Book Review: Mahasantri

Nisa Larasati, S.K.M
Pengurus Pesantren Kosan (2016-2018)
Alumnus S1 Kesehatan Lingkungan FKM UI (2014-2018)

 

Apakah menuntut ilmu agama hanya bisa dimiliki para santri yang berguru bertahun-tahun di pesantren?

Bagaimana dengan kita, pelajar yang menuntut ilmu di sekolah umum, pekerja nine-to-five, para ibu rumah tangga, dan masyarakat yang tidak memiliki latar belakang nyantri sebelumnya?

Buku ini mungkin bisa menjawab kebingungan sebagian dari kita mengenai bagaimana kiat-kiat menuntut ilmu syar’I ditengah kesibukan dunia.

Arus informasi yang begitu cepat mulai melunturkan stigma bahwa ilmu agama hanyalah milik segelintir orang yang memang berasal dari latar belakang pendidikan agama. Pada masa ini, saluran untuk memperoleh ilmu agama sangat beragam, mulai dari tempat pendidikan formal seperti sekolah-sekolah Islam, kajian ilmiah di berbagai tempat, hingga jejaring sosial. Semua orang dapat dengan mudahnya mengakses hal-hal yang diketahui tentang agama melalui artikel dan rekaman video kajian yang dapat muncul dengan satu sentuhan layar. Namun, bagaimana dengan menghadiri kajian secara langsung yang membahas berbagai topik seputar keagamaan seperti tauhid, aqidah, fiqh, bahkan mengkaji satu kitab secara rutin sampai habis?

Kedua penulis buku ini telah membuktikan bahwa orang yang awalnya tidak memiliki latar belakang pendidikan agama dapat mendalami ilmu syar’i secara konsisten tanpa meninggalkan kewajibannya dalam menuntut ilmu dunia. M. Abduh Tuasikal merupakan seorang lulusan sarjana Teknik Kimia UGM dan master Teknik Kimia konsentrasi Polymer Engineering di King Saud University.

Seorang yang sudah lalu lalang dalam dunia dakwah di nusantara, Pemimpin Pesantren Darush Shalihin Gunung kidul, dan pengasuh situs Rumaysho.Com. Penulis kedua, dr.Saifudin Hakim merupakan dokter lulusan UGM yang berhasil menyelesaikan postgraduate di University Medical Center Rotterdam, Belanda. Maka tak heran puluhan karya penulisan baik buku agama dan jurnal internasional di halaman akhir menegaskan bahwa seorang muslim dapat berkarya di bidang ilmu pengetahuan dengan tetap terus menimba ilmu agama.

Penulisan dalam buku ini terasa tegas dengan berbagai subbab  judul menarik seperti,

Cerita Semangat Zaman Old vs Now

Jangan Sampai Bergelar Doktor, Namun Ilmu Agama Nol

Gelar Banyak, Shalat Saja “Gak Becus”

Mestikah Berhenti Kuliah?

Penulis menceritakan kisah pengalaman menjadi mahasiswa dari pagi hingga sore dan menjadi santri ketika sore hingga ba’da subuh ketika menuntut ilmu di Jogja dan kisah menarik ketika menuntut ilmu di Tanah Arab. Tidak ketinggalan berbagai kiat dan cara sukses menuntut ilmu bagi orang yang sibuk.

Buku ini sangat sayang untuk dilewatkan terutama bagi orang-orang yang berkeinginan kuat memperdalam ilmu agama namun masih merasa terbentur dengan kesibukan yang ada.

Barakallahu fiikum

—————————————————————————

Selasa, 31 Juli 2018
@ Pesantren Kosan BISA, Kukusan, Beji, Kota Depok

Teruskan Perjuangan

https://www.pexels.com/photo/golden-cup-and-basket-with-books-6332/

Penulis: Nur Fadilah, S.Pd

Pendidikan Kimia UNJ (2012-2016)
Alumnus Pesantren Kosan angk.I (2014)

 

Apa yang menghalangimu dari menghafal alquran? Hilangkanlah semua alasan yang engkau ciptakan sendiri!

#Mulailah menghafal dan teruslah menghafal karena waktu bersama alquran semuanya adalah kebaikan#

Apa yang menahanmu dari hafal juz 30, padahal engkau telah hafal surat-surat pendek? Bersabarlah sedikit lagi. Buatlah target yang tidak melemahkan sebelum memulai.

#Barang siapa yang tidak menentukan targetnya, maka dia tidak akan sampai pada akhir tujuannya. Barang siapa yang tujuannya tidak ikhlas karena Allah Ta’ala saja, maka dia tidak akan mendapatkan pertolongan dan dorongan terhadap suatu urusan, juga tidak akan ada yang membuatnya sabar terhadap urusan tersebut# (1)

Apa yang mencegahmu dari hafal 30 juz, padahal engkau sudah hafal 1 juz, 5 juz, 10 juz dan seterusnya. Bersabarlah sedikit lagi. Bersabarlah dengan kesabaran yang baik. Bersabarlah dan kuatkan kesabaranmu.

#Barang siapa yang berusaha bersabar, maka Allah Ta’ala akan memberi kesabaran baginya, dan tidaklah seseorang diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas dari kesabaran# (2)

Menghafal alquran itu berarti:

1. Meneladani tokoh panutan utama, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam
Sesungguhnya beliau shalallahu alahi wasalam telah menghafal dan mengulang-ulangnya bersama malaikat Jibril alahissalam dan sebagian sahabatnya radhiallahu anhum

2. Meneladani generasi terbaik (Shalafus Shaleh)
Ibnu Abdil Barr mengatakan, “Menuntut ilmu itu ada derajat dan urutannya yang tidak boleh dilewati. Barang siapa yang melewatkannya, berarti dia telah melanggar jalannya para salaf rahimahullah. Adapun ilmu yang pertama adalah menghafal alquran dan memahaminya.”

3. Membangun proyek yang tidak mengenal kata rugi, karena setiap hurufnya diganjar dengan sepuluh kebaikan.

Diantara keutamaan menjadi hafidz alquran:

Menjadi keluarga Allah Ta’ala, lebih berhak menjadi imam, jenazahnya lebih didahulukan penguburannya, mendapat syafaat dari alquran atas izin Allah Ta’ala, Allah tidak akan mengazab hati dari orang yang hafal alquran, meninggikan derajat dalam surga, bersama malaikat, menjadi orang yang paling banyak membaca alquran, dapat membaca alquran di setiap kondisinya, serta lebih mudah dalam berdakwah. (3)

” Apakah setelah mengetahui semua nilai berharga ini, kita mencukupkan diri dengan hafalan alquran yang telah kita miliki sekarang saja? ”
Syaikh Muhammad Shaleh Al-Munajjid

Semoga Allah memberikan kepada kita taufik untuk menghafal alquran, memahaminya serta mengamalkannya.

————————————————————————————–

(1) HR. Bukhari Muslim
(2) Revolusi Menghafal Al-Qur’an, 43
(3) Menjadi Hafidz, 17-23

Amalan yang Paling Utama dan Dicintai

https://www.pexels.com/photo/photography-of-asphalt-road-1406822/

Penulis : Erwin Firmansyah Saputro, S.T

Alumnus PESAN angkt. II
Alumnus Teknik Kimia FT UI 2012-2016

 

Maha Suci Allah, yang telah menjadikan semua manusia bervariasi dalam amalan yang kita bersungguh-sungguh mengerjakannya. Diantara kita, ada yang sangat tekun dalam shalat sunnah nya. Diantara kita, ada yang sangat mudah sekali untuk bersedekah.

Diantara kita, ada yang kuat sekali untuk senantiasa berpuasa sunnah. Diantara kita, ada yang berjihad dengan ilmunya. Allah menyediakan banyak pintu pintu ketaatan.

Mulai dari yang wajib, sunnah dan fardhu kifayah, yang dengannya kita bisa berlomba lomba dalam kebaikan. Siapa yang banyak bagiannya dalam ketaatan, maka sepadan itulah ketinggian dan derajatnya di surga.

Sebagaimana dalam hadits berikut: “Barangsiapa yang berinfak dengan sepasang hartanya di jalan Allah maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Hai hamba Allah, inilah kebaikan.’

Maka orang yang termasuk golongan ahli shalat maka ia akan dipanggil dari pintu shalat. Orang yang termasuk golongan ahli jihad akan dipanggil dari pintu jihad. Orang yang termasuk golongan ahli puasa akan dipanggil dari pintu Ar-Rayyan. Dan orang yang termasuk golongan ahli sedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.” Mendengar ini Abu Bakar pun bertanya, “Ayah dan ibuku sebagai penebus Anda wahai Rasulullah, kesulitan apa lagi yang perlu dikhawatirkan oleh orang yang dipanggil dari pintu-pintu itu. Mungkinkah ada orang yang dipanggil dari semua pintu tersebut?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Iya ada. Dan aku berharap kamu termasuk golongan mereka.”

Sungguh jalan kebaikan itu banyak. Dan tidak semua orang mampu untuk selalu mengerjakan seluruh amalan amalan yang banyak tersebut. Bahkan hanya sebagian kecil saja yang mampu.

Dahulu para sahabat, karena kecintaan dan semangat mereka untuk beramal shalih, sering bertanya kepada Rasulullah ﷺ pertanyaan seperti: “Amalan yang manakah yang paling utama?”, atau “Amalan yang manakah yang paling dicintai Allah?”, atau pertanyaan semisalnya. Hal ini disebabkan, mereka tahu bahwa seringkali kita tidak memiliki keluangan waktu atau kemampuan untuk mengerjakan kesemua amalan amalan yang banyak sekali jumlahnya ini.

 

 

Rasulullah, dalam menjawab pertanyaan seperti ini, menjawab dengan jawaban yang berbeda beda tergantung kepada apa amalan yang mereka butuhkan, apa amalan mereka senangi, dan apa amalan yang cocok dengan mereka. Diantara jawaban beliau terdapat dalam sejumlah hadits berikut:

 

  1. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ, “Amal apakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.” Aku berkata, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Berbuat baik kepada orang tua.” Aku berkata lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.” (Muttafaqun ‘alaih)
  2. Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Amalan apakah yang paling utama?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Kerjakanlah puasa, karena tidak ada yang menandinginya.” (HR An Nasaa’i)
  3. Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, ia bertanya kepada Rasulullah ﷺ, “Amalan apakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Beriman kepada Allah, dan berjihad di jalan-Nya.” (HR Bukhari)
  4. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ ditanya, “Amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Yang paling rutin, walaupun sedikit.” Dan Beliau bersabda, “Kerjakanlah ibadah sesuai kemampuan kalian.” (HR Bukhari)
  5. Dari Muadz radhiyallahu ‘anhu, “Aku bertanya kepada Rasulullah , ‘Amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Yaitu engkau mati dalam keadaan lisanmu basah oleh dzikir menyebut nama Allah “(HR Ibnu Hibban)

Dari hadits hadits tersebut, telah jelas untuk kita bahwa pintu ketaatan itu banyak. Lihatlah kepada banyaknya pintu pintu kebaikan yang telah Allah bukakan yang dengannya kita bisa berlomba dalam kebaikan.

Ada yang berlomba lomba dalam menjadi shahibul quran, mereka membacanya, mempelajarinya dan menghafalnya.

Ada yang berlomba lomba dalam menuntut ilmu yang juga bervariasi seperti tauhid, fiqh, tafsir, bahasa, sejarah dan sebagainya.

Ada yang unggul dalam sholat (sunnah) nya. Dimana sholat tersebut benar benar menjadi penyejuk matanya. Mereka khusyuk dan panjang shalatnya.

Ada yang diberikan kekuatan untuk puasa sunnah, yang belum tentu yang lainnya memiliki kemampuan untuk mengerjakannya.

Ada yang lebih unggul dari orang lain dalam bakti kepada orang tua, silaturrahim, mengunjungi kerabat dan memberikan bantuan.

Ada yang diberikan kelebihan harta, sehingga mereka unggul dalam sedekah, menyantuni anak yatim dan membantu para mustahiq.

Ada yang rajin sekali berdakwah, dan sangat sabar menghadapi gangguan gangguan di jalan dakwahnya. Sementara orang lain belum tentu sanggup menjadi sesabar mereka.

Ada yang sibuk mempelajari ilmu kedokteran, teknik dan yang lainnya sehingga mereka bisa memberikan manfaat yang banyak untuk umat ini.

Sungguh kebaikan itu banyak dan luas. Ada juga amalan amalan ringan seperti memuliakan tamu, menjenguk yang sakit, mengiringi jenazah, bahkan juga perbatan baik kepada binatang.

Calon penghuni surga akan dipanggil dari masing masing delapan pintu pintu surga sebagai pemuliaan kepada mereka karena begitu banyaknya puasa, shalat dan amalan kebaikan lainnya. Maka hendaknya kita bisa berlomba-lomba dalam kebaikan, sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang Allah berikan kepada kita. Semoga kita termasuk segolongan yang dipanggil dari pintu pintu surga tersebut.

 

Banyak diambil dari:

Referensi tambahan:

https://rumaysho.com/11605-delapan-pintu-surga.html

Tiket Satu Arah

Penulis : Nisa Larasati, S.K.M

Pengurus Pesantren Kosan 2016-2018 & Kesehatan Lingkungan UI 2014

 

Hari ini insyaallaah menjadi hari kepulangan ke kampung yang sesungguhnya. Jika sebelumnya selalu memegang tiket pulang pergi, hingga sore ini saya hanya memegang one way ticket.

Kepulangan ini juga yang akhirnya memaksa saya untuk mengemasi seluruh barang yang sudah nyaman dengan tempat asalnya, Jakarta.

Koper yang mampu memuat hingga 30 kg itu ternyata belum juga cukup. Setelah saya hitung, kira-kira masih diperlukan 3 koper dengan ukuran yang sama untuk mengangkut seluruh barang saya tanpa harus membayar biaya overweight maskapai domestik.

Luar biasa.

Buku-buku yang setia mengisi hari-hari saya semasa kuliah ternyata bisa menjadi sesuatu yang merepotkan dalam satu waktu. Saya tidak pernah membayangkan akan tiba hari ketika pasukan buku-buku tersebut harus berpindah markas. Ukurannya memang tidak sebesar bantal ataupun guling namun menjadi mematikan karena beratnya.

Kemudian saya berpikir tentang tiket satu arah yang semua dari kita akan dapatkan.

Kematian.

Bagaimana merepotkannya jika yang kita bawa berkoper-koper dosa yang tidak kita sadari akan memberatkan kita di alam kubur? Kita bahkan tidak bisa menerka mana yang lebih berat, amal solih ataukah dosa-dosa kita.

Tidak ada lagi tiket kepulangan untuk sekedar melaksanakan shalat dua raka’at atau meminta maaf kepada saudara yang mungkin pernah kita dzalimi. Tidak ada lagi cara untuk bisa berbakti kepada orang tua dan mengucapkan selamat tinggal kepada para sahabat.

Tiket yang kita miliki hanya satu arah maka seyogyanya kita menempuh sebaik-baiknya jalan kehidupan, jalan yang ditempuh oleh generasi terbaik umat.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

 

“Barangsiapa hendak mengambil teladan maka teladanilah orang-orang yang telah meninggal. Mereka itu adalah para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang paling baik hatinya di kalangan umat ini. Ilmu mereka paling dalam serta paling tidak suka membeban-bebani diri. Mereka adalah suatu kaum yang telah dipilih oleh Allah guna menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan untuk menyampaikan ajaran agama-Nya. Oleh karena itu tirulah akhlak mereka dan tempuhlah jalan-jalan mereka, karena sesungguhnya mereka berada di atas jalan yang lurus.”

(Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish shalih, hal. 198)

 

Baca selengkapnya. Klik https://muslim.or.id/2406-inilah-generasi-terbaik-dalam-sejarah.html

 

Halim

 

15.56

Aku mau ngaji (nanti)!

 

Penulis : Nisa Larasati, S.K.M

Pengurus Pesantren Kosan 2016-2018 & Kesehatan Lingkungan UI 2014

 

Bagi mahasiswa yang sudah purna tugas, masa-masa di kampus terasa begitu cepat berlalu.

Hari-hari penuh deadline dan ujian sembari rapat sampai larut malam telah usai.

Masa-masa sulit memperjuangkan skripsi juga akhirnya mencapai titik kulminasi dan berakhir manis.

Lalu apa yang sudah dicapai selama bertahun-tahun setiap pagi pergi ke kampus?

Saya yakin banyak dari happy readers disini yang berhasil meraih pencapaian-pencapaian kece selama masa kuliah. Mulai dari lomba, konferens, pejabat kampus, mungkin sampai menemukan pasangan hidup, tapi bagaimana dengan usaha kita dalam mendekatkan diri kepada Allaah?

Salah satu yang saya dan mungkin orang lain sering lakukan ketika masih menjadi mahasiswa adalah menunda-nunda pekerjaan. Termasuk urusan mendekatkan diri kepada Allaah. Mari kita simak sedikit contoh kasus yang saya alami.

Nanti ajak gue kajian ya! Pengen banget soalnya hati gue kosong rasanya.

Kalau ada kajian kabarin gue ya. Gue merasa perlu memperbaiki diri.

Kemudian biasanya saya akan mengabari info kajian sekaligus mengajak untuk pergi bersama. Hasilnya? Cukup memuaskan. Sekitar 7 dari 10 orang pergi ke kajian meskipun belum rutin. Namun tiga orang sisanya, selalu memiliki halangan untuk pergi ke kajian.

Waduh minggu depan gue UAS sorry ya. Habis UAS deh baru lega.

Gue mau sih kajian tapi masih hectic skripsi nih. Nanti pas udah sidang aja.

Wah gue masih harus ngebut revisi, dosen gue mau pergi soalnya. Habis wisudaan aja ya.

Sorry gue cape banget kerja dari Senin-Jumat, mungkin pas weekend aja ya.

Hingga hari ini pergi ke kajian bersama pun masih tetap menjadi wacana.

Tidakkah kita merasa curiga ketika kesibukan yang datang silih berganti berhasil membelokkan niat kita untuk bisa mendekatkan diri kepada Allaah?

Kesibukan macam apakah itu sampai-sampai membuat diri lalai dari usaha untuk memahami fitrah penciptaan makhluk dalam surah Adz-Dzariyaat ayat 56?

Atau mungkinkah Allaah telah memalingkan hati kita dengan berbagai macam kesibukan hingga kita menomorsekiankan prioritas untuk belajar mengenal Allaah?

 

Beberapa tips yang mungkin bisa bermanfaat untuk mencegah diri dari menunda pergi menuntut ilmu syar’I versi saya:

  1. Mengetahui alasan kenapa kita perlu untuk pergi ke kajian. Untuk memudahkannya silahkan tulis di kertas prons and cons jika kita pergi ke kajian. Jika masih bingung, lebih baik untuk berdiskusi dengan teman yang sudah rutin datang ke kajian.
  2. Mencari teman yang sudah rutin ikut kajian dan mengutarakan niat kita. Kalau perlu, pesankan di akhir pembicaraan, “Kalau nanti aku banyak alasan ngga dateng, jangan segan marahin aku ya J “
  3. Jika sudah berhasil mendapat info kajian dan janjian untuk pergi bersama, maka bulatkan tekad untuk pergi kesana walau badai menghadang. Meski rasanya harus memaksa diri dan meninggalkan hal-hal penting, maka saran saya tetaplah berangkat. Ingat, syetan tidak akan pernah suka ketika kaki kita melangkah menuju ketaatan. Janji mereka untuk menggoda manusia hingga hari kiamat. Masih mau ditipu oleh mereka?
  4. MIntalah kepada Allaah pertolongan agar dimudahkan dalam usaha-usaha mendekatkan diri kepada-Nya. Langkah ini disebutkan paling akhir namun yang harus dilakukan paling pertama dan utama. Doa yang paling sering diucapkan oleh Rasulullaah:

 

«الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ الْمُؤْمِنِ»

“Seorang mu’min itu laksana cermin bagi mu’min yang lain”.

(Hadits Shahih, Riwayat ath-Thabrani dalam kitab al-Ausath. Lihat Shahiihul jaami’ no. 6655).

Sepenggal pengalaman tersebut kemudian menyadarkan saya bahwa masih banyak yang proyek-proyek kebaikan yang belum saya tuntaskan dengan segera. Cara Allaah mengingatkan saya bahwa penundaan yang terjadi di depan mata saya adalah bayangan dari banyaknya penundaan yang saya lakukan. Semoga Allaah memberikan hidayah kepada kita semua.

 

[Tadabbur Al-Qur’an]-#2019GantiPenduduk?

Penulis : Aldi Alfarizi

Alumni PESAN 4 & Teknik Metalurgi Material UI 2016

-Tadabbur Harian 9.0-

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Q.S. Al ‘Araf :96)

Ayat ini dibahas oleh khatib sholat Ied di pagi ini. Khatib membawakan kisah tentang kota mekah yang dulu gersang dan kering, kini jutaan orang bisa berkunjung setiap waktunya.

Jadi inget kisah tentang orang yang merenungi kondisi negaranya lalu ingin melakukan perubahan. Eh, ternyata provinsinya aja belum bener. Ternyata kota-kotanya juga belum bener. Ternyata keluarga-keluarga di kota itu juga masih banyak yang belum bener. Ternyata dirinya sendiri belum bener.

Mungkin bangsa ini sekarang banyak berfikir dengan metode “Top-Down”. Kalo pemimpin gak bener sedikit, hujat. Bentar-bentar salah pemimpinnya. Bentar-bentar berantem di sosmed. Selalu menyandarkan kesalahan kepada yang di “atas”.

Terlepas dari memang ada faktor pemimpin dari sebuah masalah di suatu negeri, ayat ini mengajak kita menggunakan sudut pandang lainnya : Bottom-Up. Dimana ayat ini memberikan penekanan kepada “Penduduk” yang berarti kita sebagai rakyat juga termasuk di dalamnya. Sungai-sungai tersumbat sampah ya karena masyarakatnya buang sampah sembarangan. Banyaknya pengangguran karena emang masyarakatnya males kerja. Banyaknya orang yang terlilit hutang ya karena masyarakatnya masih suka transaksi dengan sistem riba. Kita sebagai rakyat yang seharusnya yang terdepan melakukan perbaikan.

Pernah denger salah satu kata Walikota di salah satu kota di Indonesia yang sekarang menjadi gubernur di provinsiku “Saya mempercayai dan meyakini perubahan itu harus dijemput, bukan ditunggu”

Semoga Indonesia makin diberkahi di Hari Iedul Adha ini

تقبل الله منا و منكم

09.47
Rabu, 22 Agustus 2018
10 Dzulhijjah 1439 H
Depok lama, Depok

[Tadabbur Al-Qur’an]-Apa itu Tadabbur?

Penulis: Aldi Al-Faridzi

Teknik Metalurgi Material UI

Alumni PESAN 4

-Tadabbur Harian 10.0-

Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (Q.S. An Nisa : 82)

Salah satu cara Allah Ta’ala menyampaikan sebuah hal yang wajib untuk dilakukan adalah dengan memberi pertanyaan berisi pengingkaran. Simplenya, kalo kita ditanya guru kita, “kenapa kalian gak ngerjain PR?” Berarti PR itu diperintahkan untuk dikerjakan. Sama seperti ayat di atas, Allah Ta’ala bertanya “Apakah mereka tidak mentadabburi Al Qur’an?” berarti Al Qur’an harus banget ditadabburi.

• Lalu, apa itu Tadabbur?

Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah mendefinisikan tadabbur sebagai berikut.

التأمل في الألفاظ للوصول إلى معانيها

“Merenungkan lafal-lafal untuk sampai kepada kandungan-kandungan maknanya”

Dengan demikian, orang yang bertadabbur adalah orang yang memperhatikan suatu perkara secara berulang-ulang atau dari berbagai sisi.

Terdapat dua ayat yang secara tersurat mengajak kita untuk mentadabburi Al Qur’an. Ayat tersebut adalah ayat ini dan Q.S. Muhammad : 24. Uniknya, dua ayat ini diturunkan terkait dengan kaum munafik.

• Pelajaran dari ayat ini

Ustadz kami, ustadz Nur Fajri Romadhon menjelaskan tentang kandungan ayat ini. Diantaranya adalah :

1. Tadabbur Al-Qur’an akan menambah keimanan

Orang yang mentadabburi Al-Qur’an apabila bertemu dengan peristiwa dalam hidupnya mereka langsung teringat dengan ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengannya. Salah satu yang bisa menguatkan tadabbur Al-Qur’an adalah menghafal Al-Qur’an. Karena dengan menyimpannya di memori kita, respon kita akan lebih cepat ketika bertemu dengan ayat yang berhubungan dengan sebuah kejadian dalam kehidupan kita.

2. Memahami kaitan antar ayat Al-Qur’an

Kalo kita mentadabburi Al-Qur’an dengan baik, kita tak akan menemukan perselisihan di antara ayat-ayat dalam Al-Qur’an dan selamanya tak pernah akan ditemukan perselisihan di dalamnya. Dengan tadabbur, kita semakin merasakan betapa indahnya hubungan antar ayat di dalam Al-Qur’an.

Semoga Allah Ta’ala menguatkan hati kita untuk senantiasa mentadabburi Al-Qur’an.

 

22.57
Jum’at, 23 Agustus 2018
Hari Tasyrik
Kukusan, Depok

Referensi
1. https://muslim.or.id/29799-apakah-kita-termasuk-orang-yang-mentadaburi-al-quran-1.html

2. Majelis Ustadz Nur Fajri Romadhon, Lc. hari ini bersamaan dengan proyek Learn Qur’an (https://tafsir.learn-quran.co/id). Beliau merupakan pemegang sanad Qiraat ‘Asyr.