Menuntut ilmu, mulai dari mana?

Oleh : Nisa Larasati

Bismillah

 

Teringat awal-awal mulai ngaji pindah dari satu tempat ke tempat lainnya sendirian. Sampe sekarang sih dan tetap menyenangkan seperti pertama kali berjumpa. Yha

Anyway, pasti  happy readers sudah sering dengar salah satu keutamaan menuntut ilmu kan ya. Dan yang disini happy writer mau obrolin adalah tentang ilmu agama.

“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah maka Allah akan membuatnya paham tentang agamanya…”

  1. Bukhari dalam Kitab al-‘Ilmu

Lalu gimana cara menuntut ilmu yang benar? Maksudnya supaya ilmu yang didapatkan bisa berkah. Agar kita ngga mudah lupa dan lalai terhadap ilmu yang didapatkan, kita harus mencari tahu rambu-rambu dalam menuntut ilmu, in line dengan ilmu yang sedang kita dalami. Nah, sebelumnya happy writer lupa untuk memperhatikan hal yang satu ini. Akhirnya setelah satu tahun baru sadar untuk belajar tentang rambu-rambu dalam menuntut ilmu. Ternyata bukan hanya sebatas datang, nyatet, dan pulang. Ada hal yang lebih menyenangkan daripada itu.  Here they are.

 

  1. Ilmu tentang ‘Ilm

Beberapa kajian tematik seputar topik ini lumayan banyak. Tapi kadang sering terlewatkan oleh happy writer. Namun akhirnya dapat tercerahkan sekali dengan membaca karyanya Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah, Kitaabul ‘Ilmi. Isinya luar biasa dan mudah dipahami. Mulai dari tentang hakikat ilmu, adab-adab, kitab-kitab para penuntut ilmu, dan risalah-risalah penting. Risalah penting banyak memberikan pencerahan karena bentuknya pertanyaan-pertanyaan yang datang ke syaikh, misalnya,

 

Bahasa asing mana yang wajib didahulukan untuk dipelajari?

Bagaimana cara kami yang masih awal menuntut ilmu untuk berdakwah mengajak teman-teman kami?

 

And so on. happy writer keasyikan sendiri kalau udah baca buku ini dan pas diulang-ulang makin bikin bahagia. Awesome book Masyallah!

 

Buku lainnya yg happy writer baca tentang Ilmu ada Hilyah Thalibil Ilmu karya Syaikh Bakr bin Abdullah Abuzaid, Adab dan Akhlak Penuntut Ilmu, Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga, yang kedua-duanya karya Ustadz Yazid Jawwas. Buku-buku yang ini lebih tipis, handy banget untuk dibawa dan dibaca kemana-mana.

 

  1. Majelis Adab Penuntut Ilmu

Alhamdulillah dari dulu pengen banget bisa ikut kajian yang membahas tentang Adab dan Akhlak penuntut ilmu yang bersumber dari kitab. Rasanya lebih mudah ikut kajian yang seperti itu karena step-by-step prosesnya dan berkelanjutan. Bisa sekalian muroja’ah materi sebelumnya bareng-bareng ketimbang yang tematik yang cepet lupa.

 

Walhamdulillah sekarang ada kajiannya Ustadz Nudzul Dzikri di Blok M Square setiap malam minggu. Membahas kitab Tadzkiratus saami wal mutakallim fi adabil alim wal muta allim, karya Ibnul Jama’ah. Qadarullah dilaksanakan malam jadi happy writer jadi penonton setia streaming lewat Youtube saja. Sebenarnya pengen banget hadir disana. Kalau kadang terlintas tiba-tiba rencana buat hadir disana langsung istighfar saja. Hal-hal yang baik harus sesuai dilakukan dengan cara yang baik dan sesuai syari’at. Terlalu larut buat pulang sendirian atau ramai-ramai meski dengan akhwaat lainnya. Jadi ngga berani ngajak akhwat buat kajian kesana juga. Semoga Allaah mudahkan keinginan happy writer untuk bermajlis disana nanti Insyaallah.

 

Meskipun happy writer ngga ngerti baca kitabnya tapi tetap menyenangkan dengan cara penyampaian Ustadz Nuzul. Beliau menyampaikannya ngga terburu-buru dan diselingi lelucon ringan tapi ngga berlebihan juga. Bahasanya tetap santun dan lembut. Nonton kajiannya di pesawat, ketika penumpang lainnya tidur tenang, happy writer malah lagi berusaha menahan ketawa sambil senyum-senyum sendiri. Beliau selalu memberikan contoh yang real dan dekat dengan kehidupan kita –khususnya pemuda/pemudi-. Sambil dengerin kajian sambil bercermin ke diri sendiri. Sampai-sampai bapak-bapak disebelah (pe: ayah penulis) keheranan karena biasanya bocah ini langsung tidur di pesawat.

 

Nonton apasih, Nduk?Drama korea ya?

 

 

  1. Penyemangat Menuntut Ilmu

Sahabat menurut happy writer itu berpengaruh banget. Ada yang ngingetin buat datang atau ngajakin kajian rasanya happy  sekali. Atau kalau mau yang menyentuh hati silahkan buka channel youtube atau instagramnya  Rumaysho dan tonton video kajian rutin di Gunungkidul sana. Kalau happy writer sih sampai haru biru melihat semangat para warga disana menuntut ilmu. Ngga sebanding sama pengorbanan yang perlu dilakukan disini. Kalau hanya sekedar macet satu jam atau dua jam ngga ada apa-apanya dengan perjuangan mereka. Ada yang datang 55 km jauhnya dari tempat kajian naik truk terbuka. Kehujanan ya kehujanan, tapi begitulah kalau semangat menuntut ilmu yang balasannya surga.

 

“Satu ayat yang dipelajari lebih berharga daripada dunia dan seisinya...”

Happy readers ada yang ingat ini hadits riwayat siapa?

 

Begitulah yang kira-kira happy writer bisa bagikan ke dear happy writer.

Semoga happy readers ngga kecewa yha dan always be happy!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *