Review Buku Kitaabul ‘ilmi Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin

 

Menuntut ilmu, jalan menuju surga

Bismillahirrahmanirrahim

Seorang penuntut ilmu adalah seorang pengembara yang sedang menempuh sebuah perjalanan. Bagi orang-orang yang diberikan hidayah, tujuan akhir dari perjalanan tersebut sudah semakin jelas tergambar. Sebuah tempat yang tidak ada lagi kematian dan kesedihan di dalamnya. Segala kenikmatan yang belum pernah ada semasa hidup telah Allaah janjikan melalui banyak firman-Nya. Namun jalan manakah yang harus dipilih ketika menemui persimpangan jalan? Apa yang harus dilakukan ketika dihadapkan pada berbagai rintangan? Kapankah waktu yang tepat untuk berjalan pelan, berlarian kecil, atau sekedar beristirahat melepas penat di bawah pohon yang rindang?

Semakin banyaknya majelis ilmu dengan berbagai metode dan sarana penyampaian  memudahkan para penuntut ilmu dalam berburu manisnya ilmu. Khususnya bagi orang-orang awam yang tidak memiliki latar belakang pendidikan formal di sekolah agama atau keluarga yang agamis. Semua orang kini memiliki kesempatan yang sama dalam proses mendalami ilmu syar’i. Namun layaknya dalam sebuah perjalanan, kita mesti memerhatikan berbagai rambu yang ada di sepanjang jalan. Buku yang akan dibahas selanjutnya dapat membantu kita untuk mengenal berbagai rambu dan etika dalam menempuh perjalanan menuntut ilmu.

Kitaabul ‘Ilmi merupakan salah satu dari banyak karya Syaikh Shalih al-‘Utsaimin yang memberi makna tersendiri di hati para penuntut ilmu. Buku ini tidak hanya berisi berbagai definisi, hukum-hukum, serta cara-cara dalam menuntut ilmu. Kita sebagai pembaca diajak untuk berpikir lebih dalam bagaimana keterkaitan antara hal tersebut dengan berbagai permasalahan yang riil terjadi di kehidupan sehari-hari. Hal ini semakin memudahkan kita dalam menyikapi berbagai dinamika yang terjadi dalam kehidupan. Maka membaca buku ini sekali tidak akan cukup karena pada kali kedua dan ketiga kita membacanya, semakin banyak keutamaan yang sebelumnya tidak kita perhatikan.

Salah satu contoh ketika Syaikh menuliskan tentang perselisihan pendapat yang sudah terjadi sejak jaman Para Sahabat. Masalah yang diperselisihkan adalah masalah yang dibolehkan berijtihad di dalamnya -seperti masalah bersedekap setelah bangkit dari rukuk-, bukan terkait masalah-masalah ‘aqidah , maka Syaikh menuliskan:

Hal ini tidak boleh kita jadikan sebab terjadinya permusuhan dan perpecahan antara ahli ilmu. Kita melihat bahwa perbedaan paham tidak harus menyebabkan manusia saling membenci dan mencela kehormatan saudaranya.

Maka setiap penuntut ilmu wajib menjadi saudara sekalipun mereka berbeda pendapat dalam beberapa masalah furu’. Setiap orang harus memanggil pihak lain dengan lembut dan berdialog yang ditujukan untuk menggapai wajah Allah dan mencapai ilmu.

Jika hanya jika banyak penuntut ilmu mengetahui dan mengamalkan isi dari buku ini, maka perdebatan panjang di media sosial dan kejadian saling tuding-menuding kesalahan sesama muslim tidak akan tumbuh subur. Buku ini juga memuat 119 pertanyaan yang diajukan orang-orang kepada Syaikh terkait berbagai masalah mengenai perjalanan menuntut ilmu dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya ketika penuntut ilmu menemui kesulitan menetapkan niat ikhlas semata untuk Allah namun terbayang-bayang tujuan lain seperti mendapatkan ijazah, masalah taqlid bagi penuntut ilmu yang pemula, menyikapi adanya perbedaan diantara para asatidz, penyikapan masalah tahdzir yang terjadi, dan hal-hal lainnya.

Jika pembaca adalah seorang yang suka untuk menandai kalimat-kalimat yang penting, niscaya bukunya akan penuh dengan berbagai garis bawah dan coretan karena setiap kalimat memiliki makna yang mendalam. Sulit untuk memilih mana yang lebih penting diantara yang lainnya. Menyelesaikan buku ini hanya satu kali rasanya tidak akan cukup. Bahkan buku ini semakin memikat meski sudah berulang-ulang dibaca karena semakin banyak faidah baru yang ditemukan.

Apakah di Serambi Masjid Dilarang Berjualan?

Penulis: Nur Fajri Romadhon

Anggota Komisi Fatwa MUI Provinsi DKI Jakarta & anggota Majelis Tarjih & Tajdid Muhammadiyah Kota Depok)

 

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
إذا رأيتُم من يبيعُ أو يبتاعُ في المسجدِ، فقولوا : لا أربحَ اللهُ تجارتَك
“Jika kalian melihat orang membeli atau menjual di masjid, maka katakanlah kepada mereka: Semoga Allah tidak memberikan keuntungan pada perdaganganmu.”
[Hr. At-Tirmidzi (2/139)]

Mayoritas ulama menyatakan bahwa hadis di atas menunjukkan makruhnya jual-beli di dalam masjid [lihat Fathul Qadir (2/112), Jawahirul Iklil (2/203), Al-Majmu (2/203), & Al-Mughni (2/202)]. Yang memalingkan larangan pada hadis di atas dari pengharaman menjadi pemakruhan ialah ijma ulama yang dinukilkan oleh Al-Hafidzh Al-Iraqi
[Nailul Authar (2/185)] dan Imam Al-Mardawi [Al-Inshaf (3/347)] bahwa jual beli tersebut bagaimanapun tetap sah.

Adapun jual-beli di teras dan serambi masjid, maka selama tidak mengganggu masjid dsri sisi kebisingan dan kebersihan, mayoritas ulama tidak memasukkannya ke dalam konteks larangan jual-beli di masjid yang hukumnya makruh tadi [lihat Hasyiyah Ibn Abidin (1/343), Hasyiyah Ad-Dasuqi (2/190), Al-Inshaf (3/258)] Pendapat ini juga didukung Fatwa Majelis Ulama Indonesia Pusat No. 34 tahun 2013 bahwa hukum pemanfaatan area masjid untuk kegiatan sosial yang bernilai ekonomis, terlebih membawa maslahat bagi masjid, adalah boleh. MUI Pusat mensyaratkan bahwa yang dijual-belikan tidak terlarang secara syar’i, senantiasa menjaga kehormatan masjid, dan tidak mengganggu pelaksanaan ibadah.

Di antara dalilnya ialah hadis Ibnu Abbas
أمر رسول الله بالرجم عند باب مسجده
Nabi memerintahkan pelaksanaan rajam dilangsungkan di dekat pintu masjid Nabawi.
[Hr. Ahmad (5/261)]

Padahal Nabi sendiri yang juga bersabda:
لا تقام الحدود في المساجد
Tidak boleh menegakkan hukuman hudud (termasuk rajam -pent) di masjid.”
[Hr. At-Tirmidzi (4/12)]

Itu berarti bagian luar masjid meski dekat pintu, hukumnya sudah berbeda.

Juga hadis Aisyah
“كن المعتكفات إذا حضن أمر رسول الله صلى الله عليه وسلم بإخراجهن من المسجد، وأن يضربن الأخبية في رحبة المسجد حتى يطهرن”
“Dahulu jika para peserta itikaf wanita sedang haid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan mereka keluar dari masjid dan membuat tenda di serambi masjid sampai mereka suci dari haid.”
[Hr. Ibnu Baththah, dinilai hasan oleh Imam Ibnu Muflih dalam Al-Furu’ (5/167)]

Ini menunjukkan bahwa serambi masjid hukumnya beda dengan hukum masjid. Wanita haid tidak boleh stay di dalam masjid. Jika seandainya serambi masjid hukumnya sama dengan masjid, tidak perlu para “akhawat” tersebut Nabi shallallahu alaihi wasallam suruh ke serambi. Jika ada yang menyanggah dengan mengatakan, “Itikaf pun tidak bisa kecuali di masjid,” maka kita jawab bahwa tidak ada perintah itikaf di serambi masjid. Mereka di sana bukan untuk itikaf, tetapi agar tetap mendapatkan semangat beribadah, berbeda kalau justru pulang ke rumah.

Dalam Al-Muwaththa’ juga disebutkan bahwa Amirul Mukminin Umar ibnul Khaththab membangun serambi masjid berukuran kecil. Lalu beliau bertitah:
من كان يريد أن يلغط أو ينشد شعراً أو يرفع صوته فليخرج إلى هذه الرحبة
“Barangsiapa ingin bercanda gaduh, menyenandungkan syair, atau mengeraskan suara, hendaklah ia keluar dari masjid dan melakukannya di halaman ini.”
[Hr. Malik (1/173)]

Ini juga menunjukkan fahmush shahabah (pemahaman shahabat) bahwa hukum serambi masjid beda dari hukum masjid.

Dalil lain adalah amalan shahabat, di mana Abu Hurairah pernah melihat sekelompok orang duduk di serambi bersiap mendengarkan khutbah Jumat sementara masjid masih banyak ruang lowong. Beliau berkata:
ادخلوا المسجد، فإنه لا جمعة إلا في المسجد
“Ayo, masuklah ke dalam masjid. Karena tidak sah shalat Jumat kecuali di masjid.”
[Hr. Ibnu Abi Syaibah (2/614)]

Sekali lagi ini menunjukkan bahwa serambi masjid tidak dihukumi sama seperti bagian dalam masjid. Jika ada yang mengritik dengan mengatakan, “Bukankah jika masjid penuh, salat Jumat pun sah di serambi masjid?” Kita jelaskan bahwa itu hukum darurat saat penuh saja. Bahkan jika penuh, parkiran, bahkan jalanan pun sah untuk salat Jumat, padahal kita sepakat bahwa jalanan di luar pagar masjid pun hukumnya sudah bukan lagi masjid.

Wallahu a’lam.


Sebagai jawaban pribadi atas pertanyaan saudara-saudari dari MII FMIPA UI

 

 

 

Menjaga Kewarasan Diri dengan Tawakal

Penulis: Nisa Larasati, S.K.M
(Alumnus Ilmu Kesehatan Lingkungan FKM UI & Pengurus PESAN 2016-2018)

ان الله يحب لمتو كلين

Salah satu hadiah terbaik yang Allaah kasih untuk para hamba-Nya adalah konsep tawakal menurut saya. Menjaga kewarasan diri tetap stabil dalam short dan long term dengan bertawakal kepada Allaah.

Untuk short term, rasa tawakal kepada Allaah menjadikan hati tetap tenang ketika menghadapi situasi yang cukup penting. Misalnya ketika menunggu keluarnya nilai di akhir semester. Segala doa dan usaha (termasuk bertawakal) telah dilakukan sepanjang satu semester namun masih belum cukup karena yang menentukan nilai adalah para dosen. Meski dengan perhitungan kuantitatif nilai dapat diprediksi, tapi kejutan masih sering terjadi. Maka cukuplah yakin Allaah akan mencukupkan keperluan hamba-Nya melalui hati para dosen dalam memberikan nilai. Dan pada akhirnya Allaah akan memberi yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Kekecewaan jika nilai yang keluar tidak sesuai ekspetasi awal dapat terobati.

Dalam jangka waktu yang cukup lama, konsep tawakal dapat menghadirkan ketenangan diri  setiap kali perasaan was-was muncul. Kekhawatiran akan masa depan adalah sebuah keniscayaan yang dialami banyak orang. Maka beruntunglah orang yang sudah terbiasa hatinya untuk bertawakal kepada Allaah. Ketika dirinya sudah meminta pertolongan kepada Allaah, berusaha dengan ikhtiar dan tawakal maka kekhawatiran bisa tergantikan dengan ketenangan hati. Mengingat Allaah tidak akan mendzalimi para hamba-Nya maka segala keputusan yang Allaah tentukan dapat kita terima dengan ikhlas.

Menariknya, selama ini konsep yang saya pahami bahwa jalan yang mesti ditempuh seseorang dalam menyelesaikan pekerjaan adalah dengan urutan mulai dari berusaha, berdoa, lalu bertawakal. Namun setelah memetik pelajaran dari para asatidz -semoga Allaah menjaga mereka-, sesungguhnya langkah awal yang dilakukan seseorang adalah dengan meminta pertolongan kepada Allaah kemudian berikhtiar termasuk konsep tawakal di dalamnya.

Meminta pertolongan kepada Allaah dilakukan sebelum melakukan sesuatu karena kita tidak mengetahui dengan pasti apakah hal yang akan kita lakukan akan membawa kebaikan atau malah sebaliknya. Kita hanya dapat mengukur dan memprediksi risiko-risiko yang akan terjadi maka meminta pertolongan kepada Allaah adalah sebuah langkah yang diambil sejak awal bukan meletakannya pada bagian akhir.

Berikhtiar semaksimal mungkin dengan memerhatikan rambu-rambu syari’at karena yang kita harapkan bukan hanya hasil sementara namun berharap akan dicatat dalam keabadian sebagai amal yang baik. Dan tawakal adalah bagian dari ikhtiar. Tawakal perlu diperjuangkan karena tidak semua orang dapat bertawakal kepada Allaah dalam segala urusannya. Betapa banyak orang yang kecewa dan frustasi karena hasil akhir yang tidak diharapkan. Padahal sejatinya hasil adalah milik Allaah. Orang yang bertawakal dapat dengan berlapang dada menerima semua keputusan yang Allaah berikan.

Maka beruntunglah orang-orang yang hatinya senantiasa bertawakal kepada Allaah. Seperti pada ayat 159 dari surat Al ‘Imron di awal tulisan ini,

Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.

Meraih kecintaan dari Allaah adalah sebuah pencapaian hamba yang lebih besar daripada hasil-hasil yang ingin diraih dalam urusannya. Hingga ia tidak berlarut dalam kekecewaan meski terkadang hasil tidak sesuai dengan perencanaannya.

فإذاعزمت فتو كل الله

Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allaah.

Masih pada ayat yang sama, Allaah tidak memerintahkan kita untuk khawatir atas segala yang kita telah niatkan. Fokuslah untuk meraih kecintaan Allaah dengan sebab bertawakal kepada-Nya. Kewarasan diri dalam menjalani hidup pun diperoleh sebagai bonus tambahan.

Doa untuk senantiasa bertawakal kepada Allaah:

رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal, dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat, dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.
(Al Mumtahanah [60]: 4).

Selasa Pagi, 9 Oktober 2018

 

Pengajian Pekanan di Mushalla Al-Afiyat RIK UI

Setiap Rabu siang ba’da Zuhur selama 30 menit

Bersama: Ustaz Nur Fajri Romadhon, Lc Al-Hafiz

(Anggota Komisi Fatwa MUI DKI Jakarta & Koordinator Pengajar UI Mengaji)

Pekan I: Akidah (merujuk kitab “Tajridut Tauhid”, karya Imam Al-Maqrizi Asy-Syafii  (w. 845 H/1442 M)

Pekan II, III, IV: Sirah Nabawiyyah (merujuk kitab “Al-Bidayah wan Nihayah” karya Al-Hafidzh Ibnu Katsir (w. 774 H/1373 M)

SEDIKIT-SEDIKIT TAPI KONSISTEN

Penulis: Erwin Firmansyah., ST

Alumnus Teknik Kimia UI & PESAN BISA

 

KISAH 1

Seorang pemuda yang berhasil menghafalkan surat Al Baqarah saat menanti lampu merah di persimpangan jalan. Pemuda ini sengaja menyimpan mushaf di mobilnya. Setiap kali lampu merah menyala, ia mencuri waktu untuk membuka mushaf. Yang ia lakukan bukan hanya sekedar membaca mushaf itu. Ia mencoba menghafalkan satu dua baris ayat Al Quran.

Ia berhasil menyelesaikan hafalan surat Al Baqarah sepenuhnya di tengah lampu merah yang bagi banyak orang dianggap sebagai waktu menjengkelkan. [1]

 

KISAH 2

Seorang nenek 70 tahun di Yordania adalah orang yang buta huruf (tidak bisa baca tulis). Beliau di usia tersebut mendengarkan rekaman al quran setiap hari. Lalu beliau berpikir, “Aku sudah sering mendengarkan al quran, mengapa aku tidak mengambil langkah lebih jauh lagi?”. Lalu kali ini beliau minta ditunjukkan oleh cucunya seperti apakah tulisan lafazh “Allah” (karena beliau buta huruf). Setelah itu setiap kali mendengarkan rekaman al quran, beliau melihat kearah mushaf dan mengikuti bacaan al quran berdasarkan tulisan lafazh “Allah” yang ditemuinya di mushaf. Perlahan tapi pasti, beliaupun menjadi sangat lancar dalam mengikuti bacaan tersebut.

Setelah itu, beliau minta kepada cucunya untuk mengajarkannya alphabet (alif, ba, ta, dan seterusnya). Setelah lancar, beliau perlahan bisa mengikuti rekaman bacaan al quran sambal membaca ke mushaf. Dan perlahan beliau bisa membaca al quran dengan sendirinya (tanpa mendengarkan rekaman).

Kemudian pada usia 75 tahun, beliau berhasil menghafalkan seluruh al quran. [2]

 

KISAH 3

Seorang laki-laki paruh baya dari Amerika Serikat, menyadari bahwa waktu perjalanan pergi dan pulang kerja adalah waktu yang cukup panjang untuk disia-siakan (waktu berangkat dan pulang masing-masing 45 menit). Ia pun membeli kaset rekaman pelajaran Bahasa jerman. Ia mendengarkannya hanya selama waktu perjalanan pergi dan pulang kerja. Setelah 10 bulan, ia menamatkan 99 rekaman pelajaran dengan 3 kali mengulang. Ditambah kursus tatap muka selama 16 hari di Berlin jerman,

Ia pun lancar berbahasa jerman. Ia hanya membutuhkan 10 bulan lebih sedikit untuk menguasai bahasa baru. [3]

 

Tujuan yang kelihatannya sulit bisa dicapai dengan usaha yang sedikit sedikit, namun konsisten.

Pemuda pada contoh pertama hanya menggunakan waktu menunggu lampu merah, seorang nenek pada contoh kedua menggunakan waktu santainya sambal mendengarkan al quran dan laki-laki pada contoh terakhir hanya menggunakan waktu perjalanannya dalam kereta untuk pergi dan pulang kerja. Mereka semua melakukannya sedikit-sedikit, tapi konsisten.

Mengapa harus sedikit-sedikit tapi konsisten? Karena amalan yang dilakukan banyak sekaligus akan menimbulkan perasaan berat dan sangat berpotensi terhenti di tengah jalan. Tipsnya adalah, buatlah tujuan besar yang ingin dicapai menjadi potongan-potongan tugas kecil yang harus diselesaikan setiap harinya. Dan jangan terlalu membayangkan tujuan besar tersebut, melainkan fokuslah hanya pada potongan-potongan tugas kecil tersebut. Stephen Duneier (Seorang dosen di University of California), menamakan pemotongan target besar menjadi tugas tugas kecil ini dengan “marginal adjustment”.

Misal, seseorang yang memiliki tujuan untuk mempelajari bahasa arab dengan kitab Durusul Lughoh. Jika ia membayangkan setiap harinya bahwa ia harus menguasai seluruh kitab Durusul Lughoh dalam 1 Tahun, ia akan merasa berat melakukannya dan sewaktu-waktu ia bisa terhenti dari melakukannya. Tapi jika ia membayangkan bahwa dalam 1 hari ia hanya perlu mempelajari 1/2 subbab dalam kitab durusul lughoh dan ia selalu memenuhi target ini, mempelajarinya akan terasa ringan. Tidak perlu terfokus pada target 1 tahun menguasai Durusul Lughoh, tapi fokuslah untuk memenuhi target belajar 1/2 subbab perhari nya. In sya Allah proses belajar seperti ini akan lebih langgeng, dibandingkan belajar sambil membayangkan target yang besar.

 

Bukankah generasi terbaik teladan kita (Para sahabat Nabi) juga mempelajari Al Quran dengan membagi-bagi nya per 10 ayat?

Ibnu Mas’ud berkata: “Sesungguhnya mereka (para sahabat) apabila mempelajari 10 ayat (Al-Qur`an) dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka tidak menambahnya sehingga mereka mengetahui ilmu dan mengamalkan apa yang terdapat di dalamnya.”

 

Bukankah Allah juga mengajarkan (menurunkan) Al Quran secara perlahan-lahan selama hampir 23 tahun?

“Berkatalah orang-orang yang kafir, ‘Mengapa Al-Qur`an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?; Demikianlah (Kami turunkannya secara bertahap) supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (bertahap dan teratur). (QS Al Furqon : 32)

 

Terakhir, amalan yang dicintai Allah juga adalah amalan yang konsisten, walaupun sedikit.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ ditanya, “Amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Yang paling rutin, walaupun sedikit.” Dan Beliau bersabda, “Kerjakanlah ibadah sesuai kemampuan kalian.” (HR Bukhari)

 

Referensi:

  1. Buku: Orang Sibuk pun Bisa Hafal Al Quran
  2. Faidah dari kajian islam oleh Sh Moutasem al Hameedy (link: https://youtu.be/O724d95udWg)
  3. TEDx Talk: How to achieve your most ambitious goals – Stephen Duneier (link: https://youtu.be/TQMbvJNRpLE)

UJIAN SETORAN

Regina Aulia
Ilmu Gizi UPN Veteran Jakarta 2017
Mahasantriwati PeSan VI

Perempuan identik dengan perasaannya yang lembut dan gampang nangis. Tapi, saya bukan termasuk orang yang melankolis atau gampang nangis. Dulu setiap acara perpisahan, dimana banyak banget orang yang nangis sambil pelukan. Saya enggak! Sedih saya berhenti di mata berkaca-kaca tapi tak mengeluarkan air mata. Saya juga bingung padahal pengen banget bisa nangis nangis gitu biar agak dramatis.

 

Biasanya saya nangis kalo di nasehatin ortu dan ngeliat perjuangan mereka. Tapi kemarin saya nangis bukan karena dua hal tersebut. Tiba tiba aja air mata saya keluar dengan deras dan saya langsung menutupi muka saya dengan tangan. Pagi itu.. 3 hari pertama di asrama saya menangisi diri saya sendiri di halaqoh pagi..

Untuk pertama kalinya saya di test oleh ustadzah karena saya sudah menyetorkan juz 30 dari an naba sampai an nas. Saya kira test nya akan biasa biasa saja hanya melanjutkan ayat. Ternyata ada 5 pertanyaan (lanjutkan ayat, bacakan ayat pertama di halaman sekian, tebak surat, dua ayat sebelum, dan mengurutkan surat) yang di berikan kepada saya. Saya berenti di pertanyaan sebutkan dua ayat sebelum ayat ini. Saya berfikir lamaa sekali, hati saya sudah mulai tak karuan. Sudah sejak awal halaqoh dimulai saya masih di samping ustdzah. Ustadzah bisa menerima setoran 3 anak sekaligus dan dua orang sudah berganti ganti sejak tadi. Di test yang terakhir yaitu mengurutkan surat. Teman teman halaqoh saya menyemangati sambil menggoda saya karena saya maju lama sekali. Sekali kali mereka memberikan clue dan saya tetap tak bisa menebak surat apa.

Sudah lewat 30 menit mungkin atau sejam dari waktu halaqoh. Tinggal saya seorang di samping ustdzah. Dan mereka (teman halaqoh) saya masih menunggu saya selesai sampai halaqoh ditutup. Mereka berisik menyemangati saya, saya berfikir sambil menatap muka mereka, dan saya tau mereka sudah tidak betah untuk berlama di halaqoh ini.

“gimana re, mau besok aja? Tapi ulang dari awal tesnya” saya melirik ustadzah sambil berkaca kaca. “Aah ustadzah. Ini tinggal tes terakhir. Ulang yang ini aja ustadzah yaaah” akhirnyaa saya menangis. Saya menunduk dan menutupi muka saya. Saya ingin mencoba lagi tapi saya sudah mengulur waktu halaqoh lama sekali. Saya tidak tega kalau membiarkan teman halaqoh saya terjebak disini hanya karena saya.

Saya tidak berhasil. Saya menangisi ketidakmampuan saya. Saya menyadari kesalahan saya. Saya mengakui kesalahan saya. Setelah sekian lama saya tidak menangis pagi itu saya menangis sesenggukan. Ditambah rangkulan teman sehalaqoh saya yang memeluk saya sambil berkata “rere jangan nangis, semangat!” Padahal biasanya saya tidak selemah itu. Saya tidak biasanya menangis. Tapi setelah itu saya tersenyum memperlihatkan gigi saya kalau saya baik baik saja, saya tidak menangis. Walaupun air mata saya tetap saja turun tak terbendung

 

Tapi satu hal yang saya yakin bahwa Allah tidak akan memberikan ujian terhadap hambanya kecuali sesuai kemampuan nya. Jadi apapun yang di hadapkan padamu itu sudah sesuai porsimu. Maka habiskanlah!

Book Review: Mahasantri

Nisa Larasati, S.K.M
Pengurus Pesantren Kosan (2016-2018)
Alumnus S1 Kesehatan Lingkungan FKM UI (2014-2018)

 

Apakah menuntut ilmu agama hanya bisa dimiliki para santri yang berguru bertahun-tahun di pesantren?

Bagaimana dengan kita, pelajar yang menuntut ilmu di sekolah umum, pekerja nine-to-five, para ibu rumah tangga, dan masyarakat yang tidak memiliki latar belakang nyantri sebelumnya?

Buku ini mungkin bisa menjawab kebingungan sebagian dari kita mengenai bagaimana kiat-kiat menuntut ilmu syar’I ditengah kesibukan dunia.

Arus informasi yang begitu cepat mulai melunturkan stigma bahwa ilmu agama hanyalah milik segelintir orang yang memang berasal dari latar belakang pendidikan agama. Pada masa ini, saluran untuk memperoleh ilmu agama sangat beragam, mulai dari tempat pendidikan formal seperti sekolah-sekolah Islam, kajian ilmiah di berbagai tempat, hingga jejaring sosial. Semua orang dapat dengan mudahnya mengakses hal-hal yang diketahui tentang agama melalui artikel dan rekaman video kajian yang dapat muncul dengan satu sentuhan layar. Namun, bagaimana dengan menghadiri kajian secara langsung yang membahas berbagai topik seputar keagamaan seperti tauhid, aqidah, fiqh, bahkan mengkaji satu kitab secara rutin sampai habis?

Kedua penulis buku ini telah membuktikan bahwa orang yang awalnya tidak memiliki latar belakang pendidikan agama dapat mendalami ilmu syar’i secara konsisten tanpa meninggalkan kewajibannya dalam menuntut ilmu dunia. M. Abduh Tuasikal merupakan seorang lulusan sarjana Teknik Kimia UGM dan master Teknik Kimia konsentrasi Polymer Engineering di King Saud University.

Seorang yang sudah lalu lalang dalam dunia dakwah di nusantara, Pemimpin Pesantren Darush Shalihin Gunung kidul, dan pengasuh situs Rumaysho.Com. Penulis kedua, dr.Saifudin Hakim merupakan dokter lulusan UGM yang berhasil menyelesaikan postgraduate di University Medical Center Rotterdam, Belanda. Maka tak heran puluhan karya penulisan baik buku agama dan jurnal internasional di halaman akhir menegaskan bahwa seorang muslim dapat berkarya di bidang ilmu pengetahuan dengan tetap terus menimba ilmu agama.

Penulisan dalam buku ini terasa tegas dengan berbagai subbab  judul menarik seperti,

Cerita Semangat Zaman Old vs Now

Jangan Sampai Bergelar Doktor, Namun Ilmu Agama Nol

Gelar Banyak, Shalat Saja “Gak Becus”

Mestikah Berhenti Kuliah?

Penulis menceritakan kisah pengalaman menjadi mahasiswa dari pagi hingga sore dan menjadi santri ketika sore hingga ba’da subuh ketika menuntut ilmu di Jogja dan kisah menarik ketika menuntut ilmu di Tanah Arab. Tidak ketinggalan berbagai kiat dan cara sukses menuntut ilmu bagi orang yang sibuk.

Buku ini sangat sayang untuk dilewatkan terutama bagi orang-orang yang berkeinginan kuat memperdalam ilmu agama namun masih merasa terbentur dengan kesibukan yang ada.

Barakallahu fiikum

—————————————————————————

Selasa, 31 Juli 2018
@ Pesantren Kosan BISA, Kukusan, Beji, Kota Depok

Teruskan Perjuangan

https://www.pexels.com/photo/golden-cup-and-basket-with-books-6332/

Penulis: Nur Fadilah, S.Pd

Pendidikan Kimia UNJ (2012-2016)
Alumnus Pesantren Kosan angk.I (2014)

 

Apa yang menghalangimu dari menghafal alquran? Hilangkanlah semua alasan yang engkau ciptakan sendiri!

#Mulailah menghafal dan teruslah menghafal karena waktu bersama alquran semuanya adalah kebaikan#

Apa yang menahanmu dari hafal juz 30, padahal engkau telah hafal surat-surat pendek? Bersabarlah sedikit lagi. Buatlah target yang tidak melemahkan sebelum memulai.

#Barang siapa yang tidak menentukan targetnya, maka dia tidak akan sampai pada akhir tujuannya. Barang siapa yang tujuannya tidak ikhlas karena Allah Ta’ala saja, maka dia tidak akan mendapatkan pertolongan dan dorongan terhadap suatu urusan, juga tidak akan ada yang membuatnya sabar terhadap urusan tersebut# (1)

Apa yang mencegahmu dari hafal 30 juz, padahal engkau sudah hafal 1 juz, 5 juz, 10 juz dan seterusnya. Bersabarlah sedikit lagi. Bersabarlah dengan kesabaran yang baik. Bersabarlah dan kuatkan kesabaranmu.

#Barang siapa yang berusaha bersabar, maka Allah Ta’ala akan memberi kesabaran baginya, dan tidaklah seseorang diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas dari kesabaran# (2)

Menghafal alquran itu berarti:

1. Meneladani tokoh panutan utama, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam
Sesungguhnya beliau shalallahu alahi wasalam telah menghafal dan mengulang-ulangnya bersama malaikat Jibril alahissalam dan sebagian sahabatnya radhiallahu anhum

2. Meneladani generasi terbaik (Shalafus Shaleh)
Ibnu Abdil Barr mengatakan, “Menuntut ilmu itu ada derajat dan urutannya yang tidak boleh dilewati. Barang siapa yang melewatkannya, berarti dia telah melanggar jalannya para salaf rahimahullah. Adapun ilmu yang pertama adalah menghafal alquran dan memahaminya.”

3. Membangun proyek yang tidak mengenal kata rugi, karena setiap hurufnya diganjar dengan sepuluh kebaikan.

Diantara keutamaan menjadi hafidz alquran:

Menjadi keluarga Allah Ta’ala, lebih berhak menjadi imam, jenazahnya lebih didahulukan penguburannya, mendapat syafaat dari alquran atas izin Allah Ta’ala, Allah tidak akan mengazab hati dari orang yang hafal alquran, meninggikan derajat dalam surga, bersama malaikat, menjadi orang yang paling banyak membaca alquran, dapat membaca alquran di setiap kondisinya, serta lebih mudah dalam berdakwah. (3)

” Apakah setelah mengetahui semua nilai berharga ini, kita mencukupkan diri dengan hafalan alquran yang telah kita miliki sekarang saja? ”
Syaikh Muhammad Shaleh Al-Munajjid

Semoga Allah memberikan kepada kita taufik untuk menghafal alquran, memahaminya serta mengamalkannya.

————————————————————————————–

(1) HR. Bukhari Muslim
(2) Revolusi Menghafal Al-Qur’an, 43
(3) Menjadi Hafidz, 17-23

Amalan yang Paling Utama dan Dicintai

https://www.pexels.com/photo/photography-of-asphalt-road-1406822/

Penulis : Erwin Firmansyah Saputro, S.T

Alumnus PESAN angkt. II
Alumnus Teknik Kimia FT UI 2012-2016

 

Maha Suci Allah, yang telah menjadikan semua manusia bervariasi dalam amalan yang kita bersungguh-sungguh mengerjakannya. Diantara kita, ada yang sangat tekun dalam shalat sunnah nya. Diantara kita, ada yang sangat mudah sekali untuk bersedekah.

Diantara kita, ada yang kuat sekali untuk senantiasa berpuasa sunnah. Diantara kita, ada yang berjihad dengan ilmunya. Allah menyediakan banyak pintu pintu ketaatan.

Mulai dari yang wajib, sunnah dan fardhu kifayah, yang dengannya kita bisa berlomba lomba dalam kebaikan. Siapa yang banyak bagiannya dalam ketaatan, maka sepadan itulah ketinggian dan derajatnya di surga.

Sebagaimana dalam hadits berikut: “Barangsiapa yang berinfak dengan sepasang hartanya di jalan Allah maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Hai hamba Allah, inilah kebaikan.’

Maka orang yang termasuk golongan ahli shalat maka ia akan dipanggil dari pintu shalat. Orang yang termasuk golongan ahli jihad akan dipanggil dari pintu jihad. Orang yang termasuk golongan ahli puasa akan dipanggil dari pintu Ar-Rayyan. Dan orang yang termasuk golongan ahli sedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.” Mendengar ini Abu Bakar pun bertanya, “Ayah dan ibuku sebagai penebus Anda wahai Rasulullah, kesulitan apa lagi yang perlu dikhawatirkan oleh orang yang dipanggil dari pintu-pintu itu. Mungkinkah ada orang yang dipanggil dari semua pintu tersebut?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Iya ada. Dan aku berharap kamu termasuk golongan mereka.”

Sungguh jalan kebaikan itu banyak. Dan tidak semua orang mampu untuk selalu mengerjakan seluruh amalan amalan yang banyak tersebut. Bahkan hanya sebagian kecil saja yang mampu.

Dahulu para sahabat, karena kecintaan dan semangat mereka untuk beramal shalih, sering bertanya kepada Rasulullah ﷺ pertanyaan seperti: “Amalan yang manakah yang paling utama?”, atau “Amalan yang manakah yang paling dicintai Allah?”, atau pertanyaan semisalnya. Hal ini disebabkan, mereka tahu bahwa seringkali kita tidak memiliki keluangan waktu atau kemampuan untuk mengerjakan kesemua amalan amalan yang banyak sekali jumlahnya ini.

 

 

Rasulullah, dalam menjawab pertanyaan seperti ini, menjawab dengan jawaban yang berbeda beda tergantung kepada apa amalan yang mereka butuhkan, apa amalan mereka senangi, dan apa amalan yang cocok dengan mereka. Diantara jawaban beliau terdapat dalam sejumlah hadits berikut:

 

  1. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ, “Amal apakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.” Aku berkata, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Berbuat baik kepada orang tua.” Aku berkata lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.” (Muttafaqun ‘alaih)
  2. Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Amalan apakah yang paling utama?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Kerjakanlah puasa, karena tidak ada yang menandinginya.” (HR An Nasaa’i)
  3. Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, ia bertanya kepada Rasulullah ﷺ, “Amalan apakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Beriman kepada Allah, dan berjihad di jalan-Nya.” (HR Bukhari)
  4. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ ditanya, “Amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Yang paling rutin, walaupun sedikit.” Dan Beliau bersabda, “Kerjakanlah ibadah sesuai kemampuan kalian.” (HR Bukhari)
  5. Dari Muadz radhiyallahu ‘anhu, “Aku bertanya kepada Rasulullah , ‘Amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Yaitu engkau mati dalam keadaan lisanmu basah oleh dzikir menyebut nama Allah “(HR Ibnu Hibban)

Dari hadits hadits tersebut, telah jelas untuk kita bahwa pintu ketaatan itu banyak. Lihatlah kepada banyaknya pintu pintu kebaikan yang telah Allah bukakan yang dengannya kita bisa berlomba dalam kebaikan.

Ada yang berlomba lomba dalam menjadi shahibul quran, mereka membacanya, mempelajarinya dan menghafalnya.

Ada yang berlomba lomba dalam menuntut ilmu yang juga bervariasi seperti tauhid, fiqh, tafsir, bahasa, sejarah dan sebagainya.

Ada yang unggul dalam sholat (sunnah) nya. Dimana sholat tersebut benar benar menjadi penyejuk matanya. Mereka khusyuk dan panjang shalatnya.

Ada yang diberikan kekuatan untuk puasa sunnah, yang belum tentu yang lainnya memiliki kemampuan untuk mengerjakannya.

Ada yang lebih unggul dari orang lain dalam bakti kepada orang tua, silaturrahim, mengunjungi kerabat dan memberikan bantuan.

Ada yang diberikan kelebihan harta, sehingga mereka unggul dalam sedekah, menyantuni anak yatim dan membantu para mustahiq.

Ada yang rajin sekali berdakwah, dan sangat sabar menghadapi gangguan gangguan di jalan dakwahnya. Sementara orang lain belum tentu sanggup menjadi sesabar mereka.

Ada yang sibuk mempelajari ilmu kedokteran, teknik dan yang lainnya sehingga mereka bisa memberikan manfaat yang banyak untuk umat ini.

Sungguh kebaikan itu banyak dan luas. Ada juga amalan amalan ringan seperti memuliakan tamu, menjenguk yang sakit, mengiringi jenazah, bahkan juga perbatan baik kepada binatang.

Calon penghuni surga akan dipanggil dari masing masing delapan pintu pintu surga sebagai pemuliaan kepada mereka karena begitu banyaknya puasa, shalat dan amalan kebaikan lainnya. Maka hendaknya kita bisa berlomba-lomba dalam kebaikan, sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang Allah berikan kepada kita. Semoga kita termasuk segolongan yang dipanggil dari pintu pintu surga tersebut.

 

Banyak diambil dari:

Referensi tambahan:

https://rumaysho.com/11605-delapan-pintu-surga.html

Tiket Satu Arah

Penulis : Nisa Larasati, S.K.M

Pengurus Pesantren Kosan 2016-2018 & Kesehatan Lingkungan UI 2014

 

Hari ini insyaallaah menjadi hari kepulangan ke kampung yang sesungguhnya. Jika sebelumnya selalu memegang tiket pulang pergi, hingga sore ini saya hanya memegang one way ticket.

Kepulangan ini juga yang akhirnya memaksa saya untuk mengemasi seluruh barang yang sudah nyaman dengan tempat asalnya, Jakarta.

Koper yang mampu memuat hingga 30 kg itu ternyata belum juga cukup. Setelah saya hitung, kira-kira masih diperlukan 3 koper dengan ukuran yang sama untuk mengangkut seluruh barang saya tanpa harus membayar biaya overweight maskapai domestik.

Luar biasa.

Buku-buku yang setia mengisi hari-hari saya semasa kuliah ternyata bisa menjadi sesuatu yang merepotkan dalam satu waktu. Saya tidak pernah membayangkan akan tiba hari ketika pasukan buku-buku tersebut harus berpindah markas. Ukurannya memang tidak sebesar bantal ataupun guling namun menjadi mematikan karena beratnya.

Kemudian saya berpikir tentang tiket satu arah yang semua dari kita akan dapatkan.

Kematian.

Bagaimana merepotkannya jika yang kita bawa berkoper-koper dosa yang tidak kita sadari akan memberatkan kita di alam kubur? Kita bahkan tidak bisa menerka mana yang lebih berat, amal solih ataukah dosa-dosa kita.

Tidak ada lagi tiket kepulangan untuk sekedar melaksanakan shalat dua raka’at atau meminta maaf kepada saudara yang mungkin pernah kita dzalimi. Tidak ada lagi cara untuk bisa berbakti kepada orang tua dan mengucapkan selamat tinggal kepada para sahabat.

Tiket yang kita miliki hanya satu arah maka seyogyanya kita menempuh sebaik-baiknya jalan kehidupan, jalan yang ditempuh oleh generasi terbaik umat.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

 

“Barangsiapa hendak mengambil teladan maka teladanilah orang-orang yang telah meninggal. Mereka itu adalah para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang paling baik hatinya di kalangan umat ini. Ilmu mereka paling dalam serta paling tidak suka membeban-bebani diri. Mereka adalah suatu kaum yang telah dipilih oleh Allah guna menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan untuk menyampaikan ajaran agama-Nya. Oleh karena itu tirulah akhlak mereka dan tempuhlah jalan-jalan mereka, karena sesungguhnya mereka berada di atas jalan yang lurus.”

(Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish shalih, hal. 198)

 

Baca selengkapnya. Klik https://muslim.or.id/2406-inilah-generasi-terbaik-dalam-sejarah.html

 

Halim

 

15.56