Bolehkah Menilai Sesuatu Hal Salah?

Penulis : Aldi Alfarizi

Eh, jangan menyalahkan-nyalahkan dia dong, dia kan juga ciptaan tuhan, patut dihargai dan diterima pendapatnya dong. Masa kalian gak menghargai Hak Asasi Manusia. Dasar diskriminatif!

Seorang anak melaksanakan ujian yang diadakan oleh seorang guru. Setelah nilai keluar anak ini melihat bahwa dia mengisi semua soal, tapi terdapat dua soal yang salah. Lalu anak ini protes, “Bu, kok ibu nyalahin dua soal yang saya isi ini bu, saya kan juga manusia bu, ciptaan tuhan, patut ibu hargai dan terima pendapatnya!”

Kejadian seperti ini kerap terjadi akhir-akhir ini. Apakah memang mereka yang menilai sesuatu salah meninggalkan asas toleransi? Apakah memang mereka yang benar-benar setuju dengan semua pendapat telah bertoleransi? Apakah mayoritas yang menilai salah minoritas termasuk diskriminasi? Apakah minoritas yang menilai salah mayoritas berarti telah mengintervensi?

Kita telah lama meninggalkan tradisi ilmiah semenjak teknologi menyentuh kita lebih jauh. Semua berhak berbicara, semua berhak berpendapat, memang. Pena tergores dengan mudahnya, menyakiti relung hati banyak manusia, tanpa keilmiahan, tanpa etika.

Kita telah lama meninggalkan tradisi ilmiah kita semenjak teknologi menyentuh kita lebih jauh. Hingga badan ini seakan malas untuk bergerak, jika tanpa apresiasi, jika tanpa nilai tambah tuk diri sendiri.

Kita malu. Malu untuk berkata “Tidak Tahu” untuk perkara yang memang kita tak tahu. Sehingga, banyak dari pengetahuan hanyalah prasangka belaka.

Seakan manusia harus selalu menjawab semua pertanyaan. Padahal tak semuanya dapat dilihat dengan mata telanjang.

Sehingga, menilai sesuatu salah adalah hal yang tabu.

Atau, semakin sedikit orang yang menilai sesuatu salah dengan etika?

Depok
26 Januari 2018

Gempa yang Baik

Penulis : Gifar Rabakhir

Hari rabu, tanggal 24 Januari lalu, terjadi sebuah gempa berkekuata 6,4 skala ritcher di daerah Lebak Banten. Saat itu, aku sedang berada di lantai 9 sebuah gedung di Jakarta. Memang, terdapat peristiwa yang memicu adrenalin karena aku dan kawan-kawan harus berlari melalui tangga darurat dari lantai 9, tapi bukan itu yang aku fokuskan dalam tulisan ini, melainkan pelajaran apa yang bisa aku ambil dari peristiwa yang kulihat saat gempa dan proses evakuasi berlangsung.

 

Ya, pada saat gempa berlangsung, terjadi sebuah keriuhan yang sangat besar. Bisa dibilang semua orang berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri masing-masing, tidak peduli apa yang terjadi pada orang lain. Saat itu, aku melihat bagaimana ada seseorang yang tasnya tersangkut pada knop pintu, padahal ia bisa meninggalkan tasnya untuk menyelamatkan nyawa yang lebih berharga. Bukankah sebuah tas tidak lebih berharga dari nyawa yang terancam bahaya? Bukankah dunia hanya senda gurau, sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam surat Al-Ankabut ayat 64, “Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” Bahkan Rasulullah Shallallahu Alayhi wa Sallam menyebutkan bahwa dunia bagi Allah adalah lebih hina dari bangkai kambing, dalam Hadits riwayat Muslim nomor 2957. Maka untuk apa orang tersebut mengorbankan dirinya demi bangkai kambing?

 

Tapi yang lebih mengherankan adalah bagaimana teman-temannya tidak menyadari keadaannya yang sedang membutuhkan bantuan. Mereka seolah-olah tidak peduli dengan apa yang terjadi padanya. Membuatku berpikir tentang bagaimana keadaan kita pada hari kiamat kelak? Sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam surat Abasa ayat 33-37, “Maka apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dan dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” Kebayang?

 

Oke, tadi adalah perbandingan antara keadaan sekarang dan hari kiamat kelak. Sekarang bisa kita bandingkan antara kejadian yang terjadi pada waktu bersamaan. Aku, mungkin masih beruntung karena hanya perlu turun dari lantai 9. Coba bayangkan, jika kita harus turun dari lantai tertinggi pada gedung yang lebih tinggi lagi, tidak perlu jauh-jauh ke Dubai, cukup di gedung tertinggi di Indonesia yang memiliki 46 lantai. Beberapa orang dari aku dan teman-teman saja sudah kepayahan, padahal itu hanya 9 lantai, bagaimana jika 46? Sungguh bahkan dengan hal ini, aku bisa belajar bersyukur.

 

Maka pada setiap kejadian, Allah selalu memberikan tanda-tanda kekuasaan dan kasih sayangnya. Sekarang, tinggal bagaimana kita sebagai makhluk menyikapinya. Apakah kita mau senantiasa berhusnuzon kepada Rabbul Alamin yang berkuasa atas segala sesuatunya, ataukah terus-menerus mencela apa-apa yang terjadi bila itu buruk menurut kita, hingga melupakan adanya hal baik yang kita dapatkan, padahal jumlahnya justru lebih banyak. Maka aku cukupkan tulisan ini. Semoga kita senantiasa menjadi makhluk yang dapat bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Aamiin Allahumma aamiin.

Depok, 26 Januari 2018

Menikmati Proses, Tak Hanya Hasil

 

 

Penulis : Ustadz Nur Fajri Ramadhan

@nf_rom

6 Maret 2011

Pernahkah saat belajar kita merasakan lelah? Pernahkah saat melakukan aktifitas sosial kita dihantui rasa bosan? Begitupun saat membaca al-Qur’an, tak jarang rasa malas menyerang.  Apapun pekerjaannya, mulai dari Bapak Presiden di istana negara  sampai pengamen di Kopaja, semua merasakan lelah dan capek. Begitulah hidup, deritanya tiada akhir, karena memang manusia diciptakan dalam keadaan susah payah dan hidup pun dilalui dengan tidak mudah..

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. (QS. 90:4)

bekerja keras lagi kepayahan, (QS. 88:3)

Lantas mengapa mereka tetap semangat merengkuh dayung sampan kehidupan mereka meski ombak terus menerjang dan badai tak kunjung henti? Jawabnya tentu sama: karena mereka punya tujuan. Tujuan yang mereka impikan inilah yang menjadi hiburan pelipur lara mereka dan ramuan anestetik yang menghilangkan sakit di sekujur tubuh mereka.

Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Begitulah slogan mereka. Usaha=hasil, itulah rumus mereka.

Mereka juga selalu mencamkan wejangan ibu mereka, “Sabar ya, Nak. Memang sekarang kamu berlelah-lelah belajar dan bekerja. Nanti kalau sudah sukses baru kau bisa nikmati hasilnya.”

Sekilas ini adalah pola pikir yang bagus. Memang demikian. Tapi tidak selamanya begitu. Coba saja jika mereka ditanya: jika kau bisa mendapatkan tujuanmu tanpa harus melalui proses panjang nan melelahkan apakah kau mau?

Jawabnya tentu saja: Absolutely, give it to me.

Demikian pula, kalau disuruh memilih, mau melalui jalan tol yang kosong lagi mulus atau melalui jalan berlumpur yang mendaki, tentu yang pertama yang akan dipilih.

Pola pikir seperti ini meskipun manusiawi tapi boleh jadi akan membawa seseorang kepada prinsip yang diusung oleh Machiavelli: Tujuan menghalalkan segala cara. Dus, terjadilah peristiwa pembocoran soal UN di banyak SMA. Ada lagi CPNS yang rela merogoh koceknya dalam-dalam untuk menyogok agar bisa diterima. Beberapa calon pejabat pun banyak melakukan kemungkaran dan kelicikan supaya  terpilih.

Sebaliknya jika mereka setelah jatuh bangun membanting tulang dan memeras keringat tapi tidak mendapatkan tujuan mereka juga, langsunglah jatuh mental mereka, seolah-olah apa yang mereka telah usahakan tak ada nilainya, bagaikan habaa-an mantsuraa. Tidak sedikit yang menyalahkan Ar-Rahman yang diklaim tidak adil, ada pula yang sibuk melirik kanan dan kiri mencari kambing hitam kegagalannya.

Lantas bagaimana sikap seorang mukmin?

Khalifah Umar ibn al-Khaththab pernah ditanya, mana yang lebih utama? Seorang yang dalam perjalanannya menuju Rabbnya lurus-lurus saja, tanpa hambatan. Ataukah mereka yang terkadang berhenti sejenak untuk mngenyahkan gangguan-gangguan bahkan mesti jatuh karenanya untuk kemudian segera bangkit dan melanjutkan perjalanannya kembali?

Jawaban Umar ternyata agak mengejutkan,”Yang lebih utama adalah yang kedua, karena ia termasuk firman Allah ta’alaa, QS 49:3″

mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertaqwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. 49:3)

Seorang mukmin melihat amal-amal yang ia lakukan bukan sebagai penderitaan dan beban. Bukan hanya sebagai anak tangga untuk meraih tujuannya. Akan tetapi ia juga menikmati dan meresapi setiap manis dan pahit yang ia temui dalam amal-amalnya.

Ia seperti penggila bola yang menikmati perjalanannya di bis yang sesak menuju stadion, atau berdiri di hadapan layar lebar selama 90 menit padahal cuplikan hasil pertandingan itu bisa dilihat lewat situs internet atau berita olahraga di TV pada pagi harinya.

Ia bagaikan seorang yang hobi memancing di sebuah area pemancingan, rela duduk berjam-jam menunggu ikan menggigit kailnya meskipun sebenarnya ikan segar bisa ia dapatkan dengan mudah di pasar tradisional.

Sekali lagi, mereka tidak cuma menikmati hasil. Lebih dari itu mereka meresapi, memaknai, dan menikmati setiap momen dalam aktifitas favoritnya.

Aduhai..mengingatkan kita  tatkala Rasulullah yang bersabda kepada Bilal,”Arihnaa bish-shalaat.. Wahai Bilal, istirahatkan kami dengan Sholat…”.

Lihat juga bagiamana para salaf menghidupkan malam-malam mereka dengan shalat malam. Terkadang mereka mengulang-ulang satu ayat dari al-Qur’an sepanjang rakaat karena begitu menikmati dan meresapi maknanya.

Para ulama sahari-harinya menulis, mengajar, menghafal tak kenal lelah, bahkan menikmatinya meski harus dilakukan saat mata seharusnya sudah terlelap. Inilah imam panutan Nusantara, Imam Asy-Syafi’I semoga Allah merahmati dan meridhoi beliau berkata:

“Goresan pena di tengah malam di atas kertas terasa lebih merdu didengar dari lantunan sya’ir lagu dari seorang biduan cantik yang bersuara merdu!”.

Tak ketinggalan pula mereka yang berjihad di jalan-Nya. dengarlah ucapan Anas bin Nadhar dalam salah satu pertempuran Uhud, katanya: “Aku sudah terlalu rindu dengan wangi jannah (surga),” kemudian ia berjibaku menerjang kaum Musyrikin sampai terbunuh. (HR Bukhari-Muslim)

Inilah potret ideal seorang mukmin. Mereka sadar bahwa mereka diciptakan untuk beribadah. Mereka pun sangat menginginkan keselamatan di akhirat. Mereka selain berusaha menjalankan kewajiban dan menjauhi larangan, tapi juga menikmati dan memaknai setiap detik ketaatannya. Orang yang telah mampu mencapai level ini akan lebih tangguh dalam keistiqomahan dan lebih cepat kembali ke jalan yang benar setelah melakukan kekeliruan. Semoga kita termasuk orang-orang yang seperti itu. Amiin.

Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah. Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik,  dan mereka tidak menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula), karena Allah akan memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. 9:120-121).
*

Menuntut ilmu, mulai dari mana?

Oleh : Nisa Larasati

Bismillah

 

Teringat awal-awal mulai ngaji pindah dari satu tempat ke tempat lainnya sendirian. Sampe sekarang sih dan tetap menyenangkan seperti pertama kali berjumpa. Yha

Anyway, pasti  happy readers sudah sering dengar salah satu keutamaan menuntut ilmu kan ya. Dan yang disini happy writer mau obrolin adalah tentang ilmu agama.

“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah maka Allah akan membuatnya paham tentang agamanya…”

  1. Bukhari dalam Kitab al-‘Ilmu

Lalu gimana cara menuntut ilmu yang benar? Maksudnya supaya ilmu yang didapatkan bisa berkah. Agar kita ngga mudah lupa dan lalai terhadap ilmu yang didapatkan, kita harus mencari tahu rambu-rambu dalam menuntut ilmu, in line dengan ilmu yang sedang kita dalami. Nah, sebelumnya happy writer lupa untuk memperhatikan hal yang satu ini. Akhirnya setelah satu tahun baru sadar untuk belajar tentang rambu-rambu dalam menuntut ilmu. Ternyata bukan hanya sebatas datang, nyatet, dan pulang. Ada hal yang lebih menyenangkan daripada itu.  Here they are.

 

  1. Ilmu tentang ‘Ilm

Beberapa kajian tematik seputar topik ini lumayan banyak. Tapi kadang sering terlewatkan oleh happy writer. Namun akhirnya dapat tercerahkan sekali dengan membaca karyanya Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah, Kitaabul ‘Ilmi. Isinya luar biasa dan mudah dipahami. Mulai dari tentang hakikat ilmu, adab-adab, kitab-kitab para penuntut ilmu, dan risalah-risalah penting. Risalah penting banyak memberikan pencerahan karena bentuknya pertanyaan-pertanyaan yang datang ke syaikh, misalnya,

 

Bahasa asing mana yang wajib didahulukan untuk dipelajari?

Bagaimana cara kami yang masih awal menuntut ilmu untuk berdakwah mengajak teman-teman kami?

 

And so on. happy writer keasyikan sendiri kalau udah baca buku ini dan pas diulang-ulang makin bikin bahagia. Awesome book Masyallah!

 

Buku lainnya yg happy writer baca tentang Ilmu ada Hilyah Thalibil Ilmu karya Syaikh Bakr bin Abdullah Abuzaid, Adab dan Akhlak Penuntut Ilmu, Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga, yang kedua-duanya karya Ustadz Yazid Jawwas. Buku-buku yang ini lebih tipis, handy banget untuk dibawa dan dibaca kemana-mana.

 

  1. Majelis Adab Penuntut Ilmu

Alhamdulillah dari dulu pengen banget bisa ikut kajian yang membahas tentang Adab dan Akhlak penuntut ilmu yang bersumber dari kitab. Rasanya lebih mudah ikut kajian yang seperti itu karena step-by-step prosesnya dan berkelanjutan. Bisa sekalian muroja’ah materi sebelumnya bareng-bareng ketimbang yang tematik yang cepet lupa.

 

Walhamdulillah sekarang ada kajiannya Ustadz Nudzul Dzikri di Blok M Square setiap malam minggu. Membahas kitab Tadzkiratus saami wal mutakallim fi adabil alim wal muta allim, karya Ibnul Jama’ah. Qadarullah dilaksanakan malam jadi happy writer jadi penonton setia streaming lewat Youtube saja. Sebenarnya pengen banget hadir disana. Kalau kadang terlintas tiba-tiba rencana buat hadir disana langsung istighfar saja. Hal-hal yang baik harus sesuai dilakukan dengan cara yang baik dan sesuai syari’at. Terlalu larut buat pulang sendirian atau ramai-ramai meski dengan akhwaat lainnya. Jadi ngga berani ngajak akhwat buat kajian kesana juga. Semoga Allaah mudahkan keinginan happy writer untuk bermajlis disana nanti Insyaallah.

 

Meskipun happy writer ngga ngerti baca kitabnya tapi tetap menyenangkan dengan cara penyampaian Ustadz Nuzul. Beliau menyampaikannya ngga terburu-buru dan diselingi lelucon ringan tapi ngga berlebihan juga. Bahasanya tetap santun dan lembut. Nonton kajiannya di pesawat, ketika penumpang lainnya tidur tenang, happy writer malah lagi berusaha menahan ketawa sambil senyum-senyum sendiri. Beliau selalu memberikan contoh yang real dan dekat dengan kehidupan kita –khususnya pemuda/pemudi-. Sambil dengerin kajian sambil bercermin ke diri sendiri. Sampai-sampai bapak-bapak disebelah (pe: ayah penulis) keheranan karena biasanya bocah ini langsung tidur di pesawat.

 

Nonton apasih, Nduk?Drama korea ya?

 

 

  1. Penyemangat Menuntut Ilmu

Sahabat menurut happy writer itu berpengaruh banget. Ada yang ngingetin buat datang atau ngajakin kajian rasanya happy  sekali. Atau kalau mau yang menyentuh hati silahkan buka channel youtube atau instagramnya  Rumaysho dan tonton video kajian rutin di Gunungkidul sana. Kalau happy writer sih sampai haru biru melihat semangat para warga disana menuntut ilmu. Ngga sebanding sama pengorbanan yang perlu dilakukan disini. Kalau hanya sekedar macet satu jam atau dua jam ngga ada apa-apanya dengan perjuangan mereka. Ada yang datang 55 km jauhnya dari tempat kajian naik truk terbuka. Kehujanan ya kehujanan, tapi begitulah kalau semangat menuntut ilmu yang balasannya surga.

 

“Satu ayat yang dipelajari lebih berharga daripada dunia dan seisinya...”

Happy readers ada yang ingat ini hadits riwayat siapa?

 

Begitulah yang kira-kira happy writer bisa bagikan ke dear happy writer.

Semoga happy readers ngga kecewa yha dan always be happy!

 

Interaksi Anti Opportunism

Oleh : Aldi Alfarizi

Gw pernah ke sebuah seminar yang mengundang para diaspora -sebutan untuk orang indonesia yang bekerja di luar negeri pada saat itu- yang kebetulan memang dibuka untuk umum. Waktu itu, mahasiswa juga turut serta hadir kesana. Hotel tempat dilaksanakannya seminar itu adalah Hotel JS Luwansa, yang kala itu turut mengundang Jusuf Kalla sebagai pembicara pembuka seminar. Mereka yang bekerja dan/atau memiliki perusahaan sekelas multinasional atau internasional pada saat itu hadir meramaikan seminar.

Datang bersama dua teman gw yang lain yang kebetulan satu SMA, kami (mungkin) pertama kali merasakan coffea break yang tidak disediakan tempat duduk untuk makan sama sekali. Pada saat coffea break, kita menyeduh teh dan mengarah ke salah satu sudut ruangan karena sejujurnya kita malu dengan pembicaraan yang sering dibuka pada saat coffea break yang hanya 15-20 menit itu karena notabene berbicara tentang perusahaan dan mimpi besar mereka masing-masing.

Tiba-tiba ibu-ibu yang juga ingin menyeduh teh mendatangi kami dan memulai pembicaraan dengan berkata

“Dek, kalau boleh tahu darimana?”

Jawab gw “Saya dari Depok bu”

“Masih kuliah ya? kuliah di mana?

Jawab gw “Di UI bu”

“Oh UI, jurusan apa dek?”

jawab gw “Jurusan Teknik Metalurgi dan Material bu”

“Oh dulu yang geografi itu ya? iya saya juga banyak kenalan di UI”

jawab gw “Hehe, bukan bu sebenernya lebih deket ke teknik mesin sih bu”

Lanjut pembicaraan kami dengan ibu itu sampai suaminya datang dan secara tersirat mengajak ibu itu untuk ke tempat lain.

“Ini kartu nama saya, mungkin sewaktu-waktu kita bisa kontak kontakan”

Ibu itu bersama suaminya pergi dan kita baru membaca kartu nama ibu tersebut ketika telah pergi.

Beberapa saat setelah itu, gw langsung bertanya kepada temen gw “Wah, wkwk malu gw kesini, udah gitu kita gak punya kartu nama lagi wkwk. Tapi kenapa ya kok ibu itu sama sekali gk kenalan sama kita dan gak nyebutin namanya sama sekali juga ya?”

Sontak temen gw menjawab “Iya orang-orang kayak gini mah banyak yang opportunist, Di. Gw sebelumnya juga pernah sekali ke seminar kayak gini bareng bapak gw. Ya, kalo mereka ketemuan ya mereka nanya darimana. Dengan nanya kayak gitu dia bisa menilai dia bakal dapet benefit apa dari lawan bicaranya. Ya, tapi kalo udan diliat gak bakal dapet apa-apa ya paling basa-basi doang. Makanya sebenernya coffea break ini saat yang ditunggu mereka banget. Ya, mereka bisa jalin relasi dan koneksi pake coffea break ini. Seminarnya mah ga terlalu penting”

“Oh gitu ya, baru pertama kalo nih gw ikut seminar kayak gini soalnya wkwk”

Pelajaran yang bisa gw ambil kala itu adalah ternyata orang-orang besar selalu memanfaatkan kesempatan dan waktu sekecil apapun untuk mengambil manfaat sebanyak banyaknya termasuk di dalamnya membangun relasi. Mereka juga gak sungkan-sungkan buat memulai interaksi dengan lawan bicara terlebih dahulu.

Tapi ada satu teguran yang kala itu menjadi teguran buat kita bertiga pada saat itu. Bahwa, ketika kita jadi orang besar, kita jangan sampai jadi orang yang Opportunist. Opportunist adalah sebutan orang yang melakukan “Opportunism”.

Meminjam definisi dari dictionary.com, Opportunism disini diartikan sebagai :

“the policy or practice, as in politics, business, or one’s personal affairs, of adapting actions, decisions, etc., to expediency or effectiveness regardless of the sacrifice of ethical principles”

“kebijakan atau praktik, seperti dalam politik, bisnis, atau urusan pribadi seseorang, tentang tindakan, keputusan, keputusan, dan lain-lain, terhadap kemanfaatan atau efektivitas terlepas dari pengorbanan prinsip-prinsip etika”

Entah pembaca sepakat dengan arti tentang sikap opportunism, gw yang mungkin masih memiliki sifat ini di dalam diri ingin berusaha untuk sedikit demi sedikit membumihanguskan atau meminimalisir sikap ini ketika gw berinteraksi dengan orang lain.

Gw bersyukur ditempatkan di Ffkultas dan jurusan yang ketika gw berinteraksi gw diajarkan memperkenalkan nama gw kepada lawan bicara gw dan memperhatikan “attitude” ketika berinteraksi. Karena ternyata, diluar sana, banyak yang udah gak peduli siapa lu, bahkan dia gak peduli siapa nama lu. Mereka hanya mengingingkan apa yang memang dia butuhkan dari lu.

Akhirnya, kini banyak individualis (Negeri) yang mencengkeram orang-orang yang tak bisa berbuat apapun untuk mereka.

Kolam Renang Air Panas Pamijahan, Bogor, Jawa Barat

Diselesaikan pukul 21.24
24 Januari 2018

Sosok yang Membuat Terlena

Oleh : Aldi Alfarizi  -, PESAN 4, Teknik Metalurgi dan Material UI 2016

Manusia adalah sebaik-baik makhluk. Sampai-sampai pilihannya dapat membuat manusia lebih hina daripada binatang ternak ataupun lebih mulia daripada malaikat sekalipun. Setiap pilihan yang menghasilkan konsekuensi nantinya terus menjadikan sejarah bercerita dari waktu ke waktu. Sejarah tak pernah lepas dari perselisihan diantara manusia. Perselisihan sengit dari waktu ke waktu salah satunya berujung kepada hal-hal terkait konsep ketuhanan. Terdapat kisah menarik yang sanadnya (jalur periwayatanya) dijaga dan diteliti dengan baik. Sehingga, kisah ini benar adanya langsung dari sahabat nabi, Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu.

Dalam Tafsir Ath-Thabari -salah satu kitab tafsir Al Qur’an Tertua dalam sejarah,-Ibnu Abbas, seorang sahabat nabi meriwayatkan bahwa

كان بين نوح وآدم عشرة قرون، كلهم على شريعة من الحق، فاختلفوا، فبعث الله النبيين مبشرين ومنذرين

”Antara Nuh dan Adam ada 10 generasi. Mereka semua berada di atas syariat yang benar. Kemudian mereka saling berselisih. Kemudian Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan kabar peringatan. (Tafsir At-Thabari 4/275, Mu’assasah Risalah, syamilah)

Perselisihan ini terjadi karena sebuah sebab. Pada Nyatanya, sebab ini terus berulang dalam sejarah.

Perselisihan ini dimulai ketika wafatnya 5 orang shaleh pada zaman tersebut yaitu Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr[1]. Ibnu Abbas lanjut bercerita :

سْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِينَ مِنْ قَوْمِ نُوحٍ ، فَلَمَّا هَلَكُوا أَوْحَى الشَّيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ أَنِ انْصِبُوا إِلَى مَجَالِسِهِمُ الَّتِى كَانُوا يَجْلِسُونَ أَنْصَابًا ، وَسَمُّوهَا بِأَسْمَائِهِمْ فَفَعَلُوا فَلَمْ تُعْبَدْ حَتَّى إِذَا هَلَكَ أُولَئِكَ وَتَنَسَّخَ الْعِلْمُ عُبِدَتْ

Mereka adalah nama-nama orang soleh di kalangan kaumnya Nuh. Ketika mereka meninggal, setan membisikkan kaumnya untuk membuat prasasti di tempat-tempat peribadatan orang soleh itu. Dan memberi nama prasasti itu sesuai nama orang soleh tersebut. Merekapun melakukannya. Namun prasasti itu tidak disembah. Ketika generasi (pembuat prasasti) ini meninggal, dan pengetahuan tentang prasasti ini mulai kabur, akhirnya prasasti ini disembah. (HR. Bukhari 4920).

Penyembahan, Pengagungan terhadap sosok yang dirasa “Super Power” atau “Shaleh” atau “Berilmu” sering kali menjadi momok dalam sejarah. Dalam kasus yang tidak terlalu kompleks, mungkin hanya berdampak kepada hal-hal yang tak terkait konsep ketuhanan. Tapi dalam yang lebih besar lagi, bahkan pengagungan ini menyebabkan Fir’aun dapat membuat peraturan untuk membunuh setiap bayi laki-laki dari kalangan Bani Isra’il[2].

Beberapa Pelajaran yang bisa dipetik dari kisah ini adalah :

  1. Butuh waktu 10 generasi agar setan dapat membuat manusia menyembah tuhan selain Allah Ta’ala. Dimana setiap generasi pada zaman tersebut dapat berumur ratusan tahun. Kisah ini mengingatkan kita bahwa setan memang “gak capek-capek” buat manusia agar terus bermaksiat kepada Allah.
  2. Setan akan menggiring manusia melakukan kemaksiatan dari hal yang merupakan dosa yang paling kecil. Bahkan bisa jadi melalui hal-hal yang makruh[3]. Atau bisa jadi melalui hal-hal yang mubah[4] sekalipun
  3. Dari waktu ke waktu, kebodohan menjadi akar permasalahan dari berbagai macam penyimpangan. Malas mencari apa yang sebenarnya terjadi dalam sejarah dapat menyebabkan penyimpangan ini terus terjadi
  4. Penyimpangan ini selalu dibuat dalam bentuk kongkrit yang dapat dilihat “Sustain” dari waktu ke waktu yang digunakan untuk memutarbalikkan fakta yang sebenarnya terjadi. Dalam kasus ini setan menggunakan prasasti
  5. Pergantian generasi dan dimatikannya orang-orang shaleh menjadi penyebab kebodohan terus merajalela
  6. Role-model banyak mempengaruhi dari kehidupan manusia, baik individu maupun kelompok
  7. Mengagumi sosok-sosok secara berlebihan tanpa ilmu menjadi salah satu cara setan menyesatkan manusia
  8. Dimana ada kesesatan, Allah Ta’ala juga mengutus orang-orang yang akan mengingatkan mereka agar kembali ke jalan yang benar

Masih banyak pelajaran yang bisa diambil, semoga kisah ini bisa menjadi refleksi diri terutama bagi diri penulis sendiri.

Wallahu A’lam

[1] Lihat Q.S. Nuh ayat 23

[2] Lihat Q.S Al Qashash ayat 4

[3] Perkara-perkara yang jika ditinggalkan akan mendapatkan pahala, dikerjakan tidak apa-apa.

[4] Perkara-perkara yang dikerjakan maupun ditinggalkan tidak apa-apa.

Referensi

Al Qur’an

Bahraen, Raehanul. Sejarah Kesyirikan Pertama di Muka Bumi. Diakses melalui : https://muslimafiyah.com/sejarah-kesyirikan-pertama-di-muka-bumi-dan-di-jazirah-arab.html

 

Ternyata Bukan Riya

 

Oleh : Ustadz Nur Fajri Romadhon

@nf_rom
31 Juli 2011

 

Rini (sebut saja demikian-pen) baru saja naik kelas XI. Kelasnya yang notabene jurusan IPA dihuni oleh anak-anak pintar dari kelas X.1-X.9 yang tadinya belum ia kenal. Selain pintar, mereka ternyata banyak yang aktif di organisasi. Teman sebangkunya, Nurul (nama samaran) contohnya, waktu kelas X ia adalah peringkat pertama kelas X.3 dan juga aktif di Rohis dan PMR. Dua teman di belakangnya juga siswi-siswi yang cerdas dan aktif di OSIS dan Rohis juga. Awalnya Rini canggung, karena teman-teman yang sekarang beda dengan teman-temannya yang dulu. Waktu di X.5, ia bergaul dengan siswi-siswi yang hobinya pacaran, godain cowok, shopping ke mall, dst. Makanya meskipun berkerudung, kerudungnya masih kerudung gaul, alias rambut depannya masih suka dikeluarin, kayak di iklan-iklan. Ia juga sebenarnya pernah beberapa kali pacaran, cuma semenjak UKK lalu ia sudah putus dan masih jomblo sampai sekarang.

 

Setelah sepekan belajar dan bergaul dengan ketiga teman barunya, Rini merasa ia sudah menjadi bagian dari mereka. Ia pun mulai merapikan kerudungnya yang dulu cuma ‘sekenanya’. Ia pun selalu mengerjakan shalat dzhuhur di masjid sekolah tepat di awal waktu. Cara bicaranya jadi lebih sopan, dan lama-kelamaan ia jadi sering ikut mentoring, bahkan pengajian-pengajian di masjid-masjid di kotanya pun ia sempatkan untuk hadir.  Meskipun secara organisasi ia bukan pengurus Rohis, tapi bolehlah Rini sekarang diistilahkan “akhwat”. Banyak pula teman-teman yang diam-diam memujinya karena progressnya kini dan ia boleh jadi lebih shalihah dari beberapa akhwat pengurus Rohis lainnya.

 

Terkadang Rini masih kumpul dengan teman-temannya waktu kelas X. Kadang-kadang jiwa nakalnya kembali muncul kalau lagi kumpul dan hang out bersama mereka meski ia sekarang relatif lebih bisa mengendalikan diri. Nah, kalau bertemu lagi dengan Nurul, hatinya sejuk lagi dan jiwa nakalnya pergi entah  kemana. Begitulah awalnya, hingga akhirnya teman-teman nya waktu kelas X berkata sinis, “Rin, munafik lo. Kadang-kadang lo pasang tampang alim depan anak-anak Rohis. Padahal lo kan masih nggak beda jauh sama diri lo yang dulu. Emang sih sekarang lo udah jadi mendingan, tapi kan itu karena lo sok alim, riya’, pamer!”. Mendengar itu, Rini cuma bisa termenung. Dalam hatinya ia sudah ingin sekali berubah menjadi lebih baik, seperti Nurul dan kawan-kawannya. Tapi apa boleh buat track recordnya selama ini tidak berpihak padanya. Mungkin ia belum pantas disebut perempuan shalihah..

 

 

Saat shalat malam Rini menangis, ia takut kalau amalannya selama ini cuma riya’, nggak ikhlas mengharap wajah Allah. Ia berdoa agar taubatnya diterima Allah dan agar ia jadi wanita shalihah sungguhan, nggak dibuat-buat. Setelah itu, ia kian intensif mengkaji agama bersama Nurul dkk di mentoring dan majlis taklim. Kalau berkumpul dengan teman lamanya sekarang ia kian mampu mengendalikan dirinya walau memang environmentnya agak berbeda dibanding ketika ngumpul bareng Nurul dkk. Malah, ia sudah bisa mengajak sebagian teman lamanya untuk ikutan program-program Rohis. Rini yang sekarang sudah beda dengan Rini yang dulu, kerudungnya pun kian syar’i. Ia pun sudah bisa membuat batas yang toleran tapi aman ketika bergaul dengan lawan jenis meski ia bukan pengurus Rohis. Prestasinya juga bisa membuat sekolahnya bangga.

 

__________

 

Begitulah anak muda, kehidupannya penuh lika-liku dan perjuangan. Semoga kita termasuk pemuda-pemudi yang berhasil survive mempertahankan keshalihan dan terus meningkatkan kualitas keimanan. By the way, apa benar yang dikatakan teman-teman Rini kalau apa yang dilakukan Rini itu riya’? Ternyata tidak. Sama sekali tidak. Para ulama telah membahas fenomena ini sejak dulu, bahkan fenomena ini pun telah ada semenjak zaman shahabat dan Rasulullah telah menyatakan bahwa itu bukanlah riya’. Berikut adalah beberapa kondisi yang sering dikira riya’ padahal sama sekali bukan riya’.

 

A. Dipuji karena telah berbuat baik.

 

Abu Dzarr meriwayatkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Bagaimana menurut Baginda kalau ada seseorang melakukan perbuatan baik lalu dipuji orang?” Si penanya ini tampaknya khawatir kalau yang demikian itu digolongkan kepada perbuatan riya’. Maka dengan bijaksana pun Rasulullah menjawab, “Itulah kabar gembira yang disegerakan di dunia bagi seorang mukmin.” [HR Muslim].

 

Maksud beliau, jika memang ketika mengerjakan perbuatan baik hati orang tersebut ikhlas tidak mengharap pujian, lalu ternyata setelah itu diam-diam ada yang mengetahui lalu memuji perbuatannya, maka pujiannya itu nggak akan mengurangi pahalanya malah itulah bukti dan kabar gembira dari Allah subhanahu wa ta’ala kepadanya di dunia sebelum kelak ia akan diberikan balasan kebaikan di akhirat.

 

B. Bertambahnya semangat beribadah ketika bergaul bersama orang-orang shalih atau berada di waktu dan tempat yang kondusif untuk ibadah.

 

Terkadang kita kalau sedang sendirian tidak rajin-rajin amat beribadah, malah terkadang terjerumus pada dosa-dosa. Tapi uniknya ketika sedang bergaul dengan orang shalih kayak anak Rohis misalnya, semangat ibadah kita jadi meningkat. Atau kalau sudah masuk Ramadhan dan orang-orang pada rajin ibadah, kita jadi ikutan rajin. Yang tadinya shalatnya menunda-nunda atau sendirian, kalau bareng mereka jadi di awal waktu dan berjamaah. Yang tadi ngobrolinnya bola, kalau lagi duduk bareng mereka ngomongnya jadi masalah agama atau tentang kondisi dunia Islam. Begitulah, kondisi kita memang sering dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Al-mar’u ‘alaa diini khaliilihi falyandzhur ahadukum ilaa man yukhaalil, “Seseorang itu tergantung kondisi akhlak dan keimanan temannya, maka hendaklah kau perhatikan dengan siapa kau berteman”, begitulah kata para ulama.

 

Hal yang menarik perhatian kita adalah bahwa ternyata keadaan ini juga dirasakan oleh para sahabat. Dalam Kitab Shahih Muslim disebutkan Hanzhalah, salah seorang sahabat kenamaan, pernah dikunjungi Abu Bakar. Abu bakar pun mengucapkan: “Bagaimana keadaanmu wahai Hanzhalah”. Tiba-tiba Hanzhalah pun menjawab: “Hanzhalah telah munafik”. Abu bakar pun heran sambil bertanya, “Apa yang sedang kau katakan? Subhanallah!”.Hanzhalah pun berkata: “Ketika aku berada disamping Rasulullah dan beliaupun mengingatkan aku tentang siksa neraka dan kenikmatan surga, seolah-olah aku melihatnya dengan mata kepala sendiri.Namun ketika aku pergi meninggalkan Rasulullah aku pun disibukkan dengan urusan istri, anak dan kehidupan. Kemudian aku pun jadi banyak lupa terhadap apa yang diajarkan Rasul”. Abu Bakar pun berkata, “Demi Allah! Aku pun juga merasakan hal yang sama” Lantas keduanya mengadukan hal itu kepada Rasulullah.

Rasulullah pun bersabda: “Demi Dzat Yang jiwaku yang ada di dalam genggaman-Nya, andaikata kamu sekalian tetap seperti keadaan kalian di sisiku dan di dalam dzikir, tentu para malaikat akan menyalami kalian di atas kasur-kasur kalian dan tatkala kalian dalam perjalanan. Tetapi, wahai Hanzhalah! Sa’ah wa sa’ah wa sa’ah (setahap demi setahap).”

 

Rasulullah pada kisah di atas tidak mencela Hanzhalah, tapi beliau memakluminya. Menjadi shalih memang butuh proses. Mungkin kita saat ini sering naik-turun imannya. Tapi ketika iman turun, berusahalah agar terhindar dari melakukan dosa. Sibukkan diri dengan ibadah yang ringan ataupun amalan mubah yang bermanfaat. Sebaliknya, ketika iman sedang naik seperti di bulan Ramadhan, ayo kita kebut. Pepatah Arab mengatakan, “Tempalah besi ketika ia sedang terbakar”.

 

C. Mengerjakan kewajiban agama walau terlihat oleh orang lain.

 

Kewajiban agama memang mesti dilakukan. Ketika melakukannya pun tidak harus disembunyikan. Bahkan yang lebih baik adalah ditampakkan di hadapan masyarakat sebagai bentuk syi’ar dan memberi keteladanan. Itu semua karena memang pada dasarnya kewajiban itu adalah harus dikerjakan setiap orang. Ibaratnya seperti siswa yang masuk di kelas saat KBM atau selalu mengerjakan PR, tentu lucu kalau dikatakan dia itu sok pinter atau sok rajin. Nah, seperti itu juga kalau kita shalat berjamaah di masjid, menutup aurat, menunaikan haji, mengajak orang berbuat kenaikan, melarang orang dari berbuat dosa, dst. Asalkan niat di hati orang tersebut ikhlas, maka tidak disebut riya walau dikerjakan di depan orang lain.

 

D. Malu dan menyembunyikan dosa.

 

Kelihatannya memang sepeti riya’. Dosa yang ia kerjakan, malah ia tutup-tutupi. Tapi ini bukan termasuk riya sama sekali. Bahkan inilah yang diperintahkan agama. Setiap dosa itu hendaknya tidak dipopulerkan walau dengan dalih mengungkap fakta, kecuali kalau bertujuan agar umat menjauhinya atau ketika penegakkan hukuman pidana semisal rajam atau hukum potong tangan.

 

Berbuat dosa meskipun tidak ketahuan orang memang merupakan pelanggaran dan setiap muslim yang ingin bahagia di dunia dan akhirat wajib bertaubat dari hal itu. Tapi kalau dia mengerjakannya di hadapan khalayak atau menceritakannya di hadapan teman-temannya itu juga merupakan pelanggaran yang amat berat. Bahkan Rasulullah memberikan ancaman yang keras bagi mereka dalam dalah satu hadits beliau,

 

“Setiap umatku akan diampuni kecuali al-mujahirun (berbuat dosa terang-terangan). Para sahabat bertanya, “Siapakah al-mujahirun itu?” Beliau berkata, “Ia adalah orang yang pada malam hari berbuat dosa kemudian Allah tutupi aibnya. Lalu pada pagi harinya ia menceritakannya.” [Muttafaq alaih]

 

Dengan tidak mengumbar dosa kita jadi lebih mudah bertaubat dan orang lain jadi tidak akan ketularan berbuat dosa. Sekali lagi, jika kita telah berdosa, jangan diumbar dan jangan diceritakan atau kita akan terancam hadits di atas. Semoga kita nggak termasuk al-mujahirun.

 

Sebenarnya masih ada beberapa hal lain yang dianggap riya padahal bukan. Tapi sengaja dicukupkan sampai di sini karena dirasa sudah mencakup dan mencukupi. Mulai sekarang, jika ada bisikan setan yang mencegah kita bertaubat dan berbuat baik dengan menuduh kita berbuat riya’, berdoa saja dengan doa yang ada ajarkan Rasulullah dan terdapat di Musnad Ahmad, “Allahumma innaa na’uudzu bika min an nusyrika bika syaian na’lamuhu, wa nastaghfiruka limaa laa na’lamuhu. (Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik/riya’ secara sadar, dan kami memohon ampunanmu atas perbuatan syirik/riya yang tidak kami sadari).” Allahumma aamiin.

Mengenali Aib Diri

Mengenali Aib Diri

Oleh : Ustadz Nur Fajri Ramadhan

@nf_rom
23 Okt 2011

 

Sesungguhnya di antara bentuk kealpaan yang paling berbahaya adalah kealpaan seseorang terhadap dirinya, positif dan negatifnya. Orang yang tidak mengenali potensi, bakat, dan hal-hal positif dari dirinya akan menyiakan banyak kesempatan dan kurang sempurna syukurnya kepada Allah ta’alaa atas anugerah yang telah dikaruniakan. Demikian pula halnya mereka yang menutup mata dari aib dan kesalahannya, akan terus bergelimang dalam kesalahan dan sulit untuk berubah menjadi lebih baik. Keduanya amat berbahaya, tapi terkadang ketidaktahuan seseorang akan kekurangan dan aibnya lebih parah dan berbahaya.

Oleh karena itulah kita amat dianjurkan untuk melakukan muhasabah (introspeksi diri). Kita tentu amat familiar dengan perkataan Umar bin Khaththab: “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab kelak.” Kurang lebih maksud beliau adalah agar kita dari sekarang mulai menghitung-hitung dosa-dosa dan kekurangan kita lantas bertaubat dan memperbaiki diri sebelum kelak di Yaumul-Hisab kesalahan-kesalahan kita dihitung, padahal tidak ada lagi kesempatan taubat dan ‘remedial’ saat itu.

Namun muhasabah diri kerap kali masih belum cukup, karena tabiat jiwa –apalagi jika telah terkena tipuan setan– cenderung membela diri. Sudah jelas salah sendiri tapi enggan mengakui atau malah mengambinghitamkan orang lain. Kalaupun ternyata menyadari kesalahan, selalu ada dorongan untuk menganggapnya ringan lantas mentolerirnya begitu saja. Memang kadang kala kita menangisi kesalahan, tapi tidak lama setelah itu kita tetap lupa untuk memperbaikinya. Nah, kalau sudah datang giliran untuk mengoreksi orang lain yang terjadi malah sebaliknya, yang kecil dianggap besar. Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak terlihat. Padahal sikap seorang mukmin adalah sebaliknya, ia senantiasa mengevaluasi dirinya bahkan mencela keburukan-keburukannya. Di saat yang sama, ia tidak pernah mencari-cari kesalahan orang lain, bahkan seringkali cenderung memaafkan dan menutupi.

Muhasabah harian, pekanan, bulanan, dan tahunan teruslah kita rutinkan, jangan sampai kita tinggalkan. Namun ada beberapa langkah yang selayaknya kita ikut laksanakan untuk menyempurnakan proses muhasabah kita. Berikut di antaranya:

Pertama: Berguru kepada seorang ahli ilmu dan hikmah secara intensif

Seorang ahli ilmu dan hikmah amat layak untuk dimintakan nasihatnya. Tapi, akan lebih baik lagi kalau beliaulah yang menasihati kita tanpa diminta. Bagaimana caranya? Tentu dengan sering bersamanya, menyerap ilmu dan hikmahnya, serta berkhidmat kepadanya.. Kita mungkin ingat bahwa para sahabat radhiyallahu ‘anhum dahulu senaniasa berusaha dekat dan menyerap pelajaran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lebih dari itu mereka jika mereka berbuat kesalahan, akan langsung diketahui dan dinasihati oleh Nabi. Bagi mereka tidak peduli apakah akan dinasihati secara halus oleh beliau (ini yang paling banyak terjadi) ataupun ditegur dengan sangat tegas, seperti yang terjadi pada diri Mu’adz bin Jabal tatkala Rasul menegurnya dengan wajah memerah, “A fattaanun anta, ya Mu’adz?? (Apakah kamu bermaksud membuat chaos di tengah manusia, wahai Mu’adz??”

Kalau di zaman sekarang, hal ini biasanya berlaku di pesantren, sekolah, atau lembaga sejenis. Para kiai, guru, atau ustadz bisa mengenali karakter asli para siswa dan santrinya karena seringnya interaksi sehingga jika kenal kekurangan-kekurangan mereka dan bisa menasihatinya. Peran senior di sekolah dan kampus juga bisa kita anggap mirip, dengan syarat sang senior juga merupakan seseorang yang memiliki kecukupan ilmu dan penuh hikmah serta wibawa di hadapan kita.

Pada tahun 1906, KH Agus Salim perbah ditugaskan ke Mekkah sebagai dragoman (penerjemah) di Konsulat Belanda. Ingat khan berapa bahasa yang beliau kuasai? Beliau adalah seorang yang cerdas, namun karena beliau sejak kecil bersekolah di sekolah-sekolah Belanda, seperti ELS (Europeese Lagere School, setingkat SD) dan HBS (Hogere Burger School, setingkat SMP dan SMA), beliau sedikit terpengaruh dengan pandangan-pandangan filsuf Barat, tidak terkecuali yang berkaitan dengan akidah. Di Mekkah, beliau yang waktu itu masih berusia 22 tahun berguru kepada seorang ulama Ahlus Sunnah kebanggaan Nusantara, Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, selama kurang lebih 6 tahun. Syaikh Ahmad Khatib adalah satu-satunya ulama Melayu yang pernah menduduki jabatan tertinggi dalam pengajaran madzhab Syafi’I di Masjidil Haram. Banyak muridnya yang menjadi tokoh penting negeri kita dan negeri Jiran, sebut saja Hadhratusy-Syaikh KH Hasyim Asyari (pendiri Nahdhatul Ulama), KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyyah), Syaikh Muhammad Saleh (mufti Selangor), Syaikh Muahmmad Zein (mufti Perak), dst rahimahumullah ajma’iin.

Entah kenapa kalau bicara tentang Syaikh Ahmad Khatib, saya selalu menggebu-gebu. OK, kembali ke KH Agus Salim. Beliau termasuk orang yang beruntung karena saat berguru pada Syaikh Ahmad Khatib, barulah ia sadar kalau akidahnya sudah teracuni oleh pola pendidikannya dahulu yang kental dengan nuansa Belanda. Syaikh Ahmad Khatib-lah yang menjelaskan hal itu kepadanya karena melihat ada yang tidak beres pada diri KH Agus Salim. Metode pengajaran yang dilakukan oleh Syaikh Ahmad Khatib spesial, karena beliau tahu KH Agus Salim adalah seorang jenius. Ia ajak beliau berdiskusi sedikit demi sedikit. Awalnya KH Agus Salim tidak begitu saja menerima ucapan sang guru, beliau lantas melakukan perbandingan antara akidah Ahlus Sunnah dengan doktrin dan ideologi Barat. Namun karena Syaikh Ahmad Khatib mampu menjawab semua pertanyaan beliau dengan meyakinkan, akhirnya beliau kembali kepada keyakinan yang benar. Sepulangnya ke tanah air, beliau bahkan turut berjuang melalui Sarikat Islam.

Kedua: Bersahabat dengan rekan sebaya yang baik agama dan akhlaknya, serta jujur dalam bersikap.

Di antara nikmat mesti sering-sering kita syukuri adalah nikmat memiliki teman yang shalih. Teman yang shalih amat langka di zaman ini. Makanya hanya dengan rahmat Allah sajalah kita bisa bertemu dengan rekan-rekan yang shalih. Terkadang mereka datang begitu saja dalam kehidupan kita, tapi terkadang harus kita cari dengan segala upaya. Tapi kalau kita sudah mendapatkannya, yakinilah itulah salah satu nikmat teragung yang Allah berikan kepada kita.

Nikmat itu akan semakin besar manakala keshalihan teman kita itu bukan semata-mata keshalihan individual. Alangkah indah bila ia menggandeng tangan kita ke jalan kebaikan, mengingatkan kita saat khilaf dan silap, serta tidak ragu memberi teguran jika memang kita telah melampaui batas. Amirul Mukminin Umar ibn Khaththab pernah berkata suatu hari dengan penuh kerendahan hati:  “Semoga Allah merahmati orang yang memberitahukan kepada kami aib-aib kami.”

Begitu juga Umar bin Abdul Aziz, yang dikenal dunia Barat sebagai Umar II pernah berkata kepada salah seorang kawannya, Amru bin Muhajir: ”Wahai Amru, jika kamu melihat aku menyimpang dari kebenaran maka cengkeramkanlah tanganmu di kerah bajuku kemudian goncang-goncangkanlah aku seraya kau katakan kepadaku, ‘Apa yang barusan kau perbuat?!’”.

Dahulu para salaf sangat senang dengan teman-teman yang memberitahukan aib-aibnya. Adapun kita sekarang malah paling tidak suka dengan orang yang tahu belang-belang kita. Padahal kalau seandainya ada laba-laba beracun yang hinggap di punggung kita lalu ada teman yang memberitahukan kita akan hal tersebut, tentu kita akan bersegera menyikngkirkan laba-laba tersebut sekuat tenaga. Lalu kita pun akan sangat berterima kasih dan boleh jadi menraktir sang teman di kantin sepulang kuliah. Akhlak-akhlak buruk dan dosa-dosa kita besar kemungkinan lebih berbahaya daripada sengatan laba-laba, namun kita malah memandang sinis orang-orang yang hendak menasihati kita dan lebih senang dengan teman yang selalu siap mendukung, entah saat benar maupun keliru.

Ketiga: Mengambil manfaat dari kritikan rival dan musuh.

Meski berusaha menghindar sebisa mungkin, tetap saja ada orang yang tidak suka kepada kita. Sebagiannya malah terang-terangan menampakkan permusuhan di depan kita. Ia amat bersemangat membongkar semua aib kita sedetail mugkin. Nah, sambil kita berusaha untuk memperbaiki hubungan dengan minta maaf, tabayyun, dsb, kita juga bisa memanfaatkan ‘service’ yang ia berikan tadi.  Ingat ‘kan syair arab yang artinya begini?
Mata cinta tumpul melihat segala aib *  Mata benci tajam melihat segala aib

Karena itu kritikan dan cibirannya kita jadikan sebagai bahan introspeksi. Barangkali rival yang kritis semacam ini lebih bermanfaat daripada teman dekat yang tidak peka terjadap aib kita atau malah bersikap pura-pura tidak tahu demi menjaga perasaan kita. Tapi di sinilah ujiannya, kebanyakan kita cenderung menuduh bahwa sang rival berdusta dalam kritikannya atau suka melebih-lebihkan, padahal bisa jadi ia benar 100 %.

Keempat: Terjun bersosialisasi dengan masyarakat

Kesendirian dan sikap enggan bergaul memang bisa membuat kita lebih aman dari pengaruh buruk orang lain. Tapi di saat sama sering menumbuhkan keangkuhan, sikap ujub, atau ‘rabun’ terhadap aib diri. Kita kadang baru sadar dengan kekurangan-kekurangan diri ketika membandingkannya dengan sikap masyarakat.  Bisa juga baru sadar ketika sudah mendapat celaan dari dunia pergaulan atau malah ketika sudah ‘diusir’ darinya. Mirip amilum dalam makanan yang ketahuan wujudnya setelah muncul warna biru ungu akibat ditetesi benedict. Setelah kekurangan kita sudah kita ketahui, mudahlah kita untuk memperbaikinya. Tapi penting diingat, pergaulan yang dimaksud tentu bukan pergaulan yang tidak lagi mengenal budi pekerti. Karena amat sangat mungkin barometer mereka terhadap akhlak dan tata krama juga berbeda. Akhlak terpuji disebut keluguan, perilaku tercela disebut modernitas.

***Kepada Allah ‘azza wa jalla kita memohon hidayah agar selalu menjadikan diri kita nampak kurang di mata kita agar kita tidak pernah berhenti memperbaiki diri.

Imam Mahdi

Oleh : Ustadz Nur Fajri Ramadhan

@nf_rom
1 Oktober 2016

Sebagaimana permintaan salah seorang pembaca Kulwap yang disetujui banyak pengurus, penulis sudah janjikan beberapa pekan yang lalu, setelah menyelesaikan tadabbur surat ‘Abasa kita akan menyinggung beberapa tanda kiamat. Pembahasan ini akan kita bahas setiap kali menyelesaikan tadabbur satu surat demi satu surat insyaAllah. Penulis akan merangkum apa yang ditulis oleh Al-Hafidzh Ibnu Katsir rahimahullah (w. 774 H, selanjutnya disebut Al-Hafidzh saja) dalam bagian akhir kitab Al-Bidayah wan Nihayah yang memuat riwayat-riwayat tentang kejadian di akhir zaman.

 

Pembahasan pertama setelah menyebutkan beberapa tanda kiamat yang sudah atau sedang terjadi, Al-Hafidzh menjelaskan tentang Imam Mahdi. Bahkan beliau memiliki sebuah buku kecil khusus menjelaskan tentang Imam Mahdi. Al-Hafidzh menegaskan sejak awal bahwa Imam Mahdi ini bukanlah yang diklaim oleh pihak tertentu bahwasanya ia adalah Muhammad bin Hasan Al-‘Askari yang dihikayatkan masuk ke suatu ruang bawah tanah di kota Samara, Irak, di tahun 260 H ketika berusia lima tahun kemudian belum keluar hingga hari ini. Konon, ia akan keluar kelak di akhir zaman. Mitos ini dalam liretatur pihak tersebut diberi istilah “Al-Ghaibah”. Al-Hafidzh mengomentari dongeng ini, “Sunggguh yang demikian itu tidak ada faktanya, tidak ada bukti, tidak pula ada haditsnya.”

 

Meyakini Imam Mahdi akan muncul di akhir zaman sebagai salah satu tanda kiamat merupakan keyakinan mendasar Ahlussunnah waljamaah. Hampir semua kitab akidah Aswaja pasti menyinggung tentang keyakinan ini. Hadits-hadits tentang akan munculnya Imam Mahdi sangat banyak hingga mencapai level mutawatir maknawi. Hadits mutawatir maknawi ialah hadits yang lafalnya berbeda-beda namun kalau hadits-hadits yang lafalnya berbeda namun sama kandungan maknanya ini dikumpulkan akan sangat banyak sekali, mencapai mutawatir.

 

Di antaranya ialah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada akhir umatku akan keluar Al-Mahdi. Allah menurunkan hujan kepadanya, bumi mengeluarkan tumbuhannya, harta akan dibagikan secara merata, binatang ternak melimpah, dan umat menjadi mulia.” [Hr Al-Hakim]

 

Harta dan kesuburan Bumi di masa beliau sangat melimpah hingga salah seorang rakyatnya berkata, “Wahai Mahdi, berilah aku harta!” Maka Imam Mahdi berkata, “Ambillah!” [Hr Ibnu Majah] Dalam riwayat At-Tirmidzi: “Maka Al-Mahdi pun mengeruk dengan kain pakaiannya sekeruk harta semampu yang ia bawa.”

 

“Masa kenabian akan berlangsung di tengah kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya. Setelah itu datang periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah (kekhilafahan sesuai manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’ala mengangkatnya. Kemudian datang periode raja-raja yang lalim selama beberapa masa. Selanjutnya datang periode raja-raja diktator dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’ala. Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad shallalahu alaihi wa sallam diam.” [Hr Ahmad]

 

Para ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan khilafah ‘ala minhaj nubuwwah ialah khilafah yang diawali Al-Mahdi sebagaimana Nabi bersabda, “Akan memimpin setelahku para khalifah. Setelah itu para umara’. Setelah itu para raja. Setelah itu para diktator. Setelah itu muncul seseorang dari Ahlu Baitku.” [Hr Ad-Daraquthni]

 

Hadits lain tentang Al-Mahdi ialah: “Seandainya dunia tidaklah tersisa melainkan sehari saja, niscaya Allah akan mengutus seorang laki-laki dari keturunanku yang akan memenuhi dunia dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi kezaliman.” [Hr Ahmad].

 

Berdalilkan hadits ini, Al-Hafidzh dan para ulama lainnya meyakini bahwa Imam Mahdi akan muncul sebelum Nabi ‘Isa ‘alaihissalam, bukan setelah beliau. Itu karena Nabi ‘Isa menegakkan keadilan.

 

Di antara hal yang mendukung bahwa Al-Mahdi muncul sebelum turun Nabi ‘Isa ‘alaihissalam dan akan berkolaborasi dengan Nabi ‘Isa ialah sabda Nabi: “Imam mereka adalah seorang laki-laki yang shalih. Ketika pemimpin mereka hendak maju ke depan untuk mengimami dalam shalat subuh, tiba-tiba turunlah Isa bin Maryam, maka mundurlah imam mereka ke belakang supaya Isa maju untuk mengimami shalat. Isa lalu meletakkan tangannya di antara dua bahunya (pemimpin mereka) sambil berkata, ‘Majulah engkau dan pimpinlah shalat, karena sesungguhnya ia ditegakkan untuk kalian.’ Akhirnya pemimpin mereka pun mengimami mereka shalat.” [Hr Ibnu Majah]. Imam As-Suyuthi (w. 911 H) mengemukakan riwayat dari Musnad Al-Harits bahwa imam tersebut merupakan Imam Mahdi.

 

Nabi juga telah memberikan banyak petunjuk tentang pribadi beliau bahkan mendeskripsikan sebagian sifat fisik beliau. “Dahinya lebar, hidungnya mancung.” [Hr Abu Dawud]

 

“Ia dari Ahlu Baitku. Namanya menyamai namaku. Nama ayahnya sama dengan nama ayahku.” [Hr Abu Dawud]

 

“Al-Mahdi dari ‘itrahku (keturunanku), dari keturunan Fathimah.” [Hr Abu Dawud]

 

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu suatu hari memandang kepada putra beliau, Al-Hasan, lalu berkata, “Sesungguhnya putraku ini pemimpin sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam nubuwatkan. Kelak akan lahir dari sulbinya seorang lelaki yang namanya seperti nama Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perangainya menyerupai perangai beliau, tetapi fisiknya tidak.[Hr Abu Dawud]

Hadits-hadits inilah yang menjadi bukti bahwa Imam Mahdi yang diklaim oleh pihak tertentu tadi pasti keliru, sebab nama ayahnya ialah Hasan Al-‘Askari (w. 260 H), bukan ‘Abdullah. Apalagi ia juga sebenarnya tidak memiliki putra kandung sebagaimana disebutkan oleh salah satu pakar sejarah terbesar Ahlussunnah, Ibnu Jarir Ath-Thabari (w. 310 H) dan salah satu tokoh terpenting pihak tersebut, Al-Kulaini (w. 329 H). Bahkan uniknya imam-imam pihak tersebut sebelumnya sejak yang keempat hingga yang kesebelas, yakni Hasan Al-‘Askari sendiri, seluruhnya keturunan Al-Husain radhiyallahu ‘anhuma, bukan keturunan Al-Hasan radhiyallahu ‘anhuma.

 

Selanjutnya Al-Hafidzh menyebutkan beberapa peristiwa menjelang dan fenomena menggembirakan di masa kepemimpinan Al-Mahdi. Nabi bersabda, “Akan terjadi perselisihan setelah wafatnya seorang pemimpin. Lalu keluarlah seorang lelaki dari penduduk Madinah mencari perlindungan ke Mekkah. Kemudian datanglah beberapa orang dari penduduk Mekkah kepada lelaki ini, lalu mereka membai’at Imam Mahdi secara paksa, maka ia dibai’at di antara salah satu rukun (sudut Ka’bah) dan Maqam Ibrahim (di depan Ka’bah). Kemudian diutuslah sepasukan manusia dari penduduk Syam, maka mereka dibenamkan di sebuah daerah bernama Al-Baida yang berada di antara Mekkah dan Madinah.

 

Bila hal itu dilihat oleh orang-orang maka ia didatangi oleh orang-orang shalih nan ahli ibadah dari Syam serta orang-orang terbaik dari dari Iraq untuk berbai’at kepadanya. Kemudian muncul seorang lelaki dari Quraisy yang pamannya dari kabilah Kalb. Lelaki ini akan membawa pasukan untuk menentang Imam Mahdi, tetapi pasukan al-Mahdi berhasil mengalahkan mereka. Kerugian bagi orang yang tidak menyaksikan harta rampasan perang kabilah Kalb. Imam Mahdi akan membagi-bagikan harta dan beramal mengikut sunnah Nabi mereka di tengah manusia. Ketika itu kedudukan Islam kian kokoh. Dia akan memerintah selama tujuh tahun kemudian wafat dan jenazahnya dishalatkan oleh umat Islam.” [Hr Abu Dawud]

 

Dalam riwayat At-Tirmidzi terdapat penjelasan tentang perselisihan yang terjadi setelah wafatnya seorang pemimpin itu. “Akan ada tiga orang putra khalifah yang akan saling berperang, tetapi tidak seorang pun menang dan memperoleh kekuasaan. Kemudian datanglah bendera-bendera hitam dari arah timur.”

 

“Akan muncul dari arah timur orang-orang yang membawa bendera hitam. Mereka akan meminta kebaikan tetapi tidak diberi. Mereka akan berperang dan akan menang. Mereka pun mendapat kebaikan yang mereka minta sebelumnya, tetapi mereka justru tidak menerimanya hingga mereka memberikannya kepada seorang lelaki dari Ahlu Baitku. Dia akan memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana sebelumnya ia dipenuhi kezaliman. Jika kalian telah mendapati zaman itu maka berbai’atlah dengannya walaupun kalian harus merangkak di atas salju.” [Hr Ibnu Majah]

 

“Akan muncul sekelompok manusia dari arah timur, mereka akan menyokong kepemimpinan Al-Mahdi.” [Hr Ibnu Majah]

 

“Muncul seseorang bernama Al-Harits, yang berprofesi sebagai petani, dari negeri di balik sungai. Di hadapan lelaki ini ada seseorang bernama Manshur, yang menyokong berkuasanya seorang keluarga Muhammad sebagaimana para shahabat dari Quraisy dahulu menyokong Rasulullah. Wajib atas setiap muslim untuk menolong atau menjawab panggilannya.” [Hr Abu Dawud]

 

Sungai yang dimaksud seperti tertulis dalam ‘Aunul Ma’bud, syarh Sunan Abu Dawud, yakni sungai Amu Darya, sebuah sungai besar di Asia Tengah. Negeri-negeri seperti Uzbekistan dan Turkmenistan memang disebut negeri-negeri di balik sungai, bilad maa wara-an nahr, karena posisinya dari Arab berada setelah sungai besar ini.

 

Dengan para penyokong dari Irak dan Syam inilah Imam Mahdi kelak akan muncul. Sebelumnya Allah telah mengampuni dosa Al-Mahdi, membimbing dan memberi beliau ilham. Demikianlah penjelasan Al-Hafidzh berkaitan hadits: “Al-Mahdi dari Ahlu Baitku. Allah akan memperbaikinya dalam semalam.” [Hr Ahmad]

 

Demikian. Wallahu a’lam.

Wakaf Uang Sepanjang Sejarah

Oleh : Ustadz Nur Fajri Ramadhaan
@nf_rom

Sebagian orang mungkin mengira bahwa wakaf uang yang difatwakan boleh oleh MUI pada 11 Mei 2002 dan diregulasikan dalam UU no. 41 tahun 2004 pasal 16 ayat (3) adalah perkara baru di zaman materialistis ini yang mana uang kertas merajalela sementara belum pernah ada contohnya di kalangan penghulu umat Islam yang shalih maupun generasi-generasi terdahulu.

Ya, memang tidak didapatkan riwayat tentang wakaf uang di kalangan penghulu Islam kecuali sedikit saja. Tetapi wakaf uang sudah ada dan benar-benar diterapkan sejak masa-masa itu. Riwayat tertua terkait wakaf uang adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih beliau: Az-Zuhri berfatwa mengenai orang yang menjadikan 1000 dinarnya di jalan Allah dan mewakafkannya kepada budaknya yang mahir berdagang, lalu profit dagangan itu dijadikan sedekah untuk orang miskin dan kerabat, apakah pewakaf ini berhak mengambil bagian dari profit tadi? Jika tidak boleh, maka ia akan berikan juga kepada orang miskin”. Kata Az-Zuhri: “Untung tersebut tidak boleh ia ambil.” [Shahih Al Bukhari (4/12)]. Az-Zuhri ini adalah Ibnu Syihab, tabiin senior nan populer yang hidup di abad pertama dan kedua Hijriah (58-124 H).

Adanya pertanyaan ini di majelisnya Az-Zuhri mengisyaratkan adanya wakaf uang di masa yang sangat awal di saat shahabat masih banyak yang hidup. Begitu juga Imam Malik (93-179 H) pernah ditanya pertanyaan berikut: “Jika ada seseorang yang mewakafkan 100 dinar, ia hutangkan kepada orang0orang dan mereka melunasinya, lalu diwakafkan lagi, dan begitu seterusnya, apakah engkau memandang ada kewajiban zakat di sana?” Imam Malik menjawab: “Iya, saya memandang ada kewajiban zakat padanya.” [Al Mudawwanah Al Kubra (1/343)]. Lihatlah bahwa Imam Malik tidak engingkari wakaf uang yang disebutkan dalam pertanyaan.

Pertanyaan ini pun diajukan di majelisnya Imam Malik di Madinah Al-Munawwarah. Ini menunjukkan bahwa wakaf uang ada dan terus berlangsung di kota Madinah yang penuh ilmu dan ulama. Di abad ketiga Hijriah pun ada bukti yang menunjukkan bahwa wakaf uang telah berlangsung di tengah masyarakat Islam bahkan hingga ke jantung Khilafah Abbasiyah di Baghdad. Imam Ahmad (164-241 H) pernah ditanya tentang seseorang yang mewakafkan 1000 dirham di jalan Allah, apakah dia dapat mengabil jatah dari situ? Imam Ahad menjawab, “Jika itu wakaf, maka ia tidak boleh mengambil apa-apa.” [Majmuatul Fatawa (31/234)]. Kondisi ini terus berlangsung di sejumlah wilayah Islam sebagaimana dihikayatkan oleh Ad-Dasuqi (653-696 H): “Dahulu di pelabuhan Fes ada seribu uqiyah emas yang diwakafkan untuk hutang. Sayangnya orang-orang malah melunasi hutang tersebut dengan kuningan dan lama-lama uang tersebut habis.” [Hasyiyah Ad Dasuqi (4/77)].

 

 

Sejarah lalu mencatat penyebaran wakaf uang yang signifikan di era Khilafah Utsmaniyyah di mana madzhab Hanafi kuat pada saat itu dan bahkan menjadi madzhab resmi negara. Bukti penyebaran wakaf uang pada masa itu ialah bahwa sejumlah fuqaha menuliskan buku-buku untuk menjelaskan tidak bolehnya wakaf uang serta mengingkari fenoena di masyarakat. Di saat yang sama, fuqaha lain turut menjawab dengan buku untuk menjelaskan bahwa itu boleh. Disertai bantahan terhadap argumentasi mereka yang melarang. Haji Khalifah mengisahkan fenomena ini: “Maulana Jawi Zadah menuliskan bukumenjelaskan tidak bolehnya wakaf uang. Ia juga berusaha membatalkan wakaf-wakaf uang di zamannya saat menjabat sebagai hakim di Eropa Timur. Kemudian Imam Abus Su’ud (896-982 H) membantah beliau dan mefatwakan bahwa itu boleh.” [Kasyfudzh Dzhunun (1/898)]. Pengingkaran Al-Qadhi Jawi Zadah seperti itu menunjukkan bahwa wakaf uang sudah tersebar di masayarakat zamannya. Adapun perbedaan pendapat antar sesama ulama Ahnaf di kalangan Utsmaniyyah, maka itu tidak aneh. Para fuqaha Hanafiyyah sendiri memang tidak satu suara terkait wakaf uang, sekalipun pendapat resmi yang dianut madzhab mereka adalah bahwa itu boleh, seperti halnya Malikiyyah dan sebagian Syafiiyyah dan Hanabilah. Tidak hanya sampai di situ, bahkan Khilafah Utsmaniyyah memerintahkan para hakimnya untuk mengesahkan wakaf-wakaf uang sebagaimana dinyatakan oleh ‘Alauddin Ak-Hashkafi (1025-1088 H) [Hasyiyah Ibni Abidin (4/364)].

Selanjutnya Hanafiyyah kontemporer seolah sepakat akan bolehnya wakaf uang meski masih ada sanggahan dari fuqaha lain [Kasyfudzh Dzhunun (2/10)]. Memang harus diakui memang bahwa wakaf uang ini belum terlalu menyebar di negeri-negeri Arab seperti luasnya penyebaran wakaf uang di semenanjung Anatolia (Turki sekarang) dan semenanjung Balkan (Eropa Timur sekarang) meski seluruhnya berada di bawah naungan Utsmaniyyah. Ibnu Abidin mengatakan, “Wakaf dirham populer di Turki & Eropa tetapi belum populer di negeri kami (Syam).” [Hasyiyah Ibni Abidin (4/364)].

Apapun itu, wakaf uang sebagaimana dinyatakan oleh Dr. Muhammad Al-Arnauth telah berkembang pesat dan itu salah satu kekhasan Utsmaniyyah. Data menunjukkan bahwa dalam rentang waktu 1340-1947 M, yang kebanyakan masa ini dunia Islam dikuasai Utsmaniyyah, wakaf uang tinggi dengan jumlah 5,5% dari total wakaf. Angka ini tentu tidak sedikit untuk wakaf uang karena kebanyakan orang (93%) masih mengutamakan wakaf properti [Alwaqful Islamy wa Tanmiyatul Mujtama’ hlm. 136]. Demikian seterusnya hingga wakaf uang kini menjadi hal yang lumrah di negeri-negeri Islam termasuk Indonesia. Wallahu a’lam.