Hari Solidaritas Internasional Palestina- Bagian II

Penulis :   Gies Andika 

– Psikologi UI 2015

– Mahasantri Rumah Ukhuwwah 2018

 

Lanjutan Bagian II


 

Hajriyanto Y Thohari

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah

 

Kegiatan ini memberi makna simbolik. Simbolik yang dimaksudkan, acara ini merupakan perwujudan dari dukungan yang secara tradisional telah ada sejak lama dari awal kemerdekaan republik ini. Bung Karno adalah sosok yang secara vokal mendukung kemerdekaan Palestina.

 

Rakyat Indonesia memiliki sensitifitas yang sangat tinggi terhadap permasalahan Palestina ini. Namun beberapa waktu belakangan ini mengalami penurunan menurut saya. Alasannya Pemerintah relatih berhasil mengelola isu ini dengan baik untuk mengambil alih yang sebelumnya dilakukan masyarakat secara langsung sehingga masyarakat merasa terwakili atas peran yang dilakukan oleh pemerintah sekarang.

 

Isu Palestina merupakan isu politik utama dalam kebijakan luar negri Indonesia. Banyak lingkaran yang bisa ditempuh melalu jalur diplomasi oleh pmerintah. Seperti ASEAN, yang mana Indonesia merupakan negara paling besar seharusnya mampu meleading isu Palestina ini di tingkat ASEAN. Ada OKI, ASIA.

Menurut saya, kondisi OKI sekarang sedang lumpuh. Tidak berdaya. Alasannya karena tulang punggung dari OKI yaitu Saudi Arabia yang juga sedang banyak masalah yang dihadapi oleh negaranya. Kemudian Liga Arab juga gagal mengakomodasi konflik-konflik yang ada di Timur Tengah. Lingkaran terbesar yang bisa dilakukan adalah ke PBB.

Indonesia harus tetap kokoh dengan posisi dukungannya untuk Palestina karena berangkat dari amanah konstitusi.

 

Menurut saya, Indonesia sekarang harus memberi dukungan yang disebut dukungan teknoratis. Selama ini dukungan kita sarat akan dukungan politik dan ideologis. Dukungan teknoratis itu berupa dukungan ekonomi, penguatan SDM. Untuk mendukung secara teknoratis dibutuhkan dana anggaran yang besar sehingga butuh di anggarkan dari APBN. Mengingat masalah yang dialami oleh Palestina semakin berat dan mengkhawatirkan.

 

Belakangan ini ada perubahan dukungan dari beberapa negara,  yang awalnya mendukung Palestina menjadi tidak mendukung lagi. Ini karena pragmatisme politik luar negri. Ini juga disebabkan negara liga arab yang juga tidak membaik dan penuh dengan konflik sehingga isu Palestina teralinasi atau dikesampingkan. Bahkan ada pernyataan menarik “Jangan lebih Arab dari negara Arab”, maksudnya banyak negara arab sendiri yang tidak terlalu peduli dengan Palestina, lalu kenapa negara non arab harus lebih peduli.

Diperlukan nafas panjang, konsistensi dan semangat juang yang tinggi untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

 

H.M Imdadun Rahmat, M,si

Direktur Said Aqil Siradj Institute (SAS Institute)

 

Yang di gali dalam sesi ini adalah Human Right (HAM). Bahasa yang paling efektif untuk mendukung Palestina adalah Bahasa Human Right. Laporan UNHCR (Lembaga PBB terkait permasalah pengungsi) Kondisi di Palestina adalah kondisi terburuk berkaitan dengan Human Right. Dalam sejarah ada dua kondisi permasalahan Human Right terparah yaitu Apherteid dan Penjajahan Palestina. Namun sekarang, Palestina the only one dengan kondisi HAM terburuk. Isu ini perlu dikampanyekan untuk mempengaruhi kebijakan PBB. Human Right harus menjadi salah satu pilar.

Adapun berbagai pelanggaran HAM diantaranya :

  • Menggunakan kekuatan dan koersif
    • Penduduk palestina dilarang berorganisasi, demonstrasi, menulis. Setiap ada aksi maka responnya dengan alat-alat mematikan
  • Praktek penangkapan sewenang-wenang
    • Penangkapan dan penyiksaan disaksikan oleh keluarganya. Sehingga banyak anak-anak trauma melihat ayaha atau saudaranya ditangkap dan disiksa
  • Perusakan properti
    • Setiap ada satu warga palestina kejahatan terhadap israel maka yang menjadi korban adalah satu keluarga, tidak hanya individu pelakunya. Bahkan rumahnya juga dihancurkan oleh Zionis Israel.
  • Anak-anak diperlakukan sama kejamnya dengan orang dewasa
  • Hukuman banyak yang merendahkan martabat, termasuk pelecehan seksual
  • Pelanggaran terhadap penduduk asli
  • Policy atas nama mengamankan pemukiman Yahudi
    • Dibangunkan tembok yang sangat tinggi mengelilingi perkampungan warga Palestina. Sehingga melumpuhkan sendi kehidupan Palestina seperti ekonomi, susa perizinan, bahkan ambulan pun susah sehingga dalam darurat banyak sekali yang meninggal sebelum ditangani medis karena lamanya proses perizinan ambulan
  • Pola sistematik pengusiran warga palestina
    • Di Yerussalem Timur ada kebijakan yang awalnya 70 dan 30, maksudnya dalam wilayah tersebut terdiri dari 30% penduduk Palestina dan 70% Yahudi. Namun sekarang Zero Persen berlaku, orang Yahudi tidak boleh disana.
  • Hak beragama
    • Mendapatkan hambatan untuk beribadah
    • Islam dan kristen di perkusi
  • Larangan ibadah haji bagi pengungsi
    • Kebijak bersama antara Arab Saudi dan Israel melarang pengungsi Palestina untuk ibadah haji kecuali mereka pindah kewarganegaraan. Politik licik ini bertujuan agar semakin berkurang penduduk Palestina.

 

 


Kamis, 29 November 2018

Balai Sidang Universitas Indonesia

Notulensi oleh : Gies Andika

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *