Kunjungan Syaikh dari Saudi ke Yayasan BISA

 

Ustadz Nur Fajri (kiri) bersama Syaikh dari Univ Islam Imam Muhammad bin Saud, Riyadh, Saudi Arabia

4 Dzulhijjah 1438/26 Agustus 2018, ba’da Ashar, Yayasan BISA mendapat kunjungan dua orang Syaikh dari Saudi Arabia, Syaikh Abdullah Ash Shaqr dan Syaikh Nashir Makkawi. Syaikh Abdullah Ash Shaqr memberi beberapa nasihat kepada setiap muslim agar terus istiqamah dalam mempelajari bahasa Arab sebagai bagian dari budaya kaum muslimin. Beliau menekankan pentingnya bahasa Arab sebagai bahasa utama sekaligus prasyarat terpenting dalam memahami Al Quran, Hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang mulia, serta pondasi-pondasi agama Islam secara keseluruhan. Syaikh Abdullah memotivasi kaum muslimin untuk turut menyebarkan berbagai program dakwah BISA dengan terus meniatkannya karena mencari ridha Allah.

Kemudian, Ustadz Nur Fajri Ramadhan memberikan gambaran singkat mengenai yayasan BISA dengan beberapa programnya, seperti Pesantren Mahasiswa, program-program Bisa Learning Center (BLC) serta perkembangan yang dilaluinya, serta produk-produk dakwah yang dihasilkan oleh BISA. Syaikh Abdullah dan Syaikh Nashir juga mendapat gambaran lanjutan mengenai rencana pendirian perpusatakaan BISA.

Keduanya juga mendapat gambaran lebih rinci mengenai Pesantren Mahasiswa dari segi kurikulum, rencana pembelajaran, pengajar, serta kitab-kitab yang digunakan. Secara singkat, Pesantren Mahasiswa yang dijalankan berusaha untuk meluluskan mahasantri yang beraqidah lurus sesuai pemahaman para shahabat disertai dengan pemahaman global terhadap fiqh-fiqh madzhab Syafi’i sebagaimana yang masyhur digunakan di Indonesia.

 

 

 

 

Administrasi dan Relevansinya Kini by Agung Sugiarto

 

Pengertian-administrasi

Oleh  :   Agung Sugiarto (PESAN BISA Angkatan 3, PNJ 2015)
Menurut teori definisi Administrasi dapat dibagi menjadi 2, yaitu secara sempit dan luas. Administrasi dalam arti sempit adalah kegiatan yang meliputi catat-mencatat, surat-menyurat, pembukuan ringan, ketik-mengetik, agenda, dan sebagainya yang bersifat teknis ketatausahaan sedangkan Administrasi dalam arti luas adalah seluruh proses kerja sama antara dua orang atau lebih dalam mencapai tujuan dengan memanfaatkan sarana prasarana tertentu secara berdaya guna dan berhasil guna.

Dewasa ini, dengan semakin berkembangnya teknologi bidang administrasi seperti kurang terperhatikan, karena sebagian besar orang mengejar apa yang menjadi pokok dari teknis teknologi tersebut tanpa mengindahkan apa yang menjadi pokok pendampingnya, yang dalam hal ini administrasi. Memang hal teknis pendamping seperti Administrasi dapat dipelajari cepat dan mudah, namun dalam kasus ini cenderung kurang memperhatikan aspek teoritisnya, sehingga terkesan “sepantasnya”. Seperti contoh dalam hal surat-menyurat, jika sebuah perusahaan mempunyai sistem administrasi kearsipan yang buruk mungkin surat akan ditumpuk menjadi satu tanpa ada pengaturan terlebih dahulu, sedangkan perusahaan yang sudah mempunyai sistem administrasi kearsipan yang baik akan menyortir surat tersebut dari mulai apakah surat masuk ataukah surat keluar, dipertimbangkan tanggal suratnya, perihal atau mungkin hingga dari mana surat tersebut berasal jika diperlukan.

Administrasi

Bidang Administrasi juga memiliki cakupan yang luas karena secara umum Administrasi juga merupakan usaha dan kegiatan yang berkenaan dengan penyelenggaraan kebijaksanaan untuk mencapai tujuan, termasuk disipilin Manajemen misalnya. Jadi, jika ada Fakultas yang memiliki Jurusan Manajemen di dalamnya, maka Fakultas yang tepat untuk Jurusan tersebut yaitu Fakultas Ilmu Administrasi. Tentunya ini bukan menjadi suatu hal yang mutlak mengingat notabene pembagian Jurusan yang ada di Perguruan Tinggi yang ada di Indonesia masih belum spesifik namun ini penting diketahui mengingat di lapangan kebanyakkan orang menilai Administrasi dalam arti sempit saja sehingga acap kali terjadi salah penempatan atau penempatan yang kurang tepat, padahal dalam pendirian sebuah organisasi yang kuat dan kokoh berawal dari sumber daya manusia yang bekerja sesuai dengan kompetensinya masing-masing. Wallahu’alam Bishawab.

Dari Sebuah Penjara Suci

“Only the strongest will survive”-Agung Sugiarto

 

Notulensi Night Talk #4 Berprestasi di Kampus with Asti Shafira

The Champion’s

Notulensi night Talk #4 with Asti Shafira (Ilmu Gizi UI 2014 – Mapres Utama FKM UI 2017)

“Penolakan adalah hal biasa dalam hidupku”

Begitulah penuturan Mapres Utama FKM ini saat bercerita pada kami (21/08). Kami merasa beruntung dapat menyimak sepenggal kisah perjalanan hidup kak Asti dalam acara Night Talk kemarin malam.

Penolakan demi penolakan dirasakan kak asti dalam meraih mimpinya, mulai dari ditolak masuk Universitas melalui jalur SNMPTN (Undangan) dan SBMPTN, hingga ditolak oleh 14 beasiswa yang ingin ia ikuti. Namun kak Asti tetap berusaha dan bangkit kembali setelah penolakan tersebut.

“Menangis itu boleh, tapi setelah itu kita harus tetep bangkit” tutur kak Asti.

Tetap berusaha walau telah digagal berkali-kali diakuinya tidaklah mudah, namun harus terus dicoba.

Sebelum menjadi Mapres Utama FKM, kak Asti juga pernah memenangkan beberapa lomba tingkat mancanegara, salah satunya ia berhasil menjadi Best Delegates pada ajang kompetensi MHMUN di korea. Kompetisi tersebut merupakan kompetisi simulasi sidang PBB.

Dibalik kemenangannya itu, kak Asti melalui perjuangan yang tidak mudah. Ia berlatih bersama team dan coach nya selama 6 bulan. Namun pada detik-detik keberangkatan, justru ujian mulai berdatangan. Kondisi keuangan keluarga yang kurang baik membuatnya mengurungkan niat untuk membeli tiket pesawat dan kebutuhan perlombaan. Selain itu didetik terakhir keberangkatannya, sosok yang selalu menguatkan kak Asti, yaitu ayah tercinta, dipanggil menghadap Allah SWT.

Guncangan ekonomi dan psikologi membuat kak Asti gamang melanjutkan perjalanannya. Namun, akhirnya ia berangkat dengan dukungan dari orang-orang terdekatnya. Ia pun bertekad untuk membuktikan pada orang-orang yang menentang keberangkatannya bahwa ia akan berusaha yang terbaik dalam kompetisi tersebut.

Akhirnya kak asti berhasil membanggakan keluarganya dengan meraih *Best Delegates* pada kompetisi MHMUN.

Kak Asti juga berbagi cerita seputar proses ia terpilih menjadi Mapres Utama FKM. Menurutnya ada beberapa hal yang dinilai saat pemilihan mapres, yaitu Karya tulis ilmiah, kemampuan bahasa inggris, CV, kepribadian dan Indeks prestasi.

Dalam mencapai citanya itu, kak Asti selalu ingat pesan Alm. ayahnya,
“Sholawatin aja kalau mau apapun”
Jadi saat ia ingin meraih suatu pencapaian, kak asti akan berusaha dengan keras, berdoa dan tak lupa bersholawat.

*”Jagan takut ditolak dan gagal”* -Asti Shafira

Kesan Pesan di Pesantren Kosan BISA-Nabila Nur Mufida Batch 3

Pesan dan Kesan

Oleh : Nabila Nur Mufida, PNJ 2015

Assalamu’alaikum sahabat PESAN AKHWAT

Alhamdulillah segala puji kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Sallam. Terima kasih untuk Encang Irul, Ummu Razin, Ustadz Fajri dan Ustadzah Rohimah telah mengajarkan banyak hal kepada saya selama menjadi santri. Saya Nabila Nur Mufida mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta Jurusan Teknik Elektro 2015, menjadi mahasiswa teknik membuat saya ingin mencari ilmu agama. Mengejar dunia tak akan ada habisnya, tapi jika mengejar akhirat maka dunia akan mengikuti, begitulah motivasi saya menjadi santri di PESAN BISA. Saya pernah sekolah sambil jadi santri ketika smp, itu yang membuat saya rindu suasana pondok. Sejatinya hidayah harus kita cari.

Bicara kesan selama di asrama akan menjadi sebuah kenangan dan rindu yang teramat berat, setahun bukanlah waktu yang sebentar untuk mendapatkan sahabat-sahabat surga. Rindu ini selalu ada seperti layaknya di pondok shalat berjamaah makan bersama satu piring berenam, masak bersama, nyuci baju sambil murojaah dan curhat, ikut kajian bersama-sama. Mencari teman yang mengingatkan kepada Allah sangatlah susah, alhamdulillah saya bertemu dengan akhwat-akhwat batch 3. Semoga kalian sehat selalu ya ukht…

Jangan pernah melewatkan kegiatan dan jam belajar disana karena itu semua banyak manfaatnya untuk diri sendiri, ikuti dan lakukan yang terbaik ketika di PESAN, karena penyesalan akan ilmu tak bisa kita hindari, layaknya rindu jadi santri kalau sudah keluar pondok ingin kembali lagi. Semoga Encang Irul, Ummu Razin, Ustadz Fajri, Ustadzah Rohimah, dan semua keluarga besar yayasan BISA selalu dalam lindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala., terimakasih untuk yayasan BISA. Wassalamu’alaikum.

 

Notulensi Night Talk #3 tentang Pentingnya Benteng Agama yang Kokoh di Kehidupan Kampus

Oleh : Adel ( Psikologi UI 2014 – Koordinator Akhwat FKI UI )

  • Kampus itu dunia di mana segala macam perbedaan ada. Mulai dari logat bahasa sampai ke ranah pemikiran. Awal masuk kuliah, pasti kaget banget liat perbedaan-perbedaan itu, terutama terkait aspek gaya hidup dan pola pikir.

Kaget dan bingung adalah respons yang wajar secara manusiawi, that’s called with cognitive dissonance; keadaan di mana kita mengalami perasaan yang sangat tidak nyaman, disebabkan oleh konflik antara dua pemikiran yang berbeda. Hal ini sangat wajar terjadi ketika kita dihadapkan pada perkara yang bertentangan dengan prior knowledge kita tentang perkara tersebut, terutama ketika prior knowledge yang kita punya itu tidak benar-benar kuat atau ternyata ilmu kita tentang perkara tersebut sangat sedikit.

Keadaan seperti ini sangat mungkin kamu alami ketika masuk ke dunia kampus, kenapa? Karena kampus adalah tempat di mana ribuan orang (dosen & mahasiswa) bisa berpikir dan mengekspresikan pikirannya tersebut dengan sangat mudah dan bebas. Seorang dosen bisa dengan mudah bilang “gak usah bawa bawa agama” atau “kita tuh acuannya harus penelitian ilmiah, bukan agama” , seorang mahasiswa bisa banget bilang  “semua agama itu baik, jadi gak ada yang paling unggul”atau “Tuhan itu gak ada.”atau  “Semua yang terjadi karena adanya hukum alam, bukan Tuhan” atau bahkan perkataan seorang Tokoh dari suatu teori yang sedang kita pelajari di perkuliahan bilang “God is dead” dan pernyataan2 semacamnya.

Ketika kita terus menerus dihadapkan dengan orang-orang yang berpikir dan berkata demikian, tapi saat itu juga kita gak punya argumen yang benar dan kuat untuk membantah pemikiran mereka, hal ini justru berbahaya buat diri kita sendiri, terutama keimanan kita. Kita sangat mungkin buat larut dalam pemikiran mereka, karena kita gak punya ilmu pengetahuan agama yang benar dan kuat.

Di saat itulah keimanan kita bisa terombang ambing. That’s why we have to learn about our religion seriously and deeply.

  • Dulu ka adel pernah mengalami suatu masa terberat, di mana ia merasa sangat tidak sanggup untuk melawan semua pemikiran yang bertentangan dengan Islam di perkuliahan dan hampir memutuskan untuk mundur kuliah di Psikologi UI. Setelah melalui proses yang berat dan panjang, ia memutuskan untuk tetap bertahan di sana tapi harus ada yang diubah, apa itu? Ia bertekad, ia sangat amat harus mempelajari dan memahami lebih dalam tentang Islam dan tidak pernah berhenti mencari tahu bagaimana Islam menjawab tentang berbagai pemikiran tokoh/dosen/mahasiswa lain atau hasil2 penelitian ilmiah yang bertentangan dengan syariat Allah.

Ia juga mengatakan bahwa kunci utama seseorang selalu berada dalam pemikiran yang benar dan keimanan yang tidak rusak adalah pertolongan Allah. Oleh sebab itu, kita tidak boleh berhenti berdoa untuk meminta Allah agar selalu dikuatkan dalam agama Nya.

Doa minta dikuatkan keimanan:
Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala diinik*
artinya
‘Wahai Zat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu’

Sekian.

KAJIAN PESAN- Adab dan Akhlak Menuntut Ilmu oleh Al-Ustadzah Fatimah

Night Talk #3 – Adab dan Akhlak Menuntut Ilmu

Oleh : Al-Ustadzah Fatimah

Bismillahirrahmaanirrahim

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan tentang Islam, termasuk di dalamnya masalah adab. Seorang penuntut ilmu harus menghiasi dirinya dengan adab dan akhlak mulia. Dia harus mengamalkan ilmunya dengan menerapkan akhlak yang mulia, baik terhadap dirinya maupun kepada orang lain.

Berikut diantara adab-adab yang selayaknya diperhatikan ketika seseorang menuntut ilmu syar’i,

Pertama, Mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu

Dalam menuntut ilmu kita harus ikhlas karena Allah Ta’ala dan seseorang tidak akan mendapat ilmu yang bermanfaat jika ia tidak ikhlas karena Allah. “Padahal mereka tidak disuruh kecuali agar beribadah hanya kepada Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan memurnikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”(QS. Al-Bayyinah:5)

Orang yang menuntut ilmu bukan karena mengharap wajah Allah termasuk orang yang pertama kali dipanaskan api neraka untuknya. Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menuntut ilmu syar’i yang semestinya ia lakukan untuk mencari wajah Allah dengan ikhlas, namun ia tidak melakukannya melainkan untuk mencari keuntungan duniawi, maka ia tidak akan mendapat harumnya aroma surga pada hari kiamat.” (HR. Ahmad)

Kedua, Rajin berdoa kepada Allah Ta’ala, memohon ilmu yang bermanfaat

Hendaknya setiap penuntut ilmu senantiasa memohon ilmu yang bermanfaat kepada Allah Ta’ala dan memohon pertolongan kepada-Nya dalam mencari ilmu serta selalu merasa butuh kepadaNya.

Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan kita untuk selalu memohon ilmu yang bermanfaat kepada Allah Ta’ala dan berlindung kepada-Nya dari ilmu yang tidak bermanfaat, karena banyak kaum Muslimin yang justru mempelajari ilmu yang tidak bermanfaat, seperti mempelajari ilmu filsafat, ilmu kalam ilmu hukum sekuler, dan lainnya.

Ketiga, Bersungguh-sungguh dalam belajar dan selalu merasa haus ilmu

Dalam menuntut ilmu syar’i diperlukan kesungguhan. Tidak layak para penuntut ilmu bermalas-malasan dalam mencarinya. Kita akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat dengan izin Allah apabila kita bersungguh-sungguh dalam menuntutnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam barsabda, “ Dua orang yang rakus yang tidak pernah kenyang: yaitu (1) orang yang rakus terhdap ilmu dan tidak pernah kenyang dengannya dan (2) orang yang rakus terhadap dunia dan tidak pernah kenyang dengannya.” (HR. Al-Baihaqi)

Keempat, Menjauhkan diri dari dosa dan maksiat dengan bertaqwa kepada AllahTa’ala

Seseorang terhalang dari ilmu yang bermanfaat disebabkan banyak melakukan dosa dan maksiat. Sesungguhnya dosa dan maksiat dapat menghalangi ilmu yang bermanfaat, bahkan dapat mematikan hati, merusak kehidupan dan mendatangkan siksa AllahTa’ala.

 Kelima, Tidak boleh sombong dan tidak boleh malu dalam menuntut ilmu

Sombong dan malu menyebabkan pelakunya tidak akan mendapatkan ilmu selama kedua sifat itu masih ada dalam dirinya.

Imam Mujahid mengatakan,

لاَ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ مُسْتَحْىٍ وَلاَ مُسْتَكْبِرٌ

“Dua orang yang tidak belajar ilmu: orang pemalu dan orang yang sombong” (HR. Bukhari secara muallaq)

Keenam, Mendengarkan baik-baik pelajaran yang disampaikan ustadz, syaikh atau guru

Allah Ta’ala berfirman, “… sebab itu sampaikanlah berita gembira itu kepada hamba-hambaKu, (yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan merekalah orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS. Az-Zumar: 17-18)

Ketujuh, Diam ketika pelajaran disampaikan

Ketika belajar dan mengkaji ilmu syar’i tidak boleh berbicara yang tidak bermanfaat, tanpa ada keperluan, dan tidak ada hubungannya dengan ilmu syar’i yang disampaikan, tidak boleh ngobrol. Allah Ta’ala berfirman, “…dan apabila dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raaf: 204)

Kedelapan, Berusaha memahami ilmu syar’i yang disampaikan

Kiat memahami pelajaran yang disampaikan: mencari tempat duduk yang tepat di hadaapan guru, memperhatikan penjelasan guru dan bacaan murid yang berpengalama. Bersungguh-sungguh untuk mengikat (mencatat) faedah-faedah pelajaran, tidak banyak bertanya saat pelajaran disampaikan, tidak membaca satu kitab kepada banyak guru pada waktu yang sama, mengulang pelajaran setelah kajian selesai dan bersungguh-sungguh mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.

Kesembilan, Menghafalkan ilmu syar’i yang disampaikan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Semoga Allah memberikan cahaya kepada wajah orang yang mendengar perkataanku, kemudian ia memahaminya, menghafalkannya, dan menyampaikannya. Banyak orang yang membawa fiqih kepada orang yang lebih faham daripadanya…” (HR. At-Tirmidzi).

Dalam hadits tersebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa kepada Allah Ta’ala agar Dia memberikan cahaya pada wajah orang-orang yang mendengar, memahami, menghafal, dan mengamalkan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka kita pun diperintahkan untuk menghafal pelajaran-pelajaran yang bersumber dari Al-Quran dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kesepuluh, Mengikat ilmu atau pelajaran dengan tulisan

Ketika belajar, seorang penuntut ilmu harus mencatat pelajaran, poin-poin penting, fawaa-id (faedah dan manfaat) dari ayat, hadits dan perkataan para sahabat serta ulama, atau berbagai dalil bagi suatu permasalahan yang dibawa kan oleh syaikh atau gurunya. Agar ilmu yang disampaikannya tidak hilang dan terus tertancap dalam ingatannya setiap kali ia mengulangi pelajarannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ikatlah ilmu dengan tulisan” (HR. Ibnu ‘Abdil Barr)

Kesebelas, Mengamalkan ilmu syar’i yang telah dipelajari

Menuntut ilmu syar’i bukanlah tujuan akhir, tetapi sebagai pengantar kepada tujuan yang agung, yaitu adanya rasa takut kepada Allah, merasa diawasi oleh-Nya, taqwa kepada-Nya, dan mengamalkan tuntutan dari ilmu tersebut. Dengan demikian, barang siapa saja yang menuntut ilmu bukan untuk diamalkan, niscaya ia diharamkan dari keberkahan ilmu, kemuliaan, dan ganjaran pahalanya yang besar.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan seorang alim yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, kemudian ia melupakan dirinya (tidak mengamalkan ilmunya) adalah seperti lampu (lilin) yang menerangi manusia, namun membakar dirinya sendiri.” (HR Ath-Thabrani)

Kedua belas, Berusaha mendakwahkan ilmu

Objek dakwah yang paling utama adalah keluarga dan kerabat kita, Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahriim: 6).

Hal yang harus diperhatikan oleh penuntut ilmu, apabila dakwah mengajak manusia ke jalan Allah merupakan kedudukan yang mulia dan utama bagi seorang hamba, maka hal itu tidak akan terlaksana kecuali dengan ilmu. Dengan ilmu, seorang dapat berdakwah dan kepada ilmu ia berdakwah. Bahkan demi sempurnannya dakwah, ilmu itu harus dicapai sampai batas usaha yang maksimal. Syarat dakwah:

Aqidah yang benar, seorang yang berdakwah harus meyakini kebenaran ‘aqidah Salaf tentang Tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah, Asma’ dan Shifat, serta semua yang berkaitan dengan masalah ‘aqidah dan iman. Manhajnya benar, memahami Al-quran dan As-sunnah sesuai dengan pemahaman Salafush Shalih.Beramal dengan benar, semata-mata ikhlas karena Allah dan ittiba’ (mengikuti) contoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak mengadakan bid’ah, baik dalam i’tiqad (keyakinan), perbuatan, atau perkataan.

***

Notulen : Zulfa Sinta Filavati

Referensi:
Adab & Akhlak Penuntut Ilmu karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas