Serial Psikologi: Jurusanku Membawaku pada Tauhid

Psikologi: Part 1

 

Bismillahirrahmanirrahim

“Eh, kamu kan anak psikologi, berarti kamu bisa baca pikiranku dong?” Nope. We are not mind-reader or something you percept like that. We can’t read your mind and we have to say sorry that we couldn’t understand you one hundred percent. In the other hand, we are imperfect –we are in progress to update ourselves to be better. Percayalah, untuk memahami diri sendiri saja kadang kita masih sulit, bagaimana mau sepenuhnya memahami orang lain? Walau begitu, ada satu hal yang selalu dan paling mengerti tentang diri kita: Allaah Azza wa Jalla. Allaah Subhanahu wa Ta’ala adalah Yang Paling Tahu segala perkara. Allah Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ ءَأَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمِ ٱللَّهُ

Katakanlah: “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allâh?” [al-Baqarah/2: 140]

pexels.com

 

Aku masih ingat betul perkataan seorang akhwat; “Ilmu Psikologi memang agak sesat sih karena ilmunya abstrak, cabang dari filsafat. Berdasarkan akal manusia dan ilmu manusia juga. Padahal akal itu makhluk, pastilah banyak salahnya”. Jujur, kala itu aku cenderung setuju-setuju saja dengan opininya. Padahal, dia bukan mahasiswa Psikologi. Bisa saja dia hanya mendengar ilmu ini dari sebagian orang saja yang bukan ahlinya kemudian mengambil kesimpulan demikian. Tapi kini, aku kurang setuju dengan opininya. Bagiku, malahan, biidznillah, disini aku bisa menemukan rasa takut, harap dan kagumku kepada Allaah.

Oh ya, to be confirmed before we go further, Psikologi itu ilmu yang mempelajari tentang perilaku manusia. Bukan ilmu nujum atau ramalan. Bagaimana manusia bertingkah laku? Apa yang menyebabkan mereka bertindak demikian? Apa motivasinya? Hingga ke pertanyaan seperti; kenapa mereka mau mengulangi kesalahan yang sama padahal tau mereka salah? Kami belajar berdasarkan observasi atau pengamatan, yang kemudian dikombinasikan dengan metode penelitian, statistika dan riset scientific. Sehingga bisa disimpulkan bahwa, insyaAllaah, Psikologi ini bukan sekedar ilmu tebak-tebakan ala ahli nujum.

Tidak hanya itu, di sini kami diajarkan untuk bisa mengenal diri kami lebih dalam. Apa saja kekurangan yang kami punya? Karakter seperti apa ada pada diri kami? Singkatnya, kami juga diajarkan untuk melakukan self assessment terhadap diri kami sendiri –kami diajarkan untuk selalu muhasabah diri. Bukankah ciri-ciri orang yang bertaqwa ialah mereka yang selalu melakukan muhasabah? Seperti yang telah Allah Azza wa Jalla firmankan:

 

اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِۢمَا تَعْمَلُوْنَ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَـنْظُرْ نَـفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۚ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18).

Dalam ayat tersebut, Allah menerangkan bahwa muhasabah tidak hanya merupakan ciri orang yang bertaqwa,akan tetapi juga sebagai pelaksanaan perintah-Nya. MasyaAllaah.

Lantas mungkin kalian bertanya, mengapa ilmu ini bisa membawa rasa takut dan harapku kepada Allaah azza wa jalla semakin bertambah? Nah, aku akan menjelaskan beberapa mata kuliah yang sudah aku ambil selama 2 paruh ini satu persata dan korelasinya dengan rasa khauf (takut) dan raja’  (harap):

a.       SSTL (Sistem Saraf dan Tingkah Laku)

Sesuai dengan judulnya, matkul ini mempelajari tentang Sistem Saraf yang ada dalam tubuh kita serta dampak dan hubungannya dengan tingkah laku manusia. Walau baru belajar sedikit, tapi aku merasa mata kuliah ini yang paling membuatku semakin amaze terhadap kuasa Allaah Tabaraka wa ta’ala.

Allah menciptakan setiap akson, dendrite, soma, impuls, sinaps, neuron, glia, sistem sensorik dan motorik, hingga ke fungsi kognitif otak manusia sesuai dengan fungsinya tanpa ada satu cacatpun.  Padahal, sistem tersebut sangat miskroskoptik –tak kasat mata, halus sekali.Tidak hanya sampai disitu, masing-masing dari neuron tersebut kemudian saling bersinergi dan membentuk sistem dengan fungsi yang baru. MasyaAllaah.

Hal tersebut membuktikan bahwa hanya Allaah lah satu-satunya Pencipta –as shamad (الصَّمَدُ اللهُ ) dan al khabir.

Allah Ta’ala berfirman:

الْخَبِيرُ اللَّطِيفُ وَهُوَ خَلَقَ مَنْ يَعْلَمُ أَلَا

“Sejatinya yang menciptakan itu sangat mengetahui. Dan Dia adalah yang Maha Lembut dan Maha Mengetahui.” (QS. Al-Mulk: 14)

Imam Ibnul Qayyim menjelaskan perbedaan antara al-ilmu dengan al khabir. Menurut beliau, al-‘ilmu itu bersifat zhahir (bagian luar dari pengetahuan), sedangkan al-khibrah merupakan bagian dalam yang tersembunyi. (Fahmi, 2014).

 

pexels.com

 

Hal tersebut juga senada dengan pernyataan ustadz Khalid Basalamah pada salah satu ceramah tauhidnya.  Beliau mengatakan bahwasanya “Sang Pencipta lah yang paling tau dengan ciptaan-Nya”. Allah ciptakan kita untuk beribadah kepada-Nya (sesuai dengan surat Adz-Dzariyat: 56), sehingga Allaah lah yang menjamin segala kebutuhan kita untuk beribadah. Allah sediakan segala fasilitas untuk kita sesuai dengan porsi yang kita butuhkan –tidak lebih dan tidak kurang, sehingga kita menjadi nyaman untuk beribadah kepadanya di kehidupan dunia ini.

Dia Allaah –Rabb kita, yang menciptakan, memberikan rezeki, dan tidak meninggalkan kita atau menyia-nyiakan kita. Itulah makna dan implementasi sejati dari tauhid rububiyah.

Allah Ta’ala berfirman:

سُدًى  يُّتْرَكَ اَنْ الْاِنْسَانُ اَيَحْسَبُ  ۗ

“Apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al-Qiyamah 75: Ayat 36)

 

MasyaAllaah.

 

Maka nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?

 

b.      Psikologi Perkembangan

Matakuliah Psikologi Perkembangan merupakan salah satu mata kuliah favoritku. Pada mata kuliah Psikologi Perkembangan ini, kami diajak untuk menyelami perkembangan manusia. Bahasa kerennya: “from womb to tomb” atau dari sebelum dilahirkan hingga kita meninggal. Sayangnya, aku belum belajar semua chapter dari mata kuliah ini –baru beberapa saja. Jadi hanya sedikit yang bisa kubahas. Akan tetapi, jumlah yang sedikit itu sudah membuat  logika ini tunduk di bawah syariat islam.

Pada mata kuliah Psikologi Perkembangan chapter awal mengenai Forming New Life (Papalia&Martorell, 20XX), aku semakin yakin betapa hina dan lemahnya manusia itu. Sudah menjadi sebuah kesepakatan umum bahwa manusia tercipta melalui proses bertemunya sel sperma dan sel telur (ovum). Manusia tercipta dari air mani hina yang terpancar.

Allaah Ta’ala berfirman:

رَآئِبِ وَالتَّ الصُّلْبِ بَيْنِ مِنْۢ يَّخْرُجُ  ۗ  دَافِقٍ مَّآءٍ مِنْ خُلِقَ  ۙ  خُلِقَ مِمَّ  الْاِنْسَانُ فَلْيَنْظُرِ

“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan. Dia (manusia) diciptakan dari air (mani) yang terpancar. yang keluar dari antara tulang punggung (sulbi) dan tulang dada” (Q.S At-Tariq 5-7).

Allah Ta’ala berfirman:

وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah’” (An Nisa: 2)

Manusia itu terlahir lemah dan akan kembali dalam keadaan lemah. Ibnul Qayyim, rahimmahullah, menjelaskan bahwa kelemahan di sini mencakup semuanya secara umum. Kelemahannya lebih dari hal ini dan lebih banyak. Manusia lemah badan, lemah kekuatan, lemah keinginan, lemah ilmu dan lemah kesabaran  (Bahraen, 2018). Sebenarnya, tidak perlu teori panjang-panjang. Cukup perhatikan saja. Manusia ketika masih bayi ia sering menangis –tidak bisa apa-apa dan sangat bergantung pada orang lain. Begitu sudah memasuki masa senja juga demikian –semua organ tubuhnya sudah melemah sehingga sangat menjadi sangat tergantung.

Itu lah manusia –makhluk yang lemah, tapi acap kali sombong.

Selain itu, melalui matakuliah Psikologi Perkembangan ini aku juga belajar bahwa kebenaran akan agama Tauhid ini –Islam adalah hakiki. Salah satu contohnya pada sabda Rasulullah ﷺ  -dalam kitab Hadits Arba’in mengenai tahap perkembangan janin:

“Sesungguhnya salah seorang diantara kalian dipadukan bentuk ciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari (dalam bentuk mani) lalu menjadi segumpal darah selama itu pula (selama 40 hari), lalu menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh pada janin tersebut, lalu ditetapkan baginya empat hal: rizkinya, ajalnya, perbuatannya, serta kesengsaraannya dan kebahagiaannya.” [Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu].

Menurut ilmu kedokteran dan psikologis, tahapan dari perkembangan prenatal terdiri dari 3 tahap: Germinal Stage (dari proses pembuahan hingga 2 minggu), Embryonic Stage (2-8 minggu), hingga Fetal Stagel (8 minggu hingga lahir). (Papalia&Martorel, 20XX). Pada hadits di atas, Rasulullah ﷺ  menyebutkan tiga kali tahap perkembangan manusia dalam perut ibunya: (1) dipadukan dan dikumpulkan dalam perut ibunya –germinal stage, (2) menjadi segumpal darah dan segumpal daging –embryonic stage, (3) ditetapkan empat hal setelah (setelah bentuk-bentuk wajah dan anggota tubuh sudah mulai terlihat) –Fetal Stage.

Tidak hanya itu, pada chapter awal Psikologi Perkembangan, kami juga diajarkan mengenai penyebab kelahiran anak abnormal (special needs). Anak abnormal biasanya disebabkan faktor genetic chromosomal abnormalities. Bisa dikarenakan keturunan dari orang tua atau adanya kesalahan dalam pembelahan sel. Kesalahan dalam pembelahan sel ini lah salah satu hal diluar kuasa kita sebagai manusia. Alhasil, mau tak mau, kita sebagai hamba-Nya, wajib bersabar atas cobaan yang Allaah berikan kepada kita.  Tidak hanya itu, kita yang dilahirkan dengan kondisi normal, patut bersyukur. Jangan jadikan mereka yang terlahir dengan kebutuhan khusus sebagai bahan olokkan. Bukankah apa yang terjadi pada mereka itu, diluar kemampuan mereka? Salah satu di antara hikmah dalam penciptaan Allah bahwa Allah akan memberi cobaan kepada mereka, dan menjadikan sebagian mereka sebagai cobaan bagi yang lain. Wallahu’alam.

Kembali lagi ke awal, kita ini manusia lemah yang tidak punya kuasa apapun. Hanya Allah yang Maha Kuasa dan Maha Kaya. Allah Ta’ala berfirman:

الْحَمِيدُ الْغَنِيُّ هُوَ وَاللَّهُ اللَّهِ إِلَى الْفُقَرَاءُ أَنْتُمُ النَّاسُ أَيُّهَا يَا

“Hai manusia, kamulah yang sangat butuh kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Seluruh makhluk amat butuh pada Allah dalam setiap aktivitasnya, bahkan dalam diam mereka sekali pun. Secara dzat, Allah sungguh tidak butuh pada mereka. Oleh karena itu, Allah katakan bahwa Dialah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji, yaitu Allah-lah yang bersendirian, tidak butuh pada makhluk-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. (Tuasikal, 2011).

Dalam hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman,

“Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertaqwa seperti orang yang paling bertaqwa di antara kalian, tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun. Jika orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kalian, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga.” (HR. Muslim no. 2577)

Nah, semakin jelas kan bahwasanya kita sebagai manusia sangat butuh kepada Allaah? Apa yang terjadi pada kita bukan karena apa yang kita upayakan, tapi atas kehendak dan ridho dari Allaah. Manusia sangat butuh pada Allaah dalam penghambaan, dan cinta kepada-Nya. (Tuasikal,2011). Sehingga, kita wajib untuk mengikhlaskan segala ibada kita hanya kepada-Nya. Kita wajib untuk melaksanakan tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah. Sebab, apabila kita tidak melakukan penghambaan, niscaya kita akan hancur secara keseluruhan –hati, ruh dan kondisi.

Sejatinya, ada banyak mata kuliah lain yang sangat menarik untuk dibahas: seperti Psikologi Pendidikan Keluarga, Psikologi Umum, Psikologi Belajar, Psikologi Adiksi, Sejarah Aliran Psikologi, Psikologi Kognitif dan lainnya. Akan tetapi, Ilmu yang disampaikan dan diterapkan satu persatu secara bertahap akan jauh lebih efektif tentunya.

Tidak hanya itu, ilmu yang bermanfaat itu sejatinya; ada di dalam dada manusia, menambah keimanan, ketaqwaan dan rasa takut-harap kepada Allaah Azza wa Jalla. Berkata ustadz Nuzul hafidzahullah ketika membahas kitab Tadzkiratus sami’ “Ilmu yang sesungguhnya itu berada di dalam dada setiap manusia. Allah Ta’ala berfirman:

ۗ  الظّٰلِمُوْنَ اِلَّا بِاٰيٰتِنَاۤ جْحَدُ وَمَا الْعِلْمَ يَ اُوْتُوا الَّذِيْنَ صُدُوْرِ فِيْ بَيِّنٰتٌ اٰيٰتٌۢ هُوَ بَلْ

“Sebenarnya, (Al-Qur’an) itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada orang-orang yang berilmu. Hanya orang-orang yang zalim yang mengingkari ayat-ayat Kami.” (Q.S Al-Ankabut:49).

Ketika ilmu Allaah tempatkan kedalam hati manusia, ia akan mengetahui konten ilmunya sementara hati tunduk akan syariatnya. Sehingga, ilmu yang sejati itu akan menambah rasa takut (khauf) dan harap (raja’) di dalam jiwa manusia.

Aku bermohon kepada-Nya agar melindungi dari syubhat-syubhat yang mungkin aku dengar selama menjalani perkuliahan. Aku juga bermohon kepada Allaah azza wa jalla agar memberikanku ketetapan hati diatas manhaj yang lurus dalam mempelajari ilmu ini, terbebas dari ilmu yang tidak bermanfaat dan diberikan ilmu yang bermanfaat.  Amiin.

Alhamdulillahirabbilalamin.

 

——————————————————————————–

References:

Al-Qur’anul Karim.

Kitab Al Wajibat Muslimin wa Muslimat (Al wajibatu almutahattimatu alma’rifati a’la kulli muslimin wa muslimat) Syekh Qor’awi.

Bahraen, R. (2018). Tafsir Ayat: “Manusai Diciptakan Lemah.” Retrieved February 17, 2019, from https://muslim.or.id/41307-tafsir-ayat-manusia-diciptakan-lemah.html

Fahmi, M. N., & Muhammad, S. (2014). Al Khabir, Maha Mengetahui Perkara Yang Tersembunyi. Retrieved February 17, 2019, from https://muslim.or.id/20969-al-khabir-maha-mengetahui-perkara-yang-tersembunyi.html

Papalia, D. E., & Martorell, G. (n.d.). Experience Human Development (Thirteenth). New York: McGraw-Hill International Edition.

Tarmizi, N. A. (2016). Mengapa Perlu Muhasabah Diri? Retrieved February 17, 2019, from https://muslim.or.id/27695-mengapa-perlu-muhasabah-diri.html

Tim Almanhaj or id. (2011). Proses dan Perkembangan Janin di Rahim. Retrieved February 17, 2019, from https://almanhaj.or.id/3033-proses-dan-perkembangan-janin-di-rahim.html

Tuasikal, A. M. (2011). Sangat Butuh Pada Allah. Retrieved February 17, 2019, from https://rumaysho.com/1701-sangat-butuh-pada-allah.html

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *