The Endless Exam-Reward Cycle

Penulis : Ustadz Nur Fajri Romadhon Lc, Hafizhahullah

Whoever survives and shows his consistency upon Allah’s guidance even in difficult times, would be granted many benefits in this life even before the Hereafter according to several verses.

This pious one will carry off ease in matters, way out of problems and unexpected provision.

For instance, Allah said, “Ask forgiveness of your Lord. Indeed, He is truly Most Forgiver.
He will send (rain from) the sky upon you in (continuing) showers.
And give you increase in wealth and children and provide for you gardens and provide for you rivers.”
[Noah: 10-12]

In meantime, such merits could be sophisticated smartphones, luxury cars, wealth, beauty and other honourable achievements.

But, indeed these rewards later on become other new examinations in different face. And this kind of exam in fact is more effortful than the bitter and painful ones like sickness, poverty or lack of success.

Thus, the cycle is as below:
Exam – Consistency – Reward (next exam) – Consistency – Reward (more difficult exam) – …

or as following:
Exam – Failure – Reward (easier exam) – Consistency – Reward (more difficult exam) – …

This exam-reward cycle will endlessly continue as tests of our lifelong obedience.

Allah said:
“If they remain straight on the way, We would give them abundant provision, as a test for them.”
[Al-Jinn:16-17]

May Allah be with us at every step we take and help us when life gets rough

Menghadapi hal yang tidak disukai

Oleh : Muthiara Maharani,  S. Si

-Alumnus PESAN BISA Angkatan 1

-Alumnus FISIKA UI 2012

Semoga menjadi motivasi dalam menghadapi musibah atau cobaan yang tidak kita sukai..

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
(البقرة: 216)

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Mungkin kita sering merasakan kecewa, mengeluh dan tidak suka dengan ujian yang menimpa kita. Misal :
“kenapa Allah memberikan cobaan seberat ini kepada saya”
“kenapa cuma saya yang mendapat musibah seperti ini”
“kenapa fisik saya tidak sempurna”
“kenapa harus saya yang merasakan penderitaan seberat ini”
dan lain-lain..

Marilah kita renungi tulisan dibawah ini yang saya sandur dari kitab Fawaidul Fawaid karya al ‘alaamah Ibnul Qayyim al-Jauziyyah -rahimahullahu ta’alaa-
Semoga bisa mengobati dan menjadi penawar bagi hati yang sedang mengalami duka lara..

Apabila seorang hamba mentaati dan mengabdi kepada Allah dengan ikhlas, maka segala hal yang dibencinya akan berbuah kebaikan. Sebaliknya, apabila dia tidak mentaati dan mengabdi kepada Rabbnya, maka segala yang disenanginya akan berbuah keburukan.

Jadi, siapa pun yang mengenal Rabbnya dengan benar, mengerti seluruh asma dan sifat-Nya, pasti akan mengetahui dengan seyakin-yakinnya bahwa segala musibah dan cobaan yang tidak disukainya mengandung banyak maslahat dan manfaat yang tidak terfikirkan oleh dirinya.

Bahkan, terkadang kemaslahatan yang diperoleh hamba di dalam sesuatu yang dibencinya jauh lebih besar daripada kemaslahatan yang terkandung di dalam sesuatu yang disukainya.

Allah Mahabijaksana di antara yang bijaksana, Mahapengasih di antara para pengasih, dan Maha Mengetahui di antara yang mengetahui. Dia lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada diri kita sendiri, ayah atau ibu terhadap diri kita sendiri.

Apabila Allah menimpakan sesuatu yang tidak kita sukai, berarti pada dasarnya itulah yang terbaik bagi kita. Hal itu dilakukan-Nya karena mempertimbangkan yang manfaat bagi kita, disamping sebagai bentuk kebaikan dan kelembutan dari-Nya untuk kita. Seandainya hamba-hamba-Nya diberikan kebebasan untuk memilih sendiri jalan hidupnya, niscaya kita tidak akan sanggu p mewujudkan kemaslahatan bagi diri kita sendiri, baik kebaikan dalam hal pengetahuan, kehendak maupun perbuatan.

Sungguh, Allah mengatur kita berdasarkan ilmu, hikmah dan rahmat-Nya, baik kita suka ataupun tidak terhadap pengaturan-Nya itu. Hal itu bisa disadari oleh orang-orang yang meyakini kebenaran asma dan sifat-Nya sehingga mereka tidak mencela sedikitpun hukum yang telah ditetapkan-Nya.

Apabila seorang hamba mampu mengenal Allah beserta asma dan sifat-Nya, maka kehidupannya di dunia ini akan menjadi tentram.  Kita akan merasakan kenikmatan yang tidak dapat dibandingkan kecuali dnegan kenikmatan di Surga di akhirat kelak. Sebab, kita selalu ridha kepada Allah, sedangkan keridhaan merpakan surga duniawi dan tempat peristirahatan bagi orang-orang yang mengenal Allah. Kita akan menerima dengan lapang dada semua ketentuan takdir Allah yang berlaku untuk kita, yang sejatinya merupakan pilihan Allah untuk diri kita. Kita juga akan menerima hukum-hukun agama dengan perasaan lapang.

Inilah makna meridhai Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai Rasul. Orang yang tidak mempunyai keridhaan seperti ini belum dapat dikatakan telah mencicipi manisnya iman.

Perolehan keridhaan semacam ini tergantung pada tingkat pengetahuan seseorang tentang keadilan, hikmah dan kebaikan pilihan Allah untuk diri kita. Semakin bertambah pengetahuan kita mengenai semua itu, semakin ridha pula kita kepada-Nya. Alasannya, karena kita akan menyadari bahwa takdir Allah Subhanahu wa Ta’alaa yang berlaku bagi semua hamba-Nya itu berkisar di antara keadilan, kemaslahatan, hikmah, dan rahmat-Nya; tak sedikitpun melenceng dari kisaran itu.

Dalam suatu do’a tentang kesedihan yang panjang, terdapat satu kalimat ” ‘adlun fiyya qodhouk” artinya “Ketentuan-Mu adil bagi-ku”. Kalimat ini berkaitan  dengan segala ketentuan Allah yang ditetapkan bagi smeua hamba-Nya, baik itu berupa hukuman ataupun sakit dan penyebabnya. Dia yang menentukan sebab dan akibat semua kejadian. Dia Mahaadil dalam penentuan takdir ini. Di samping itu, ketentuan-ketentuan-Nya diberlakukan demi kebaikan Mukmin; sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam

‘Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya; tidaklah Allah menentukan suatu takdir bagi seorang Mukmin, melainkan takdir itu merupakan yang terbaik baginya. Yang demikian itu hanya berlaku bagi orang Mukmin.” (hadits yang semakna diriwayatkan oleh  Ahmad, Abu Ya’la dan Ibnu Hibban)

Disandur dari kitab Fawaidul-Fawaid, hal: 236-241

Mari serahkan semua urusan kita kepada Allah aja, yakinlah pilihan-Nya pastilah yang terbaik walaupun tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Dibalik takdirnya pasti tersimpan hikmah yang sangat besar :’)

#nasihat_pribadi

Semoga Allah selalu melapangkan hatiku dan sennatiasa ridha dalam menerima setiap ketentuan-Nya.
Aamiin.

Untukmu Yang Berjiwa Hanif

Oleh : Nisa Larasati

Kesehatan Lingkungan UI 2014

Jadi, apa yang dimaksud dengan kebahagiaan hakiki?

Kebahagiaan seperti apa seharusnya dicari manusia?

Siapakah sebenarnya orang-orang yang berbahagia itu?

Dan sarana apa sajakah yang dapat digunakan untuk mencapai kebahagiaan tersebut?

Penulis membuka pembahasannya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar kepada pembaca. Sebuah hook yang menarik karena jarang pembahasan dalam sebuah buku dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan penulis kepada pembacanya. Tentu harapan penulis tidaklah seperti pembicara dalam seminar yang ingin mendengar opini audiensnya. Beliau mengajak pembacanya untuk menyelami pikirannya masing-masing.

 

Buku ini membahas topik yang sangat mendasar dan tepat sasaran untuk orang yang sedang gelisah mencari hakikat kehidupan. Bacaan yang tidak terlalu tebal namun memberikan makna yang mendalam. Cocok untuk pemula yang sedang bingung mencari jalan mana yang harus dipilih dalam kehidupan. Pun demikian sebagai pengingat bagi siapapun tentang makna kehidupan dalam ulasan yang cukup singkat dan mengena. Penulis banyak mengambil kisah para Nabi dan generasi terbaik dalam memberikan contoh sehingga mudah untuk dipahami. Sekaligus mengingatkan kembali atau bahkan mengenalkan nama-nama yang harum dalam sejarah Islam namun masih asing di telinga kita.

 

Happy writers memutuskan untuk tidak mengulas lebih banyak supaya happy reader semakin penasaran dan merasakan sendiri nikmatnya membolak-balikan lembaran demi lembaran. Menuliskan catatan penting di pinggir halaman dan mengulang-ngulang setelah selesai karena setiap kali dibaca seperti mendapat hal-hal baru yang tidak didapatkan sebelumnya.

Sedikit bocoran bab dan isi subbabnya:

Gerbang Hidayah

  1. Fitrah Bekal Kebenaran
  2. Bangun Dari Kelalaian
  3. Lokomotif Hidayah
  4. Muara Kebenaran
  5. Tunjukilah Aku Jalan Yang Lurus
  6. Jadilah Lentera

 Menuju Cara Beragama Yang Benar

  1. Berjiwa Hanif
  2. Berserah Diri Kepada-Nya
  3. Memiliki Motivasi Yang TInggi
  4. Sabar Dan Yakin

 

Kalau ada  happy reader  yang berminat untuk baca bukunya silahkan mengontak happy writer ya!

Selalu bersyukur kepada Allah karena diberikan kegelisahan. Karena kegelisahan menuntut diri untuk mencari jawaban-jawaban. Dan bermuara dalam percakapan panjang kepada Rabb Semesta Alam. 

Armen Halim Naro

Pustaka Imam asy-Syafi’I, 2014

 

 

 

 

Gila Baca Ala Ulama

Oleh : Nisa Larasati

Kesehatan Lingkungan UI 2014

Akhirnya kesampaian juga menyelesaikan buku ini setelah menemukan 2 jilid terakhirnya di toko buku langganan. Tahu buku ini dari akun instagram yang sering review buku dan merekomendasikan buku ini untuk kita-kita yang suka baca maupun yang baru berniat suka baca.

Prolog di buku ini menceritakan kecintaan para ulama terhadap ilmu dan buku.

”Kerinduan para penuntut ilmu terhadap ilmu lebih besar daripada kerinduan seorang terhadap kekasihnya. Kebanyakan mereka tidak terpesona dengan fisik manusia.”

Ibnul Qayyim dalam Raudhah Al-Muhibbin hlm. 69.

 

“Barangsiapa yang ketika membeli buku tidak merasa nikmat melebihi nikmatnya membelanjakan harta untuk orang yang dicintai, atau untuk mendirikan bangunan, berarti dia belum mencintai ilmu. Tidak ada manfaatnya harta yang dibelanjakan hingga dia lebih mengutamakan membeli buku.

Al Jahizh dalam Al-Hayawan

Ternyata cintanya mereka terhadap ilmu dan buku segitunya. Kemudian langsung membandingkan dengan diri sendiri yang rasanya masih jauh dari itu. Tapi tenang aja lagi otw kok. Entah cari buku di perpus atau cari uang tambahan buat anggaran beli buku hehehe. Selama niatnya untuk ibadah ke Allaah pasti Allah bantu kan (:

Saking cintanya sama buku, bahkan cara mereka untuk mengusir kantuk adalah dengan baca buku. It does makes sense, karena coba bayangin kita lagi sama orang yang kita sayang pasti pengen ngobrol ngga selesai-selesai kan. Ngga ada bosennya gitu. Nah kalau pas kita baca buku malah jadi ngantuk berarti harus ada yang dibenahi. Entah meluruskan niatnya atau baca ta’awudz supaya setannya kabur hehe

Ibnul Jahm berkata,

“Apabila rasa kantuk mulai menyerang kedua mataku bukan pada waktunya, maka aku segera membaca buku mutiara hikmah. Kemudian spirit membacaku pun kembali tergugah. Aku menemukan kembali kelapangan hati saat harus memenuhi kebuutuhan. Sedang kesengangan dan kemuliaan yang memenuhi hatiku lebih cepat membuatku bangun daripada ringkikan keledai atau gemuruh reruntuhan.”

Satu penggalan yang bikin happy writer seneng pas tahu ada istrinya ulama yang ngebacain buku untuk beliau sebelum tidur. What my dream! Adakah yang lebih indah dari berbagi hal yang kita suka bersama orang yang disayangi (:

Al-Allamah Abul Baqa’ Abdullah bin Husain Al-Ukhbari bercerita bahwa istrinya membacakan buku sastra atau buku lain pada malam hari.

Lalu sebenarnya gimana sih wujud manifestasi cintanya ulama terhadap ilmu yang ada di dalam buku? Penulis merangkumnya dalam tiga poin besar yaitu:

  1. Membaca Ulang

Aqqad: Sungguh ada orang yang mengatakan bahwa membaca satu buku tiga kali lebih bermanfaat dari pada membaca tiga buku dengan sekali baca.

Abu Bakar bin Athiyyah mengatakan bahwa dirinya membaca Shahih Bukhari berulang kali sebanyak 700 kali.

Well yeah, sangat berkebalikan dengan happy writer sekarang yang pengennya cepet-cepet berpindah buku setelah selesai. Paling-paling baca buku berulang kalau udah cinta banget sama isinya. Dulu pernah baca novel sampe 5x sampe hafal detail-detailnya kemudian sadar kalau novel cuma menjadikan happy writer terlalu banyak berimajinasi kemudian membanding-bandingkannya realita. Cukup nirfaedah.

  1. Mengajarkan Satu Buku Berulang Kali

“Abdul Ghafir bin Muhammad Al-Farisi mengajarkan kitab Shahih Muslim lebih dari 60 kali.”

Siyar An-Nubala’ 18/20)

Nah ini poin baru yang sama sekali ngga pernah terpikirkan sebelumnya. Berhubung happy writer bukan guru, mungkin bentuknya lebih sharing kali ya. Dan korban utama happy writer biasanya adik tersayang hahaha. Kayaknya dia seneng-seneng aja sih ga protes meskipun happy writer ceritanya kadang setengah sadar sebelum tidur dan berakhir dengan ketiduran.

Salah satunya juga menulis kayak gini supaya lebih inget. Happy writer pelupa parah. Jadi ya di post disini biar gampang dibaca-baca lagi dimanapun.

  1. Menyalin Buku

Ibnul Jauzi: pernah mengatakan bahwa dirinya menulis 2.000 jilid buku dengan jari-jarinya. Beliau juga membaca 200.000 jilid buku.

Ahmad bin Abduddaim Al-Maqdisi (w. 668 H) pernah menulis sekitar 2.000 jilid buku dengan tangannya sendiri. Beliau menekuni tulis-menulis selama 50 tahun lebih.

Well, ini baru happy writer lakukan di tahun ini setelah tersadar sebagus apapun buku yang dibaca ngga bakal keinget kalau udah selesai dan ngga pernah disalin. Pertama-tama biasanya happy writer bakal meng-highlight­ yang dianggap penting, buat catatan di pinggirnya, dan ditandain halaman yang krusial. Fun fact: Bill Gates juga melakukan ini kalau lagi baca buku.

Selain mengambil ilmu lewat membaca buku, kita harus banyak diskusi sama ahlinya lho. Dan memang ini kerasa banget sih. Biasanya sebelum memilih judul buku, happy writer berdiskusi tentang satu topik sama orang yang concern dengan topik tersebut lalu meminta rekomendasi buku. Ini salah satu tipsnya Ustadz Aan Chandra Thalib karena beliau membaca buku dari berbagai bidang bahasan. Karena happy writer suka buku dari berbagai bidang bahasan makanya selalu nanya ke ahlinya dulu.

Imam An-Nawawi: Berdiskusi dengan orang yang pandai tentang suatu ilmu selama satu jam lebih bermanfaat daripada menelaah ataupun menghafal selama berkam-jam bahkan berhari-hari. Syarh Muslim (1/47)

Nah itu beberapa hal yang semoga bermanfaat bagi teman-teman. Semoga kita makin gila baca kayak ulama ya hehehehe tapi jangan lupa ilmunya jangan hanya mampir di otak dan tinggal di lemari buku tapi sampai ke hati (:

Selamat membaca para pemilik hati yang bersemangat!

Ilmu itu bukanlah yang mengisi lemari buku

Ilmu adalah apa yang terkandung dalam hati

Muhammad bin Abdullah dalam Raudhah Al-‘Uqala’

 

Ali bin Muhammad Al- ‘Imran

Kuttab Publishing

Bolehkah Menilai Sesuatu Hal Salah?

Penulis : Aldi Alfarizi

Eh, jangan menyalahkan-nyalahkan dia dong, dia kan juga ciptaan tuhan, patut dihargai dan diterima pendapatnya dong. Masa kalian gak menghargai Hak Asasi Manusia. Dasar diskriminatif!

Seorang anak melaksanakan ujian yang diadakan oleh seorang guru. Setelah nilai keluar anak ini melihat bahwa dia mengisi semua soal, tapi terdapat dua soal yang salah. Lalu anak ini protes, “Bu, kok ibu nyalahin dua soal yang saya isi ini bu, saya kan juga manusia bu, ciptaan tuhan, patut ibu hargai dan terima pendapatnya!”

Kejadian seperti ini kerap terjadi akhir-akhir ini. Apakah memang mereka yang menilai sesuatu salah meninggalkan asas toleransi? Apakah memang mereka yang benar-benar setuju dengan semua pendapat telah bertoleransi? Apakah mayoritas yang menilai salah minoritas termasuk diskriminasi? Apakah minoritas yang menilai salah mayoritas berarti telah mengintervensi?

Kita telah lama meninggalkan tradisi ilmiah semenjak teknologi menyentuh kita lebih jauh. Semua berhak berbicara, semua berhak berpendapat, memang. Pena tergores dengan mudahnya, menyakiti relung hati banyak manusia, tanpa keilmiahan, tanpa etika.

Kita telah lama meninggalkan tradisi ilmiah kita semenjak teknologi menyentuh kita lebih jauh. Hingga badan ini seakan malas untuk bergerak, jika tanpa apresiasi, jika tanpa nilai tambah tuk diri sendiri.

Kita malu. Malu untuk berkata “Tidak Tahu” untuk perkara yang memang kita tak tahu. Sehingga, banyak dari pengetahuan hanyalah prasangka belaka.

Seakan manusia harus selalu menjawab semua pertanyaan. Padahal tak semuanya dapat dilihat dengan mata telanjang.

Sehingga, menilai sesuatu salah adalah hal yang tabu.

Atau, semakin sedikit orang yang menilai sesuatu salah dengan etika?

Depok
26 Januari 2018

Gempa yang Baik

Penulis : Gifar Rabakhir

Hari rabu, tanggal 24 Januari lalu, terjadi sebuah gempa berkekuata 6,4 skala ritcher di daerah Lebak Banten. Saat itu, aku sedang berada di lantai 9 sebuah gedung di Jakarta. Memang, terdapat peristiwa yang memicu adrenalin karena aku dan kawan-kawan harus berlari melalui tangga darurat dari lantai 9, tapi bukan itu yang aku fokuskan dalam tulisan ini, melainkan pelajaran apa yang bisa aku ambil dari peristiwa yang kulihat saat gempa dan proses evakuasi berlangsung.

 

Ya, pada saat gempa berlangsung, terjadi sebuah keriuhan yang sangat besar. Bisa dibilang semua orang berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri masing-masing, tidak peduli apa yang terjadi pada orang lain. Saat itu, aku melihat bagaimana ada seseorang yang tasnya tersangkut pada knop pintu, padahal ia bisa meninggalkan tasnya untuk menyelamatkan nyawa yang lebih berharga. Bukankah sebuah tas tidak lebih berharga dari nyawa yang terancam bahaya? Bukankah dunia hanya senda gurau, sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam surat Al-Ankabut ayat 64, “Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” Bahkan Rasulullah Shallallahu Alayhi wa Sallam menyebutkan bahwa dunia bagi Allah adalah lebih hina dari bangkai kambing, dalam Hadits riwayat Muslim nomor 2957. Maka untuk apa orang tersebut mengorbankan dirinya demi bangkai kambing?

 

Tapi yang lebih mengherankan adalah bagaimana teman-temannya tidak menyadari keadaannya yang sedang membutuhkan bantuan. Mereka seolah-olah tidak peduli dengan apa yang terjadi padanya. Membuatku berpikir tentang bagaimana keadaan kita pada hari kiamat kelak? Sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam surat Abasa ayat 33-37, “Maka apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dan dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” Kebayang?

 

Oke, tadi adalah perbandingan antara keadaan sekarang dan hari kiamat kelak. Sekarang bisa kita bandingkan antara kejadian yang terjadi pada waktu bersamaan. Aku, mungkin masih beruntung karena hanya perlu turun dari lantai 9. Coba bayangkan, jika kita harus turun dari lantai tertinggi pada gedung yang lebih tinggi lagi, tidak perlu jauh-jauh ke Dubai, cukup di gedung tertinggi di Indonesia yang memiliki 46 lantai. Beberapa orang dari aku dan teman-teman saja sudah kepayahan, padahal itu hanya 9 lantai, bagaimana jika 46? Sungguh bahkan dengan hal ini, aku bisa belajar bersyukur.

 

Maka pada setiap kejadian, Allah selalu memberikan tanda-tanda kekuasaan dan kasih sayangnya. Sekarang, tinggal bagaimana kita sebagai makhluk menyikapinya. Apakah kita mau senantiasa berhusnuzon kepada Rabbul Alamin yang berkuasa atas segala sesuatunya, ataukah terus-menerus mencela apa-apa yang terjadi bila itu buruk menurut kita, hingga melupakan adanya hal baik yang kita dapatkan, padahal jumlahnya justru lebih banyak. Maka aku cukupkan tulisan ini. Semoga kita senantiasa menjadi makhluk yang dapat bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Aamiin Allahumma aamiin.

Depok, 26 Januari 2018

Menikmati Proses, Tak Hanya Hasil

 

 

Penulis : Ustadz Nur Fajri Ramadhan

@nf_rom

6 Maret 2011

Pernahkah saat belajar kita merasakan lelah? Pernahkah saat melakukan aktifitas sosial kita dihantui rasa bosan? Begitupun saat membaca al-Qur’an, tak jarang rasa malas menyerang.  Apapun pekerjaannya, mulai dari Bapak Presiden di istana negara  sampai pengamen di Kopaja, semua merasakan lelah dan capek. Begitulah hidup, deritanya tiada akhir, karena memang manusia diciptakan dalam keadaan susah payah dan hidup pun dilalui dengan tidak mudah..

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. (QS. 90:4)

bekerja keras lagi kepayahan, (QS. 88:3)

Lantas mengapa mereka tetap semangat merengkuh dayung sampan kehidupan mereka meski ombak terus menerjang dan badai tak kunjung henti? Jawabnya tentu sama: karena mereka punya tujuan. Tujuan yang mereka impikan inilah yang menjadi hiburan pelipur lara mereka dan ramuan anestetik yang menghilangkan sakit di sekujur tubuh mereka.

Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Begitulah slogan mereka. Usaha=hasil, itulah rumus mereka.

Mereka juga selalu mencamkan wejangan ibu mereka, “Sabar ya, Nak. Memang sekarang kamu berlelah-lelah belajar dan bekerja. Nanti kalau sudah sukses baru kau bisa nikmati hasilnya.”

Sekilas ini adalah pola pikir yang bagus. Memang demikian. Tapi tidak selamanya begitu. Coba saja jika mereka ditanya: jika kau bisa mendapatkan tujuanmu tanpa harus melalui proses panjang nan melelahkan apakah kau mau?

Jawabnya tentu saja: Absolutely, give it to me.

Demikian pula, kalau disuruh memilih, mau melalui jalan tol yang kosong lagi mulus atau melalui jalan berlumpur yang mendaki, tentu yang pertama yang akan dipilih.

Pola pikir seperti ini meskipun manusiawi tapi boleh jadi akan membawa seseorang kepada prinsip yang diusung oleh Machiavelli: Tujuan menghalalkan segala cara. Dus, terjadilah peristiwa pembocoran soal UN di banyak SMA. Ada lagi CPNS yang rela merogoh koceknya dalam-dalam untuk menyogok agar bisa diterima. Beberapa calon pejabat pun banyak melakukan kemungkaran dan kelicikan supaya  terpilih.

Sebaliknya jika mereka setelah jatuh bangun membanting tulang dan memeras keringat tapi tidak mendapatkan tujuan mereka juga, langsunglah jatuh mental mereka, seolah-olah apa yang mereka telah usahakan tak ada nilainya, bagaikan habaa-an mantsuraa. Tidak sedikit yang menyalahkan Ar-Rahman yang diklaim tidak adil, ada pula yang sibuk melirik kanan dan kiri mencari kambing hitam kegagalannya.

Lantas bagaimana sikap seorang mukmin?

Khalifah Umar ibn al-Khaththab pernah ditanya, mana yang lebih utama? Seorang yang dalam perjalanannya menuju Rabbnya lurus-lurus saja, tanpa hambatan. Ataukah mereka yang terkadang berhenti sejenak untuk mngenyahkan gangguan-gangguan bahkan mesti jatuh karenanya untuk kemudian segera bangkit dan melanjutkan perjalanannya kembali?

Jawaban Umar ternyata agak mengejutkan,”Yang lebih utama adalah yang kedua, karena ia termasuk firman Allah ta’alaa, QS 49:3″

mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertaqwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. 49:3)

Seorang mukmin melihat amal-amal yang ia lakukan bukan sebagai penderitaan dan beban. Bukan hanya sebagai anak tangga untuk meraih tujuannya. Akan tetapi ia juga menikmati dan meresapi setiap manis dan pahit yang ia temui dalam amal-amalnya.

Ia seperti penggila bola yang menikmati perjalanannya di bis yang sesak menuju stadion, atau berdiri di hadapan layar lebar selama 90 menit padahal cuplikan hasil pertandingan itu bisa dilihat lewat situs internet atau berita olahraga di TV pada pagi harinya.

Ia bagaikan seorang yang hobi memancing di sebuah area pemancingan, rela duduk berjam-jam menunggu ikan menggigit kailnya meskipun sebenarnya ikan segar bisa ia dapatkan dengan mudah di pasar tradisional.

Sekali lagi, mereka tidak cuma menikmati hasil. Lebih dari itu mereka meresapi, memaknai, dan menikmati setiap momen dalam aktifitas favoritnya.

Aduhai..mengingatkan kita  tatkala Rasulullah yang bersabda kepada Bilal,”Arihnaa bish-shalaat.. Wahai Bilal, istirahatkan kami dengan Sholat…”.

Lihat juga bagiamana para salaf menghidupkan malam-malam mereka dengan shalat malam. Terkadang mereka mengulang-ulang satu ayat dari al-Qur’an sepanjang rakaat karena begitu menikmati dan meresapi maknanya.

Para ulama sahari-harinya menulis, mengajar, menghafal tak kenal lelah, bahkan menikmatinya meski harus dilakukan saat mata seharusnya sudah terlelap. Inilah imam panutan Nusantara, Imam Asy-Syafi’I semoga Allah merahmati dan meridhoi beliau berkata:

“Goresan pena di tengah malam di atas kertas terasa lebih merdu didengar dari lantunan sya’ir lagu dari seorang biduan cantik yang bersuara merdu!”.

Tak ketinggalan pula mereka yang berjihad di jalan-Nya. dengarlah ucapan Anas bin Nadhar dalam salah satu pertempuran Uhud, katanya: “Aku sudah terlalu rindu dengan wangi jannah (surga),” kemudian ia berjibaku menerjang kaum Musyrikin sampai terbunuh. (HR Bukhari-Muslim)

Inilah potret ideal seorang mukmin. Mereka sadar bahwa mereka diciptakan untuk beribadah. Mereka pun sangat menginginkan keselamatan di akhirat. Mereka selain berusaha menjalankan kewajiban dan menjauhi larangan, tapi juga menikmati dan memaknai setiap detik ketaatannya. Orang yang telah mampu mencapai level ini akan lebih tangguh dalam keistiqomahan dan lebih cepat kembali ke jalan yang benar setelah melakukan kekeliruan. Semoga kita termasuk orang-orang yang seperti itu. Amiin.

Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah. Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik,  dan mereka tidak menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula), karena Allah akan memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. 9:120-121).
*

Menuntut ilmu, mulai dari mana?

Oleh : Nisa Larasati

Bismillah

 

Teringat awal-awal mulai ngaji pindah dari satu tempat ke tempat lainnya sendirian. Sampe sekarang sih dan tetap menyenangkan seperti pertama kali berjumpa. Yha

Anyway, pasti  happy readers sudah sering dengar salah satu keutamaan menuntut ilmu kan ya. Dan yang disini happy writer mau obrolin adalah tentang ilmu agama.

“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah maka Allah akan membuatnya paham tentang agamanya…”

  1. Bukhari dalam Kitab al-‘Ilmu

Lalu gimana cara menuntut ilmu yang benar? Maksudnya supaya ilmu yang didapatkan bisa berkah. Agar kita ngga mudah lupa dan lalai terhadap ilmu yang didapatkan, kita harus mencari tahu rambu-rambu dalam menuntut ilmu, in line dengan ilmu yang sedang kita dalami. Nah, sebelumnya happy writer lupa untuk memperhatikan hal yang satu ini. Akhirnya setelah satu tahun baru sadar untuk belajar tentang rambu-rambu dalam menuntut ilmu. Ternyata bukan hanya sebatas datang, nyatet, dan pulang. Ada hal yang lebih menyenangkan daripada itu.  Here they are.

 

  1. Ilmu tentang ‘Ilm

Beberapa kajian tematik seputar topik ini lumayan banyak. Tapi kadang sering terlewatkan oleh happy writer. Namun akhirnya dapat tercerahkan sekali dengan membaca karyanya Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah, Kitaabul ‘Ilmi. Isinya luar biasa dan mudah dipahami. Mulai dari tentang hakikat ilmu, adab-adab, kitab-kitab para penuntut ilmu, dan risalah-risalah penting. Risalah penting banyak memberikan pencerahan karena bentuknya pertanyaan-pertanyaan yang datang ke syaikh, misalnya,

 

Bahasa asing mana yang wajib didahulukan untuk dipelajari?

Bagaimana cara kami yang masih awal menuntut ilmu untuk berdakwah mengajak teman-teman kami?

 

And so on. happy writer keasyikan sendiri kalau udah baca buku ini dan pas diulang-ulang makin bikin bahagia. Awesome book Masyallah!

 

Buku lainnya yg happy writer baca tentang Ilmu ada Hilyah Thalibil Ilmu karya Syaikh Bakr bin Abdullah Abuzaid, Adab dan Akhlak Penuntut Ilmu, Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga, yang kedua-duanya karya Ustadz Yazid Jawwas. Buku-buku yang ini lebih tipis, handy banget untuk dibawa dan dibaca kemana-mana.

 

  1. Majelis Adab Penuntut Ilmu

Alhamdulillah dari dulu pengen banget bisa ikut kajian yang membahas tentang Adab dan Akhlak penuntut ilmu yang bersumber dari kitab. Rasanya lebih mudah ikut kajian yang seperti itu karena step-by-step prosesnya dan berkelanjutan. Bisa sekalian muroja’ah materi sebelumnya bareng-bareng ketimbang yang tematik yang cepet lupa.

 

Walhamdulillah sekarang ada kajiannya Ustadz Nudzul Dzikri di Blok M Square setiap malam minggu. Membahas kitab Tadzkiratus saami wal mutakallim fi adabil alim wal muta allim, karya Ibnul Jama’ah. Qadarullah dilaksanakan malam jadi happy writer jadi penonton setia streaming lewat Youtube saja. Sebenarnya pengen banget hadir disana. Kalau kadang terlintas tiba-tiba rencana buat hadir disana langsung istighfar saja. Hal-hal yang baik harus sesuai dilakukan dengan cara yang baik dan sesuai syari’at. Terlalu larut buat pulang sendirian atau ramai-ramai meski dengan akhwaat lainnya. Jadi ngga berani ngajak akhwat buat kajian kesana juga. Semoga Allaah mudahkan keinginan happy writer untuk bermajlis disana nanti Insyaallah.

 

Meskipun happy writer ngga ngerti baca kitabnya tapi tetap menyenangkan dengan cara penyampaian Ustadz Nuzul. Beliau menyampaikannya ngga terburu-buru dan diselingi lelucon ringan tapi ngga berlebihan juga. Bahasanya tetap santun dan lembut. Nonton kajiannya di pesawat, ketika penumpang lainnya tidur tenang, happy writer malah lagi berusaha menahan ketawa sambil senyum-senyum sendiri. Beliau selalu memberikan contoh yang real dan dekat dengan kehidupan kita –khususnya pemuda/pemudi-. Sambil dengerin kajian sambil bercermin ke diri sendiri. Sampai-sampai bapak-bapak disebelah (pe: ayah penulis) keheranan karena biasanya bocah ini langsung tidur di pesawat.

 

Nonton apasih, Nduk?Drama korea ya?

 

 

  1. Penyemangat Menuntut Ilmu

Sahabat menurut happy writer itu berpengaruh banget. Ada yang ngingetin buat datang atau ngajakin kajian rasanya happy  sekali. Atau kalau mau yang menyentuh hati silahkan buka channel youtube atau instagramnya  Rumaysho dan tonton video kajian rutin di Gunungkidul sana. Kalau happy writer sih sampai haru biru melihat semangat para warga disana menuntut ilmu. Ngga sebanding sama pengorbanan yang perlu dilakukan disini. Kalau hanya sekedar macet satu jam atau dua jam ngga ada apa-apanya dengan perjuangan mereka. Ada yang datang 55 km jauhnya dari tempat kajian naik truk terbuka. Kehujanan ya kehujanan, tapi begitulah kalau semangat menuntut ilmu yang balasannya surga.

 

“Satu ayat yang dipelajari lebih berharga daripada dunia dan seisinya...”

Happy readers ada yang ingat ini hadits riwayat siapa?

 

Begitulah yang kira-kira happy writer bisa bagikan ke dear happy writer.

Semoga happy readers ngga kecewa yha dan always be happy!

 

Interaksi Anti Opportunism

Oleh : Aldi Alfarizi

Gw pernah ke sebuah seminar yang mengundang para diaspora -sebutan untuk orang indonesia yang bekerja di luar negeri pada saat itu- yang kebetulan memang dibuka untuk umum. Waktu itu, mahasiswa juga turut serta hadir kesana. Hotel tempat dilaksanakannya seminar itu adalah Hotel JS Luwansa, yang kala itu turut mengundang Jusuf Kalla sebagai pembicara pembuka seminar. Mereka yang bekerja dan/atau memiliki perusahaan sekelas multinasional atau internasional pada saat itu hadir meramaikan seminar.

Datang bersama dua teman gw yang lain yang kebetulan satu SMA, kami (mungkin) pertama kali merasakan coffea break yang tidak disediakan tempat duduk untuk makan sama sekali. Pada saat coffea break, kita menyeduh teh dan mengarah ke salah satu sudut ruangan karena sejujurnya kita malu dengan pembicaraan yang sering dibuka pada saat coffea break yang hanya 15-20 menit itu karena notabene berbicara tentang perusahaan dan mimpi besar mereka masing-masing.

Tiba-tiba ibu-ibu yang juga ingin menyeduh teh mendatangi kami dan memulai pembicaraan dengan berkata

“Dek, kalau boleh tahu darimana?”

Jawab gw “Saya dari Depok bu”

“Masih kuliah ya? kuliah di mana?

Jawab gw “Di UI bu”

“Oh UI, jurusan apa dek?”

jawab gw “Jurusan Teknik Metalurgi dan Material bu”

“Oh dulu yang geografi itu ya? iya saya juga banyak kenalan di UI”

jawab gw “Hehe, bukan bu sebenernya lebih deket ke teknik mesin sih bu”

Lanjut pembicaraan kami dengan ibu itu sampai suaminya datang dan secara tersirat mengajak ibu itu untuk ke tempat lain.

“Ini kartu nama saya, mungkin sewaktu-waktu kita bisa kontak kontakan”

Ibu itu bersama suaminya pergi dan kita baru membaca kartu nama ibu tersebut ketika telah pergi.

Beberapa saat setelah itu, gw langsung bertanya kepada temen gw “Wah, wkwk malu gw kesini, udah gitu kita gak punya kartu nama lagi wkwk. Tapi kenapa ya kok ibu itu sama sekali gk kenalan sama kita dan gak nyebutin namanya sama sekali juga ya?”

Sontak temen gw menjawab “Iya orang-orang kayak gini mah banyak yang opportunist, Di. Gw sebelumnya juga pernah sekali ke seminar kayak gini bareng bapak gw. Ya, kalo mereka ketemuan ya mereka nanya darimana. Dengan nanya kayak gitu dia bisa menilai dia bakal dapet benefit apa dari lawan bicaranya. Ya, tapi kalo udan diliat gak bakal dapet apa-apa ya paling basa-basi doang. Makanya sebenernya coffea break ini saat yang ditunggu mereka banget. Ya, mereka bisa jalin relasi dan koneksi pake coffea break ini. Seminarnya mah ga terlalu penting”

“Oh gitu ya, baru pertama kalo nih gw ikut seminar kayak gini soalnya wkwk”

Pelajaran yang bisa gw ambil kala itu adalah ternyata orang-orang besar selalu memanfaatkan kesempatan dan waktu sekecil apapun untuk mengambil manfaat sebanyak banyaknya termasuk di dalamnya membangun relasi. Mereka juga gak sungkan-sungkan buat memulai interaksi dengan lawan bicara terlebih dahulu.

Tapi ada satu teguran yang kala itu menjadi teguran buat kita bertiga pada saat itu. Bahwa, ketika kita jadi orang besar, kita jangan sampai jadi orang yang Opportunist. Opportunist adalah sebutan orang yang melakukan “Opportunism”.

Meminjam definisi dari dictionary.com, Opportunism disini diartikan sebagai :

“the policy or practice, as in politics, business, or one’s personal affairs, of adapting actions, decisions, etc., to expediency or effectiveness regardless of the sacrifice of ethical principles”

“kebijakan atau praktik, seperti dalam politik, bisnis, atau urusan pribadi seseorang, tentang tindakan, keputusan, keputusan, dan lain-lain, terhadap kemanfaatan atau efektivitas terlepas dari pengorbanan prinsip-prinsip etika”

Entah pembaca sepakat dengan arti tentang sikap opportunism, gw yang mungkin masih memiliki sifat ini di dalam diri ingin berusaha untuk sedikit demi sedikit membumihanguskan atau meminimalisir sikap ini ketika gw berinteraksi dengan orang lain.

Gw bersyukur ditempatkan di Ffkultas dan jurusan yang ketika gw berinteraksi gw diajarkan memperkenalkan nama gw kepada lawan bicara gw dan memperhatikan “attitude” ketika berinteraksi. Karena ternyata, diluar sana, banyak yang udah gak peduli siapa lu, bahkan dia gak peduli siapa nama lu. Mereka hanya mengingingkan apa yang memang dia butuhkan dari lu.

Akhirnya, kini banyak individualis (Negeri) yang mencengkeram orang-orang yang tak bisa berbuat apapun untuk mereka.

Kolam Renang Air Panas Pamijahan, Bogor, Jawa Barat

Diselesaikan pukul 21.24
24 Januari 2018

Sosok yang Membuat Terlena

Oleh : Aldi Alfarizi  -, PESAN 4, Teknik Metalurgi dan Material UI 2016

Manusia adalah sebaik-baik makhluk. Sampai-sampai pilihannya dapat membuat manusia lebih hina daripada binatang ternak ataupun lebih mulia daripada malaikat sekalipun. Setiap pilihan yang menghasilkan konsekuensi nantinya terus menjadikan sejarah bercerita dari waktu ke waktu. Sejarah tak pernah lepas dari perselisihan diantara manusia. Perselisihan sengit dari waktu ke waktu salah satunya berujung kepada hal-hal terkait konsep ketuhanan. Terdapat kisah menarik yang sanadnya (jalur periwayatanya) dijaga dan diteliti dengan baik. Sehingga, kisah ini benar adanya langsung dari sahabat nabi, Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu.

Dalam Tafsir Ath-Thabari -salah satu kitab tafsir Al Qur’an Tertua dalam sejarah,-Ibnu Abbas, seorang sahabat nabi meriwayatkan bahwa

كان بين نوح وآدم عشرة قرون، كلهم على شريعة من الحق، فاختلفوا، فبعث الله النبيين مبشرين ومنذرين

”Antara Nuh dan Adam ada 10 generasi. Mereka semua berada di atas syariat yang benar. Kemudian mereka saling berselisih. Kemudian Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan kabar peringatan. (Tafsir At-Thabari 4/275, Mu’assasah Risalah, syamilah)

Perselisihan ini terjadi karena sebuah sebab. Pada Nyatanya, sebab ini terus berulang dalam sejarah.

Perselisihan ini dimulai ketika wafatnya 5 orang shaleh pada zaman tersebut yaitu Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr[1]. Ibnu Abbas lanjut bercerita :

سْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِينَ مِنْ قَوْمِ نُوحٍ ، فَلَمَّا هَلَكُوا أَوْحَى الشَّيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ أَنِ انْصِبُوا إِلَى مَجَالِسِهِمُ الَّتِى كَانُوا يَجْلِسُونَ أَنْصَابًا ، وَسَمُّوهَا بِأَسْمَائِهِمْ فَفَعَلُوا فَلَمْ تُعْبَدْ حَتَّى إِذَا هَلَكَ أُولَئِكَ وَتَنَسَّخَ الْعِلْمُ عُبِدَتْ

Mereka adalah nama-nama orang soleh di kalangan kaumnya Nuh. Ketika mereka meninggal, setan membisikkan kaumnya untuk membuat prasasti di tempat-tempat peribadatan orang soleh itu. Dan memberi nama prasasti itu sesuai nama orang soleh tersebut. Merekapun melakukannya. Namun prasasti itu tidak disembah. Ketika generasi (pembuat prasasti) ini meninggal, dan pengetahuan tentang prasasti ini mulai kabur, akhirnya prasasti ini disembah. (HR. Bukhari 4920).

Penyembahan, Pengagungan terhadap sosok yang dirasa “Super Power” atau “Shaleh” atau “Berilmu” sering kali menjadi momok dalam sejarah. Dalam kasus yang tidak terlalu kompleks, mungkin hanya berdampak kepada hal-hal yang tak terkait konsep ketuhanan. Tapi dalam yang lebih besar lagi, bahkan pengagungan ini menyebabkan Fir’aun dapat membuat peraturan untuk membunuh setiap bayi laki-laki dari kalangan Bani Isra’il[2].

Beberapa Pelajaran yang bisa dipetik dari kisah ini adalah :

  1. Butuh waktu 10 generasi agar setan dapat membuat manusia menyembah tuhan selain Allah Ta’ala. Dimana setiap generasi pada zaman tersebut dapat berumur ratusan tahun. Kisah ini mengingatkan kita bahwa setan memang “gak capek-capek” buat manusia agar terus bermaksiat kepada Allah.
  2. Setan akan menggiring manusia melakukan kemaksiatan dari hal yang merupakan dosa yang paling kecil. Bahkan bisa jadi melalui hal-hal yang makruh[3]. Atau bisa jadi melalui hal-hal yang mubah[4] sekalipun
  3. Dari waktu ke waktu, kebodohan menjadi akar permasalahan dari berbagai macam penyimpangan. Malas mencari apa yang sebenarnya terjadi dalam sejarah dapat menyebabkan penyimpangan ini terus terjadi
  4. Penyimpangan ini selalu dibuat dalam bentuk kongkrit yang dapat dilihat “Sustain” dari waktu ke waktu yang digunakan untuk memutarbalikkan fakta yang sebenarnya terjadi. Dalam kasus ini setan menggunakan prasasti
  5. Pergantian generasi dan dimatikannya orang-orang shaleh menjadi penyebab kebodohan terus merajalela
  6. Role-model banyak mempengaruhi dari kehidupan manusia, baik individu maupun kelompok
  7. Mengagumi sosok-sosok secara berlebihan tanpa ilmu menjadi salah satu cara setan menyesatkan manusia
  8. Dimana ada kesesatan, Allah Ta’ala juga mengutus orang-orang yang akan mengingatkan mereka agar kembali ke jalan yang benar

Masih banyak pelajaran yang bisa diambil, semoga kisah ini bisa menjadi refleksi diri terutama bagi diri penulis sendiri.

Wallahu A’lam

[1] Lihat Q.S. Nuh ayat 23

[2] Lihat Q.S Al Qashash ayat 4

[3] Perkara-perkara yang jika ditinggalkan akan mendapatkan pahala, dikerjakan tidak apa-apa.

[4] Perkara-perkara yang dikerjakan maupun ditinggalkan tidak apa-apa.

Referensi

Al Qur’an

Bahraen, Raehanul. Sejarah Kesyirikan Pertama di Muka Bumi. Diakses melalui : https://muslimafiyah.com/sejarah-kesyirikan-pertama-di-muka-bumi-dan-di-jazirah-arab.html