Hijriah yang mengulas secara spesifik terkait “tahniah” terkait hari raya non-muslim dari Mazhab Syafii ialah Imam Kamaluddin Ad-Damiri (w. 808 H), ulama besar Al-Azhar Kairo Mesir, yang menyatakan saat mensyarah Minhaj Thalibin karya Imam An-Nawawi:

يُعزّر من وافق الكفار في أعيادهم ، ومن يمسك الحية ، ومن يدخل النار ، ومن قال لذمي : يا حاج ، ومَـنْ هَـنّـأه بِـعِـيـدٍ .

“Dan orang yang mengucapkan selamat kepada non-muslim dzimmi terkait hari rayanya dihukum dengan hukuman takzir.”

[An-Najmul Wahhaj fii Syarhil Minhaj (9/244) cet Darul Minhaj]

Sekitar dua abad berikutnya, pendapat tentang hukuman takzir atas mereka yang mengucapkan tahniah (selamat hari raya) kepada non-muslim dzimmi ini dipertegas kembali oleh Imam Syihabuddin Ar-Ramli (w. 957 H) dalam Hasyiyah beliau terhadap Asnal Mathalib tulisannya Syaikhul Islam Zakariyya Al-Anshari (w. 926 H) berikut:

ويُعزّر من وافق الكفار في أعيادهم ، ومن يمسك الحية ، ومن يدخل النار ، ومن قال لذمي : يا حاج ، ومَـنْ هَـنّـأه بِـعِـيـدٍ .

“Dan orang yang mengucapkan selamat kepada non-muslim dzimmi terkait hari rayanya dihukum dengan hukuman takzir.”

[Hasyiyah Ar-Ramli Al-Kabir ‘ala Asnal Mathalib (4/162) cet. Al-Maymaniyyah]

Tidak lama berselang, kedua pembahasan tadi diulang lagi sebagai pernyataan mazhab oleh Imam Al-Khathib Asy-Syirbini (w. 977 H), yang juga ulama besar Al-Azhar Kairo Mesir, dalam statement beliau juga saat mensyarah Minhaj Thalibin-nya Imam An-Nawawi.

ويُعزّر من وافق الكفار في أعيادهم ، ومن يمسك الحية ، ومن يدخل النار ، ومن قال لذمي : يا حاج ، ومَـنْ هَـنّـأه بِـعِـيـده .

“Dan orang yang mengucapkan selamat kepada non-muslim dzimmi terkait hari rayanya dihukum dengan hukuman takzir.”

[Mughnil Muhtaj ila Ma’rifati Ma’anil Minhaj (4/255) cet. Darul Ma’rifah, dikutip juga dalam Fatwa MUI Pusat no. 56 tahun 2016]

Hukuman takzir sebagaimana dijelaskan dalam Minhaj Thalibin sendiri, merupakan hukuman atas kemaksiatan (dosa/keharaman) yang tidak dirinci bentuk hukuman atau kaffaratnya dalam Alquran ataupun Hadis. Bentuk hukumannya beragam sesuai kebijakan pemerintah.

Imam An-Nawawi (w. 676 H) katakan:

يعزر في كل معصية لا حد لها ولا كفارة بحبس أو ضرب أو صفع أو توبيخ ، ويجتهد الإمام في جنسه وقدره .

“Setiap kemaksiatan (dosa/keharaman) yang tidak ada rincian hukuman ataupun kaffaratnya (dalam Alquran/Hadis), pelakunya dihukum dengan hukuman takzir berupa penjara, cambuk, pukulan, atau teguran keras. Pemerintah dipersilakan berijtihad dalam menentukan jenis dan kadarnya.”

[Minhaj Thalibin hlm. 514 cet. Darul Minhaj]

Apa yang ditulis oleh keempat ulama terkemuka Syafiiyyah lintas zaman di atas sesuai dengan nukilan konsensus oleh Imam Ibnul Qayyim (w. 751 H) atas haramnya tahniah hari raya non-muslim.

Imam Ibnu Qayyimil-Jauziyyah (w. 751 H) mengatakan:

وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق ، مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم فيقول : عيد مبارك عليك أو تهنأ بهذا العيد ونحوه . فهذا إن سلم قائله من الكفر ، فهو من المحرمات .

“Adapun mengucapkan ‘selamat’ terkait syiar-syiar kekufuran khas non-muslim, maka hukumnya haram berdasarkan kesepakatan ulama, seperti mengucapkan selamat terkait hari raya dan puasa mereka

semisal ucapan, ‘Hari raya nan berkah!’, ‘Selamat berbahagia di hari raya ini!’, atau semisalnya.

Muslim yang mengucapkan ini meskipun tidak menjadi kafir dengannya, tetapi telah melakukan perbuatan haram.”

[Ahkam Ahlidz Dzimmah (1/441) cet. Ramady lin Nasyr, dikutip juga dalam Fatwa MUI Pusat no. 56 tahun 2016]

Konsensus ulama yang dinukilkan Imam Ibnul Qayyim pada abad VIII H di atas belum ada yang mengritiknya di abad VIII H ataupun beberapa abad setelahnya. Belum pula dijumpai sebelum Imam Ibnul Qayyim satupun ulama yang memfatwakan hal berbeda dalam kasus “tahniah hari raya non-muslim” ini.

Kenyataan yang ada justru Imam Ad-Damiri, Imam Syihabuddin Ar-Ramli, dan Imam Al-Khathib Asy-Syarbini, yang notabene berbeda mazhab dengan Imam Ibnul Qayyim dalam fiqh dan ushuluddin, sepeninggal wafatnya Imam Ibnul Qayyim justru menegaskan terlarangnya “tahniah hari raya non-muslim”.

Dalam Ushul Fiqh, ijma’ kebenarannya absolut dan terlarang hukumnya membuat pendapat menyelisihi ijma’ sah yang sudah dinyatakan ulama sebelumnya. Imam As-Sarakhshi (w. 490 H), salah ulama Ushul Fiqh terkemuka dari Hanafiyyah, menyatakan:

الإجماع موجب للعلم قطعاً بمنزلة النص ، فكما لا يجوز ترك العمل بالنص باعتبار رأي يعترض له : لا يجوز مخالفة الإجماع برأي يعترض له بعدما انعقد الإجماع .

“Ijma’ (konsensus/kesepakatan ulama) memberikan informasi hukum yang absolut kebenarannya sebagaimana nash (dalam Ushul Fiqh, nash bermakna ayat/hadis yang pemahamannya disepakati hanya 1 makna, tidak multi tafsir -pent). Maka sebagaimana tidak boleh mengabaikan nash karena logika/pendapat yang dikemukakan seseorang untuk menyangkal nash, tidak boleh pula menyelisihi ijma’ dengan logika/pendapat yang menyangkalnya setelah telah terjadi ijma’.”

[Ushul As-Sarakhsi (1/308) cet. Nu’maniyyah]

Tidak hanya konsensus ulama akan haramnya tahniah hari raya non-muslim, Imam Ibnul Qayyim juga menegaskan bahwa perkara ini pada dasarnya hanya haram (dosa), bukan kekufuran. Kecuali tentu saja kalau disertai pembenaran terhadap keyakinan non-muslim atau kalau ucapan selamatnya berlebihan dari sekadar tahniah. Karena kalau disertai pembenaran terhadap kekufuran, maka semua ulama termasuk yang membolehkan tahniah pun malah mengategorikannya ke dalam kekufuran, bukan hanya haram. Tentu bukan karena menyelisihi konsensus haramnya tahniah hari raya non-muslim tanpa disertai pembenaran keyakinan karena nampaknya ijma’ ini tidak masuk kategori ma’lumun minad diini bidh dharurah. Hal ini masuknya justru ke pembahasan riddah, sebagaimana kata Imam An-Nawawi berikut.

من لم يكفر من دان بغير الإسلام كالنصارى ، أو شك في تكفيرهم ، أو صحح مذهبهم ، فهو كافر وإن أظهر مع ذلك الإسلام واعتقده .

“Barangsiapa yang tidak menganggap kufur non-muslim seperti umat Nasrani, ragu-ragu akan kekufuran mereka, atau bahkan membenarkan keyakinan mereka, maka ia telah kufur meskipun bersamaan dengan itu meyakini dan menampakkan Islam.”

[Raudhah Thalibin (7/290) cet. Dar ‘Alam Kutub]

Penting diingat bahwa nukilan ijma’ Imam Ibnul Qayyim yang tidak ada yang membatalkannya di zaman sebelumnya ataupun yang mengritisinya beberapa waktu setelahnya bukanlah masuk pada pembahasan Ijma’ Sukuti. Itu karena pada Ijma’ Sukuti yang didiamkan adalah “pendapat”, bukan “nukilan konsensus”. Apalagi ternyata ulama mazhab lain setelah beliau malah menyetujui keharamannya. Jadi yang dipertanyakan bukan lagi keabsahan nukilan konsensus ini, tetapi adakah yang menyelisihinya sebelum beliau dan adakah yang mengritisinya di abad-abad yang dekat setelah beliau?

Akan tetapi barulah di abad XV Hijriah, sejumlah ulama besar -rahimahumullah wa hafidzhahum- (tidak termasuk Syaikh Muhammad Rasyid Ridha karena setelah saya mengecek langsung di 3 tempat dalam kitab fatwa beliau, saya tidak mendapati statement pembolehan tahniah -pen) memfatwakan bolehnya mengucapkan selamat terkait hari raya non-muslim. Ini meskipun tetap wajib menghormati para ulama besar tersebut, tetap saja dianggap penyelisihan terhadap ijma’. Andai ada yang menganggap illah berbeda, maka sebenarnya ini perlu ditinjau ulang mengingat kondisi tiap wilayah Islam tidak sama dan kondisi sekarang tidak jauh berbeda dengan masa ulama klasik di atas. Jangan juga sampai mengabaikan nukilan pendapat ulama lintas zaman di atas sehingga terkesan bahwa masalah ini belum pernah dibahas dan bahwa yang melarang hanyalah mereka yang disebut kaum intoleran. Tabik.

_______
Catatan & Kesimpulan:

1. Kaum muslimin sudah terbiasa berinteraksi secara toleran dengan non-muslim sejak zaman Nabi dan sudah terbiasa melalui hari raya mereka tetapi tidak ada riwayat bahwa mereka mengucapkan selamat.

2. Sejumlah Shahabat dan ulama justru melarang turut serta dalam hari raya mereka.

3. Di abad VIII Hijriah, ada nukilan konsensus ulama terkait haramnya “tahniah” (mengucapkan selamat) terkait hari raya non-muslim dan tidak ada ulama sebelumnya yang punya pendapat berbeda tidak pula ada ulama yang mengritisi nukilan konsensus ini di beberapa abad setelahnya padahal ulama yang menukilnya populer dan buku beliau tersebar. Ini berbeda dengan Ijma’ Sukuti.

4. Ijma’ adalah dalil yang absolut kebenarannya serta tidak boleh dilanggar setelah ia terwujud.

5. Di abad IV, V, IX, dan X Hijriah ulama-ulama Syafiiyyah secara tegas menyebutkan bahwa “tahniah” hari raya non-muslim tidak boleh sama sekali, bahkan justru dihukum takzir, dan takzir hanyalah pada dasarnya diberlakukan pada keharaman.

6. Interaksi muslim dengan non-muslim saat itu sudah lama dan beragam. Tidak hanya perang, tetapi juga damai, minoritas muslim di wilayah non-muslim, sebaliknya, dst.

7. Ulama yang membolehkan baru ada di abad XV Hijriah. Itu pun masih ada ulama sezaman yang tegas melarang atau menyatakannya sebagai syubhat. Karena itulah pendapat yang membolehkan -dengan penuh takzim kepada ulama yang berpendapat- layak dianggap syadz (ganjil) karena menyelisihi ijma’ dan perkara ini bukan khilafiyyah yang muktabar. Apalagi illat dan alasan yang disampaikan juga berlaku di abad VIII Hijriah dan sebelumnya.

8. Ulama yang secara spesifik melarang berasal dari abad IV, V, VIII, IX, X, dan XV serta juga berasal dari sejumlah kalangan yang berbeda mazhab fikih dan ushuluddinnya.

9. Pembahasan haram-tidaknya mengucapkan selamat terkait hari raya non-muslim tidak tergantung dengan pembenaran keyakinan non-muslim, karena kalau disertai pembenaran keyakinan non-muslim, maka semua ulama termasuk yang membolehkan sekadar mengucapkan selamat pun menyepakati bahwa itu bukan hanya haram, tetapi juga merupakan kekufuran.

10. Sebagian ulama bisa saja keliru ketika ternyata menyelisihi ijma disebabkan alasan tertentu, tetapi meski kita tidak ikuti mereka dalam pendapat yang syadz (ganjil) di perkara ini, tetaplah para ulama adalah ahli waris para nabi yang wajib dihormati.

11. Nasihat yang bijak harus tetap disampaikan kepada yang melanggar konsensus di atas tanpa pilih-pilih sekalipun yang melakukannya adalah guru, kawan politik, dan rekan seorganisasi. Dengan tetap meyakini bahwa orang/ulama/organisasi dinilai baik adalah karena dominasi kebaikan pada dirinya, tidak harus karena kesempurnaannya. Jangan sampai ada standar ganda di antara kita (tulisan ini pun ditujukan dengan penuh cinta dan hormat kepada siapapun -pen).

12. Dalam kondisi dipaksa/darurat, perbuatan haram, bahkan kekufuran, boleh saja dilakukan. Hanya saja wajib jujur dan ditinjau dalam-dalam mengenai tingkat darurat/keterpaksaannya.

13. Hukum terkait tahniah dari lembaga negara di sejumlah negara perlu ditinjau detil, sangat mungkin beda hukumnya di beberapa tatanan masyarakat. Tetapi hukum asal bertahniah dari pribadi muslim, maka yang saya pribadi yakini hukumnya ialah haram (bukan serta merta kekufuran) sebagaimana statement ulama Syafiiyyah dan konsensus ulama di atas.

14. Bagaimanapun tidak bertahniah bukanlah ciri intoleransi dan radikalisme sebagaimana ulama yang membolehkan bertahniah tanpa pembenaran keyakinan non-muslim tidak boleh dituduh rusak akidah apalagi dikafirkan.

15. Saya secara pribadi yang minta maaf sedalam-dalamnya terhadap kawan-kawan non-muslim karena mengikuti mazhab syafii dan konsensus ulama yang melarang mengucapkan selamat hari raya non-muslim. Tetapi sejak dulu dan selalu saya akan berusaha bergaul dalam urusan dunia dengan baik dan toleran, semisal mengucapkan selamat pada selain yang terkait hari raya, apalagi kita sama-sama cinta Indonesia dan menghargai keragaman.

Wallahu a’lam.

Small Things Matter

Penulis : Erwin Frimansyah S

Alumni Teknik Kimia UI & PESAN BISA


  • Semasa hidup Imam Ahmad bin Hambal, terdapat cobaan berat yang mengusik akidah umat islam. Dunia Islam pada saat itu dipimpin oleh Khalifah al-Makmun, seorang khalifah yang terpengaruh pemikiran Mu’tazilah. Di antara pokok keyakinan Mu’tazilah ini adalah bahwa meyakini bahwa Alquran adalah makhluk.

Al-Makmun berusaha memaksakan keyakinan tersebut kepada semua rakyatnya, termasuk para ulama. Banyak ulama berpura-pura untuk menerima keyakinan ini demi menghindari penganiayaan,

Pada waktu itu, setiap ulama yang menolak keyakinan ini akan dianiaya dan dihukum dengan keras. Imam Ahmad bin Hambal, sebagai ulama paling terkenal di Baghdad, dibawa ke hadapan al-Makmun dan diperintahkan untuk berkeyakinan demikian. Ketika ia menolak, ia disiksa dan dipenjarakan. Penyiksaan yang dilakukan pihak pemerintah saat itu sangatlah parah. Diriwayatkan karena keras siksaannya, beberapa kali mengalami pingsan.

Pada suatu malam seusai disiksa dengan cambukan, Imam Ahmad ditahan di penjara yang gelap. Lalu ada seseorang dalam penjara yang memanggil beliau, “Apakah engkau Ahmad bin Hambal?”. Beliau menjawab, “Benar”.

Orang tersebut bertanya lagi, “Apakah engkau mengenalku?”. Beliau menjawab, “Tidak”.

Ia berkata kembali, “Aku Abul Haitsam, sang perampok & peminum khamr. Telah tercatat bahwa aku telah dicambuk 18 ribu kali. Aku mampu bersabar menanggungnya, padahal aku sedang ada di jalan setan. Maka bersabarlah engkau, karena engkau ada dijalan Allah!

Setelah itu pihak pemerintah pun melanjutkan untuk mengikat dan mencambuk beliau. Setiap kali cambukan mendarat di punggung beliau, beliau teringat ucapan Abul Haitsam tersebut. Dan beliau berkata dalam hati, “Bersabarlah, engkau di jalan Allah wahai Ahmad!”

Akhirnya Allah menyelamatkan akidah umat islam melalui keteguhan Imam Ahmad ini. Dan dibalik itu, seorang perampok bernama Abul Haitsam pun ikut andil dalam penjagaan akidah yang benar, dengan kata-kata penyemangat yang ia utarakan kepada Imam Ahmad.

Ya. Abul Haitsam, si pemberi semangat sang Imam untuk tetap kokoh di atas kebenaran, walaupun dirinya sendiri bergelimang keburukan.

Dan beliau (Imam Ahmad) pun sering dalam doanya, meminta kepada Allah,

Ya Allah, ampunilah Abul Haitsam, rahmatilah Abul Haitsam.

 

 

  • Pada masa Nabi Sulaiman alaihissalaam, terdapat kaum Saba’ yang dipimpin oleh Ratu Bilqis. Kaum Saba’ adalah kaum penyembah matahari pada waktu itu.

Burung Hud Hud, yang merupakan salah satu yang menjadi tentara Nabi Sulaiman melihat kaum ini sedang menyembah matahari. Rasa ghirah-nya yang tinggi terhadap kemungkaran ini, membuatnya bergegas untuk mengadukan hal ini kepada Nabi Sulaiman.

Dan hasilnya, informasi dari burung hud-hud membuat Nabi Sulaiman bergerak untuk berdakwah kepada pemimpin kaum Saba’ (yaitu Ratu Bilqis). Setelah menyaksikan mukjizat Nabi Sulaiman, Ratu Bilqis berubah menjadi mentauhidkan Allah (ia memeluk islam), yang kemudian diikuti para kaumnya yang juga berbondong-bondong mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kisah ini disebutkan dalam Al Quran Surat An Naml (27) ayat 20 sampai ayat 44.

Dibalik dakwah tauhid ini, terdapat peran penting yang dilakukan oleh burung Hud-Hud. Ghirah dan semangatnya dalam mengubah kemungkaran, menjadi awal diterimanya dakwah tauhid oleh Kaum Saba’.

 

Terkait dengan kisah ini, Abu Muadz Ar Rozi sampai berkata,

Celakalah seseorang, yang burung Hud-Hud lebih baik dari dirinya.

_________________________________________________________________

Dua kisah diatas mencontohkan amar ma’ruf nahi mungkar, yang dilakukan oleh makhluk Allah yang mungkin tidak kita sangka-sangka akan melakukannya: yaitu seorang perampok dan seekor burung. Dan amar ma’ruf nahi mungkar mereka ini, dengan izin Allah, berhasil menyebabkan perbedaan besar bagi dakwah Islam. Apa yang dilakukan seorang perampok, ternyata membantu meneguhkan kesabaran Imam Ahmad dalam mempertahankan dakwah akidah. Apa yang dilakukan seekor burung, dapat membuat berubahnya satu kaum dari syirik (menyembah matahari) menjadi tauhid (mengesakan Allah).

Mungkin pernah kita mendengar pernyataan berupa keraguan, seperti: “Bagaimana mungkin saya berkontribusi untuk umat islam padahal saya belum banyak memiliki ilmu?”

Untuk menanggapinya, jawabannya mungkin adalah sebuah hadits.

Rasulullah ﷺ bersabda,

Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari).

Yaitu sampaikanlah nasihat-nasihat baik sebatas kemampuan & pengetahuan kita. Berkontribusilah sesuai kemampuan kita.

Bukankah nasihat yang dilakukan oleh Abul Haitsam dan nahi mungkar yang dilakukan burung hud-hud adalah sesuatu yang ringan dilakukan?

Ya.. Menolong agama Allah bisa dilakukan dengan perkara-perkara yang mudah dan ringan. Banyak sekali contoh-contoh yang bisa kita lakukan.

Kita bisa mengajarkan anak-anak baca tulis alquran, yang dengan ilmu tersebut anak anak bisa memulai langkah pertama mereka dalam membaca dan memahami al quran. Dan kita tidak tahu, mungkin diantara mereka akan ada yang Allah takdirkan menjadi ulama yang luas dan bermanfaat dakwahnya.

Kita bisa menjadi admin akun sosial media yang rutin membagikan informasi kajian, yang dengannya diharapkan akan ada orang yang mendapatkan hidayah melalui kajian tersebut.

Contoh lain dari buku berjudul “The Tipping Point”, terdapat sebuah pengamatan bahwa untuk menurunkan kriminalitas di salah satu kota di Amerika Serikat secara drastis, cukup dengan melakukan hal-hal yang terlihat kecil seperti membersihkan tembok-tembok dari coretan graffiti.

Small things matter!

Mungkin juga kita akan mendengar lagi pernyataan seperti, “Cukup ustadz saja yang berdakwah, dakwah orang biasa seperti kita tidak akan berpengaruh bagi kemajuan umat Islam.”. Atau, “Ini kan hanya amal shalih biasa yang sangat kecil pengaruhnya, pasti tidak ada bedanya jika saya tingalkan.”

Jika demikian, maka mungkin kita hanya bisa menjawab dengan sebuah hadits pula.

Rasulullah ﷺ bersabda,

Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun juga walau engkau bertemu saudaramu dengan wajah berseri” (HR. Muslim no. 2626).

Pada waktu itu Abul Haitsam mungkin tidak menyangka, bahwa kalimat singkat yang ia utarakan akan berkontribusi dalam penjagaan akidah umat islam dan membuat Imam Ahmad selalu mendoakannya.

Dan kita juga mungkin awalnya merasa heran, jika dikatakan bahwa sekadar informasi dari burung hud-hud menjadi awal mula berubahnya 1 kaum menuju tauhid.

Kita tidak tahu, efek sebesar apa yang bisa dihasilkan dari kebaikan yang kita lakukan.

Jangan remehkan setiap kebaikan kecil yang bisa kita lakukan. Karena kita pasti akan melihat ganjarannya, baik di dunia maupun di akhirat, untuk setiap amalan kita. Sekecil apapun amalan itu.

 

Ingat-ingatlah firman Allah:

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (akibat)nya.

Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (akibat)nya pula.” (QS Az Zalzalah : 7-8)

 

Referensi:

https://kisahmuslim.com/4362-perjalanan-hidup-imam-ahmad-bin-hanbal.html

https://nasihatsahabat.com/kisah-mengharukan-antara-imam-besar-ahlussunnah-dengan-seorang-penjahat-besar/

https://www.youtube.com/watch?v=ROy5VmUbBSQ&t=192s

Mengakhiri Masa Amanah dengan Husnul Khatimah

Penulis: Ustadz Nur Fajri Romadhon
(Wakil Ketua Yayasan BISA & Anggota Bidang Fatwa MUI Provinsi DKI Jakarta)


 

 

“Demi Yang telah menyelamatkanku di Hari Badar…” demikian bunyi khas sumpah tegas yang lantang terucap dengan suara menggema keluar dari lisan seorang pemuda tiga puluhan tahun, Ikrimah. Statusnya sebagai putra tertua Abu Jahal, tokoh utama pengobar bendera permusuhan terhadap Islam, membuat darah Islamofobia mengalir kuat dalam dirinya. Terlebih setelah ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana ayahnya terbunuh dengan memalukan di Perang Badar dan ia mewarisi sepeninggalnya tampuk kepemimpinan Bani Makhzum, suku terpenting kedua di Quraisy setelah Bani Hasyim, sukunya musuh utamanya, Muhammad. Dengan fisik yang kekar dan postur yang tinggi serta kelihaian berperang yang luar biasa, tidak pernah sekalipun ia absen dari barisan terdepan pasukan kuda dalam ketiga perang terbesar Quraisy-Islam: Badar, Uhud, dan Khandaq.

 

Sumpah tersebut bukan tanpa alasan terlontar dari lisan lelaki Quraisy yang juga terkenal paling mahir menulis dan menghitung ini. Betapa setelah ia masuk Islam, ia merasakan kesedihan dan penyesalan mendalam karena telah lebih dari dua dekade memusuhi Islam. Meski kalah di Perang Badr, tembakan panahnya yang nyaris tidak meleset tetap mampu merepotkan kaum muslimin. Di Perang Uhud, ia bersama Khalid berhasil memporak-porandakan barisan pasukan Islam yang tadinya hampir menang. Hal yang sama di Perang Khandaq, ia berhasil meneror warga Madinah ketika kelincahan berkudanya ia gunakan untuk melompati parit pertahanan. Di Fathu Makkah bahkan namanya masuk daftar orang yang dicari untuk dihukum oleh Rasulullah karena track recordnya yang kelam selama ini. Namun, di sisi lain, membuncah rasa syukur tak terkira dalam dadanya karena ia selamat dan tidak bernasib sama seperti ayahnya yang terbunuh dalam kondisi masih musyrik hingga terwujud dalam lafal sumpahnya yang khas, “Walladzii najjaanii yawma Badr.”

 

Al-Hafidzh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq menuturkan bahwa Ikrimah bin Abi Jahl melarikan diri di hari penaklukan Mekkah setelah ia tahu bahwa Rasulullah memburonnya dan kalah dalam usahanya menghadang sebagian pasukan Islam yang baru memasuki Mekkah. Ia berkata kepada istrinya, Ummu Hakim, yang mengejarnya, “Aku tidak akan tinggal di kota ini lagi!”

 

Sang istri berkata, “Hendak kemana engkau pergi, wahai pimpinan para pemuda Quraisy? Apakah engkau hendak pergi ke suatu tempat yang tidak kamu ketahui?”

 

Ikrimah pun melangkahkan kakinya tanpa sedikitpun menggubris perkataan isterinya.

Melihat sikap keras sang suami, Ummu Hakim melapor kepada Rasulullah, “Duhai Rasulullah, sungguh Ikrimah telah melarikan diri ke negeri Yaman dan hendak berlayar menyeberang benua karena ia takut kalau-kalau engkau akan membunuhnya. Aku mohon agar engkau berkenan menjamin keselamatan nyawanya jika ia kembali.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Dia kini berada dalam jaminan keamanan.”

Mendengar jawaban itu, Ummu Hakim mohon diri untuk pergi mengejar suaminya. Akhirnya dia berhasil menemukannya di tepi pantai jazirah Arab dan baru menaiki kapal. Sang Istri dan nahkoda kapal membujuk Ikrimah kembali dan mengucapkan syahadat.

Ikrimah balik menjawab dengan ketus, “Tidak! Justru aku melarikan diri dari kalimat itu.”

Sang Istri memelas, “Wahai putra pamanku, aku datang menemuimu membawa pesan dari manusia yang paling mulia perangainya. Aku mohon engkau jangan membinasakan dirimu sendiri. Aku telah meminta jaminan keselamatan untukmu kepada Rasulullah saw.”

Ikrimah mengonfirmasi ulang kabar tersebut dan sang istri berhasil meyakinkan Ikrimah hingga ia ikut kembali ke Mekkah. Sampai ke Mekkah, Ummu Hakim menegaskan kepada suaminya tersebut untuk pergi ke Madinah menjumpai Rasulullah yang telah kembali ke sana pasca Fathu Makkah.

Tatkala Ikrimah telah dekat Madinah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang saking tergesa dan gembiranya lupa memakai imamah beliau, bersabda kepada sebagian Shahabat, “Akan datang Ikrimah kepada kalian dalam keadaan beriman dan berhijrah, maka jangan kalian cela ayahnya karena celaan terhadap orang yang sudah meninggal menyakiti kerabatnya yang masih hidup dan tidak didengar pula oleh yang telah meninggal tadi.”

 

Lalu mendekatlah Ikrimah ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi seraya disambut oleh Sang Nabi pengasih, “Marhaban birraakibil muhaajir. Selamat datang, wahai penunggang kuda handal yang telah hijrah.”

Terharu akan hangatnya penyambutan Nabi padahal begitu menggunung kejahatannya kepada kaum muslimin dahulu, Ikrimah spontan bersyahadat dan mengatakan, “Wahai Rasululallah, demi Allah, tidaklah sepeser pun harta yang dahulu kugelontorkan untuk memerangi engkau, melainkan akan aku infakkan juga senilainya untuk jihad di jalan Allah.”

 

Begitulah Ikrimah yang mengisi sisa lima tahun hidupnya dengan kerja dan jasa besar untuk Islam. Ia termasuk yang tegar dan tidak lari saat Perang Hunain, berandil besar saat Pengepungan Thaif, turut berdesakan dengan 140 ribuan jamaah Haji Wada, hingga ikut menyolati Nabi kala wafat. Sepeninggal Nabi ia bahkan dipercaya Khalifah Abu Bakr memimpin jihad untuk menumpas kaum murtad di Oman Selepas kegemilangannya mengislamkan kembali wilayah Oman, Ikrimah ditawari jabatan gubernur dan imbalan harta oleh Abu Bakr. Akan tetapi ia menolak itu semua dengan mengatakan, “Aku tidak membutuhkan itu,” dan lantas memilih bergabung dengan pasukan mujahidin ke Syam dengan diiringi doa dan kekaguman dari Abu Bakr.

 

Laksana orang kehausan di sahara terik nan gersang yang melihat oase, Ikrimah berperang luar biasa dalam rangkaian Perang Yarmuk di Ajnadin. Ia bahkan sengaja mematahkan sarung pedangnya dan melompat turun dari kudanya di tengah kecamuk perang untuk kemudian berjibaku menghabisi tentara Romawi Timur satu per satu. Melihat itu, Khalid berteriak mengingatkannya, “Wahai sepupuku, jangan kau melakukan itu karena terbunuhnya engkau akan berdampak besar pada semangat kaum muslimin!”

 

Ikrimah seolah tak mempedulikan seruan Khalid. Ia justru terus mengayunkan pedangnya ke musuh yang mengepungnya dari segala arah seraya balas berteriak, “Menjauhlah dariku, wahai Khalid! Jiwaku pernah memerangi Rasulullah dahulu. Apakah pantas setelah berislam aku justru tidak mengorbankannya untuk berjihad membela Allah dan Rasul-Nya?!”

Ikrimah terus merangsek maju menghabisi pasukan Romawi Timur hingga memotivasi pasukan lain untuk memenangkan pertempuran. Hingga akhirnya kaum muslimin memenangkan pertempuran itu. Selepas pertempuran, kaum muslimin mencari Ikrimah, tetapi ia tidaklah ditemukan melainkan dalam kondisi sekarat dengan  dipenuhi 70 luka tusukan panah dan tebasan pedang. Khalid segera mendekatinya dan hendak memberinya air minum. Tetapi Ikrimah mengisyaratkan agar air tersebut diminumkan kepada Al-Harits bin Hisyam, paman mereka yang juga sedang kritis. Setelah diminumkan kepada Al-Harits, Khalid dikejutkan dengan wafatnya Ikrimah yang syahid, husnul khatimah.

 

Demikianlah, sungguh akhir kehidupan yang mungkin tidak terbayang seorang pun saat itu. Hingga kita kini selalu melantunkan doa dan pujian “Radhiyallahu ‘anhu, semoga Allah meridhai beliau” acap kali nama Ikrimah disebut. Sama halnya seperti Umar bin Abdulaziz yang tiga dasawarsa dikenal sebagai pemboros dan pejabat dengan gaya hidup hedonis lalu menghabiskan dua setengah terakhir dalam hidupnya sebagai khalifah adil berbalut selendang zuhud dan kesederhanaan. Ibarat Fudhail bin Iyadh yang menjadi ulama setelah 40 tahun menjadi begal setelah tertegun sadar kala mendengar lantunan Surat Al-Hadid: 16. Laksana Shalahuddin Al-Ayyubi yang masa mudanya terlalaikan dari ketegaran perjuangan jihad, lalu tersentak sadar kala tergerakkan semangat keilmuan dan pembaharuan Imam Al-Ghazali, hingga menjadi pejuang peberani membebaskan Al-Quds di Perang Salib.

 

Demikian, digdaya kesalihan sering kali ditentukan di akhirnya, terlepas dari banyak kealpaan di awalnya. Dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الأعمال بالخواتيم

“Kualitas amalan sejatinya ditentukan dengan penutupnya.”

[HR. Al-Bukhari]

Merujuk penjelasan Imam Az-Zarqani dalam kitab Syarhul Muwaththa’, bagaimanapun juga, akhirlah yang menjadi penentu sekalipun awal dan pertengahan amal masih belum baik. Itu karena siapa yang berubah dari buruk menjadi baik, atau dari baik menjadi lebih baik, maka ialah orang yang sukses. Tetapi jika yang terjadi adalah menjadi baik ‘aja’ setelah sebelumnya sudah baik ‘banget’ atau bahkan menjadi buruk padahal sebelumnya sudah baik, maka ialah orang yang merugi.

Tak terkecuali dalam mengemban sebuah amanah pada periode tertentu. Tidak jarang langkah di awal amat tergopoh, derapan lari di tengah perjalanan masih tertatih, tetapi bukankah masih tersisa masa untuk memperbaiki? Satukan kembali barisan perjuangan yang mungkin belum rapi berjajar, koreksi kembali kekurangan dalam beramal jama’i, lalu akhiri dengan kesan manis tak terlupakan di akhir masa jabatan dengan suksesi yang penuh taufik Ilahi, mewariskan estafet perjuangan kepada para generasi harapan selanjutnya dengan penuh keteladanan. Semoga Allah bimbing kita menutup masa jabatan kita setahun ini dengan husnul khatimah!

 

Rujukan: Tarikh Dimasyq, Syarhul Muwaththa’ liz Zarqani, Shahih Al- Bukhari, Siyar A’lamin Nubala, Sirah Ibn Hisyam, Tafsir Al-Azhar.

*) dimuat dalam Buletin An-Naba FSI Fakultas Kedokteran UI edisi ke-40 dalam momen jelang pergantian kepengurusan BEM, LD, dan organisasi ekstra kampus lainnya