Hal-Hal Terkait Pembangunan Gedung Dalam Ayat-Ayat Al-Quran

Penulis : Muhamad Ziddan (Alumnus Pesan BISA)

Building by Pexels

“Air itu mengalir dari tempat yang tinggi menuju ke tempat yang lebih rendah”.

Begitulah kira-kira ungkapan yang sering mengetuk telinga kita sejak kecil, apalagi yang sudah besarnya masuk ke sekolah jurusan IPA, pastinya ungkapan itu sangat tidak asing baginya. Namun lain halnya ketika kita berbicara mengenai cara membangun sesuatu, kita mesti menggunakan prinsip membangun dengan arah yang berlawanan dengan air yaitu membangun dari tempat yang rendah menuju ke tempat yang lebih tinggi.

Entah dalam prakteknya itu membangun hubungan sosial, pengetahuan, atau bahkan juga bangunan gedung. Dalam tulisan kali ini kita hanya akan fokus dengan bangunan gedung. Berikut ini adalah hal-hal terkait dengan membangun sebuah bangunan gedung yang menariknya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala isyaratkan dalam beberapa ayat dalam Al-Quran.

pexels.com

1. Prinsip

Prinsip dalam membangun sebuah bangunan gedung hampir sama dengan prinsip Allah SWT ketika menciptakan langit dan bumi. Prinsip tersebut difirmankan oleh Allah SWT secara tersirat yaitu:

هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ لَكُم مَّا فِى ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعًا ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ فَسَوَّىٰهُنَّ سَبۡعَ سَمَٰوَٰتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيمٌ

“Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikanNya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” [QS. Al-Baqarah: 29]

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat di atas, bahwa Allah SWT memulai ciptaanNya dengan menciptakan bumi, kemudian setelahnya menciptakan tujuh lapis langit. Memang demikianlah cara membangun sesuatu, yaitu dimulai dari bagian bawah, setelah itu baru bagian atasnya [1]. Penjelasan ini tampak jelas mengindikasikan sebuah prinsip dalam membangun sebuah bangunan gedung yang sejatinya dimulai dari mendirikan pondasi kemudian setelahnya merangkai atap. Dengan kata lain, bumi diibaratkan sebagai pondasi dan langit diibaratkan sebagai atap.

Dalam Ilmu Teknik Sipil, hal demikian dinamakan dengan sistem Bottom-Up, di mana sebuah bangunan gedung dibangun mulai dari bawah lalu merangkak naik ke atas, yaitu dimulai dari pondasi, lantai, kolom, balok, dan terakhir atap. Sebenarnya bangunan gedung juga bisa dibangun menggunakan sistem Top-Down, kebalikan dari sistem Bottom-Up, dimulai dari atas lalu terjun turun ke bawah, tetapi sistem ini hanya bisa dipakai dalam kondisi-kondisi tertentu, beda halnya dengan sistem Bottom-Up yang menjadi keumuman dalam mendirikan bangunan gedung.

Oleh karena itu sistem Bottom-Up inilah yang menjadi poin utama dalam pembahasan prinsip membangun sebuah bangunan gedung. Namun pada akhirnya, kedua sistem ini memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, pemilihan sistem tergantung dari variabel-variabel yang ada di lapangan dan pihak pelaksana (dibaca: kontraktor) yang melaksanakan pembangunan gedung [2].

2.  Fasilitas

Setelah bangunan gedung tersebut sudah terbangun kokoh dan stabil, hal selanjutnya yang dilakukan adalah memfasilitasi gedung tersebut, yang menariknya juga tampak sama dengan prinsip penghamparan bumi oleh Allah SWT.

Hal tersebut difirmankan oleh Allah SWT dalam urutan ayatNya yaitu:

وَٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ دَحَىٰهَآ

أَخۡرَجَ مِنۡهَا مَآءَهَا وَمَرۡعَىٰهَا

وَٱلۡجِبَالَ أَرۡسَىٰهَ

مَتَٰعًا لَّكُمۡ وَلِأَنۡعَٰمِكُمۡ

“Dan bumi sesudah itu dihamparkanNya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkanNya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu” [QS. An-Nazi’at: 30-33]

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat-ayat di atas, bahwa bumi itu diciptakan sebelum penciptaan langit, tetapi bumi baru dihamparkan sesudah langit diciptakan [2]. Dengan kata lain urutannya adalah:

  1. Allah SWT menciptakan bumi
  2. Allah SWT menciptakan langit
  3. Allah SWT menghamparkan bumi (mengeluarkan semua yang terkandung di dalam bumi)

Berkata Ibnu Abbas RA sehubungan dengan makna penghamparan bumi (dahhaha) ialah mengeluarkan mata airnya dan tetumbuhannya, serta membelah jalan-jalan dan sungai-sungainya. Menjadikan padanya gunung-gunung, padang pasir, jalan-jalan, dan dataran-dataran tingginya [3]. Semua itu disediakan sebagai kesenangan bagi manusia dan untuk memenuhi keperluan-keperluan mereka di bumi [4].

Jika bumi dihamparkan dengan sebegitu hebatnya oleh Allah SWT, lain halnya dengan ‘penghamparan gedung’ alias pemenuhan fasilitas-fasilitas untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia di dalam gedung, seperti memasang instalasi air, instalasi listrik, tempat pembuangan, dan beragam furnitur. Demikian itu adalah demi kesenangan bagi pemilik bangunan gedung dan tamu-tamunya kelak [5].

pexel.com

3. Jadwal

Ketiga proses di atas tentunya membutuhkan waktu dalam masa pengerjaannya, baik dalam menciptakan bumi dan langit atau dalam membangun sebuah gedung. Meskipun perlu dipahami bahwa di sini Allah SWT terlepas dari sifat kurang dan sifat lemah, berbeda dengan makhlukNya yang penuh dengan kekurangan. Dalam kasus penciptaan alam semesta, Allah SWT dengan Maha BesarNya menyebutkan secara detail tentang masa penciptaan bumi dan langit.

Hal tersebut terungkap dalam potongan firmanNya:

ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَا فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ…

“Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa…” [QS. As-Sajdah: 4]

Dalam Tafsir Jalalain dijelaskan bahwa Allah SWT menciptakan langit dan bumi selama enam hari dimulai dari hari Ahad dan selesai pada hari Jumat [6].

Lalu bagaimana dengan masa pembangunan sebuah bangunan gedung?. sebelum kita pindah ke kasus pembangunan gedung, mari kita mundur sejenak mengingat-ingat apa yang sudah dipelajari di kampus. Dalam pelaksanaan konstruksi, dalam hal ini pembangunan gedung, ada tiga komponen penting yang perlu diketahui yaitu, biaya, mutu, dan waktu, biasa disingkat dengan BMW atau BMW+, plus (+) artinya zero accident, semuanya merupakan faktor penting dalam menentukan berhasil atau tidaknya proyek konstruksi. Untuk menghubungkan faktor-faktor tersebut dibutuhkanlah jadwal perencanaan yang juga bertujuan memetakan jenis-jenis pekerjaan dari tahapan awal sampai akhir.

Jadwal perencanaan tidak disusun oleh sembarang orang, melainkan disusun oleh orang yang memahami ilmu Manajemen Konstruksi dengan baik dan benar. Metode yang biasa digunakan oleh mereka untuk membuat jadwal perencanaan adalah kurva S, yaitu kurva yang menghubungkan antara persentase jenis pekerjaan di sumbu Y dengan waktu pekerjaan di sumbu X. Dengan adanya kurva S ini, pelaksana diharapkan dapat mengendalikan waktu pekerjaan konstruksi dengan mempertimbangkan biaya yang akan dikeluarkan, sehingga pelaksana dapat mengerjakan proyek dengan waktu dan biaya seoptimal mungkin tanpa mengurangi kualitas dari mutu bangunan gedung yang sedang/akan dibangun [7].

Kesimpulannya, prinsip pembangunan bangunan gedung memiliki prinsip yang sama dengan penciptaaan bumi dan langit. Keduanya sama-sama harus selalu melalui rangkaian tahapan yang sistematis, tidak bisa saling longkap-melongkapi, karna tahapan tersebut saling berkaitan dan terjadwal. Wallahualam wahuwal muwaffiq.

 


Catatan Kaki:

[1] https://tafsir.learn-quran.co/id/surat-2-al-baqarah/ayat-29

[2] https://tekniksipildopp.blogspot.com/2018/11/metode-konstruksi-basement-bottom-up-dan-top-down.html

[3] https://tafsir.learn-quran.co/id/surat-79-an-naziat/ayat-30

[4] https://tafsir.learn-quran.co/id/surat-79-an-naziat/ayat-33

[5] Lihat: Simamora, Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Gedung

[6] https://tafsir.learn-quran.co/id/surat-32-as-sajdah/ayat-4

[7] https://www.pengadaanbarang.co.id/2019/12/kurva-s.html

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *