Manusia tak sempurna, pun dalam beribadah.

Penulis: Mufarrido Husnah,

-Matematika FMIPA UI 2017

 

Bismillahirrahmanirrahim…
Dalam Mukhtashar Minhajul Qashidin karya Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi; bagian seperempat pertama : Ibadah-ibadah; Kitab 4 : Puasa, Rahasia-rahasia, Urgensi, dan Apa yang Berkaitan Dengannya, dijelaskan bahwa dianjurkannya berpuasa lebih ditegaskan di hari-hari yang utama seperti tanggal 13,14, dan 15 dalam setiap bulan, puasa 6 hari di bulan Syawal, puasa Arafah, 10 Dzulhijjah dan Muharram, puasa Senin-Kamis, dan puasa Dawud.

Adapun puasa satu tahun penuh. Hisyam bin Urwah meriwayatkan bahwa bapaknya berpuasa terus menerus dan Aisyah juga melakukannya. Anas bin Malik berkata, “Abu Thalhah berpuasa terus setelah Rasulullah ﷺ wafat selama 40 tahun.”

Dijelaskan selanjutnya dalam kitab ini bahwa barangsiapa diberi kecerdikan, maka dia mengetahui tujuan dari puasa, sehingga dia membawa dirinya dalam kadar yang tidak melemahkannya dari amal yang lebih utama darinya. Ibnu Mas’ud tidak banyak berpuasa, dia berkata, “Bila aku berpuasa, maka aku tidak bisa banyak shalat padahal aku memilih shalat daripada puasa.”

Sebagian dari mereka bila berpuasa, maka dia tidak banyak membaca Al-Qur’an, maka dia jarang berpuasa sehingga mampu membaca Al-Qur’an, dan semua manusia lebih mengetahui kondisi dirinya dan apa yang baik baginya.

Terdapat kisah tauladan menarik dalam perkara ini, tertulis dalam catatan kaki no. 72 yaitu : Ibnu Abdil Barr berkata dalam at-Tamhid, “Al-Umari seorang ahli ibadah menulis surat kepada Imam Malik mengajaknya untuk berkonsentrasi dalam beribadah dan meninggalkan dunia ilmu, maka Imam Malik menjawab suratnya, “Sesungguhnya Allah telah membagi amal sebagaimana Dia telah membagi rizki, ada seorang laki-laki dimudahkan dalam shalat dan tidak dalam puasa . Ada yang lain dimudahkan dalam sedekah dan tidak dalam puasa. Ada lainnya yang dimudahkan dalam urusan jihad dan tidak dalam perkara shalat. Menyebarkan ilmu termasuk perbuatan baik yang mulia, aku menerima apa yang Allah bagikan kepadaku dalam hal ini, menurutku apa yang aku tekuni tidak lebih rendah daripada apa yang engkau tekuni, namun begitu aku berharap kita sama-sama di atas kebaikan dan kemuliaan. Setiap orang wajib menerima apa yang dibagikan kepadanya. Wassalam.”

Begitu elegan kisah ini, menggambarkan ketawadhu’-an seorang Imam Malik. Teladan yang dapat dipetik adalah kebaikan dan kemuliaan tak hanya dipetik dari satu perkara saja. Lakukanlah perkara ibadah yang dimana potensi kita besar untuk itu. Begitulah manusia. Dengan ketidaksempurnaannya, dalam hal ibadah juga belum mampu mencapai kesempurnaan. Sisi baiknya, manusia punya potensi masing-masing dalam dirinya. Dimana potensi tersebut Allah lah yang memberikannya. Potensi yang menjadi pendukung dalam peningkatan ibadah. Memang itu tujuan hidup yang Allah tentukan, yakni ibadah. Allah menciptakan manusia untuk senantiasa beribadah kepada Allah. Allah Yang Maha Pemurah tak lepas memberi kita bekal berupa potensi dalam diri. Mari kita kenali diri kita, kenali potensi diri yang Allah berikan. Beranjak dari sana lah kita bisa jadi muslim yang cerdik dalam meningkatkan ibadah kepada Allah. Wallahu a’lam bishowwab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *