Mengakhiri Masa Amanah dengan Husnul Khatimah

Penulis: Ustadz Nur Fajri Romadhon
(Wakil Ketua Yayasan BISA & Anggota Bidang Fatwa MUI Provinsi DKI Jakarta)


 

 

“Demi Yang telah menyelamatkanku di Hari Badar…” demikian bunyi khas sumpah tegas yang lantang terucap dengan suara menggema keluar dari lisan seorang pemuda tiga puluhan tahun, Ikrimah. Statusnya sebagai putra tertua Abu Jahal, tokoh utama pengobar bendera permusuhan terhadap Islam, membuat darah Islamofobia mengalir kuat dalam dirinya. Terlebih setelah ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana ayahnya terbunuh dengan memalukan di Perang Badar dan ia mewarisi sepeninggalnya tampuk kepemimpinan Bani Makhzum, suku terpenting kedua di Quraisy setelah Bani Hasyim, sukunya musuh utamanya, Muhammad. Dengan fisik yang kekar dan postur yang tinggi serta kelihaian berperang yang luar biasa, tidak pernah sekalipun ia absen dari barisan terdepan pasukan kuda dalam ketiga perang terbesar Quraisy-Islam: Badar, Uhud, dan Khandaq.

 

Sumpah tersebut bukan tanpa alasan terlontar dari lisan lelaki Quraisy yang juga terkenal paling mahir menulis dan menghitung ini. Betapa setelah ia masuk Islam, ia merasakan kesedihan dan penyesalan mendalam karena telah lebih dari dua dekade memusuhi Islam. Meski kalah di Perang Badr, tembakan panahnya yang nyaris tidak meleset tetap mampu merepotkan kaum muslimin. Di Perang Uhud, ia bersama Khalid berhasil memporak-porandakan barisan pasukan Islam yang tadinya hampir menang. Hal yang sama di Perang Khandaq, ia berhasil meneror warga Madinah ketika kelincahan berkudanya ia gunakan untuk melompati parit pertahanan. Di Fathu Makkah bahkan namanya masuk daftar orang yang dicari untuk dihukum oleh Rasulullah karena track recordnya yang kelam selama ini. Namun, di sisi lain, membuncah rasa syukur tak terkira dalam dadanya karena ia selamat dan tidak bernasib sama seperti ayahnya yang terbunuh dalam kondisi masih musyrik hingga terwujud dalam lafal sumpahnya yang khas, “Walladzii najjaanii yawma Badr.”

 

Al-Hafidzh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq menuturkan bahwa Ikrimah bin Abi Jahl melarikan diri di hari penaklukan Mekkah setelah ia tahu bahwa Rasulullah memburonnya dan kalah dalam usahanya menghadang sebagian pasukan Islam yang baru memasuki Mekkah. Ia berkata kepada istrinya, Ummu Hakim, yang mengejarnya, “Aku tidak akan tinggal di kota ini lagi!”

 

Sang istri berkata, “Hendak kemana engkau pergi, wahai pimpinan para pemuda Quraisy? Apakah engkau hendak pergi ke suatu tempat yang tidak kamu ketahui?”

 

Ikrimah pun melangkahkan kakinya tanpa sedikitpun menggubris perkataan isterinya.

Melihat sikap keras sang suami, Ummu Hakim melapor kepada Rasulullah, “Duhai Rasulullah, sungguh Ikrimah telah melarikan diri ke negeri Yaman dan hendak berlayar menyeberang benua karena ia takut kalau-kalau engkau akan membunuhnya. Aku mohon agar engkau berkenan menjamin keselamatan nyawanya jika ia kembali.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Dia kini berada dalam jaminan keamanan.”

Mendengar jawaban itu, Ummu Hakim mohon diri untuk pergi mengejar suaminya. Akhirnya dia berhasil menemukannya di tepi pantai jazirah Arab dan baru menaiki kapal. Sang Istri dan nahkoda kapal membujuk Ikrimah kembali dan mengucapkan syahadat.

Ikrimah balik menjawab dengan ketus, “Tidak! Justru aku melarikan diri dari kalimat itu.”

Sang Istri memelas, “Wahai putra pamanku, aku datang menemuimu membawa pesan dari manusia yang paling mulia perangainya. Aku mohon engkau jangan membinasakan dirimu sendiri. Aku telah meminta jaminan keselamatan untukmu kepada Rasulullah saw.”

Ikrimah mengonfirmasi ulang kabar tersebut dan sang istri berhasil meyakinkan Ikrimah hingga ia ikut kembali ke Mekkah. Sampai ke Mekkah, Ummu Hakim menegaskan kepada suaminya tersebut untuk pergi ke Madinah menjumpai Rasulullah yang telah kembali ke sana pasca Fathu Makkah.

Tatkala Ikrimah telah dekat Madinah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang saking tergesa dan gembiranya lupa memakai imamah beliau, bersabda kepada sebagian Shahabat, “Akan datang Ikrimah kepada kalian dalam keadaan beriman dan berhijrah, maka jangan kalian cela ayahnya karena celaan terhadap orang yang sudah meninggal menyakiti kerabatnya yang masih hidup dan tidak didengar pula oleh yang telah meninggal tadi.”

 

Lalu mendekatlah Ikrimah ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi seraya disambut oleh Sang Nabi pengasih, “Marhaban birraakibil muhaajir. Selamat datang, wahai penunggang kuda handal yang telah hijrah.”

Terharu akan hangatnya penyambutan Nabi padahal begitu menggunung kejahatannya kepada kaum muslimin dahulu, Ikrimah spontan bersyahadat dan mengatakan, “Wahai Rasululallah, demi Allah, tidaklah sepeser pun harta yang dahulu kugelontorkan untuk memerangi engkau, melainkan akan aku infakkan juga senilainya untuk jihad di jalan Allah.”

 

Begitulah Ikrimah yang mengisi sisa lima tahun hidupnya dengan kerja dan jasa besar untuk Islam. Ia termasuk yang tegar dan tidak lari saat Perang Hunain, berandil besar saat Pengepungan Thaif, turut berdesakan dengan 140 ribuan jamaah Haji Wada, hingga ikut menyolati Nabi kala wafat. Sepeninggal Nabi ia bahkan dipercaya Khalifah Abu Bakr memimpin jihad untuk menumpas kaum murtad di Oman Selepas kegemilangannya mengislamkan kembali wilayah Oman, Ikrimah ditawari jabatan gubernur dan imbalan harta oleh Abu Bakr. Akan tetapi ia menolak itu semua dengan mengatakan, “Aku tidak membutuhkan itu,” dan lantas memilih bergabung dengan pasukan mujahidin ke Syam dengan diiringi doa dan kekaguman dari Abu Bakr.

 

Laksana orang kehausan di sahara terik nan gersang yang melihat oase, Ikrimah berperang luar biasa dalam rangkaian Perang Yarmuk di Ajnadin. Ia bahkan sengaja mematahkan sarung pedangnya dan melompat turun dari kudanya di tengah kecamuk perang untuk kemudian berjibaku menghabisi tentara Romawi Timur satu per satu. Melihat itu, Khalid berteriak mengingatkannya, “Wahai sepupuku, jangan kau melakukan itu karena terbunuhnya engkau akan berdampak besar pada semangat kaum muslimin!”

 

Ikrimah seolah tak mempedulikan seruan Khalid. Ia justru terus mengayunkan pedangnya ke musuh yang mengepungnya dari segala arah seraya balas berteriak, “Menjauhlah dariku, wahai Khalid! Jiwaku pernah memerangi Rasulullah dahulu. Apakah pantas setelah berislam aku justru tidak mengorbankannya untuk berjihad membela Allah dan Rasul-Nya?!”

Ikrimah terus merangsek maju menghabisi pasukan Romawi Timur hingga memotivasi pasukan lain untuk memenangkan pertempuran. Hingga akhirnya kaum muslimin memenangkan pertempuran itu. Selepas pertempuran, kaum muslimin mencari Ikrimah, tetapi ia tidaklah ditemukan melainkan dalam kondisi sekarat dengan  dipenuhi 70 luka tusukan panah dan tebasan pedang. Khalid segera mendekatinya dan hendak memberinya air minum. Tetapi Ikrimah mengisyaratkan agar air tersebut diminumkan kepada Al-Harits bin Hisyam, paman mereka yang juga sedang kritis. Setelah diminumkan kepada Al-Harits, Khalid dikejutkan dengan wafatnya Ikrimah yang syahid, husnul khatimah.

 

Demikianlah, sungguh akhir kehidupan yang mungkin tidak terbayang seorang pun saat itu. Hingga kita kini selalu melantunkan doa dan pujian “Radhiyallahu ‘anhu, semoga Allah meridhai beliau” acap kali nama Ikrimah disebut. Sama halnya seperti Umar bin Abdulaziz yang tiga dasawarsa dikenal sebagai pemboros dan pejabat dengan gaya hidup hedonis lalu menghabiskan dua setengah terakhir dalam hidupnya sebagai khalifah adil berbalut selendang zuhud dan kesederhanaan. Ibarat Fudhail bin Iyadh yang menjadi ulama setelah 40 tahun menjadi begal setelah tertegun sadar kala mendengar lantunan Surat Al-Hadid: 16. Laksana Shalahuddin Al-Ayyubi yang masa mudanya terlalaikan dari ketegaran perjuangan jihad, lalu tersentak sadar kala tergerakkan semangat keilmuan dan pembaharuan Imam Al-Ghazali, hingga menjadi pejuang peberani membebaskan Al-Quds di Perang Salib.

 

Demikian, digdaya kesalihan sering kali ditentukan di akhirnya, terlepas dari banyak kealpaan di awalnya. Dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الأعمال بالخواتيم

“Kualitas amalan sejatinya ditentukan dengan penutupnya.”

[HR. Al-Bukhari]

Merujuk penjelasan Imam Az-Zarqani dalam kitab Syarhul Muwaththa’, bagaimanapun juga, akhirlah yang menjadi penentu sekalipun awal dan pertengahan amal masih belum baik. Itu karena siapa yang berubah dari buruk menjadi baik, atau dari baik menjadi lebih baik, maka ialah orang yang sukses. Tetapi jika yang terjadi adalah menjadi baik ‘aja’ setelah sebelumnya sudah baik ‘banget’ atau bahkan menjadi buruk padahal sebelumnya sudah baik, maka ialah orang yang merugi.

Tak terkecuali dalam mengemban sebuah amanah pada periode tertentu. Tidak jarang langkah di awal amat tergopoh, derapan lari di tengah perjalanan masih tertatih, tetapi bukankah masih tersisa masa untuk memperbaiki? Satukan kembali barisan perjuangan yang mungkin belum rapi berjajar, koreksi kembali kekurangan dalam beramal jama’i, lalu akhiri dengan kesan manis tak terlupakan di akhir masa jabatan dengan suksesi yang penuh taufik Ilahi, mewariskan estafet perjuangan kepada para generasi harapan selanjutnya dengan penuh keteladanan. Semoga Allah bimbing kita menutup masa jabatan kita setahun ini dengan husnul khatimah!

 

Rujukan: Tarikh Dimasyq, Syarhul Muwaththa’ liz Zarqani, Shahih Al- Bukhari, Siyar A’lamin Nubala, Sirah Ibn Hisyam, Tafsir Al-Azhar.

*) dimuat dalam Buletin An-Naba FSI Fakultas Kedokteran UI edisi ke-40 dalam momen jelang pergantian kepengurusan BEM, LD, dan organisasi ekstra kampus lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *