Pensil yang Tak Bertinta

Penulis: Rizky Noriawansyah 

Alumnus PESAN 3

Alumnus Teknik Mesin PNJ

Coret-coretan tampak jelas disini…

Mengartikan, tak ada yang jelas…

Salah…

Semua sebelumnya benar…

Sampai akhirnya garis-garis menutupinya…

Jadi tak jelas, salah…

“Kamu kenapa bisa berfikir seperti itu?” Wanita itu tampak bertanya-tanya kepada nya….

“Sudah lah, aku salah.. Jelas aku selalu salah” sepertinya dia, laki-laki itu berusaha mengalah dengan menyalah kan diri nya sendiri….

Lampu tampak berganti warna-hijau….

Tak terlihat lagi pasangan itu dari pandangan ku. Cepat, selap-selip melingkup mobil-mobil didepan nya…….

Semua benar sebelum kesalahan itu datang, yang menjadi pokok intinya ialah, bagaimana kita menyikapi sebuah kesalahan itu…

Mengalah kah, atau keras seperti batu. Batu sendiri jika trus menerus ditetesi air akan bolong, hancur juga….

 

Tentang Program HSI Abdullah Roy

 

Kami ingin sedikit berbagi tentang Program Belajar Online Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy.

Ini program yang bagus dan bermanfaat sekali, الحمد للّٰه.

Meskipun menuntut ilmu agama utamanya adalah duduk di majelis-majelis ilmu secara langsung, namun ini cara yang efektif sekali untuk menjangkau orang-orang yang berhalangan untuk hadir di majelis ilmu secara rutin seperti orang-orang yang baru belajar dan masih belum kenal majelis ilmu atau para akhawat dan ummahat yang barangkali tidak bisa sering-sering keluar rumah.

Program ini disusun secara sistematis dengan peraturan yang serius agar para peserta disiplin mengikuti program yang—jika terus berlanjut—akan berlangsung selama beberapa tahun hingga akhir silsilah.

Seperti yang terlihat pada poster, dalam silabus program ini, ada beberapa silsilah yang dimulai dari pelajaran aqidah paling dasar dan terus dilanjutkan ke pelajaran-pelajaran lainnya.

Untuk mempermudah gambaran tentang program ini, maka selanjutnya akan kami tuangkan dalam poin-poin.

  1. Pengajarnya yaitu Ustadz Dr. Abdullah Roy, Lc., M.A. حفظه اللّٰه تعالى.
  2. Program ini gratis 100%.
  3. Pembelajaran dilakukan via WhatsApp (untuk materi dan pengumuman) dan website HSI Abdullah Roy (untuk pengerjaan evaluasi, ujian dll).
  4. Setiap peserta akan diberikan akun untuk mengakses website HSI.
  5. Kelas (grup WA) ikhwan dan akhawat dipisah.
  6. Materi halaqah dikirimkan ke grup materi setiap paginya pada hari Senin-Jum’at berupa rekaman suara berdurasi 2 sampai 10 menit.
  7. Sore harinya (Senin-Jum’at), evaluasi harian diaktifkan dan akan dinonaktifkan keesokan harinya. Peserta diberi kebebasan untuk mengerjakan soal kapan pun di rentang waktu tersebut. Soalnya sebanyak 1 buah sesuai materi halaqah pada hari tersebut berupa pilihan ganda. Selain untuk nilai, evaluasi harian ini juga sekaligus dianggap sebagai tanda kehadiran peserta. Untuk jawaban yang benar diberi nilai 2 dan yang salah diberi nilai 1.
  8. Di setiap akhir pekan (Sabtu sore), evaluasi pekanan diaktifkan dan akan dinonaktifkan pada hari Senin. Soal sebanyak 5 buah berupa pilihan ganda. Untuk evaluasi pekanan ini, jawaban benar diberi nilai 2 dan jawaban salah diberi nilai 0.
  9. Setiap selesai 25 halaqah (5 pekan), akan diadakan ujian akhir di akhir pekan ke-6, diaktifkan pada hari Sabtu dan dinonaktifkan pada hari Senin. Soal sebanyak 25 buah berupa pilihan ganda. Jawaban benar diberi nilai 2 dan jawaban salah diberi nilai 1.
  10. Setiap kali evaluasi harian, evaluasi pekanan atau ujian akhir dinonaktifkan (yakni waktu pengerjaan berakhir), biasanya peserta bisa langsung bisa melihat nilai, predikat dan peringkat yang diperolehnya.
  11. Setelah ujian akhir selesai, pembelajaran akan diliburkan hingga waktu yang ditentukan.
  12. Peserta akan diberikan syahadah dan transkrip nilai (berupa gambar digital) dari program HSI Abdullah Roy setiap selesai ujian akhir.
  13. Peserta yang mendapatkan nilai RASIB (kurang dari 50), akan di-drop-out dari program.
  14. Peserta yang tidak mengerjakan SAMA SEKALI 5 evaluasi harian pertama juga akan di-drop-out (seingat kami, untuk angkatan kami, ini baru berlaku pada 25 halaqah yang kedua atau ketiga).

Inilah yang bisa kami informasikan tentang program yang sangat bagus ini berdasarkan pengalaman kami. Semoga dapat memberi gambaran yang lebih jelas dan semoga bermanfaat.

Jika ada yang kurang, akan kami update lagi, إن شاء اللّٰه تعالى.

Jangan lupa BESOK, إن شاء اللّٰه, akan dibuka pendaftaran peserta baru angkatan 182 (artinya tahun 2018 periode 2).

Program ini pendaftarnya sangat membludak—setidaknya sejak pendaftaran angkatan kami. Dalam waktu yang sangat singkat (biasanya kurang dari 24 jam), kuota sudah terpenuhi untuk ikhwan dan akhawat. Jadi, jangan sampai kelewatan ya.

Berikut kami lampirkan broadcastnya.


📜 *SEGERA DIBUKA…!*

📮 _AlhamduliLLah, waktu yang ditunggu itu segera tiba…_

🔖 Penerimaan Santri Baru Kajian Online HSI AbdullahRoy berbasis Website untuk angkatan 182.

🔹 Antum ingin mengenal Agama Islam..? Mengenal ALLAH dan RasuluLLah..??
🔹 Kepengen tahu apa saja dosa kecil, dosa besar sampai dosa syirik serta bahaya-bahayanya..??

📚 Yuks… Belajar Islam dari Dasar bareng Kajian Online HSI AbdullahRoy

🎙 Diasuh langsung oleh Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A. hafidzahullahu ta’ala _(beliau adalah Pemateri Tetap Kajian Berbahasa Indonesia di Masjid Nabawi, Madinah, periode 1434-1438H)_, in syaa ALLAH akan banyak faedah ilmu yang bisa antum dapatkan.

🗂 Plus metode belajar yang menarik dan in syaa ALLAH gak bakal ngebosenin dengan website HSI AbdullahRoy.
📱 Pembelajaran menggunakan media WhatsApp.

🖇 _*Gak Percaya…??*_

📌 *Daftar dan buktikan sendiri…*

🗓 *CATAT TANGGALnya*

📃 Pendaftaran akan dibuka in syaa ALLAH pada _*23 Syawwal 1439H (7 Juli 2018), pkl 09.00 WIB hingga 25 Syawwal 1439H (9Juli 2018), pkl 12.00 WIB.*_ dan akan *ditutup sewaktu-waktu* jika quota peserta telah terpenuhi.

🌐 Tetap simak update informasinya di Medsos HSI AbdullahRoy berikut:

FB: fb.com/hsi.abdullahroy
Instagram: @hsi.abdullahroy
Twitter: @hsiabdullahroy

📲 *DONT MISS IT…!* _Siapkan smartphone antum mulai sekarang…_

————————-

📽 Pengin ngerti video kajian ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A. _hafidzahullahu_…?
🖥 Klik di Channel YouTube HSI AbdullahRoy di https://www.youtube.com/c/hsiabdullahroy

Tentang Program Jodoh

 

Berhubung pendaftaran angkatan baru akan segera dibuka, kali ini, kami ingin membahas sedikit tentang program JODOH (Just One Day One Hadith).

Program ini sangat bagus, الحمد للّٰه. JODOH adalah program menghafal satu hadits sehari via WhatsApp.

Syarat mengikuti program ini adalah bisa membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Jadi, sebaiknya pastikan bacaanmu sudah cukup baik ya sebelum mulai menghafal hadits. Sebab, jika belum, maka lebih baik prioritaskan untuk belajar tahsin tilawah Al-Qur’an terlebih dahulu.

Berikut kami sebutkan mekanisme program JODOH dalam poin-poin berdasarkan pengalaman kami.

  1. Pembina program ini adalah Ustadz Irham Maulana, Lc. حفظه اللّٰه تعالى.
  2. Program ini gratis 100%.
  3. Peserta diberi diktat JODOH yang berisi 50 hadits pendek setiap levelnya.
  4. Program ini dilaksanakan via grup WhatsApp dan di setiap grup setoran terdapat satu musyrifah. Kelas ikhwan dan akhawat terpisah.
  5. Peserta juga diberikan syarah (penjelasan) hadits yang dikirimkan ke grup materi berupa audio dan tulisan.
  6. Peserta menghafal satu hadits sehari pada hari Senin-Jum’at. Hari pertama, peserta menyetorkan hafalan hadits nomor 1. Hari kedua, peserta menyetorkan hafalan hadits nomor 2 dan muraja’ah hadits nomor 1. Hari ketiga hingga seterusnya, peserta menyetorkan hafalan hadits pada hari tersebut ditambah muraja’ah 2 hadits sebelumnya.
  7. Waktu setoran hafalan dimulai pada pukul 22 dan batas akhirnya pukul 20 keesokan harinya.
  8. Setoran hafalan dilakukan menggunakan voice note WhatsApp ke pasangan hafalan (sesama peserta). Ini sekaligus berarti peserta juga menyimak dan mengoreksi hafalan temannya.
  9. Setelah menyetor atau menyimak, peserta mengirimkan laporan di grup.
  10. Di akhir pekan (Sabtu-Ahad), peserta menyetorkan muraja’ah dari hadits pertama hingga hadits terakhir yang dihafalkan.
  11. Peserta yang tidak setoran 6 kali berturut-turut atau 7 kali tidak berturut-turut akan di-drop-out.
  12. Setelah selesai 50 hadits, maka pekan selanjutnya adalah untuk muraja’ah akhir + ujian akhir. Jika tidak muraja’ah akhir sehari saja, maka peserta akan di-drop-out.
  13. Ujian dilakukan via telepon (peserta menelepon musyrifah). Ada 3 jenis soal, masing-masing jenis soal sebanyak 5 buah.
  14. Setelah satu level selesai (50 hadits + ujian akhir), program diliburkan hingga waktu yang ditentukan.
  15. Jika lulus ujian, peserta akan diberikan syahadah berupa gambar digital (predikat nilai dicantumkan).
  16. Untuk mengikuti level selanjutnya, peserta akan diminta untuk mendaftar ulang di grup.

Demikian informasi yang dapat kami bagikan mengenai mekanisme program JODOH. Semoga dapat memberi gambaran yang lebih jelas dan semoga bermanfaat.

Tanggal 9 Juli nanti, إن شاء اللّٰه, pendaftaran angkatan 13 akan dibuka. Jangan sampai terlewat ya!

Broadcast resminya kami lampirkan di bawah ini.


🕘⏳🕘⏳🕘⏳🕘⏳🕘⏳

┏🍂💥━━━━━━━━┓
*Program J O D O H*
*ANGKATAN XIII*
┗━━━━━━━━🍂💥┛

💭 “`Mau menghafal hadits namun bingung mulai dari mana?“`

🔜 Yuk gabung bersama kami.

✅ _Simak dan Follow Fanpage Program Jodoh dengan memberikan “Like” di :_
🕸 http://bit.ly/LikeKami

🗓 Ikuti infonya pada tanggal *9 juli*…..

┏‼━━━━━━━━┓
*Don’t Miss It*
┗━━━━━━━━‼┛

🕘⏳🕘⏳🕘⏳🕘⏳🕘⏳

Mengenali Aib Diri

Penulis: Ustadz Nur Fajri Romadhon Lc

Sesungguhnya di antara bentuk kealpaan yang paling berbahaya adalah kealpaan seseorang terhadap dirinya, positif dan negatifnya. Orang yang tidak mengenali potensi, bakat, dan hal-hal positif dari dirinya akan menyiakan banyak kesempatan dan kurang sempurna syukurnya kepada Allah ta’alaa atas anugerah yang telah dikaruniakan.

Demikian pula halnya mereka yang menutup mata dari aib dan kesalahannya, akan terus bergelimang dalam kesalahan dan sulit untuk berubah menjadi lebih baik. Keduanya amat berbahaya, tapi terkadang ketidaktahuan seseorang akan kekurangan dan aibnya lebih parah dan berbahaya.

Oleh karena itulah kita amat dianjurkan untuk melakukan muhasabah (introspeksi diri). Kita tentu amat familiar dengan perkataan Umar bin Khaththab: “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab kelak.” Kurang lebih maksud beliau adalah agar kita dari sekarang mulai menghitung-hitung dosa-dosa dan kekurangan kita lantas bertaubat dan memperbaiki diri sebelum kelak di Yaumul-Hisab kesalahan-kesalahan kita dihitung, padahal tidak ada lagi kesempatan taubat dan ‘remedial’ saat itu.

 

Namun muhasabah diri kerap kali masih belum cukup, karena tabiat jiwa –apalagi jika telah terkena tipuan setan– cenderung membela diri. Sudah jelas salah sendiri tapi enggan mengakui atau malah mengambinghitamkan orang lain. Kalaupun ternyata menyadari kesalahan, selalu ada dorongan untuk menganggapnya ringan lantas mentolerirnya begitu saja. Memang kadang kala kita menangisi kesalahan, tapi tidak lama setelah itu kita tetap lupa untuk memperbaikinya.

Nah, kalau sudah datang giliran untuk mengoreksi orang lain yang terjadi malah sebaliknya, yang kecil dianggap besar. Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak terlihat. Padahal sikap seorang mukmin adalah sebaliknya, ia senantiasa mengevaluasi dirinya bahkan mencela keburukan-keburukannya. Di saat yang sama, ia tidak pernah mencari-cari kesalahan orang lain, bahkan seringkali cenderung memaafkan dan menutupi.

Muhasabah harian, pekanan, bulanan, dan tahunan teruslah kita rutinkan, jangan sampai kita tinggalkan. Namun ada beberapa langkah yang selayaknya kita ikut laksanakan untuk menyempurnakan proses muhasabah kita. Berikut di antaranya:

Pertama: Berguru kepada seorang ahli ilmu dan hikmah secara intensif

 

Seorang ahli ilmu dan hikmah amat layak untuk dimintakan nasihatnya. Tapi, akan lebih baik lagi kalau beliaulah yang menasihati kita tanpa diminta. Bagaimana caranya? Tentu dengan sering bersamanya, menyerap ilmu dan hikmahnya, serta berkhidmat kepadanya..

Kita mungkin ingat bahwa para sahabat radhiyallahu ‘anhum dahulu senaniasa berusaha dekat dan menyerap pelajaran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lebih dari itu mereka jika mereka berbuat kesalahan, akan langsung diketahui dan dinasihati oleh Nabi. Bagi mereka tidak peduli apakah akan dinasihati secara halus oleh beliau (ini yang paling banyak terjadi) ataupun ditegur dengan sangat tegas, seperti yang terjadi pada diri Mu’adz bin Jabal tatkala Rasul menegurnya dengan wajah memerah, “A fattaanun anta, ya Mu’adz?? (Apakah kamu bermaksud membuat chaos di tengah manusia, wahai Mu’adz??”

 

Kalau di zaman sekarang, hal ini biasanya berlaku di pesantren, sekolah, atau lembaga sejenis. Para kiai, guru, atau ustadz bisa mengenali karakter asli para siswa dan santrinya karena seringnya interaksi sehingga jika kenal kekurangan-kekurangan mereka dan bisa menasihatinya. Peran senior di sekolah dan kampus juga bisa kita anggap mirip, dengan syarat sang senior juga merupakan seseorang yang memiliki kecukupan ilmu dan penuh hikmah serta wibawa di hadapan kita.

 

Pada tahun 1906, KH Agus Salim perbah ditugaskan ke Mekkah sebagai dragoman (penerjemah) di Konsulat Belanda. Ingat khan berapa bahasa yang beliau kuasai? Beliau adalah seorang yang cerdas, namun karena beliau sejak kecil bersekolah di sekolah-sekolah Belanda, seperti ELS (Europeese Lagere School, setingkat SD) dan HBS (Hogere Burger School, setingkat SMP dan SMA), beliau sedikit terpengaruh dengan pandangan-pandangan filsuf Barat, tidak terkecuali yang berkaitan dengan akidah. Di Mekkah, beliau yang waktu itu masih berusia 22 tahun berguru kepada seorang ulama Ahlus Sunnah kebanggaan Nusantara, Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, selama kurang lebih 6 tahun. Syaikh Ahmad Khatib adalah satu-satunya ulama Melayu yang pernah menduduki jabatan tertinggi dalam pengajaran madzhab Syafi’I di Masjidil Haram. Banyak muridnya yang menjadi tokoh penting negeri kita dan negeri Jiran, sebut saja Hadhratusy-Syaikh KH Hasyim Asyari (pendiri Nahdhatul Ulama), KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyyah), Syaikh Muhammad Saleh (mufti Selangor), Syaikh Muahmmad Zein (mufti Perak), dst rahimahumullah ajma’iin.

 

Entah kenapa kalau bicara tentang Syaikh Ahmad Khatib, saya selalu menggebu-gebu. OK, kembali ke KH Agus Salim. Beliau termasuk orang yang beruntung karena saat berguru pada Syaikh Ahmad Khatib, barulah ia sadar kalau akidahnya sudah teracuni oleh pola pendidikannya dahulu yang kental dengan nuansa Belanda.

Syaikh Ahmad Khatib-lah yang menjelaskan hal itu kepadanya karena melihat ada yang tidak beres pada diri KH Agus Salim. Metode pengajaran yang dilakukan oleh Syaikh Ahmad Khatib spesial, karena beliau tahu KH Agus Salim adalah seorang jenius. Ia ajak beliau berdiskusi sedikit demi sedikit. Awalnya KH Agus Salim tidak begitu saja menerima ucapan sang guru, beliau lantas melakukan perbandingan antara akidah Ahlus Sunnah dengan doktrin dan ideologi Barat. Namun karena Syaikh Ahmad Khatib mampu menjawab semua pertanyaan beliau dengan meyakinkan, akhirnya beliau kembali kepada keyakinan yang benar. Sepulangnya ke tanah air, beliau bahkan turut berjuang melalui Sarikat Islam.

 

Kedua: Bersahabat dengan rekan sebaya yang baik agama dan akhlaknya, serta jujur dalam bersikap.

 

Di antara nikmat mesti sering-sering kita syukuri adalah nikmat memiliki teman yang shalih. Teman yang shalih amat langka di zaman ini. Makanya hanya dengan rahmat Allah sajalah kita bisa bertemu dengan rekan-rekan yang shalih. Terkadang mereka datang begitu saja dalam kehidupan kita, tapi terkadang harus kita cari dengan segala upaya. Tapi kalau kita sudah mendapatkannya, yakinilah itulah salah satu nikmat teragung yang Allah berikan kepada kita.

 

Nikmat itu akan semakin besar manakala keshalihan teman kita itu bukan semata-mata keshalihan individual. Alangkah indah bila ia menggandeng tangan kita ke jalan kebaikan, mengingatkan kita saat khilaf dan silap, serta tidak ragu memberi teguran jika memang kita telah melampaui batas. Amirul Mukminin Umar ibn Khaththab pernah berkata suatu hari dengan penuh kerendahan hati: “Semoga Allah merahmati orang yang memberitahukan kepada kami aib-aib kami.”

 

Begitu juga Umar bin Abdul Aziz, yang dikenal dunia Barat sebagai Umar II pernah berkata kepada salah seorang kawannya, Amru bin Muhajir: ”Wahai Amru, jika kamu melihat aku menyimpang dari kebenaran maka cengkeramkanlah tanganmu di kerah bajuku kemudian goncang-goncangkanlah aku seraya kau katakan kepadaku, ‘Apa yang barusan kau perbuat?!’”.

 

Dahulu para salaf sangat senang dengan teman-teman yang memberitahukan aib-aibnya. Adapun kita sekarang malah paling tidak suka dengan orang yang tahu belang-belang kita. Padahal kalau seandainya ada laba-laba beracun yang hinggap di punggung kita lalu ada teman yang memberitahukan kita akan hal tersebut, tentu kita akan bersegera menyikngkirkan laba-laba tersebut sekuat tenaga. Lalu kita pun akan sangat berterima kasih dan boleh jadi menraktir sang teman di kantin sepulang kuliah. Akhlak-akhlak buruk dan dosa-dosa kita besar kemungkinan lebih berbahaya daripada sengatan laba-laba, namun kita malah memandang sinis orang-orang yang hendak menasihati kita dan lebih senang dengan teman yang selalu siap mendukung, entah saat benar maupun keliru.

Ketiga: Mengambil manfaat dari kritikan rival dan musuh.

Meski berusaha menghindar sebisa mungkin, tetap saja ada orang yang tidak suka kepada kita. Sebagiannya malah terang-terangan menampakkan permusuhan di depan kita. Ia amat bersemangat membongkar semua aib kita sedetail mugkin. Nah, sambil kita berusaha untuk memperbaiki hubungan dengan minta maaf, tabayyun, dsb, kita juga bisa memanfaatkan ‘service’ yang ia berikan tadi. Ingat ‘kan syair arab yang artinya begini?

 

Mata cinta tumpul melihat segala aib * Mata benci tajam melihat segala aib

 

Karena itu kritikan dan cibirannya kita jadikan sebagai bahan introspeksi. Barangkali rival yang kritis semacam ini lebih bermanfaat daripada teman dekat yang tidak peka terjadap aib kita atau malah bersikap pura-pura tidak tahu demi menjaga perasaan kita. Tapi di sinilah ujiannya, kebanyakan kita cenderung menuduh bahwa sang rival berdusta dalam kritikannya atau suka melebih-lebihkan, padahal bisa jadi ia benar 100 %.

Keempat: Terjun bersosialisasi dengan masyarakat

Kesendirian dan sikap enggan bergaul memang bisa membuat kita lebih aman dari pengaruh buruk orang lain. Tapi di saat sama sering menumbuhkan keangkuhan, sikap ujub, atau ‘rabun’ terhadap aib diri. Kita kadang baru sdar dengan kekurangan-kekurangan diri ketika membandingkannya dengan sikap masyarakat. Bisa juga baru sadar ketika sudah mendapat celaan dari dunia pergaulan atau malah ketika sudah ‘diusir’ darinya. Mirip amilum dalam makanan yang ketahuan wujudnya setelah muncul warna biru ungu akibat ditetesi benedict.

Setelah kekurangan kita sudah kita ketahui, mudahlah kita untuk memperbaikinya. Tapi penting diingat, pergaulan yang dimaksud tentu bukan pergaulan yang tidak lagi mengenal budi pekerti. Karena amat sangat mungkin barometer mereka terhadap akhlak dan tata krama juga berbeda. Akhlak terpuji disebut keluguan, perilaku tercela disebut modernitas.

 

***Kepada Allah ‘azza wa jalla kita memohon hidayah agar selalu menjadikan diri kita nampak kurang di mata kita agar kita tidak pernah berhenti memperbaiki diri.

link :

https://www.facebook.com/notes/nur-fajri-romadhon/mengenali-aib-diri/10150364884349557/