Bahasa Arab Sebagai Pilar Renaisans Eropa

Oleh: Nur Fajri Romadhon (direktur bisa.id)

“During the twelfth and thirteenth centuries there was a scientific renaissance in Europe, and scholars from Christian countries journeyed to Muslim universities in Spain, Egypt, Syria and even Morocco in order to acquire knowledge from their foes in religion but friends in learning.” [The Works of Geber h. xv]

Benarlah apa yang dikatakan Eric Holymard ini. Kaum muslimin begitu digdaya dalam sains kala itu. Eropa bahkan masih amat tertinggal. Lalu karena belum ada TV dan internet, mereka juga tak banyak tahu perkembangan pesat yang sudah terjadi di dunia Islam kala itu. Namun semua berubah di abad ke-11 ketika terjadi tiga peristiwa besar: Normandia menaklukkan Sisilia pada 1060, Spanyol menaklukkan ulang Toledo tahun 1085, dan Perang Salib I di tahun 1096. Di pulau Sisilia tinggal banyak ilmuwan muslim dan di sana pula banyak buku-buku mereka tersimpan rapi di perpustakaan. Di Toledo berdiri sekolah megah tempat para mahasiswa Barat belajar selama berdekade-dekade. Juga melalui Perang Salib, Barat benar-benar melihat peradaban yang sejak tahun 800-an begitu maju melampaui mereka di Syam dan sekitarnya.

Mereka pun segera berusaha menerjemahkan ratusan buku-buku sains dari kaum muslimin di ketiga wilayah tadi, terutama ke dalam bahasa Latin yang mereka pilih dan siapkan sebagai bahasa identitas ilmiah pengganti bahasa Arab. Gerardus Cremonensis menerjemahkan buku Albucasis/Abul-Qasim Az-Zahrawi (w. 1031). Constantinus Africanus (w. 1099) menerjemahkan banyak sekali buku-buku tulisan Ar-Razi/Razes (w. 925) dan Ibnul Jazzar/Algizar (w. 979). Buku-buku penulis lain dengan beragam genre, tidak hanya ilmu alam, juga diterjemahkan. Dari sinilah Eropa mengenal nama-nama besar seperti Alghorismus/Al-Khawarizmi (w. 850), Alkindus/Al-Kindi (w. 873), Algazel/Al-Ghazali (w. 1111), Averroes/Ibnu Rusyd (w. 1198). Malahan, Dominicus Gundissalinus (1115-1190) mendirikan Escuela de Traductores de Toledo sebagai sekolah penerjemahan buku-buku Arab ke dalam bahasa Latin dan kelak ke dalam bahasa Spanyol. Terjemahan-terjemahan di atas terus menjadi buku acuan di banyak universitas di Eropa sampai abad ke-17. Sayangnya, sebagian dari buku ini malah justru diklaim sebagai tulisan sendiri oleh sebagian ilmuwan Eropa tersebut, bukan sebagai terjemahan.

Selain penerjemahan, banyak pula anak muda Eropa yang semangat belajar bahasa Arab lalu kemudian kuliah di wilayah-wilayah Islam. Adelard of Bath (1080-1152) misalnya, seorang perintis banyak ilmu MIPA di Eropa asal Inggris, kuliah di Andalusia dan Suriah. Contoh lain adalah Leonardo Fibonacci (1180-1250) yang selain belajar di Sisilia, juga belajar Matematika ke Suriah dan Aljazair. Sebelum dan setelah mereka berdua, banyak nama besar Eropa yang merupakan lulusan Madrasah/sekolah Islam, misalnya Paus Sylvester II (946-1003) yang merupakan tamatan Andalusia. Selain itu, bangsa Eropa pun mulai merintis universitas yang serupa dengan sekolah-sekolah di wilayah Islam, contohnya Universitas Bologna tahun 1088 dan Universitas Oxford tahun 1096. Tak heran, Norman Daniel katakan: ‘The explosion of scientific translation was the product, in practice, of military success.” [The Arabs and Medieval Europe h. 263]

Tulisan bukan untuk membuat kaum muslimin terlena dengan sejarah silam lalu lalai bekerja dan belajar. Bukan pula untuk menganaktirikan bahasa selain bahasa Arab. Kita harus cinta dan kuasai bahasa Indonesia sebab itu bahasa pemersatu bangsa kita. Juga bahasa Inggris sangat penting dikuasai para mahasiswa lintas jurusan mengingat keluasan penggunaannya. Pun juga bahasa Jerman, Prancis, termasuk bahasa-bahasa pemrograman adalah sangat penting dikuasai oleh sebagian mahasiswa lain sesuai kebutuhan mereka. Kesemuanya merupakan ilmu bermanfaat agar umat Islam tetap dapat bersaing di era global. Namun janganlah itu semua membuat kita kaum muslimin memandang sebelah mata bahasa Arab. Sebaliknya, justru mempelajari sedikit atau banyak bahasa Arab adalah sebuah keharusan demi memahami Al-Qur’an, Hadis, dan kitab-kitab para ulama. Ia juga sebuah kebanggaan karena telah menjadi salah satu pilar penting majunya peradaban dunia kini.

———————————————————————————————

Rujukan:
Eric Holymard & Richard Russell, “The Works of Geber”. Whitefish: Kessinger Publishing, 2010.
Jonathan Lyons, “The House of Wisdom: How the Arabs Transformed Western Civilization”. New York: Bloomsbury Press, 2009.
Norman Daniel, “The Arabs and Medieval Europe”. London: Longman Publishing, 1979.
Pearl Kibre, “Studies in Mediaeval Science”. Winchester: Hambledon Press, 1983.
Donald Campbell, “Arabian Medicine and Its Influence on the Middle Ages”. London: Routledge Press, 2000.
Jorge Gracia & Timothy Noone, “A Companion to Philosophy in the Middle Ages”. Oxford: Blackwell Publishing, 2002.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *