KAJIAN PESAN- Adab dan Akhlak Menuntut Ilmu oleh Al-Ustadzah Fatimah

Night Talk #3 – Adab dan Akhlak Menuntut Ilmu

Oleh : Al-Ustadzah Fatimah

Bismillahirrahmaanirrahim

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan tentang Islam, termasuk di dalamnya masalah adab. Seorang penuntut ilmu harus menghiasi dirinya dengan adab dan akhlak mulia. Dia harus mengamalkan ilmunya dengan menerapkan akhlak yang mulia, baik terhadap dirinya maupun kepada orang lain.

Berikut diantara adab-adab yang selayaknya diperhatikan ketika seseorang menuntut ilmu syar’i,

Pertama, Mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu

Dalam menuntut ilmu kita harus ikhlas karena Allah Ta’ala dan seseorang tidak akan mendapat ilmu yang bermanfaat jika ia tidak ikhlas karena Allah. “Padahal mereka tidak disuruh kecuali agar beribadah hanya kepada Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan memurnikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”(QS. Al-Bayyinah:5)

Orang yang menuntut ilmu bukan karena mengharap wajah Allah termasuk orang yang pertama kali dipanaskan api neraka untuknya. Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menuntut ilmu syar’i yang semestinya ia lakukan untuk mencari wajah Allah dengan ikhlas, namun ia tidak melakukannya melainkan untuk mencari keuntungan duniawi, maka ia tidak akan mendapat harumnya aroma surga pada hari kiamat.” (HR. Ahmad)

Kedua, Rajin berdoa kepada Allah Ta’ala, memohon ilmu yang bermanfaat

Hendaknya setiap penuntut ilmu senantiasa memohon ilmu yang bermanfaat kepada Allah Ta’ala dan memohon pertolongan kepada-Nya dalam mencari ilmu serta selalu merasa butuh kepadaNya.

Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan kita untuk selalu memohon ilmu yang bermanfaat kepada Allah Ta’ala dan berlindung kepada-Nya dari ilmu yang tidak bermanfaat, karena banyak kaum Muslimin yang justru mempelajari ilmu yang tidak bermanfaat, seperti mempelajari ilmu filsafat, ilmu kalam ilmu hukum sekuler, dan lainnya.

Ketiga, Bersungguh-sungguh dalam belajar dan selalu merasa haus ilmu

Dalam menuntut ilmu syar’i diperlukan kesungguhan. Tidak layak para penuntut ilmu bermalas-malasan dalam mencarinya. Kita akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat dengan izin Allah apabila kita bersungguh-sungguh dalam menuntutnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam barsabda, “ Dua orang yang rakus yang tidak pernah kenyang: yaitu (1) orang yang rakus terhdap ilmu dan tidak pernah kenyang dengannya dan (2) orang yang rakus terhadap dunia dan tidak pernah kenyang dengannya.” (HR. Al-Baihaqi)

Keempat, Menjauhkan diri dari dosa dan maksiat dengan bertaqwa kepada AllahTa’ala

Seseorang terhalang dari ilmu yang bermanfaat disebabkan banyak melakukan dosa dan maksiat. Sesungguhnya dosa dan maksiat dapat menghalangi ilmu yang bermanfaat, bahkan dapat mematikan hati, merusak kehidupan dan mendatangkan siksa AllahTa’ala.

 Kelima, Tidak boleh sombong dan tidak boleh malu dalam menuntut ilmu

Sombong dan malu menyebabkan pelakunya tidak akan mendapatkan ilmu selama kedua sifat itu masih ada dalam dirinya.

Imam Mujahid mengatakan,

لاَ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ مُسْتَحْىٍ وَلاَ مُسْتَكْبِرٌ

“Dua orang yang tidak belajar ilmu: orang pemalu dan orang yang sombong” (HR. Bukhari secara muallaq)

Keenam, Mendengarkan baik-baik pelajaran yang disampaikan ustadz, syaikh atau guru

Allah Ta’ala berfirman, “… sebab itu sampaikanlah berita gembira itu kepada hamba-hambaKu, (yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan merekalah orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS. Az-Zumar: 17-18)

Ketujuh, Diam ketika pelajaran disampaikan

Ketika belajar dan mengkaji ilmu syar’i tidak boleh berbicara yang tidak bermanfaat, tanpa ada keperluan, dan tidak ada hubungannya dengan ilmu syar’i yang disampaikan, tidak boleh ngobrol. Allah Ta’ala berfirman, “…dan apabila dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raaf: 204)

Kedelapan, Berusaha memahami ilmu syar’i yang disampaikan

Kiat memahami pelajaran yang disampaikan: mencari tempat duduk yang tepat di hadaapan guru, memperhatikan penjelasan guru dan bacaan murid yang berpengalama. Bersungguh-sungguh untuk mengikat (mencatat) faedah-faedah pelajaran, tidak banyak bertanya saat pelajaran disampaikan, tidak membaca satu kitab kepada banyak guru pada waktu yang sama, mengulang pelajaran setelah kajian selesai dan bersungguh-sungguh mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.

Kesembilan, Menghafalkan ilmu syar’i yang disampaikan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Semoga Allah memberikan cahaya kepada wajah orang yang mendengar perkataanku, kemudian ia memahaminya, menghafalkannya, dan menyampaikannya. Banyak orang yang membawa fiqih kepada orang yang lebih faham daripadanya…” (HR. At-Tirmidzi).

Dalam hadits tersebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa kepada Allah Ta’ala agar Dia memberikan cahaya pada wajah orang-orang yang mendengar, memahami, menghafal, dan mengamalkan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka kita pun diperintahkan untuk menghafal pelajaran-pelajaran yang bersumber dari Al-Quran dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kesepuluh, Mengikat ilmu atau pelajaran dengan tulisan

Ketika belajar, seorang penuntut ilmu harus mencatat pelajaran, poin-poin penting, fawaa-id (faedah dan manfaat) dari ayat, hadits dan perkataan para sahabat serta ulama, atau berbagai dalil bagi suatu permasalahan yang dibawa kan oleh syaikh atau gurunya. Agar ilmu yang disampaikannya tidak hilang dan terus tertancap dalam ingatannya setiap kali ia mengulangi pelajarannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ikatlah ilmu dengan tulisan” (HR. Ibnu ‘Abdil Barr)

Kesebelas, Mengamalkan ilmu syar’i yang telah dipelajari

Menuntut ilmu syar’i bukanlah tujuan akhir, tetapi sebagai pengantar kepada tujuan yang agung, yaitu adanya rasa takut kepada Allah, merasa diawasi oleh-Nya, taqwa kepada-Nya, dan mengamalkan tuntutan dari ilmu tersebut. Dengan demikian, barang siapa saja yang menuntut ilmu bukan untuk diamalkan, niscaya ia diharamkan dari keberkahan ilmu, kemuliaan, dan ganjaran pahalanya yang besar.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan seorang alim yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, kemudian ia melupakan dirinya (tidak mengamalkan ilmunya) adalah seperti lampu (lilin) yang menerangi manusia, namun membakar dirinya sendiri.” (HR Ath-Thabrani)

Kedua belas, Berusaha mendakwahkan ilmu

Objek dakwah yang paling utama adalah keluarga dan kerabat kita, Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahriim: 6).

Hal yang harus diperhatikan oleh penuntut ilmu, apabila dakwah mengajak manusia ke jalan Allah merupakan kedudukan yang mulia dan utama bagi seorang hamba, maka hal itu tidak akan terlaksana kecuali dengan ilmu. Dengan ilmu, seorang dapat berdakwah dan kepada ilmu ia berdakwah. Bahkan demi sempurnannya dakwah, ilmu itu harus dicapai sampai batas usaha yang maksimal. Syarat dakwah:

Aqidah yang benar, seorang yang berdakwah harus meyakini kebenaran ‘aqidah Salaf tentang Tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah, Asma’ dan Shifat, serta semua yang berkaitan dengan masalah ‘aqidah dan iman. Manhajnya benar, memahami Al-quran dan As-sunnah sesuai dengan pemahaman Salafush Shalih.Beramal dengan benar, semata-mata ikhlas karena Allah dan ittiba’ (mengikuti) contoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak mengadakan bid’ah, baik dalam i’tiqad (keyakinan), perbuatan, atau perkataan.

***

Notulen : Zulfa Sinta Filavati

Referensi:
Adab & Akhlak Penuntut Ilmu karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Notulensi Seminar #2 tentang Kiat Sukses Kuliah- Rana Bouzida S.Si

Kiat Sukses Kuliah

Oleh : Rana Bouzida, S.Si  (Alumni PESAN Akhwat Angkatan 1)

  1. Manajemen waktu
  2. Masa kuliah : masa penasaran. Jadi kadang apapun ingin dilakukan. Pintar-pintar menyaring apa yang jadi prioritas.
  3. Tidak masalah jika ingin ikut organisasi. Asalkan bisa bagi waktu.
  4. Kuliah tidak seperti di SMA, yang setiap ada tugas selalu di-reminder. Jangan remehkan pengumpulan tugas, karena nggak semua dosen sama. Ada yang ketika udah deadline, nggak ada toleransi waktu atau bayar utang dengan mengerjakan tugas lain.
  5. Di tahun pertama dan kedua, tidak apa-apa menikmati. Tapi di tahun ketiga usahakan fokus dan dalami minimal satu aja mata kuliah yang kamu minati.
  6. Pengerjaan skripsi usahakan tidak benar-benar sendiri, ajak teman untuk saling mengingatkan progres.
  7. Pengerjaan skripsi akan terasa “sulit” bukan karena judulnya yang njelimet atau penelitian yang lama, tetapi karena motivasi yang kurang.
  8. Tidak masalah jika berkali-kali gagal. Kuliah bukan melulu soal nilai, tapi soal keilmuan dan perubahan cara berfikir.

KAJIAN PESAN-Menuntut Ilmu oleh Al-Ustadz Abu Faishol

TENTANG MENUNTUT ILMU.

Oleh : Al-Ustadz Abu Faishol Hafizahullah

Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat dan salam semoga Allah berikan kepada Nabi Kita Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para sahabat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai kiamat kelak.

Para ikwhan dan akhwat yang di rahmati oleh ALLAH Subhanahu wa Ta’ala, dalam kajian ini kita akan membahas Menuntut ilmu.

  1. Meluruskan Niat. Meluruskan niat diawal dan diakhir. Tidak ada orang yang sempurna dalam menjaga niat.
  2. Rajin Berdoa kepada Allah SubhanahuWaTa’ala. Yang kita minta adalah ilmu yang bermanfaat bukan cuma kerendan nge-tren.
  3. Bersungguh-sungguh belajar dan haus akan ilmu

Imam Syafii  berkata : “Wahai Saudaraku, tidak akan sekali-kali kalian mendapatkan ilmu kecuali dgn 6 perkara :

  1. Kecerdasan
  2. Semangat
  3. Sungguh-Sungguh
  4. Bekal
  5. Belajar dengan guru
  6. Waktu yang panjang

Belajar sesuatu itu adalah persoalan proses

  1. Menjauhkan diri dari dosa dan maksiat yang harus kita tinggalkan. Ini adalah buah dari ketakwaan. Sesungguhnya yang  takut kepada Allah hanyalah para ulama
  2. Tidak boleh sombong dan tidak boleh malu terhadap menuntut ilmu
  3. Mendengarkan baik-baik pelajaran yang disampaikan ustadz, syaikh, ataupun guru

Fokus menjadi hal yang terpenting dalam pelajaran.Faktanya, HP banyak menjadi penghambat focus pada saat belajar.

  1. Diam dan tidak berisik
  2. Memahami ilmu syar’i yang disampaikan
  3. Menghafal Ilmu

Penting kolaborasi antara memahami dan menghafal ilmu. Ini adalah sebuah pecutan bagi kita untuk mengiringi pemahaman dan hafalan.Ketika para ulama terdahulu menyampaikan ilmu, mereka membuat matan yang nantinya dapat dihafal.Dengan menghafal dan memahami, kita dapat menyampaikan hujjah dengan baik berkaitan dengan suatu ilmu.

  1. Ikatlah ilmu dengan tulisan. Tulisan akan lebih memperkuat hafalan. Para ulama terdahulu produktif dengan menulis suatu ilmu. Tetapi di zaman sekarang banyak kita temui banyak orang sibuk dengan komentar. Tulisan di dalam agama islam adalah sebuah manhaj dalam menuntut ilmu.

Disitulah kita akan mendapatkan keberkahan dalam belajar. Belajar akan berbuah kebaikan, dan bertambahnya kebaikan. Kita banyak mempelajari sesuatu hanyalah tampilan luar saja.Tetapi rapuh.Kita terlupakan dalam mempelajari ilmu ushul terutama dalam kaitannya dengan akidah dan manhaj.Ketika kita hanya mengikuti trend belajar orang, kita akan mudah terkena syubhat.

  1. Mengamalkan ilmu syariy yang telah diajarkan

Sebagaimana  yang  telah difirmankan Allah dalam surat al ashr. Allah menjadikan waktu sebagai sumpahnya yang menunjukan begitu pentingnya waktu. Di surat Al Ashr kita juga diperintahkan supaya gak pinter sendiri. Kita terus saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.

 

  1. Mendakwahkan Ilmu. Retorika dalam menyampaikan ilmu diperlukan. Tapi jangan karena hanya retorika bagus kita memberitahu apa yang tidak kita ketahui.

 

Ilmu itu didatangi bukan mendatangi.Jika kita ingin mengetahui ilmu, maka mengembaralah.Sehingga nanti kita menghargai usaha kita.Ada keberkahan dalam mendatangi menuntut ilmu.Seberapa besar kepayahan kita dalam belajar juga dapat menggambarkan seberapa besar kita menghargai ilmu.

“Barangsiapa menempuh (Read :Menyiapkan (strategi) jalan menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan jalan menuju surga”

Dalam riwayat lain : “Malaikat akan membentangkan sayapnya kepada orang yang menuntut ilmu.”

Orang  yang alim siapa saja yang berada di langit dan bumi akan meminta ampunan. Sampaikan yang ada di air sekalipun.Keutamaan orang yang berilmu dengan orang yang rajin beribadah bagiakan cahaya bulan dan bintang-bintang

Para  Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham.Tapi mereka mewariskan ilmu.

Ilmu yang diatas yang dimaksud adalah ilmu syari.

Bagaimana dengan ilmu dunia yang kita pelajari?Bagaimana kita menyikapinya?

Ilmu syar’i yang dipakai dalam kehidupan keseharianya itu ibadah maka wajib dipelajari.Maka, ilmu yang kita pelajari ini jika diniatkan untuk umat maka ini akan bermanfaat.

Ilmu itu akan bermanfaat jika memang diniatkan untuk umat.

Pengumuman Penerimaan Mahasantri PESAN BISA-FKI UI Angkatan V (2017-2019)

Assalamu’alaykum warrahmatullahi wabarakatuh.

Akhirnya datang juga!
Proses seleksi mahasantri/santriwati Pesantren Kosan BISA Angkatan V telah berakhir loh..

Selamat bagi 10 Mahasantri dan 9 Mahasantriwati yang lulus! Kamu akan dibina selama 2 tahun di PESAN BISA.

#Mahasantri Ikhwan

1. Ahmad Nafiys Ismail- Fisika UI 2016

2. Ahmad Zulfi Rais- Matematika UI 2016

3. Anwar Ismail- Teknik Kimia UI 2017

4. Fauzan Marwan- Teknik Elektro UI 2017

5. Fauzi Mahdy- Teknik Mesin UI 2017

6. Gafar Ali Haji- Manajemen Universitas Gunadarma 2017

7. Haidarurrohman- Teknik Elektro UI 2017

8. Muhammad Ziddan- Teknik Sipil PNJ 2016

9. Muhammad Dahlan- Teknik Elektro PNJ 2017

10. Muhammad Zaahid H- Teknik Kimia UI 2017

 

#Mahasantri Akhwat

1. Annisa Nuraini- Fisika UI 2016

2. Umima’tum Rikhansana- Geologi UI 2016

3. Tuti Ita Kuswati- Ilmu Ekonomi UI 2016

4. Ghina Rabbani- Teknik Metalurgi & Material 2017

5. Qurrata A’yuni- Psikologi UI 2017

6. Yulfina Bimawanti- Farmasi UI 2016

7. Meilyana Putri- Geofisika UI 2017.

8. Safina Salma Sa’adah- Sastra Arab UI 2017

9. Dede Nurhalimah- Kimia UI 2017

Jazakumullah khairan untuk 153 peserta dari UI, PNJ, Gunadarma, UP, Polimedia, UPN Veteran Jakarta dan berbagai Perguruan Tinggi lainnya di Jabodetabek yang sudah mendaftar.

 

Yayasan BISA
Facebook: programbisa
Twitter: @programbisa
Instagram: pesan_bisa
Website: www.bisa.id
Youtube: programbisa

FKI UI
Facebook: Mahasiswa Muslim Gaul
Instagram: fki.ui
Twitter: @mhs_muslim
Line: @mhs_muslim

PESAN BISA – FKI UI